Lemari Syauki berderit terbuka, dan sebuah tangan besar berbulu dengan kuku runcing melingkar di jari-jari keluar dari balik pintu. Monster itu pernah berada di dalam kamar Syauki sebelumnya—meskipun Syauki tidak menyadarinya. Dia tidur nyenyak.
Monster Lemari mengintip dari balik kegelapan. Mmata kuningnya tertuju pada Syauki—satu-satunya manusia yang tak bisa ditakuti monster mana pun. Seandainya saja dia tidak tidur nyenyak.
Namun Monster Lemari tak mau menyerah. Dia tak mendapatkan reputasinya sebagai hantu kamar tidur paling menakutkan hanya karena menyerah. Tidak. Dia akan menemukan cara untuk membuat Syauki ngompol ketakutan.
Monster itu melangkah keluar dari lemari, kuku kakinya menggaruk lantai kayu. Dia melihat bayangannya di cermin di balik pintu Syauki dan menggeram gembira.
Dia tampak mengerikan. Berbulu dengan gigi-gigi besar yang mencuat dari mulutnya. Dia membiarkan air liurnya yang hijau berlendir menetes dari taring tajamnya dan menggenang di lantai.
Malam ini akan menjadi malamnya. Dia mengulurkan tangannya ke arah Syauki.
“Tunggu sebentar,” desis sebuah suara dari bawah tempat tidur.
Monster Lemari berhenti dan menggeram memperingatkan.
“Tenanglah, jagoan,” kata makhluk itu saat muncul dari tempat persembunyiannya. “Ini manusiaku. Aku sudah lama mengintainya. Jadi, cari manusia lain untuk diteror.”
Monster Lemari meraung keras. Air liurnya menyembur ke seluruh tempat tidur dan dinding. Syauki masih tertidur.
“Oh, ayolah! Lendirku baru saja dibersihkan!” kata Monster di Bawah Tempat Tidur, mengambil kaus kaki kotor dan menyeka tubuhnya yang berlendir. Dia tampak seperti habis berguling-guling di aspal.
“Siapa kau?” tanya Monster Lemari dengan suara geramannya yang dalam.
“Jangan pura-pura tidak tahu,” jawab makhluk berlendir itu. “Akulah Monster di Bawah Tempat Tidur. Kau pasti pernah mendengar tentangku. Akulah monster paling menakutkan di dunia. Tanya saja siapa pun.”
“Monster di Bawah Tempat Tidur, ya? Terakhir kudengar kau menakut-nakuti keluarga Dahlan di ujung jalan,” kata Monster Lemari.
“Terlalu gampang. Aku membuat mereka ketakutan sejak malam pertama aku di sana. Aku datang ke sini karena rumor mengatakan manusia ini tidak bisa ditakuti.”
Monster Lemari membusungkan dadanya yang berbulu. “Yah, kau terlambat. Aku sampai di sini duluan.”
“Oh, begitu?” Monster di Bawah Tempat Tidur menyemprotkan lendir hitam ke arah saingan barunya.
“Ya. Aku akan menjadi monster pertama yang menakut-nakuti di sini. Hantu Berisik pergi minggu lalu setelah mencoba menakut-nakuti Syauki selama lima belas tahun. Dan Monster Kegelapan? Aduh, dia tidak punya kesempatan.” Monster Lemari menjilati giginya. “Tapi aku pernah mendengar orang ini bicara dalam tidurnya. Dia suka gigi runcing. Mungkin terlalu banyak membaca novel vampir, tapi ya sudahlah. Itu menguntungkanku.”
“Kau tahu, kurasa aku akan membiarkanmu mencobanya,” kata Monster di Bawah Tempat Tidur. “Mungkin seru untuk ditonton. Kalau kau gagal, akan kutunjukkan cara menakut-nakuti ini.” Dia meluncur di lantai, meninggalkan jejak hitam berlendir sampai ke sudut tempat ia bersembunyi di balik bayangan.
