Hanny terus berlari dengan penuh kesungguhan, dengan sesekali memandang heran kepada Aldy, yang berlari mengiringinya sambil tersenyum-senyum pinky sendiri.
***
Kuil Partai FC, Waktu Indonesia bagian Pacar Fiksi
Boom!
Halaman kuil Partai FC berlubang seperti dihantam meteor. Di tengah lubang tanah itulah Desol tegak berdiri. Pakaiannya berkibar-kibar penuh hawa sakti. Sementara matanya berkeredep tak putus-putusnya seperti sinar lampu disco yang dipasang warga menjelang hari kemerdekaan, walau sekilas agak mirip pula dengan kriyep-kriyep orang yang cacingan.
“Kokoh!” teriak Christian Kelvin dan Sri Subekti a.k.a Dinda Pertiwi gembira, karena leluhur mereka itu berhasil meyakinkan lweekang yang sangat hebat. Bergegas keduanya memberi tabik.
“Tak udah banyak peradatan,” Desol mengibaskan lengan bajunya ke arah dua admin baru Fiksiana Community itu. Sejalur tenaga dalam langsung menahan gerak penghormatan mereka hingga berhenti di tengah jalan, membuat mereka semakin terkagum-kagum akan kekuatan hawa murni leluhur tersebut.
“Terimalah kembali jabatan Ciangbunjin Partai FC ini, Kokoh,” kembali mereka berdua memberi tabik, dan kembali Desol mengibaskan ujung lengan bajunya.
“Kalian semua telah membuktikan kesigapan, kecekatan serta kecakapan yang dimiliki pada even ‘Katakan Cinta’ kemarin, hingga hasilnya amat memuaskan. Jadi… biarlah kita nikmati jabatan Ciangbunjin ini bersama-sama.”
“Oh, iya, Pin… aku punya cerita balasan untukmu,” lanjut Desol, membuat Christian Kelvin agak bingung menjawab.
“Tolong sampaikan kepada kakek tua renta berkaca mata yang mengarang ‘Hikayat Keluarga Jempol Kaki’ tersebut, bahwa sebelumnya, ada nenek-nenek yang kehilangan ibu jari tangannya. lalu… ”
Suatu hari, nenek-nenek tersebut bermimpi bahwa tengah malam ibu jarinya yang hilang merayap ke dalam selimut dan berteriak, DOOORRR!” hingga mengagetkan jari-jemari lain yang masih tersisa di tangannya, yang tengah pulas bersama dirinya.
Karena kaget, serentak jari-jemari si nenek berhamburan meninggalkan tangan.
Jari telunjuk berlari menuju panggung politik dan menunjuk apa saja dan siapa saja yang dirasa tidak sejalan.
Lain lagi dengan jari tengah. Karena perangainya agak sarkas, jari tengah memilih untuk mengadu nasib ke Amerika, dan langsung menjadi simbol caci-maki anak muda di sana dengan cara mengacungkannya tegak lurus ke muka lawan.
Nasib paling manis agaknya dialami oleh jari manis. Ia terus dicari setiap kali ada yang ingin bertunangan, atau langsung dilingkari cincin kawin bagi para jomblo yang ngebet melepas kesendiriannya yang mengenaskan.
Dan takdir terburuk langsung diusung si bungsu kelingking, yang terjebak ritual janji kalangan mafia Jepang, hingga harus berkali-kali dipenggal dari tangan ke tangan.
“Bagaimana dengan kisah si ibu jari biang kerok tersebut?” tanpa sadar Christian Kelvin bertanya. Hatinya penasaran luar biasa sebab tadi telah disindir sebagai kakek tukang dongeng berusia renta.
“Karena merasa bersalah, ibu jari kembali menempel ke tangan si nenek.” Jawab Desol.
“Tapi si nenek yang telah kehilangan seluruh anggota jemarinya, akhirnya tak dapat lagi membuat postingan di Kompasiana. Dengan penuh haru, si nenek bersyukur karena masih bisa meng-klik vote ‘tobat’ di lapak Kompasianer yang lain. Dan ia merasa hal itu jauh lebih menyelamatkannya dari dosa ketimbang ketika jarinya lengkap dia justru menggunakannya untuk mengetik postingan maksiat, artikel penuh hujat, serta komentar yang menandakan pikiran cupat dan otak penuh karat…” wejang Desol kepada Christian Kelvin, yang sekaligus juga menyentil telinga penulis cersil usil ini serta pembaca setianya, membuat suasana kuil Partai Fiksiana Community langsung sepi nyenyet melebihi kuburan.
