Home / Topik / Lifestyle / Renungan Kehidupan: ‘Restart’ Hidup bukan Hanya Sekadar Move On, Bagaimana Caranya?

Renungan Kehidupan: ‘Restart’ Hidup bukan Hanya Sekadar Move On, Bagaimana Caranya?

Renungan Hidup 20250805 (iStock)
2

Manusia seringkali mencoba me-restart hidupnya sendiri dengan berbagai cara. Healing alias jalan-jalan ke tempat-tempat indah dan jauh, ngopi cantik, wisata kuliner, hingga move on dari cinta lama yang semoga tidak bersemi kembali, jatuh cinta lagi (cie, cie!). Apakah juga termasuk bertobat, balik dari kebiasaan apa saja yang dianggap lama/penuh dosa? Tentu saja. Pada umumnya segala bentuk usaha restart yang dilakukan itu pada awalnya bermaksud baik. Namanya juga itikad, ikhtiar, sebuah janji atau tindakan untuk berubah ke arah yang semoga lebih positif.

Akan tetapi patut diakui, seringkali manusia gagal mencoba restart dengan baik. Misalnya, udah janji gak mau merokok, lihat ada produk tembakau baru, tergoda mau nyoba. Udah janji gak mau begadang lagi, gara-gara pengin maraton drakor yang lagi seru dan viral banget supaya gak kudet, jadi night owl lagi, deh.

‘Tombol’ restart kita pribadi kadang juga terlalu lunak dan mudah membal. Nanti dululah, besok ajalah, kapan-kapan masih bisalah. Jika sudah ditekan sendiri, mudah sekali madol dengan berbagai alasan. Gara-gara sikon, ‘sih! Bukan salah saya, kok! Masih manusiawi ‘kan, sesekali gagal? Dan masih banyak lagi lainnya. Belum lagi saat kena mental, ambyar dah!

Tuhan YME-lah satu-satunya Sang Maha Pencipta yang bisa me-restart setiap manusia. Bahkan bukan hanya restart, Tuhan juga satu-satunya yang bisa men-deep clean hati dan jiwa kita. Caranya bukan melulu tunggu dipanggil/ditegur dulu lewat kejadian buruk seperti mengalami cobaan sakit-penyakit, terlibat masalah besar, dan lain-lain. Bukan harus tunggu tua dulu baru mau melayani. Kapan saja ingin, Tuhan bisa menekan tombol restart kita. Kok bisa? Tentu saja bisa, Dia Maha Pencipta dan Pengatur segalanya.

Caranya bagaimana agar bisa di-restart secara pribadi? Berserah. Berdoalah. Ibarat sebotol minuman atau cangkir, diri masing-masing harus ‘dikosongkan’ agar dapat kembali di-restart atau di-refill dengan ‘air’ semangat baru. Jika selama ini kita ngotot bertahan ‘namun, sisakan aku satu persen/satu tetes saja’ maka diri takkan pernah dapat di-restart dengan baik.

Apa saja kira-kira hal-hal ‘satu persen atau satu tetes’ itu? Ego kita, keinginan/ambisi lama yang selalu kita bawa-bawa ke manapun, dendam/luka hati/akar pahit dan lain-lain. Kata ‘maaf’ yang hanya diucapkan di mulut namun belum bisa dilaksanakan di hati.

Jika Anda rindu untuk di-restart, cara untuk berperan aktif bukan hanya sekadar lakukan. Pertahankan kebiasaan baru/semangat yang kembali menyala dalam diri. Yang bisa menjaga api itu dari tiupan angin hanyalah komitmen/tekad, doa yang tiada putus-putusnya dengan cara apapun sesuai kepercayaan Anda, serta melepaskan semua.

Dalam sebuah kisah fiksi, diceritakan mengenai cara menjebak seekor monyet bukan dengan senjata/perangkap. Sederhana saja, bagaimana? Tanamlah sebuah kendi berisi kacang-kacangan di tanah. Ketika seekor monyet datang hendak mengambil kacang-kacangan itu, tangannya harus masuk melalui leher kendi agar dapat meraih segenggam kacang nan lezat. Akan tetapi saat si monyet hendak menarik tangannya ke atas, genggamannya yang penuh menyebabkannya takkan pernah bisa mengambil kacang-kacangan itu. Leher kendi yang sempit hanya menyisakan dua pilihan: lepaskan kacang-kacangan, atau tetap genggam dan tangannya takkan bisa keluar. Pilihan kedua menyebabkan si monyet ‘menjebak’ dirinya sendiri hingga akhirnya bisa ditangkap dengan mudah.

Lepaskanlah juga semua beban, masa lalu, keinginan-keinginan lama Anda. Nikmatilah restart nan bersih dan segar. Semoga berhasil menemukan diri Anda yang baru.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 5 Agustus 2025.

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image