“Dasar bodoh! Aku tidak percaya kalian membiarkan mereka lolos!” kata suara itu dari telepon.
“Kami minta maaf, mustahil mereka pergi jauh di malam hari. Hutan itu berbahaya di malam hari, mereka akan mencari tempat dan beristirahat sebentar, lalu besok paginya, kami akan mengejar mereka!”
“Tapi kenapa kamu bahkan tidak bisa mendapatkan uang dari mereka sebelum pergi? Penculik macam apa kamu? Hanya dalam sehari dan kamu bahkan tidak bisa melakukan apa pun dengan benar! Kenapa kamu tidak membunuh orang yang satunya?”
“Dengar, kami akan menangkap mereka, maafkan aku.” Pria itu berkata dan melanjutkan. “Gadis itu benar-benar sulit. Dia tidak mau memberi kami nomor telepon dan pria itu tidak berguna bagi kami, tetapi kami tidak pernah mengatakan akan membunuh siapa pun. Dia terus mengatakan bahwa dia bukan seorang putri dan bahwa dia tinggal bersama ibu tirinya, bertentangan dengan apa yang kamu katakan kepada kami.”
“Apa? Ibu tiri? Dia hanya mencoba untuk … tunggu! Seperti apa dia?”
“Tidak terlalu tinggi, gaun biru yang bagus, sepatu merah muda—”
“Apakah dia berbicara seperti seorang putri? Dengan penuh wibawa, atau dia terus merengek, katakan padaku!”
“Dia seperti bayi cengeng.”
“Rambutnya, hitam atau cokelat?”
“Yah, hitam, kurasa.”
“Sepatunya, apakah dia nyaman memakainya atau dia harus mendorong kakinya ke dalamnya dan melepaskannya?”
“Dengar, kenapa kau menanyakan semua ini pada kami…”
“Karena kalau itu pas untuknya, berarti kamu tidak menculik adikku. Kamu mengambil adik tiri kami, dasar bodoh! Biarkan saja mereka pergi, dia tidak berguna bagiku! Sial!”
***
Jun yang pertama membuka matanya. Dia menyadari teman sepenculikannya masih tertidur lelap. Gadis itu jelas sangat lelah. Mereka memutuskan untuk beristirahat sebentar di bawah pohon dan tertidur pulas.
Dia duduk di dekatnya, di tanah basah akibat embun pagi. Dia menggelengkan kepala melihat nasib gaun indah yang dikenakan Cinde. Benar-benar berantakan.
Mereka belum benar-benar memperhatikan sekeliling mereka sebelum tidur tadi malam. Tidak ada waktu untuk itu. Dia berdiri untuk meregangkan tubuhnya dan menyadari mereka masih berada di antah berantah. Sejauh yang dia tahu, mereka tersesat.
Ada pepohonan di sekelilingnya dengan cabang-cabangnya membentuk semacam payung teduh, menghalangi sinar matahari.
Dia perlu melakukan sesuatu sebelum gadis itu bangun. Dia perlu mencari sesuatu untuk mereka makan, dan tanpa basa-basi lagi, dia melanjutkan perjalanannya.
***
Ketika akhirnya Cinde membuka matanya, dia kaget karena menyadari bahwa dia sendirian di hutan.
Apakah cowok itu sudah meninggalkannya?
Dia buru-buru bangkit berdiri. Cinde bahkan tidak ingat nama cowok itu. Dia tidak ingat apakah cowok itu pernah memperkenalkan dirinya.
E, tapi napa dia meninggalkan gue gini aja dimari? pikirnya.
Cowok itu sudah menyelamatkannya dari penculik dan Cinde menganggapnya sebagai orang baik, tapi sekarang—
“Hei.”
Cinde melihat sekeliling dan tak ada kata yang bisa menggambarkan perasaannya ketika dia melihat Jun datang ke arahnya. Tak mampu menahan kegembiraannya, Cinde memeluk Jun.
Jun terkejut tetapi hanya bisa tertawa.
“Wow, untuk apa ini?” tanyanya setelah Cinde melepaskan pelukannya.
“Gue kira lu ninggalin gue,” kata Cinde malu-malu.
