Sekali lagi kau menarik napas panjang, menguatkan diri, untuk membaca chat mesra suamimu dengan perempuan lain.
“Terima kasih tumpangannya, ya, Mas.”
“Lain kali bilang kalau kamu gak ada yang jemput, bisa bareng aku.”
“Mas kenapa baik sekali. Sekali lagi terima kasih sudah mau direpotin.”
Lagi-lagi kau menarik napas, berat.
“Sushi-mu enak.”
“Kapan-kapan aku masakin yang lain, kalau mampirnya lebih lama.”
Kamu membaca itu semua dengan tenang, seperti membaca surat kabar pagi yang memuat harga pokok menjulang tinggi kesekian kali.
Namun, mimik wajahmu berubah serius, antara marah, kecewa dan muak, saat kau membaca percakapan selanjutnya.
“Lain kali jangan ke situ lagi, ya, Mas. Airnya bau, kamarnya juga pengap. Belum lagi spreinya jorok. Aku jijik liatnya.”
Dahimu berkerut. Meskipun begitu kau masih melanjutkan membaca.
“Aku akan berusaha untuk tidak membuatmu kecewa. Kali ini aku pesankan kamar yang lebih bagus. Tempatnya juga private banget. Ada garasinya juga, jadi mobil bisa langsung masuk. Pokoknya aman.”
Matamu mulai mengerjap, meski begitu kau masih terus membaca percakapan di bawahnya.
“Mas, makasih hape-nya. Padahal gak papa, loh, gak usah dibeliin, meskipun lemot, punyaku masih bisa dipake. Tapi makasih, ya.”
Seketika kau melirik ponselmu, yang layarnya sedikit retak, yang ujung pelindungnya pecah karena jatuh tersenggol si bungsu, yang berulang kali harus direstart saat mulai nge-blank dan touchscreen-nya tidak bereaksi.
“Iya. Itu warna kesukaanmu, kan?”
“Mas, tau aja. Aku suka banget”
Entah sejak kapan wajahmu basah. Air mata itu turun satu demi satu melewati pipimu yang tirus.
“Mas, aku hamil. Kapan kita nikah?”
“Sabar, ya. Aku usahakan secepatnya. Tapi aku tidak bisa menceraikan istriku. Kamu ngerti, kan?”
“Gak papa, Mas, yang penting kita nikah.”
Matamu nanar melihat emot kiss dengan love di akhir kalimat. Wajahmu semakin memerah saat suamimu membalas emot yang sama hingga lima kali.
Kepalamu menunduk cukup lama. Kau biarkan air mata itu tumpah ruah membanjiri wajah dan telapak tangan. Kau terisak hingga sesak.
Tiba-tiba alarm ponselmu berbunyi. Kau meliriknya sekilas sambil menggulirkan tanda mematikan ke samping. Kau menghapus air mata dengan ujung lengan daster, lalu bangkit.
Dalam perjalanan menjemput putri kecilmu, alih-alih mengatur rencana untuk menghadapi suamimu, kau lebih memilih menelpon tukang sayur untuk segera mengantarkan bahan-bahan yang kau pesan. Masih ada makan malam yang perlu disiapkan.
Minggu, 23 Februari 2025 20.26









