Pada saat Arya Daringin kembali ke rumah, hujan mulai turun. Sais kereta menemuinya di jalan dan berhenti.
“Gusti Pangeran, tolong jangan bunuh saya, saya tidak tahu,” sais menohon dengan ekspresi ketakutan.
“Apa maksudmu, Musri?” Arya Daringin bertanya.
“Gusti Putri,” dia menggelengkan kepalanya. “Di luar kendali. Mereka memaksa saya, saya tidak punya pilihan, Anda tahu betapa kejamnya dia.”
Arya Daringin mengerutkan kening.
Putri Banurasmi tidak mungkin berbuat jahat! Sais kereta ini mungkin mabuk tuak.
“Pulanglah, badai akan segera datang.”
“Gusti Pangeran, badai akan berlangsung lama. Saya sarankan Gusti berhati-hati. Berjalan dalam badai bisa berbahaya.”
Arya Daringin menyipitkan mata karena tetesan air hujan menerpa wajahnya. Dia tidak tahu apa yang dimaksudkan sais.
“Hati-hati di jalan, Mus,” katanya. Dia memperhatikan kereta menghilang dari pandangan merasuk ke dalam hutan.
Badai bisa berlangsung lama sepanjang yang dia dengar.
Bersama seorang wanita pada saat ini akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi pada seorang pria.
***
Arya Daringin memasuki kamar. Aroma bunga lavender yang dibawa bangsa kulit putih yang menenenangkan memenuhi ruangan.
Dia berdiri di dekat jendela, dalam gaun putih yang indah dan syal di lehernya. Dia berdiri, mengulurkan tangannya. Punggungnya menghadap ke arah Arya Daringin.
“Kekasihku,” ujar Arya Daringin, melepas topi dan maju ke arahnya.
Dia tidak berbalik, maka Arya Daringin berjalan mendekat dan meletakkan tangan di bahunya. Dia masih tidak bergerak, maka Arya Daringin menariknya dan mencium lehernya dari belakang. Arya Daringin merasakan gadis itu menggelinjang dan kemudian perlahan, Arya Daringin membalikkan tubuhnya, dan ketika wanita itu berbalik, Arya Daringin melihat wajahnya, dan bagai disambar geledek yang menyalak di luar rumah, Arya Daringin melesat mundur.
“Apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan di sini? Kegilaan macam apa ini? Siapa kamu? Kenapa kamu di sini, perempuan!”
Dia tidak mengatakan apa-apa selain melepas topi dan syalnya, lalu berdiri dengan kedua tangan dipinggang, sama sekali tidak tampak ketakutan.
“Aku di sini karena aku adalah istrimu, Kangmas Arya Daringin!”
Aku pasti sedang bermimpi! Ini tidak mungkin terjadi! Aku kehilangan akal sehatku, Arya Daringin membatin dalam hati. Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa, terdiam tanpa suara.
Sebaliknya, Ghea menuju ke arahnya dan mengulurkan tangannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini, Ghea?” tanya Arya Daringin, berusaha keras untuk tidak tampak gentar dan kehilangan akal.
Dia tidak memberikan jawaban jadi saya dengan marah menariknya dan melemparkannya ke balai-balai.
“Jawab aku!”
Perempuan yang secara resmi adalah istrinya itu tampak ketakutan, tetapi dalam sekejap takutnya hilang.
“Apakah kamu lupa kita menikah, Kangmas? Aku pergi ke mana pun kamu pergi. Kamu terjebak denganku di sini, dan jangan berpikir Banurasmi akan datang ke sini”
Arya Daringin mengerang, bersedekap dengan sangat frustrasi. Dengan amarah membara, jari telunjuknya menuding Ghea lurus.
“Aku pergi sekarang!” katanya dan berlari ke bilik atas.
Kepalanya terbentur tiang dan dia kehilangan kesabaran. Kemarahan yang dirasakan terhadap Ghea, membuatnya takut kalau sampai-sampai di akan membunuh istrinya. Dengan marah, Arya Daringin melemparkan semua bajunya kembali ke dalam tas dan kemudian bergegas ke bawah.
“Mau ke mana, Kangmas? Badai sudah mulai,” Ghea berteriak sambil berlari mengejar suaminya.
Arya Daringin tidak peduli.
Sebodoh amat dengan badai! Aku hanya ingin pergi jauh sebelum aku membunuh seseorang.
