Home / Genre / Chicklit / 10. Kerinduan

10. Kerinduan

The Lion of Giza 1600x900
1
This entry is part 11 of 11 in the series The Lion of Giza

Sebagai seorang pemula yang masih belajar, Hamzah tak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Dia terus mempelajari berbagai ilmu selama praktik singkatnya bersama Mahfudz Mahfudz tampak puas dengan kinerja yang ditunjukkan Hamzah. Dedikasi serta kedisiplinan Hamzah telah membuat beberapa orang pun kagum.

“Baru kali ini aku melihat ada pemuda yang sungguh-sungguh memiliki tanggung jawab serta dedikasi tinggi. Kau juga sangat disiplin, Hamzah. Aku bangga padamu,” ungkap Mahfudz jujur padanya. Hamzah tersipu. Dia merasa belum layak dengan apa yang dikerjakannya.

“Saya masih pemula dan masih minus ilmu, Pak. Dan__”

Ternyata Mahfudz sudah memotongnya,  “Kau sangat rendah hati, Hamzah. Kau memiliki beberapa kelebihan yang tidak dimiliki orang lain. Dan_ dari beberapa pemuda yang aku jumpai, hanya kau yang tepat, Hamzah.”

Hamzah tertunduk. Dia bersyukur jika ternyata apa yang dilakukannya mendapat kesan baik dari seniornya.

***

Alexandria

“Aku berencana ingin membangun pusat perbelanjaan baru di kota ini. Aku ingin kau ikut andil di sini, Nak. Mengingat, aku tahu pasti dengan kemampuanmu.”

Fathiya terdiam, tidak langsung menanggapi ucapan ayahnya. Dia masih berpikir. Ibunya di sampingnya menggenggam erat tangan putrinya. Diusapnya punggung putri kesayangannya itu dengan lembut.

“Aku_belum bisa menjawabnya, Ayah. Ayah tahu sendiri, saat ini aku masih magang dan belum lulus. Aku ingin memperdalam ilmuku dulu, Ayah.”

Pria berusia senja itu menghela napas perlahan. Diamatinya wajah cantik di hadapannya. Putrinya kini tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan mandiri.Dia tersenyum bijak. Menanggapi perkataan putrinya, “Baiklah, Nak. Jika memang itu yang kau inginkan. Aku takkan memaksamu.”

“Terima kasih, Ayah. Aku akan kembali ke kamar,” pintanya.

“Beristirahatlah.  Besok aku dan ibumu akan mengajakmu berkunjung ke rumah paman dan bibimu. Mereka sangat merindukanmu.”

“Baiklah, Ayah. Aku akan beristirahat dulu.”

“Pergilah!”

 Fathiya meninggalkan ayahnya di ruang keluarga menuju kamarnya. Sejujurnya, gadis itu masih belum percaya diri ikut dengan proyek yang akan dikerjakan oleh ayahnya. Justru, dia lebih tertarik dengan proyek yang ditangani Mahfud. Lebih tepatnya, penataan kota untuk ibukota administrasi baru memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Fathiya lebih suka mempelajari hal-hal baru sebelum akhirnya  dia benar-benar memantapkan dirinya untuk terjun langsung pada pekerjaan utamanya.

Dari jendela kamarnya di lantai dua, gadis itu memandang ke arah laut Mediterania yang membentang. Memisahkan Afrika dan Eropa. Disibaknya perlahan tirai kamarnya, dan dia pun melangkah menuju balkon. Duduk sembari menikmati indahnya malam di kota terbesar kedua setelah Kairo itu. Lima tahun lalu, Fathiya meninggalkan Mesir dan melanjutkan pendidikannya di Inggris. Tentunya, selama itu dia mengalami banyak perubahan, terutama pada gaya dan pola hidup. Fathiya merindukan sesuatu yang baru, yang mampu membawanya menuju jalan baru. Hidup Fathiya terasa hampa.Selama ini dia telah berjalan terlalu jauh, tanpa berpikir akan adanya perubahan. Namun, kini kerinduan itu menyeruak ke lubuk hatinya.

Nun di sana, beberapa kapal terlihat melintas menyeberang, entah  ke mana. Pikiran  Fathiya tertuju pada satu sosok yang beberapa tahun ini dekat dengannya. Luke Benson. Seorang pengusaha muda asal Inggris yang telah memberikan hatinya pada Fathiya. Fathiya akui, dia sangat mengagumi Luke. Luke adalah pria sederhana, penyayang, dewasa, serta bijak. Hanya saja dia tidak mau gegabah menanggapi dan menyambut perasaan Luke. Dia tidak ingin terjebak pada perasaan yang justru bisa membuatnya lalai akan hal lain yang lebih penting. Kedua matanya berembun, mengingat bagaimana akhirnya pria itu menunjukkan kasih sayang tulus. Luke ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengannya, tetapi Fathiya belum ada tanggapan.  Fathiya masih nyaman Luke sebagai teman dekatnya, lebih tepatnya sahabat.

