Masih dengan tatapan heran aku menunjuk piring di hadapan Elaine, “Enak?”
Elaine menggangguk, kali ini dengan tampang sedikit serius.
“Suka dengan makanannya?” tanyaku lagi
“J’ai toujours aimé la cuisine Indonésienne, le goût est unique et distinctif.”
“Dieu merci si ça te plaît. Mais tu dois surveiller ton poids.”
Elaine menembuskan napas berat, tatapan matanya mendadak berubah menerawang seakan ingin menembus batas cakrawala.
“Sesungguhnya aku tidak tahu harus apa, pacarku pergi dengan perempuan lain justru di saat aku mulai mencintainya.”
“Kamu sedang patah hati?” timpalku.
“Bisa dibilang seperti itu, dan setiap aku mengingat dia napsu makanku meningkat,” ujarnya tergelak, tapi bisa kurasakan ada getir dibalik tawanya.
“Aku memutuskan meninggalkan Perancis agar bisa melupakan dia, dan membuka lembaran baru,” imbuhnya.
“Aku setuju jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik.”
“Entahlah, apakah aku tidak salah mengambil keputusan? Aku hanya merasa kehilangan semua yang sudah aku perjuangkan selama ini.”
“Untuk semua tempat yang akan kau tuju, selalu ada tempat yang harus ditinggalkan. Untuk setiap nafas yang kau hela, ada udara yang harus kau embuskan,” ujarku menenangkan. Elaine menoleh sekilas, lalu kembali mengembuskan napas berat
“Begitu pula dengan melepaskan. Sebuah kehilangan tidak akan pernah menjadi kerugian selama kita yakin semua yang hilang hanya akan menyediakan tempat untuk sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang lebih baik sebagaimana Allah janjikan.” Aku mengusap lengannya lembut.
Elaine tersenyum tipis, “Aku belum kuat untuk menerima kehilangan.”
“Yang kau butuhkan hanya kesabaran,”
“Maukah Maman membantuku untuk menjadi sabar?” pintanya.
“Bien sûr avec plaisir.” Aku mengusap rambut kecokelatan yang tergerai menguarkan wangi shampoo bayi.
“Merci beaucoup, Maman,” ucapnya girang. Tangannya mengembang hendak memelukku, tapi aku menepisnya karena akan menggangu fokusku memegang kemudi. Elaine tertawa kecil, mendung di wajahnya telah lenyap.
Kami mulai memasuki desa Gunung Pring. Melewati sebuah makam yang merupakan salah satu wisata religi yang cukup tersohor dan ramai dikunjungi oleh wisatawan untuk melakukan ziarah. Namun, tujuan kali ini bukan tempat wisata religi yang berada sekitar 400 mdpl tersebut.
Mobil terus melaju, berada pada jalur wisata makam Aulia tersebut, aku membelokkan mobil dan berhenti tepat di dekat Kantor Balai Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan. Elaine bergegas turun dari mobil dan berlari mendahuluiku. Di depan pintu masuk, dia memandang takjub pada komplek candi yang terdiri dari 5 buah candi, berderet sejajar menghadap ke timur.
“Ini Candi Ngawen, diberi nama sesuai nama desa tempat candi berada. Awalnya terdiri dari 5 candi, tapi sayang hanya tinggal 1 candi yang masih utuh, 4 lainnya hanya tinggal kaki candi.” Aku menjelaskan.
“Ini Candi Budha?” tanya Elaine.
“Berdasarkan gaya arsitektur bagunannya, candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad IX – X Masehi dan berlatar belakang agama Buddha dengan bukti keberadaan arca Dhyani Budhha Ratnasambhawa dan arca Dhayni Buddha Amithaba di candi ini.” Aku menunjuk pada dua buah arca yang masih utuh.
“Keberadaan Candi Ngawen yang di tengah-tengah saluran irigasi membuat candi ini memiliki keunikan dan daya tarik dibanding candi-candi lain,” lanjutku menjelaskan.
“Lihat, ada arca singa!” seru Elaine sambil berlari mendekat pada candi kedua.
“Ditempatkannya arca singa di sudut-sudut candi, khususnya di candi kedua dan keempat adalah salah satu ciri khas yang tidak umum ada pada candi lain di Indonesia. Arca-arca ini tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga sebagai saluran pembuangan air.”
“Menarik.” Komentar Elaine sambil mengamati arca singa, tangannya lincah memainkan kamera dan mengambil gambar dari berbagai sisi.
“Candi Ngawen memiliki arca Buddha Dhyani, yang merupakan simbol dari lima elemen kosmos dalam kepercayaan Buddha. Dua candi dihiasi arca singa jantan yang kokoh berdiri dengan dua kaki belakangnya. Di candi utama, terdapat patung Buddha dalam sikap duduk dengan gestur tangan Dyani Budha Ratna Sambawa. Posisi tersebut melambangkan momen ketika Buddha Gautama memohon bantuan Dewi Bumi untuk mengusir bahaya saat beliau bermeditasi di bawah pohon Bodhi.” Seseorang tiba-tiba menyela. Aku menoleh, seorang laki-laki berambut gondrong dengan kamera tergantung di leher tersenyum dan mengangguk dengan sopan.
“Hmmm, sepertinya Anda mengetahui banyak tentang candi?” tanyaku.
Laki-laki itu mengangguk, “Sama seperti Anda, saya tertarik mengulas sejarah yang tidak banyak diminati generasi muda saat ini.”
“Itu keren,” ujarku.
“Are you historian?” tanya Elaine menyeletuk.
“No. Saya hanya tertarik melakukan eksplorasi tempat-tempat bersejarah dan membuat konten.”