“Kangmas Arya Daringin, tolong dengar aku. Sangat berbahaya…”
Arya Daringin keluar dan mengendurkan tali kekang kuda dari tempat dia mengikatnya, lalu menaikinya dan menepuk punggungnya. Tanpa melihat ke belakang, dia berderap dengan suara Ghea mengejar di belakangnya.
Ghea marah dan bingung secara bersamaan. Dia seharusnya merayu suaminya, bukan membuatnya marah. Bagaimana dia bisa merayu laki-laki seperti itu? Arya Daringin terlalu marah!
Gelisah dan kebingungan, Ghea menatap Arya Daringin pergi dengan menunggang kuda.
Dia ingat peringatan dari salah satu perempuan yang dia temui di jembatan. Perempuan itu mengatakan untuk jangan berada di luar dalam beberapa hari karena badai yang mendekat dengan cepat, dan si bodoh yang menjadi suami paksanya itu langsung masuk menerjang ke dalam badai.
Ghea duduk dengan telapak tangan menutup wajahnya.
Kalau terjadi sesuatu dengan Arya Daringin, apakah semuanya akan sia-sia? Apakah ada yang berubah?
Apakah aku harus menyusulnya? Tapi mustahil! Dia menunggang kuda, aku jalan kaki … Bagaimana kalau aku celaka? Yah, mungkin akan terbangun di dunia nyataku karena aku terlalu lelah dengan semua ini.
Ghea memutuskan untuk mengejar suaminya.
Butir air hujan bagai kerikil menghunjam tubuhnya saat dia berlari memasuki hutan secara membabi buta. Dia berlari semakin kencang, mengabaikan rasa sakit karena semak-semak yang menggores kaki dan lengannya. Sandal alas kakinya menghantam tanah dengan keras, menyebabkan lumpur memercik dan menodai pakaiannya. Ghea menarik napas dalam-dalam dan kemudian melanjutkan larinya, berteriak kaget karena tiba-dia meluncur di lumpur sampai pantatku menyentuh tanah dangan suara keras.
Hebat. Luar biasa!
Tubuh Ghea terbalut lumpur, tapi dia segera bangun dan lanjut berlari. Sudah dekat dengan jembatan tepat sebelum hutan. Kemudian dia melihat kuda Arya Daringin di kejauhan, sendirian tanpa penunggang.
Tetesan hujan membutakan pandangannya dan rambutnya menempel di kulit.
Di mana dia?
Ghea berlari lebih kencang sampai mulai melihat sosok terbaring di tanah. Cabang pohon besar menghimpit tubuh Arya Daringin di samping kuda. Hujan turun dengan deras, tetapi pria itu tidak bergerak.
Jantung Ghea berdetak kencang dan dia berlari lebih cepat lagi.
“Kangmas … Arya Daringin!”
Ghea menepuk-nepuk pipi suaminya sambil berlutut di sampingnya. Lalu dengan sekuat tenaga, dia mencoba menggeser sedikit cabang pohon yang menghimpit tubuh pria itu. sedikit dan kemudian dia mencoba menariknya.
Tubuh pria itu terlalu berat dan dia sangat lelah.
Dia memutuskan untuk fokus pada cabang pohon dan mendorongnya.
Air hujan membasahi pakaian, membuatnya sangat berat. Ghea bahkan susah untuk begerak. Dengan marah, dia melepaskan penutup tubuh bagiannya dengan hanya menyisakan pakaian dalam saja.
Hujan deras menerpa kulitnya, melecutnya sehingga terasa bagai disayat-sayat.
Dia mendorong lagi, tetapi tidak berhasil.
Terduduk di samping Arya Daringin, Ghea mulai menangis di bawah terpaan hujan deras. Tangisnya semakin keras.
Saat itu, dia melihat seseorang di kejauhan sedang memegang daun pisang sebagai pelindung dari hujan. Orang itu adalah perempuan yang dilihatnya di jembatan sebelumnya.
Ghea bertanya-tanya dari mana asal perempuan itu.
“Tolong, bantu aku!” Ghea berseru memanggilnya.
Perempuan itu datang dan mereka berdua mendorong cabang kayu itu menjauh. Kemudian mereka menaikkan Arya Daringin ke punggung kuda.
“Ikutlah denganku. Berlindung di tempatku saja,” kata Ghea.
Perempuan itu menatap Ghea yang hampir telanjang, berdarah dari pergelangan kaki dan lengannya.
“Aku bisa merawat kalian berdua,” katanya.









