Judul : Seuntai Syair Hujan
Penulis: Wijatmoko Bintoro Sambodo
ISBN: 978-623-8428-59-5
Cetakan: Pertama, Juli 2025
Ukuran: 14x21cm
Tebal: xii+108 halaman
Penerbit: Teras Budaya Jakarta.
Sebelum masuk ke halaman awal puisi ini, Pak Iko ( nama panggilan saudara Wijatmoko Bintoro Sambodo) telah mencurahkan isi hatinya tentang kehilangan. Ya, beliau kehilangan buah hatinya yang telah berpulang terlebih dahulu keharibaan Allah SWT.
Setelah membaca dari halaman awal hingga akhir dari buku antologi Seuntai Syair Hujan, ternyata saya sudah dibuat terlena oleh diksi-diksi indah, sarkas, mbucin, dan campuran emosi yang menggebu menjadi satu.
Bagaimana tidak? Kehilangan seringkali menjadi inspirasi bagi kita menuangkan ide-ide ataupun gagasan-gagasan untuk menulis. Baik berupa puisi, cerpen, novel, ataupun yang lainnya. Puisi-puisi yang ada di antologi ini menggambarkan kehilangan itu dengan memakai bahasa–bahasa indah, mengena, serta menjadikan pembaca larut dalam keindahan diksi-diksi yang sederhana, tetapi mengandung banyak makna.
Kepiawaian penulis menorehkan kata-katanya di sini membuat saya terbawa perasaan. Bukan hanya tentang kehilangan saja, melainkan juga mengajak kita berpikir hakekat dan arti kehidupan. Selain itu ada sarkas dan satire halus tertoreh. Tamparan bagi siapapun yang melenceng dari jalan Ilahi.
Isi terdalam dari Seuntai Syair Hujan adalah kerinduan tiada bertepi antara seorang hamba dan khaliqnya. Di mana penulis menyampaikan dengan bahasa santun tanpa mengurangi keindahannya dalam berpuisi dan bersajak. Tulisan-tulisan yang ada di sini adalah curhatan yang sempat tertunda kepada Sang Pencipta semenjak beberapa waktu lalu. Kerinduannya yang mengantarkannya kembali untuk bangkit setelah kehilangan yang sangat berarti.
Kelebihan: gaya penulisan yang variatif, kaya diksi dengan bahasa sederhana, tetapi tetap memikat dan membuka cakrawala berpikir bagi siapapun yang membacanya.
Kekurangan: Tidak ada kekurangan dalam buku ini karena penulis memiliki kekhasan tersendiri dengan bahasa-bahasa yang begitu indah.
Temanggung, 5 Agustus 2026
Rabu 13.31









