Home / Topik / Agama / Keangkuhan dalam Salat

Keangkuhan dalam Salat

Keangkuhan dalam Salat
1


Seperti ember berlubang yang diisi air, ibadah salat tak berbuah pahala—bahkan air yang ada di ember itu adalah air limbah, penuh noda dan berbau. Itulah yang aku dapatkan di masjid-masjid, kala aku mengikuti salat berjamaah.

Memang, bau yang muncul itu ditutupi oleh bungkus yang tampak wangi. Namun, wewangian itu, hanyalah wewangian imitasi—anehnya, tak sedikit orang-orang (termasuk kita) yang mengejar wewangian imitasi itu. Padahal, apa yang kita kejar harus dibayar mahal, yaitu dengan uang yang sudah ditukar dengan gadai waktu.

Bungkus itu adalah kemunafikan—yang hari esok akan sirna, lalu kita membeli lagi tak peduli berapapun harganya. Ya, ada takbir dengan pikiran bercabang, dan ada pula lantunan surat Al-Fatihah pengemis pujian.

“Apakah engkau tidak sadar, apa yang terbesit dari dalam diri kebanyakan manusia?” Tanya guru spiritual-ku.

Lalu, sepulang dari masjid, hati berbangga karena sudah merasa dapat bersaing dengan malaikat, dan melihat orang-orang disekelilingnya—yang hanya nongkrong-nongkrong dihakimi sepihak bahwa itu semua menjadi teman para pembangkang.

Hati dipenuhi dengan bangga hati merasa paling suci, dan di waktu yang bersamaan hati pun diliputi kebencian, bahwa yang tidak salat pada hari itu, sudah pasti menjadi ahli neraka.

Apa yang ada di dalam kebanyakan diri manusia itu? Lalu, siapa yang memanifestasikan diri? aku berpikir dengan mengernyitkan dahi.

Hingga aku menyelami diri sendiri. Mempertanyakan “Siapa yang menggerakkan raga?”

“Kembalilah kepada salatmu, jangan tunda tatkala panggilan azan berkumandang,” kata guruku lagi.

“Tapi, salatmu yang mana? Dan azan yang mana? Bukankah salat itu wajib?” tanya guruku.

Ah, aku belum yakin, jika salat yang berada di masjid itu, adalah salat yang dimaksud. Padahal, sebagaimana Kalamullah jelaskan:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Akan tetapi, dari salat yang 5 waktu itu, belum dapat mencegah kita dari kejahatan. Justru, tak sedikit perbuatan jahat yang datangnya dari orang-orang yang salat. Bahkan, menjadi imam salat pun, masih saja menabung penyakit hati yang berlumbung-lumbung, bertumpuk tebal.

Lantas, di manakah pahala salat kita? Apakah datang dari dalam diri dengan gemerlap pamer kesalehan? Ataukah rasa hati sebagai hakim yang datang dari takabur?

Sadarilah, salat yang kita lakukan hanyalah untuk mencuri peran Tuhan—yang sejatinya bukan menjadi hak dan kuasa kita. Berdosakah kita? Hanya diri kita yang tahu.

Ada pertanyaan yang menggangguku, setiap kali aku hendak menyembah-Nya dalam salat.

“Apa yang membedakan antara orang yang salat, namun masih memelihara penyakit hati, dengan orang yang bermaksiat, namun memiliki hati yang tulus?”

Jika derajatnya sama, atau bahkan orang yang salat lebih rendah dibanding orang yang bermaksiat, lantas untuk apa kita salat?

Jika demikian, “Apakah salatnya yang salah, atau orangnya?” Sebab, lagi-lagi dengan menghakimi sepihak, tak membuat kita menjadi orang yang lebih baik.

Aku kembalikan dengan pertanyaan, “Salat yang mana, yang selaras dengan ayat Al-Qur’an di atas?”

Sebab, ketika kita salah dalam menunaikan salat, ada hukuman yang hakim dalam menetapkan hukum bukanlah manusia.

Aku ingat kata-kata guruku, dalam sebuah kajian, “bahwa salat adalah mikrajnya orang-orang mukmin. Dalam salat, kita terhubung dengan Sang Pencipta—yang bukan hanya sekadar gerak raga kita.”

Dengan perkataan dari guruku, apakah kita sudah dapat menyimpulkan salat yang mana, yang dapat mencegah dari perbuatan jahat?

Tangerang, 27 Mei 2025

Penulis

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image