Entah berapa lama gadis itu duduk termangu tanpa menyadari seseorang telah berdiri tak jauh dari tempatnya berada. Perlahan didekatinya Fathiya dan menyapa, “Akan sampai kapan kau di sini?”

Fathiya terkejut mendengar suara lembut itu. Dia berbalik. Dan betapa terkejutnya dia melihat seseorang berdiri tak jauh darinya. “Naufal? Bagaimana kau bisa tahu aku ada di sini?” cecar Fathiya pada sosok pria bernama Naufal.

“Ayahmu memberitahuku jika kau sudah kembali.”

“Oh …”

“Aku merindukanmu, Fathiya,” ucap pria itu jujur. Fathiya tersipu mendengarnya. Fathiya tahu jika Naufal memiliki perasaan padanya sejak lama, hanya saja dia menganggap Naufal sebagai teman, selebihnya sebagai kakak.

“Kau tidak merindukanku, Fathiya?” imbuh Naufal dan kian mendekat.

“Aku merindukan semuanya,” jawab Fathiya.

“Termasuk aku?”

Hanya anggukan pelan yang Fathiya lakukan. Selebihnya dia bersikap biasa. Fathiya mempersilakan Naufal duduk. Mereka berbicara beberapa saat sebelum akhirnya Naufal berpamitan.

“Hati-hati di jalan, Naufal. Sampaikan salamku untuk keluargamu.”

“Pasti. Terima kasih.”

Sepeninggal Naufal, Fathiya menuju kamarnya. Kembali merenung di sudut kamar. Jauh di lubuk hatinya, dia merindukan Luke.

Luke, semoga kau baik-baik saja. Entah kapan aku akan kembali. Biarlah waktu yang menjawabnya.

Fathiya membiarkan angin dingin masuk melalui jendela kamar yang tak ditutupnya. Baginya, menyatu dengan  suasana alam membuatnya sedikit tenang. Hanya saja, bayangan Luke masih mengganggu.

“Fathiya, maukah kau menjadi kekasihku? Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu, Fathiya.”

Kata-kata itu terngiang jelas di benak Fathiya. Luke mengucapkan itu hingga beberapa kali, tetapi Fathiya masih enggan untuk menjawab. Fathiya tidak ingin salah menempatkan hatinya pada seseorang. Baik itu kepada Luke, Naufal, araupun kepada pria lain. Kantuk sudah tak dapat ditahannya, hingga akhirnya dia terlelap dan berlayar ke lautan mimpi.

**

Di tempat lain, seseorang tengah bermunajat dalam sujud panjangnya. Meminta kepada Sang Pencipta agar perjuangan dan cita-citanya tercapai. Dia sangat yakin, Sang Pencipta akan memberikan kemudahan bagi usahanya. Takkan ada yang sia-sia, meski ada segenggam rindu yang terus terkumpul hari demi hari untuk orang-orang yang dicintainya, akan tetapi, tekadnya sudah kuat, menghadapi apapun rintangan yang menghadang di hadapannya. Seperti waktu dulu saat dia bertekad membangun tanah kelahirannya.

Berilah aku petunjukmu, Yaa Rabb. Hanya Engkau-lah Yang Maha Menguasai segala sesuatu. Tunjukkan pada hamba-Mu ini yang terbaik yang Engkau Ridhoi.

Sesaat kemudian dia merapikan tempat sujudnya. Dari tempatnya berada, ditatapnya pekat malam langit  kota Kairo, meski suasana begitu gemerlap. Dia tersenyum. Membayangkan sesuatu yang tiba-tiba diperlihatkan oleh Sang Pencipta lewat kilasan pikirannya.

“Subhaanallaah. Sungguh aku takkan mungkin bisa begini jika tanpa izin-Mu, Yaa Rabb. Engkau telah memberikan gambaran itu padaku.”

***

Di salah satu mansion mewah.Seseorang baru saja bangun dari tidurnya.

Kepalanya  masih pening dan berdenyut-denyut, efek dari minuman beralkohol yang ditenggaknya semalam. Kedua matanya baru saja terbuka. Ia terbangun dalam keadaan yang sedikit menyedihkan. Matanya mengerjap, lalu pandangannya beralih ke arah meja. Melihat jam weker yang berada di sana

Disandarkan tubuhnya yang  lemah.

Siapa yang membawaku pulang? Apa yang telah dilakukannya padaku?

Ia melihat ada catatan kecil di meja dan diambilnya.

Siapa ini yang menuliskan pesan seperti ini? Apakah dia mengenaliku?

The Lion of Giza

. Proyek Spektakuler

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image