Home / Fiksi / Cerpen / Tapak Kaki Adam

Tapak Kaki Adam

Tapak Kaki Adam

Mama menutup mata dan menahankan isaknya lagi. Aku lupa berhitung dan tak tahu ini sudah kali yang ke berapa, tapi wajah mama belum beranjak dari duka yang begitu dalam. 

“Adam …,” panggil Mama lirih. 

Aku menatap Mama dalam, keremangan Skandinavian chandelier mengambil alih suasana segera setelah mama mematikan lampu utama untuk kemudian duduk di pembaringan. Waktu-waktu seperti ini yang ingin kuhindari tapi sekaligus pula kurindukan. 

“Aku mencintaimu dengan sangat, kenapa mereka tidak mengerti?” Mama memulai dialognya. Aku tahu, dari titik ini kemudian perlahan cerita akan bergerak mundur. 

Mama memang dipinang Papa dari sebuah masa hidup yang kelam. Janji keabadian akan kasih Papa menjelma titik cahaya yang pernah dianggap akan menyelamatkan hidupnya. Tapi ia mendapati ternyata cinta Papa tak selalu matahari di sengat terkuat.

“Dia begitu manis, Adam, Papamu itu. Dia bahkan tak peduli dengan barisan koleksi Millaman di rumahku yang bagi kultur keluarganya adalah bahan hujatan. Baginya, aku sempurna dalam segala kekurangan.”

Tak ada air mata di sini, Mama bercerita dengan tegar sekali. 

Kemudian Papa memilihnya di antara milyaran wanita di dunia, dan berjanji akan membantu Mama memulai kembali hidup baru yang lama menjadi impiannya. Mama tak ingin seumur hidup bersama cairan-cairan fermentasi itu. 

Cita-citanya suatu hari adalah bangun pagi, menyiapkan makan bagi orang-orang terkasih, menata seisi rumah, juga menyiram bunga. Pada hari-hari tertentu mama akan melahirkan tart bersalut butter cream lembut warna-warni dengan kacang berlumur cokelat dari kedua tangannya sendiri sebagai perayaan kecil … uhm … hari ulang tahunku, misalnya. Dan ketika itu kami akan tertawa-tawa menceritakan apa saja hingga lelah dan kantuk menyapa. 

“Tapi entah kenapa, sikapnya terhadap Mami berlawan banding dengan daya juangnya dulu,” ucap Mama. Nada kecewa selalu menjadi arus utama bagian ini. 

Di sinilah tampaknya duka Mama bermula. Papa anak yang baik, seperti kata mama, dan begitu amat baik pula pada Maminya. Hanya saja kali ini cinta Papa pada Mama berselisih dengan cinta mami pada menantu. 

“Mami tak menyukai bekas-bekas wine itu sebagai penambah estetika di sudut-sudut rumahku, dan aku tak mempermasalahkan. Aku mengemas semua botol itu dan menyimpannya di gudang, hampir saja membuangnya tapi urung mengingat beberapa dari jenis botol itu pernah dibeli dengan tabungan terakhirku. 

Tapi, aku tak dapat menerima saat Mami menuduh botol itu sebagai penyebab kegagalannya mendapatkan pewaris laki-laki.” 

Mama membuka mata, selapis air menggenang di sana mengilat lemah ditimpa cahaya biru redup. Di kamar ini aku memang pernah mendengar Mami menudingkan runcing telunjuknya pada Mama pada suatu waktu yang tak asing. 

“Wanita pemabuk tetaplah pemabuk, tak peduli di dalam dirinya tengah bertumbuh kehidupan baru. Dasar pembunuh!” 

Usai memaki, Mami lalu pergi, meninggalkan Mama yang terbaring lemah ditemani pembantu sebab proses kuretase-nya dua hari lalu masih menyisakan kram perut. 

Mama menangis waktu itu, tatapnya penuh harap Papa memberi sedikit pembelaan. A-ah, bukan! Maksud Mama ia ingin Papa memberi pengertian pada Mami bahwa ini semua juga bukan keinginannya. Tapi Papa hanya bisu, waktu melambat di dalam karakternya yang berubah jadi pendiam. 

“Aku bukan pecandu yang buruk, Adam, aku tidak lahir dari keluarga miskin. Orang tuaku yang berantakan itupun masih menjamin masa depanku aman hingga detik ini. Mereka tak pernah memberiku yang lebih buruk dari Condor Merlot. Pada ulang tahun ketiga puluh Daddy bahkan menghadiahiku kesempatan untuk membasahi bibir dengan seteguk Winston Cocktail dalam makan malam khusus kami di Aussie, sesaat sebelum ia menjual Mommi pada koleganya yang bangsat. 

