Home / Genre / Komedi / Cinde Lara: Bab 17

Cinde Lara: Bab 17

Cinde Lara 1600x900
This entry is part 18 of 27 in the series Cinde Lara

Sam membuka matanya ketika pintu jeruji sel tempat dia dikurung berderit. Ia segera berdiri sambil menggosok matanya.

Dia melihat ratu masuk dengan dua pengawal di setiap sisinya. Ratu tampak tidak senang. Wajahnya tampak khawatir.

“Ratuku,” Sam menghormat dengan membungkukkan badan.

Ratu Fairuz diam, hanya memperhatikan Sam sebentar lalu menghela napas panjang.

“Sam? Itu nama awak, betul?” tanyanya akhirnya.

“Ya, Yang Mulia Ratu,” jawab Sam.

“Bagus. Awak beruntung suami saya sedang tidak ada di sini. Dia sedang menghadiri beberapa pertemuan kerajaan dan sedang keluar kota. Itulah sebabnya awak belum dibelasah. Kalau tidak, dia pasti sudah memberi amaran untuk berurusan dengan awak tanpa ampunan.”

Sam menghela napas tajam. Dia capek lahir batin.

“Sekarang, saya bertanya sekali lagi. Di mana putra saya?” tanya Ratu Fairuz. Matanya memancarkan kehawatiran, ketakutn, dan juga emosi..

“Yang Mulia Ratu, aku sudah jelaskan berkali-kali. Aku tidak bohong. Aku tak tahu di mana dia,” jawab Sam.

“Di mana telepon bimbitnya?” Sang Ratu bertanya kepada pengawal di sebelah kirinya dan penjaga itu mengeluarkan ponsel Sam.

“Dia menelepon awak dan mengirimi mesej ke awak, kan?” tanya Ratu sambil menyodorkan ponsel ke wajah Sam..

Sam menelan ludah.

“Yang Mulia Ratu, bukan pangeran yang menelepon. Jadi begini. Aku rasa ada yang salah, dan aku sendiri tidak mengerti apa yang sebenatrnya terjadi.Tapi aku bersumpah, kalau Yang Mulia Ratu mengizinkan aku keluar, aku akan menyelesaikan semuanya.”

“Apa yang terjadi? Kena apa awak ada di kamarnya? Kenapa kalian berdua melakukan ini pada saya?”

Sekali lagi Sam menghela napas panjang.

“Aku ada di kamar pangeran karena dia yang memintaku, dan aku bersumpah itu akan menjadi terakhir kalinya, Yang Mulia Ratu. Aku tidak tahu di mana dia sekarang ini. Percayalah, kalau aku tahu, aku akan dengan senang hati memberi tahu Yang Mulia Ratu. Aku tidak senang dengan keadaanku sekarang dan betapa khawatirnya aku seperti Yang Mulia Ratu juga. Tapi, kupikir, sesuatu mungkin sudah terjadi hari ini.”

Ratu mengerutkan kening. “Maksud awak, bahwa Junior sudah ditangkap?”

Sam mengangguk perlahan \

“Ya, Yang Mulia Ratu. Aku khawatir macam itu. Ponselnya ditemukan oleh seseorang dan orang itu mengobrol denganku, yang kebetulan menurut obrolan kami, kawan orang itu juga ditangkap.”

“Jadi, siapa orang-orang bodoh yang berani menculik seorang pengiran diraja? Ini semua yang selalu saya cakap. Pergilah dengan pengawal ke mana pun awak pergi. Dia tak hendak mendengar cakap saya. Siapa yang tahu apakah dia hidup atau mati?” Ratu menangis tersedu-sedu.

Sam mendesah.

“Yang Mulia Ratu, apakah orang ini sudah menghubungimu?”

Ratu Fairuz mengangguk, “Ya, puan itu sudah.”

“Puan?”

“Ya, suara seorang wanita yang sayadengar dan dia langsung menutup telepon,” jawab ratu.

“Keberatankah kalau aku meneleponnya balik? Karena Kalau dia sudah ketemu sama kawannya, mungkin dia juga punya sesuatu untuk diceritakan tentang Jun.”

“Baiklah.” kata ratu sambil menyerahkan ponsel itu pD Sam.

**

Tatiana melihat jam di telepon yang tertempel di dasbor mobil,  yang menunjukkan pukul tujuh pagi kurang beberapa menit. Zhoya terbangun dan Tatiana segera mengunci ponsel dan menutup matanya, berpura-pura tidur.

Zhoya menguap dan membuka matanya.

Sial! Ternyata sudah siang. Mereka punya banyak hal yang harus dilakukan. Dia berguling dan melihat Tatiana masih tidur. Dia menggelengkan kepala dan mengambil telepon pria asing itu dari dasbor. Dia hendak menghidupkannya ketika tiba-tiba menyadari bahwa ponsel itu sudah menyala.

Zhoya mengerutkan kening. Bukankah ia mematikannya tadi malam?

Dia memeriksa pesan-pesan itu dan menyadari tidak ada pesan baru. Lalu dia menjatuhkannya dan membuka pintu mobil, dia perlu menenangkan diri.

Tatiana membuka matanya unttuk mengintip dan menyadari Zhoya telah pergi. Baru saja dia hendak memeriksa ponsel lagi, benda itu bergetar.

Dengan cepat dia melirik ke arah Zhoya di luar dan menyadari bahwa Zhoya tidak melihatnya. Dia mengangkat ponsel Jun.

“Halo,” katanya sepelan mungkin.

“Halo.” Sam menjawab, “Tolong, apakah aku  sedang berbicara dengan perempuan yang menemukan telepon kawanku?”

“Bukan, kamu sedang berbicara dengan wanita yang ditangkap bersama pangeran,” Tatiana berbohong.

“Oh! Bagus! Jadi di mana dia?”

“Sebenarnya saya ingin berbicara dengan ratu, bukan dengan kamu,” kata Tatiana, melirik ke arah jendela untuk melihat di mana Zhoya. Beberapa detik kemudian, suara seorang wanita terdengar.

“Halo, ini Ratu Fairuz, siapa ini?”

Kegembiraan menyelimuti Tatiana.

“Yang Mulia Ratuku. Jangan khawatir, saya tahu cara menemukan pangeran kita,  tapi saya butuh satu hal dari Anda, Ratuku,” katanya. Dia melihat Zhoya datang.

“Apa itu, siapa awak? Di mana awak?”

“Ratuku, saya salah satu wanita yang seharusnya ikut kompetisi tapi tidak bisa dan sekarang saya sedang dalam perjalanan untuk menyelamatkan pangeran kita. Nama saya Tatiana. Sayaharap kalau saya menyelamatkan pangeran, itu akan memberiku kesempatan yang lebih baik daripada putri-putri lain dan saya bisa menjadi pasangan pangeran.”

“Awak pegang janji saya. Bawalah putra saya kembali kepada say dan dia milik awak.”

Tatiana tersenyum.

“Terima kasih, Yang Mulia. Hanya itu yang perlu saya dengar.”

Cinde Lara

Cinde Lara: Bab 16 Cinde Lara: Bab 18

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image