“Apa Ibu serius? Aku senang banget, Ibu. Aku mau ayah kandungku yang jadi wali nikahku nanti, Bu.”
“Ya, Sayang. Itu pasti akan terjadi.”
“Sekarang katakan, Bu siapa ayah kandungku, atau Ibu punya fotonya?”
“Dia adalah orang selama ini kamu anggap sebagai ayah kandungmu.”
“Hahaha…. Ibu bisa aja bercandanya.”
“Ibu serius, Nak.”
Silvia terpana tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya berdiri dan berjalan ke arah kamarnya. Tapi ibunya segera memegang tangannya.
“Tunggu, Nak. Kamu duduklah dulu.”
Silvia kembali terduduk. Tapi dia hanya diam tanpa ekspresi.
Desi mencoba meyakinkan anaknya kembali.
“Ibu serius, Nak. Ini masalah serius. Tidak mungkin Ibu berbohong.”
Kali ini Silvia benar-benar sudah emosi dengan ibunya. Dia bicara dengan nada yang tinggi, meski sudah berusaha menekan suaranya agar tidak terlihat marah.
“Jika memang Ayah Herman adalah ayahku, kenapa tidak dari sebelum kita pindah kesini Ibu bicara seperti itu? Kenapa Ibu berpisah dengannya? Kenapa kita harus pergi?”
“Ceritanya panjang, Nak. Dulu, Ibu bekerja sebagai asisten ayahmu. Kami berpacaran hingga Ibu hamil. Sedangkan ayahmu belum tahu kalau Ibu hamil. Ibu berniat untuk memberi tahu. Tapi saat Ibu mendengar dia berhutang banyak di Bank, dan perusahaan beserta semua propertinya akan disita Bank, Ibu urung memberi tahu.
Ibu akhirnya menikah dengan orang lain. Ibu tidak lagi mendengar kabar tentang ayahmu. Waktu kamu lahir, suami Ibu tahu kalau kamu bukan anaknya, karena kamu lahir saat usia pernikahan kami baru berjalan enam bulan. Itu sebabnya dia menelantarkan Ibu dan kamu. Ibu terpaksa menerima pekerjaan apa pun demi untuk membesarkanmu. Waktu kamu berumur tiga tahun, kamu terkena luka bakar. Ibu membawamu secepatnya ke rumah sakit agar segera mendapatkan perawatan.
Di sana Ibu melihat kamu sedang di gendong ayah kandungmu. Ibu berpikir kalau ini mungkin sudah menjadi takdirmu, sehingga kamu bisa bertemu dengan ayah kandungmu. Makanya Ibu sengaja tidak menemuimu. Lalu Ibu meminta alamat rumahnya ke pihak rumah sakit saat dia mambawamu pergi. Ibu melihat istrinya juga sangat menyayangimu. Maka dari itu Ibu menitipkanmu padanya. Karena itu Ibu pergi menjadi TKW.”
“Lalu? Apa ayah tahu kalau aku adalah anak kandungnya?”
“Tidak.”
Silvia mengalihkan pandangan dari ibunya. Dia bersandar di sandaran kursi dan memegang kepalanya. Dia menghempaskan napasnya.
Desi tidak berani untuk memeluk anaknya, meski dia ingin sekali menenangkan anaknya. Dia tahu kesalahannya sangat besar. Tidak mungkin anaknya bisa menerima begitu saja. Karena bisa saja saat masih berada di rumah ayahnya dia memberitahukan itu semua, dan permasalahannya akan selesai. Dia tidak perlu berpisah dengan ayahnya. Tapi dia tidak melakukannya karena saat itu dia hanya ingin tinggal berdua dengan putri yang sudah lama dirindukannya.
“Kenapa Ibu tidak memberitahukannya waktu kita masih di rumah Ayah?” Tatapan Silvia terlihat kosong.
“Karena-karena….” Dia tidak melanjutkan kata-katanya karena Silvia memotong kalimatnya.
“”Karena keegoisan Ibu?”
Desi sangat terkejut mendengar kalimat itu dari mulut putrinya.
Selama dua hari ini putrinya sering berkata kasar. Dia tahu itu mungkin karena putrinya sudah banyak mengalami hal yang buruk dan menderita selama berada di sampingnya. Makanya dia tidak marah kalau putrinya berkata kasar kepadanya.
“Ya. Ibu minta maaf untuk itu, Nak. Ini mungkin keegoisan Ibu. Ibu sadar sekarang, bahwa ibu sudah banyak membuatmu susah.”
Silvia memandang ibunya dengan perasaan iba.
“Ibu. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk bicara kasar. Ini mungkin sudah menjadi takdirku, Bu. Sudahlah.”
Dia memeluk ibunya. Airmata mereka berdua mengalir tanpa dapat dibendung.
Saat mereka sedang berpelukan, terdengar suara benda jatuh dari arah pintu depan. Silvia dan ibunya seketika menoleh.
Silvia segera berjalan ke pintu depan yang lupa ditutupnya. Karena terlalu bahagia dia sampai lupa menutup pintu dan pagar teras rumahnya. Dia mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling. Tidak ada yang terlewatkan dari pandangannya, karena cahaya penerangan di terasnya lumayan terang.
Silvia menoleh ke arah sebuah pot bunga yang tergeletak di lantai teras. Akan tetapi dia tidak melihat ada orang di sana.
“Siapa Nak?” tanya ibunya yang berjalan dari dalam mendekati Silvia.
“Gak ada orang Bu. Mungkin cuma kucing.”
“Ya, sudah cepat masuk dan kunci pintunya.”
Silvia mengunci pintunya. Dia agak bergidik karena di situ agak lengang kalau malam hari di perumahannya itu.
Setelah masuk ke dalam dia kembali membahas tentang ayah kandungnya.
“Jadi sekarang bagaimana caranya kita menjelaskan semua ini sama Ayah, Bu?”
“Bagaimana pun caranya ayahmu pasti akan kita beritahu. Ayahmulah yang akan menjadi wali nikahmu nanti.”
“Bagaimana jika ayah tidak mempercayai kita, Bu?”
“Dia akan percaya, Nak. Ibu yakin itu.”
Tapi jika ayah tidak percaya bagaimana?”
“Maka kita akan lakukan tes DNA.”
Dengan mendengar penuturan ibunya yang meyakinkan, Silvia baru merasa yakin seratus persen jika apa yang dikatakan ibunya memang benar.
Jika ibunya berbohong tidak mungkin ibunya akan semakin itu mengatakan untuk melakukan tes DNA.
***
Pagi datang lagi menyapa hati yang sedang berbahagia karena dia sudah bertemu dengan orang yang dicintainya dan juga mengetahui kebenaran bahwa dia adalah anak dari ayahnya. Pantasan saja dia merasa ikatan batinnya dengan sang ayah begitu dekat selama ini.
Dia segera bersiap siap untuk berangkat ke kantornya. Akan tetapi ibunya mencegatnya dengan lembut.
“Nak? Kamu mau kemana?”
“Ke kantor Bu.”
“Apa tidak jadi kita menemui ayahmu, Nak?”
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku, Bu?”
“Apa tidak bisa ditinggal dulu. Bukankah perusahaan itu milik Nak Perdana? Jadi tidak masalah kan, jika kamu libur sehari?”
“Aku akan coba hubungi orang kantor untuk minta izin, Bu.” Baiklah,” ucap ibunya seraya melanjutkan minum obat yang diberikan Silvia tadi malam.








