Home / Genre / Komedi / Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 1)

Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 1)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 18 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

tanyakan pada dunia, apa itu cinta?
yang terus mengangkangi tentu bukan cinta
yang tak harus memiliki jelas tidak cinta
tapi cinta selalu saja cuma cinta
seperti kita yang seringkali cuma kata

 

Demi Menolong Na, Tak Peduli Meski Terkena ‘Jalan Api Menuju Neraka’.

Bay siuman terlebih dahulu dari Na. Tangannya masih menggenggam jemari Na dengan amat erat.

“Na…” Bay coba memanggil. Akan tetapi dara cantik itu tak menjawab. Bahkan wajah pucatnya bertambah pias waktu ke waktu.

Sekuat tenaga Bay berusaha bangkit. Giginya bergemeretak menahan sakit luar biasa, dengan urat biru mengejang di pelipis serta keringat dingin yang seperti dituang seember ke sekujur tubuh. Tapi bahkan dengan usaha yang seperti itu, Bay tetap tak berhasil bangkit.

Kembali Bay mencoba, dan kembali ia gagal, hingga akhirnya ia hanya bisa pasrah. Tenaganya habis. Hawa murninya macet. Yang tersisa hanya perasaan hampa buah harapan yang semakin kosong dan mengering.

“Barangkali Tuhan memang menakdirkan kami harus berakhir seperti ini,” gumam Bay sambil memandang haru ke sosok yang napasnya mulai menyurut itu. Ia yang tak pernah lelah menghadapi apapun yang menimpa, akhirnya harus mengalami pula bagaimana rasanya dihinggapi keputus asaan.

Betapa tak enaknya hidup, ketika kita merasa telah mengeluarkan kemampuan hingga ke batas terakhir yang dimiliki, akhirnya tetap tak mampu melawan kenyataan, dan dipaksa untuk sujud pada ketidak berdayaan.

Bay merasa pikirannya semakin kosong, hingga akhirnya hanya mampu menyerahkan segalanya kepada Dia Sang Maha Isi.

Deg.

Kosong?

Isi?

Dia…

Sang Maha… Isi?

Ah, ternyata begitu!

Sebuah kesadaran yang tak disengaja membuat dada Bay seperti meledak saking girangnya. Kesadaran yang langsung menyemai ulang tunas harapannya yang sempat ranggas, hingga kembali melahirkan kuncup-kuncup daya juang yang kian merimbun.

Bay teringat bagian terakhir Kitab Bayangan Mengejar Sinar yang tak pernah berhasil ia latih,   karena maknanya yang memang terlalu dalam dan tak terjangkau daya nalarnya. Tapi, siapa tahu? Justru pada saat sekarat seperti inilah ia justru berhasil menyingkap hakikatnya!

Bergegas Bay mendawam ulang kiam hoat tersebut, sambil bathinnya khusuk menelad setiap garis dan gurat yang terkandung di dalamnya.

kosong kosong kosong isi isi isi
kosong menjelma isi
isi tak lagi kosong
kukosongkan isiku Kau isikan kosongku
aku kosong Kau isi aku isi Kau tetap isi
kosongku kini isi isiku memperjelas isiMu
isi aku dengan isiMu
kosongkan aku untuk isiMu
isi isi isi isi isi isi isi isi isi

Mu
 

Akan ada waktu untuk menutup segala yang ada di raga demi sumber segala sumber. Saat debur ombak menumbuk dan amuk segara begitu dahsyat mencekat, pada titik itulah kesejatian diri mencapai bentuk tersunyi: Adakah sekedar makhluk fana yang gandrung akan kealpaan, atau hanya terjelma cermin laduni bagi terpantulnya mata air kesegalaan.

kosong isi kosong isi
kosong ketemu isi
isi kosongku lari
kosong tak lagi bohong
isi
tak lagi cuma mimpi
ke isiNya segala kosong: Kembali!
 
kosong isi kosong isi
kosongku isi Kau
isiku cuma isi Kau
Kau isi ku kosong Kau isi kosongku jadi isi Kau
isi isi isi isi isi isi isi isi isi
Mu

 

Jika Kau mau, bawa aku memahami-Mu jauh ke kedalaman nafas yang Kau hembus, jauh ke kekeberuntunan kejadian yang kau tebar ke seluruh semesta. Diam dan rasakan setiap gerak kehidupan, berkelindan amat perlahan di setiap jiwa-jiwa yang mencintai dan dicintai.

Perlahan namun pasti, Bay merasakan aliran hangat muncul dan bergeletar-geletar di bawah pusatnya. Bay berusaha keras untuk tetap tenang, dan mati-matian menahan haru yang menggumpal di relung hati terdalamnya. Rasa haru yang teramat gegap mengingat sebentar lagi ia dapat menyelamatkan Na.