Kembali Christian Kelvin, Dinda Pertiwi serta seluruh anggota partai FC takjub. Sebab bukan hanya kemampuan silat leluhur ini saja yang mumpuni, melainkan juga wejangannya yang amat pas dengan selera analogi berfiksi, walau memang terasa agak janggal juga membayangkan jari-jemari bertingkah layaknya manusia. Tapi mungkin itulah dunia fiksi, yang selalu menemukan celah untuk memberikan yang terbaik yang dimiliki semasing fiksianers, dengan atau tanpa logika.
Masih dengan kekaguman yang dalam, Christian Kelvin mengajak Desol untuk mengopi bareng di ruang kuil.
“Paspamci,” Perintah Christian Kelvin.
“Siaaap!” seru beberapa Pasukan Pengamanan Ciangbunjin Partai FC merangkap office boy, yang rerata berbadan kekar tapi tak sungkan menjerit saat melihat kecoak melipir.
“Bawa tandu emas untuk menggotong Kokoh, dan seduh kopi salju terbaik yang kita petik dari Gunung Taysan kemarin…!”
“Tidak perlu, Pin…” tolak Desol tegas. “Aku tidak seperti pengarang cersil usil ini yang gila kopi. lagipula seorang pemimpin yang baik bukanlah minta dilayani, melainkan justru menjadi pelayan bagi yang dipimpin. Begitu juga kedudukan kita sebagai Ciangbunjin Partai FC, harus bisa ngemong seluruh anggota dan memacu semangat mereka, bukannya malah sibuk sendiri bersaing serta ingin selalu menjadi ‘Yang Terbaik’ di Komunitas Partai…!!! Satu lagi… masih ada permasalahan urgent yang mesti segera kita tuntaskan secepatnya.”
“Kau ingat tebing tepi danau yang berada dekat Lembah Patah Hati?”
Christian Kelvin mengangguk.
“Kita ke sana sekarang, karena aku masih tersinggung atas penamaan pengarangnya terhadap tebing tersebut. Masak berani-beraninya dia memberi nama tebing itu dengan ‘Tebing Jomblo Berjoget’, disangkanya kita-kita yang lagi single ini topeng monyet, apa?” geram Desol.
“Dan kau Dinda Pertiwi, tolong jaga Partai FC ini selama kami pergi. Koordinir semua penjaga gawang Partai FC untuk segera men-download satu-persatu karya peserta event [KC] segera. Khawatir ada yang curang merubah isi seperti event ‘Aku Punya Impian’ yang lalu…!” Perintah Desol.
“Baik Kokoh, Dinda terima perintah,” tabik Dinda Pertiwi. “Bagaimana kriteria calon juaranya, Kokoh? Apakah harus berdasarkan karya yang diganjar HL oleh admin K? Atau jumlah vote dan komen terbanyak, tak peduli isi komennya hanya sekedar ‘mangstaf’ atau ‘menarik loh..’ atau ‘salam fiksi’? Yang terlihat jelas hanya sekedar basa-basi demi mengejar setoran agar bisa segera masuk ke kanal NT berdasarkan balas budi folbek sesama kompasianers? ”
“Husssttt! Ini event admin Partai FC, dan bukannya event admin K. Jadi kewenangan mutlak berada di tangan kita, tanpa campur tangan siapa pun!” tegas Desol sambil memberi tanda agar Christian Kelvin mengikuti gerakannya. “Dan jika Si Ella kecewa hingga minta kawin lagi karena karyanya yang HL tak kita pilih sebagai juara, biarin aja. Salah sendiri kenapa dia ngeduluin gue, harusnya kan gue yang depanan.”
Desol terus berlari sambil misuh-misuh, hingga akhirnya sadar bahwa Christian Kelvin tertinggal di belakangnya.
“Lambat sekali langkah fiksimu, Pin, jika begini terus, kapan kejombloan kita akan berakhir?” sindir Desol kepada Christian Kelvin, yang entah menyindir larinya yang lelet, atau justru menyindir keberaniannya yang maju-mundur untuk menembaknya dengan setangkai bunga.
Digenggamnya tangan Christian Kelvin untuk menyalurkan Lwekang, agar Christian Kelvin dapat mengimbangi ginkangnya yang kini menduduki nomor satu seperempat koma tiga puluh sembilan di rimba persilatan itu. Tapi sebenarnya, ada makna lain yang tersirat dari genggam tangan Desol, yang hanya jomblo sejati sajalah yang tak akan pernah bisa mengungkap rahasia terdalamnya.
Beriringan mereka melesat. Kilat, menuju ‘Tebing Jomblo Berjoget’ yang amat menyebalkan rasa kesendirian tersebut.