“Wow! Saya tak akan pernah buat demikian. Awak dan saya akan tinggalkan tempat ini bersama-sama,” kata Jun sambil menunjukkan sesisir pisang baranang dan sebiji kelapa gading muda yang diambilnya dari kebun orang. “Sarapan?”
Cinde tersenyum dan mereka berjalan kembali ke tempat mereka.
“Terima kasih.”
Akhirnya mereka duduk untuk makan, dia memecahkan kelapa dengan batu dan mereka berbagi air.
“Kamu tahu ada di manakah kita saat ini?” tanya Cinde dalam Bahasa Indonesianya yang kaku mirip kanebo kering. Jun menggelengkan kepala.
“Saya tak tahu, tapi kita akan jumpa jalan keluar dari sini. Ada tasik kat sini, kalau awak nak mandi, saya janji tak akan datang dan mengintip awak.”
Dia tertawa, “Awas kalau mengintip. Mata kamu nanti bintitan.”
Jun tersentak. “Kamu ini ikan duyung atau sejenis gorgon?” tanyanya.
“Yah, kamu tidak akan berpikir begitu kalau kamu berubah menjadi batu Malin Kundang,” Cinde bercanda dan mereka berdua tertawa.
“Jadi, siapa namamu, Putri?”
Cinde ingin mengatakan bahwa ia bukan seorang putri, tetapi sekarang, dipanggil seperti itu olehnya, dia benar-benar merasa seperti seorang putri.
“Aku Cin … Lara. Namaku Lara.” Ia menjawab.
“Saya Jun, hambamu yang rendah hati,” Jun menjawab dengan membungkuk, tetapi Cinde hanya tertawa, mengangkat kepalanya sehingga air kelapa menetes dari mulutnya, membentuk aliran ke leher dan entah bagaimana jauh di dalam belahan dadanya.
Jun memalingkan muka dan mengunyah pisangnya.
***
Beberapa menit kemudian, keduanya berjalan menuju danau.
“Jadi, kenapa kamu ikut campur?” tanya Cinde.
“Mencampuri apa?” tanya Jun.
“Ketika kamu melihat kita diculik, kamu bisa saja memanggil polisi. Apa kamu pikir kamu bisa bertanya pada bajingan-bajingan itu dengan sopan dan mereka akan membiarkan kita pergi?” tanyanya.
Jun mengangkat bahu. “Saya fikir tadi saya boleh jadi hero kamu,” katanya dan Cinde tertawa.
“Kamu benar-benar suka tertawa, ya?”
Cinde mengangkat bahu.
“Kamu sepertinya tahu apa yang membuat aku tertawa dan aku rasa ini hari yang baik untuk tertawa. Lagipula, kamu tetap pahlawanku. Kamu berhasil menyelamatkan aku dari penculik,” katanya sambil terkekeh.
“Itu benar-benar membuatku merasa lebih baik.” Jun menjawab. “By the way, apa yang kamu buat itu berani sangat,” sambungnya.
“Apa yang aku buat?”
“Kamu bilang pada mereka kamu bukan putri dan kamu tetap berdiri teguh.”
“Tentu, aku bukan putri,” jawab Cinde.
Jun tersenyum, “Kamu masih lakukan itu. Lebih-lebih lagi, aku mengerti, aku juga bukan pangeran, aku hanya hambamu yang taat.” Katanya sambil membuka kancing kemejanya.
Cinde ingin bertanya apa maksudnya, tetapi perhatiannya teralih ketika Jun mulai melepas kemejanya.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyanya, mencoba mengalihkan pandangan.
“Saya perlu mandi air sejuk, jangan risau. Saya bukan ikan duyung atau apa sahaja yang kamu katakan. Saya seorang manusia, dalam bentuk manusia, dan kalau kamu harus tengok, kamu mungkin suka satu atau dua perkara,” jawab Jun mengedipkan mata sambil melepas celananya dan meninggalkan Cinde. Dia bergegas menuju danau dan dalam sekejap, Jun terjun ke air.
Cinde tak bisa berhenti tertawa. Dia tak percaya Jun ber telanjang tepat di depannya. Ah, untungnya Cinde tidak melihat.
Jun cowok paling gila yang pernah ditemuinya.