Hanya saja mengingat Na membuat hati Bay sedikit goyah. Terburu-buru ia salurkan lwekang yang mulai tumbuh dan membesar itu ke telapak halus yang tak pernah lepas dari genggamannya. Tapi usahanya terbentur sia-sia.

Sadar akan kesalahannya, Bay membuang segala keduniawian yang menggelayuti pikiran. Dihimpunnya hawa murni dengan lebih sabar, lalu memutarnya ke seluruh tubuh, sambil menyisipkan seketip doa semoga Na mampu bertahan.

Agak terkejut juga Bay merasakan lwekangnya berjalan tak seperti biasanya. Tidak lagi zig-zag, melainkan berputar searah jarum jam, yang lalu berbalik arah serta beberapa kali terasa pecah di tengah untuk kemudian menebar ke seluruh jalan darah secara bersamaan.

Baru saja Bay mencapai titik paling kritis dari penyembuhannya, ketika ia merasa nadi tangan Na berhenti berdetak, membuatnya gagal mempertahankan ketenangan.

Akibatnya cukup fatal. Uap putih halus di ubun-ubun Bay membuyar, dengan bagian tubuh sebelah kiri yang terasa kemeng hingga separuh badan. Agaknya Bay mengalami apa yang biasa dikenal sebagai Jalan Api Menuju Neraka.

Tapi Bay tak peduli. Alih-alih memulihkan terlebih dahulu hawa murninya yang tersesat, Bay justru memaksanya untuk lebih tersalur ke telapak tangan Na. Ia seperti bersicepat dengan maut. Terlambat sedikit saja, bisa dipastikan nyawa Na akan langsung melayang.

Satu kali. Dua kali. Hingga pada kali yang ketiga akhirnya Bay berhasil. Tak dipedulikannya rasa kaku serta sengatan ngilu yang mulai melumpuhkan separuh tubuh bagian atas. Terus menerjang segala rintang: Hanya demi menyelamatkan Na!

Akhirnya Na siuman. Dan pemandangan perdana yang dilihatnya adalah wajah Bay yang guram padam menahan sakit nan menyengat.

“B-Bay… lekas kurangi hawa murnimu… aku sudah agak baikan…” pinta Na gugup. Ia tahu Bay tengah mengalami sesat jalan darah karena mengobati dirinya dalam kondisi tubuh yang tengah terluka berat. Dan jika hal itu tidak segera ditanggulangi, akibat akan amat mengerikan.

Ditariknya lengan yang menjadi ‘jembatan penghubung’ antara dirinya dengan Bay. Tapi tenaganya belum pulih, sementara Bay pura-pura tak mendengar dan terus melanjutkan tindakannya.

“Kumohon, Bay… tubuhmu bisa lumpuh separuh… bahkan bisa mati… Lepaskan, Bay…” suara Na bercampur isak. Matanya yang bening menatap Bay dengan berkaca-kaca, yang tetap tak dihiraukan sedikitpun oleh Bay. Agaknya Bay memang mati-matian ingin menyelamatkan Na dari segala marabahaya, tanpa mempedulikan apapun resikonya.

“Mengapa kau melakukan hal ini untukku, Bay… Mengapa, Bay…” kali ini suara Na terdengar lebih seperti merintih.

Akhirnya ia mengambil keputusan. Seluruh sisa tenaga yang ada ia pusatkan ke lengan yang masih menggenggam pedang hujan, dan mulai menggesernya perlahan, siap untuk mengutungi tangannya sendiri demi menyelamatkan Bay.

Dan ketajaman pedang hujan bukanlah sesuatu yang dapat dibuat enteng. Cukup dengan menjatuhkannya ditambah sedikit tekanan, niscaya akan langsung memotong besi sekeras apapun bagaikan memotong tahu. Apalagi jika sekedar untuk memotong tangan. Dan ia lebih rela kehilangan tangan, daripada menyaksikan Bay tewas karena menolongnya.

Belum lagi Na menggerakkan pedang, ketika genggam tangan Bay mengendur tiba-tiba, yang berlanjut dengan tubuhnya yang terjerembab ke arah Na.

“Bay… kau tidak apa-apa, Bay…? Bay…?” pegangannya pada pedang hujan terlepas. Dalam cemas yang sangat Na hanya mampu menggeragapi wajah Bay.

Bay menggeleng lemah, untuk kemudian kembali tak sadarkan diri.

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Dunia Fiksi yang Aneh (Part 2) Setitik Haru Selaksa Rindu (Part 2)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image