Aku nyaris selalu meminum wine terbaik, yang tak pernah kudapatkan dari pergaulan dengan para pemabuk rendahan. 

Kau tahu, semua ini memang karena rahimku lemah. Ia seperti batang yang tak mampu menopang bobot buahnya saat usia kian membesar, meski selama berbulan-bulan aku berusaha sekuat mungkin menahan keinginan mengangkut menu-menu menawan itu dari lemari kaca eksklusif yang dipamerkan teman-temanku.” 

Mama menghapus air mata yang merambat masuk ke dalam mulut. Di matanya yang setengah kering kini aku bisa melihat nyala dendam yang membuatnya tak berhenti bicara. 

Aku mengerti, karena Mami tak pernah membuatnya beristirahat tenang setelah kejadian itu. Mami meludahkan kecewa ke mana-mana, bicara pada siapa juga tentang Mama dan aksi pembunuhan janin yang disengaja. Aku mengerti, tatapan benci nyaris seluruh keluarga besar pada Mama membuatnya amat terluka. Apalagi ketika Papa tampak tak membantah semuanya. 

“Mereka tidak mengerti, Adam, kekecewaan pada diriku sendiri jauh besar melebihi apapun. Kenapa mereka merasa perlu menegaskannya padaku?” 

Mama kemudian bangkit, mengambil selembar kertas dari laci kabinet riasnya. Ia memandang stempel telapak kaki berukuran kecil itu lama, lama sekali. Sesekali air kembali berjatuhan, meluncur dari dagunya yang kuncup seperti telur. 

“Katakan, Adam …,” desahnya perih, “katakan bahwa aku tak seburuk itu ….”

Aku ingin menangis tiap kali Mama kacau seperti ini. Apakah Mama tidak tahu bahwa ia selalu yang terbaik yang kumiliki? Jauh lebih baik dari Mami, orang-orang itu, bahkan Papa sekalipun.  

“Adam, kemarilah ….” 

Mama masih memanggil dan terus memanggil. Kian lama suaranya makin padat, kamar ini seperti menggaungkan rintih pilunya yang sendirian. 

“Adam, itu kau?” Tiba-tiba Mama beranjak, kertas dengan stempel telapak kaki itu seperti menuntunnya. 

Gelisah tak nyaman dalam kepalaku berkata bahwa sesuatu yang buruk sedang atau akan terjadi, tapi Mama tak menyadari. Tidak, Mama, tidak begini semestinya.

“Adam, kemarilah, sentuh tanganku agar aku bisa memelukmu ….” 

Kertas itu terlepas dari tangan Mama, melayang sebentar lalu jatuh karena membentur dinding. 

Mata Mama seketika berbinar takjub saat stempel telapak kaki itu seperti meluntur, lalu berpindah ke lantai kamar, berubah menjadi jejak berwarna gelap yang utuh dan nyata. Sepasang jejak itu kemudian bergerak, melangkah maju mendekati Mama. 

“Adam, benar itu kau?” Mama bersiap menyambut dengan tangan terkembang seolah hendak memeluk, suaranya tersembunyi dibalik isak.

Aku meraba kakiku sendiri. Stempel itu diambil beberapa menit setelah aku dikeluarkan paksa dari perut Mama. Aku ingat, kakiku yang lemah diletakkan pada sebuah bidang datar lembut keunguan, kemudian berpindah di atas selembar kertas putih. Stempel telapak kaki itu untuk Mama, karena ia mencintaiku melalui hal-hal kecil yang remeh dan kerap tak tampak.

Jauh waktu setelahnya aku tak pernah lagi teringat stempel telapak kaki itu. Itu cuma benda, Mama menyimpannya sebagai bentuk rangkaian ingatan atas apapun yang berkaitan denganku. Tapi, kenapa malam ini, malam ke sekian kali Mama memanggil namaku, stempel itu tiba-tiba menjadi sesuatu? 

“Adam ….” Mama mendesah aneh. 

Aku tak percaya, tapi ini yang kulihat: Mama tengah berlutut memeluk sesosok makhluk … serupa diriku!

Tubuhku serta-merta terasa bergetar ganjil, dan kesadaran menghantamku tiba-tiba:

Mama tak tahu bahwa panggilannya telah dijawab oleh sesuatu yang lebih buas.

Aku ingin menangis. Mama masih memeluk makhluk itu.

Tidak, Mama. Dia bukan aku.


Ich, Kdt’25.

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image