Home / Genre / Cerita Anak / Eken dan Tifa yang Bicara

Eken dan Tifa yang Bicara

Eken dan Tifa yang Bicara
3

Di Agani, sebuah kampung yang terletak di perbukitan hijau di kaki gunung, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Eken. Eken selalu ingin tahu. Kakinya selalu berdebu karena mengembara mencari pohon sagu. Tangan Eken yang tidak memegang sagu selalu memegang tifa. Tifa adalah gendang tradisional masyarakat Papua.

Eken sangat suka memainkan tifa. Tifa berbicara tanpa kata. Tifa memanggil pemburu kasuari dan babi hutan. mengirim pesan melalui rawa dan perbukitan, bahkan membuat para leluhur menari.

Kakeknya, Mumugu, adalah pembuat tifa terbaik di kampung itu. Bengkelnya beraroma kayu segar dan kulit hewan yang diregangkan.

Suatu malam, Eken masuk ke bengkel kakeknya dan menemukan sebuah tifa berdebu dengan ukiran yang sudah pudar.

“Kakek, apa ini?” tanyanya.

Wajah Kakek Mumugu berubah serius.

“Itu Tifa Fumeripits. Sudah bertahun-tahun tidak dimainkan.”

“Kenapa tidak?” tanya Eken.

“Dulu, Tifa Fumeripits adalah suara suku kita,” kata Kakek Mumugu. “Dia memanggil para pejuang untuk beperang, menyatukan kampung-kampung untuk perayaan dan pemakaman pahlawan, dan mengirim pesan lebih cepat daripada manusia yang berlari. Namun ketika orang-orang berhenti mendengarkan, dia pun terdiam.”

 “Bolehkah aku memainkannya?” tanya Eken.

Kakek Mumugu terkekeh. “Tifa tidak hanya dimainkan, Eken. Tifa harus dipahami.”

Malam itu, ketika penduduk Agani tertidur, Eken berjingkat kembali ke bengkel. Dia duduk di depan Tifa Fumeripits, menarik napas, dan menabuhnya.

Buuum!

Hembusan angin kencang berputar di sekelilingnya. Ruangan itu berputar, semakin cepat hingga—

Duk!

Eken mendarat di sebuah desa dengan rumah-rumah lumpur merah dan aroma papeda dan ikan bakar. Di hadapannya, para pria dengan wajah dihias dengan kapur putih dan kapur merah memainkan tifa yang menjulang tinggi, sementara para wanita bergoyang, kalung kerang mereka berdenting seperti tetesan air hujan. Hiasan bulu kasuari di kepala mereka menambah kegagahan dan kecantikan.

“Di mana aku?” bisik Eken.

Seorang anak laki-laki di sampingnya menyeringai. “Kerajaan Fumeripits! Di sini, tifa berbicara. Tifa menghidupkan Mbis dan Kawenak, memperingatkan bahaya, dan mengumpulkan orang-orang.”

Eken memperhatikan seorang penabuh tifa memainkan sebuah pola. Hampir seketika, orang-orang berkumpul. Seolah-olah tifa berbisik di telinga mereka.

Sebelum dia sempat bertanya lebih lanjut—

Buuum!

Angin menderu, dan dia jatuh lagi.

Kali ini, aroma sopi segar memenuhi udara saat dia mendengar deburan ombak. Para nelayan menarik jala dari sungai sementara sebuah tifa mengirimkan nada yang menggema di permukaan samudra.

“Inilah Sungai Omanesep,” seorang tetua berkata kepadanya. “Nenek moyang kita menggunakan tifa yang bisa berbicara untuk mengirim pesan dari sungai ke sungai, memanggil para pedagang dan memperingatkan akan adanya badai.”

Jantung Eken berdebar kencang. Dia melihat, mendengar, dan merasakan sejarah.

Tifa bukan sekadar musik. Tifa adalah kehidupan. Tifa menghubungkan orang-orang, membawa pesan, dan menjaga tradisi tetap hidup.

Buuum!

Buuum!

Eken kembali ke bengkel, terengah-engah di hadapan Tifa  Fumeripits yang tak bersuara.

Kakek Muwugu berdiri di ambang pintu, tangan disilangkan.

“Kamu mengerti sekarang, kan?”

Eken mengangguk. “Tifa lebih dari sekadar bunyi. Tifa adalah suara. Tifa adalah sejarah.”

Namun, raut wajah Kakek Muwugu menjadi muram. Dia mengusap ukiran-ukiran tua itu dengan jarinya.

“Tifa tidak boleh diangkat saat tanah di bawahnya bergetar,” gumamnya. “Jika tidak ada persatuan, iramanya akan tenggelam dalam pertengkaran.”

“Tapi Kakek,” desak Eken, “jika kita tidak memainkannya, bagaimana mereka akan mengingatnya?”

Kakek Muwugu mendesah. “Tifa tidak bisa memaksa orang untuk mendengarkan.”

Eken menatap Tifa  Fumeripits.

“Mungkin tidak,” katanya. “Tapi dia bisa mengingatkan mereka.”

Sebelum Kakek Muwugu sempat menghentikannya, Eken mengangkat Tifa Fumeripits dan berlari keluar.

Dia berlari ke kampung dan memukulnya.

Buuum!

Beberapa kepala menoleh, sebagian besar menggelengkan kepala, dan pergi.

Buuum!

Beberapa penduduk kampung berteriak kepadanya.

Beberapa melemparkan batu ke arahnya.

Beberapa bergumam, “Anak bodoh.”

Namun Eken tidak berhenti.

Buuum! Buuum!

Bunyi tifa bukan untuk mereka yang ingin mendengarkan, melainkan untuk mereka yang telah lupa.

Eken berjalan menuju tepi sungai. Matahari berkilauan di atas air. Dia mencelupkan jari-jarinya ke dalam air, mendengarkan deburan gelombang yang lembut. Lalu dia mulai menabuh tifa.

Buuum!

Irama tifa bercampur dengan desir air, bergulir di perbukitan bagai lagu yang terlupakan. Angin membawanya menembus pepohonan. Dan sedikit demi sedikit, kampung itu mulai mendengar suara gendang itu.

Seorang perempuan tua, duduk di dekat api unggunnya, memejamkan mata.

Anak-anak yang sedang bermain Patah Kaleng dengan bola dan kaleng berkas berhenti bermain dan menoleh.

Seorang pemburu, sambil mengasah tombaknya, mengetuk-ngetukkan kakinya tanpa sadar.

Satu per satu, mereka teringat.

Dan perlahan, amat sangat perlahan, mereka mulai berkumpul.


Cikarang, 7 Oktober 2025

Penulis

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image