Monster Lemari mengendap-endap menuju tempat tidur Syauki, mengeluarkan air liur membayangkan kulit Syauki yang asin. Semakin dia menakuti manusia, semakin banyak keringat manusia itu, dan Monster Lemari menyukai rasa takut yang berkeringat.
Dia naik ke tempat tidur, merangkak di atas tubuh Syauki yang sedang tidur. Kuku kakinya menembus selimut, mengiris bulan sabit setiap beberapa ruas jari. Dia merasakan panas dari tubuh manusia itu dan mendengarkan napasnya yang berirama. Ini terlalu mudah. Dia berada di posisi yang sempurna, melayang di atas Syauki dengan giginya beberapa sentimeter dari wajahnya, dan manusia itu akan terbangun karena air liur hijau menetes ke pipinya, membakar kulitnya seperti asam.
“Mau melanjutkan pertunjukan ini?” tanya Monster di Bawah Tempat Tidur dari tempat duduknya di sudut. “Aku mulai bosan.” Dia mengambil tas olahraga Syauki, mencari sesuatu untuk dimakan—lebih baik kaus kaki atau celana pendek olahraga yang bau.
“Jangan buru-buru!” geram Monster Lemari. “Dan diamlah di sana. Aku tak perlu kau membangunkan manusia itu sebelum aku siap. Aku ingin gigiku menjadi hal pertama yang dilihatnya begitu dia membuka mata.”
“Hei, ini tasmu?” tanya Monster di Bawah Tempat Tidur. “Apa kau bertengkar lagi dengan Monster Kegelapan?”
“Bisakah kau diam?” kata Monster Lemari, tetapi kemudian dia berhenti. “Apa maksudmu aku bertengkar lagi dengan Monster Kegelapan?”
“Kau sudah menghancurkannya berkeping-keping di dalam tas ini,” kata Monster di Bawah Tempat Tidur. “Bro, kau membuat nama kita buruk kalau kau membunuh sesama kita. Tetaplah menyasar manusia, oke?”
Monster Lemari membeku, melayang di atas Syauki, yang masih tertidur lelap.
“Monster Kegelapan ada di dalam tas itu?”
“Jangan pura-pura bodoh,” jawab Monster di Bawah Tempat Tidur.
“Tapi aku tidak … Itu bukan tasku.” Monster Lemari balas menatap Syauki.
Dia tahu Monster Kegelapan adalah monster terakhir yang mencoba menakut-nakuti Syauki, tetapi dia sudah menyerah beberapa hari yang lalu. Itulah sebabnya Monster Lemari muncul. Gilirannya.
“Oke, jadi kau memasukkannya ke dalam tas manusia itu. Apakah itu rencanamu untuk menakut-nakutinya? Dengan memasukkan tubuh Boogieman yang terpotong-potong ke dalam tas olahraga pria itu?”
“Tidak,” kata Monster Lemari. “Aku tidak melakukannya. Aku ingin sekali mendapat kesempatan untuk mencabik-cabik makhluk itu, tetapi bukan aku.”
“Ayolah! Lalu siapa itu?”
Monster Lemari merasakan Syauki bergeser di bawahnya.
Mata Syauki terbuka lebar.
“Itu aku!” Kata Syauki, sambil mengulurkan tangan untuk mencengkeram Monster Lemari dengan lengannya yang besar dan berbulu. Syauki meremas, mematahkan lengan monster itu seperti ranting, dan Monster Lemari menjerit kesakitan.
“Gigi yang bagus,” kata Syauki. “Tapi punyaku lebih bagus.”
Monster Lemari menatap ngeri saat gigi Syauki tumbuh di depan matanya.
“Kau bukan manusia,” katanya. “Kau ini apa?”
“Akulah makhluk yang ditakuti monster,” kata Syauki.
Hal terakhir yang didengar Monster Lemari adalah suara gigi Syauki yang merobek lehernya bersamaan dengan jerit ketakutan Monster di Bawah Tempat Tidur.
19 November 2025