“Sepertinya aku akan banyak bertanya padamu. My name is Elaine, I’am an author.” Elaine mengulurkan tangan mengajak bersalaman.
“Ranmaru. Dengan senang hati membantu,” jawab laki-laki itu balas menjabat tangan Elaine.
Ranmaru dan Elaine cepat akrab, mungkin karena usia mereka sebaya. Keduanya menyisir area candi, Ranmaru terlihat lebih familiar menjelaskan dengan gaya santai dan mengalir.
“Perpaduan gaya arsitektur Hindu dan Buddha, juga merupakan keistimewaan lain Candi Ngawen. Hal ini bisa dilihat dari bentuk candi yang mengerucut ke atas. Serta adanya stupa di atap candi.”
“Lihat ukiran ini, apakah ini burung? Tapi menyerupai manusia?” Elaine yang selalu kritis mulai banyak bertanya.
“Itu Kinara-Kinari, makhluk khayangan berwujud setengah manusia setengah burung,” ujar Ranmaru menjelaskan.
“Keindahan Candi Ngawen semakin lengkap dengan ukiran Kinara-Kinari yang diapit oleh kalpataru, pohon kehidupan abadi. Dahan-dahan kalpataru digambarkan menjuntai penuh dengan berbagai perhiasan indah,” lanjut Ranmaru
Elaine mengamati dengan saksama, sementara Ranmaru dengan telaten menjelaskan tentang hiasan lain yang tak kalah menarik berupa motif tumbuhan sulur gelung. Tanaman menjalar dengan pola ikal berulang menghiasi pelipit bagian atas dan kaki candi. Di sisi luar kaki candi, terdapat pula relief bunga matahari di dalam lingkaran, menambah pesona Candi Ngawen.
Menurut Ranmaru yang menggeluti bidang sejarah, diduga Candi Ngawen merupakan bangunan suci yang disebut dalam Prasasti Karang Tengah. Menurut Prasasti Karang Tengah, Candi Ngawen didirikan pada tahun 824 M oleh Dinasti Syailendra pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Dalam prasasti tersebut, Candi Ngawen juga mendapat julukan Venuvana yang berarti hutan bambu.
Konon pada masanya Candi Ngawen digunakan sebagai tempat pemujaan dan pusat kegiatan keagamaan bagi umat Buddha. Candi ini juga memiliki relief-relief yang menggambarkan ajaran Buddha, serta arca-arca Buddha yang menjadi ciri khas candi bercorak Buddha Mahayana.
Beberapa arca Buddha ditemukan dalam posisi dhyana mudra atau posisi meditasi dan dharmachakra mudra atau posisi mengajarkan dharma, yang mencerminkan fungsi keagamaan candi ini.
Seperti kebanyakan candi-candi yang ditemukan di sekitar Magelang, Candi Ngawen pertama kali juga ditemukan dalam keadaan runtuh dan terkubur sebagian oleh tanah. Pada sekitar tahun 1920 pemugaran candi dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda. Namun, hingga kini, beberapa bagian candi masih dalam kondisi rusak, meski upaya pelestarian terus dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.
Candi yang merupakan bagian dari situs-situs peninggalan budaya Mataram kuno ini memiliki nilai sejarah yang penting dan menjadi salah satu bukti kekayaan sejarah dan budaya Indonesia, menarik perhatian para wisatawan yang tertarik dengan sejarah dan arsitektur kuno. Keberadaan yang tidak sulit dijangkau memiliki potensi sebagai salah satu objek wisata di Kabupaten Magelang yang bisa dikunjungi bersama dengan candi-candi lain di sekitarnya.
Keberadaan Candi Ngawen memang cukup memberikan kontribusi yang penting dalam memahami perkembangan agama Buddha di tanah Jawa karena merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Buddha, sekaligus memberikan informasi tentang kehidupan dan kebudayaan pada masa itu.
Keberadaan Candi Ngawen yang berada tak jauh dari Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon, menunjukkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat keagamaan dan budaya yang signifikan pada masa lalu.
Elaine tampak puas berkeliling menikmati keindahan Candi Ngawen yang semakin lengkap dengan taman cantik yang mengelilinginya. Pohon-pohon palem dan tanaman hias yang sepertinya sengaja ditanam di sekitar candi untuk menciptakan suasana sejuk dan asri. Menjadikannya tempat yang cocok untuk bersantai dan berwisata bersama keluarga. Meskipun lokasinya yang tidak tepat berada di lereng Gunung Merapi, tapi udara segar yang menyejukkan, pemandangan dengan spot Merapi yang gagah, membuat suasana asri yang nyaman.
Menurutku sebagai tempat wisata Candi Ngawen juga memiliki manfaat dalam pengembangan desa wisata sehingga dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar, dengan catatan semua kegiatan dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian situs.
Dengan demikian, Candi Ngawen bukan hanya sebuah situs bersejarah, tetapi permata yang harus dijaga kelestariannya karena banyak memberikan kontribusi penting dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dan potensi untuk pengembangan yang berkelanjutan.
Hari semakin sore, Ranmaru pamit setelah bertukar nomer WhatsApp dengan Elaine. Tujuan yang berbeda arah mengharuskan kami berpisah di sini.
***
Note :
J’ai toujours aimé la cuisine Indonésienne, le goût est unique et distinctif = Aku selalu menyukai makanan Indonesia, rasanya unik dan khas.
Dieu merci si ça te plaît = syukurlah kalau kamu menyukai
Mais tu dois surveiller ton poids = Tapi kamu harus menjaga berat badanmu
Bien sûr avec plaisir = Tentu saja dengan senang hati.
Merci beaucoup = Terima kasih banyak
Are you Historian = Apakah kamu sejarahwan?









