Aku memarkirkan motorku di sebuah halaman rumah, dan berjalan menuju perpustakaan yang berada di dalam gang sempit untuk menghisab diri dari pelajaran sejarah. Tidak kebetulan, jika di perpustakaan tersebut selalu diadakan kumpulan para pemuda hijrah, yang bertujuan men-charge diri agar dapat memahami makna “demi waktu”. Tentunya, jika mengartikan kata “hijrah” itu berkaitan erat dengan perubahan. Aku bergabung di komunitas hijrah ini pun bukan tanpa alasan, melainkan di balik itu ada sebuah niat menjadi pribadi yang berkelas sesuai standar sejarah dari para ulama hanif.
Pada hari itu, seperti biasa kita berkumpul dan duduk melingkar dengan menyelaraskan frekuensi pikiran pada satu topik. Suasana begitu tenang dan syahdu ketika Ustaz Sam tiba dengan wajah yang melankolis. Matanya sayu tapi bukan kantuk, melainkan menyimpan kesedihan yang mendalam. Sudut-sudut ruang pun berhenti berbisik, seolah ikut merasakan satu keheningan yang terpancar dari dalam diri Ustaz Sam.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ustaz Sam mengucapkan kalimat salam sekaligus pembuka.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Kami menjawab kalimat salam.
Ustaz Sam membaca doa sendiri dengan lirih, lalu melanjutkan pembicaraan.
“Kita sudah tahu, bertahun-tahun lamanya Palestina dizalimi, dan dijajah oleh zionis. Akan tetapi, kita belum tahu kapan Palestina akan menemukan kemerdekaannya.” Ustaz Sam mengawali pembicaraan.
“Sejak hari Nakba 15 Mei 1948, Palestina kerap mengalami hal-hal yang menyakitkan dan memilukan oleh orang-orang zionis. Inilah yang disebut air susu dibalas dengan air tuba.” Lanjut Ustaz Sam.
Dengan menggunakan kode kepada seseorang yang selalu bersamanya, Ustaz Sam memerintahkan untuk mengambil sesuatu di mobilnya.
Setelah beberapa menit, orang tersebut kembali masuk dengan membawa tas jinjing, tas gendong, dan bungkusan kotak berukuran sedang. Lalu, Ustaz Sam membuka satu per satu. Tas jinjingnya berisi sebuah laptop, kemudian ia nyalakan. Setelah itu, Ustaz Sam membuka tas gendongnya yang berisi infocus, yaitu sebuah proyektor untuk memproyeksikan gambar atau video ke permukaan lebih besar. Biasanya sering dipantulkan ke dinding. Namun, Ustaz Sam pun sudah membawanya lengkap dengan screennya. Terakhir, Ustaz Sam membuka bungkusan kotak, yang ternyata isinya adalah buku karya miliknya yang berjudul “Palestina Kehilangan Pembela.” Dan buku-buku itu dibagikan satu per satu kepada kami.
“Buku itu saya bagikan untuk perenungan kita semua. Alangkah baiknya dibaca di rumah masing-masing agar kita dapat fokus dalam membacanya.” Kata Ustaz Sam memberi saran.
“Sekarang biar saya tunjukkan sebuah tayangan bagaimana kondisi Palestina sebelum kedatangan zionis.” Lanjut Ustaz Sam sambil menyalakan infocus dan mencari file nya di laptop. Tak lama, tayangan itu muncul dimana kondisi Palestina tahun 1930-an.
Dalam tayangan tersebut, terlihat jelas kondisi Palestina dalam keadaan damai, makmur, dan sejahtera, bahkan bisa dikatakan negara maju pada masanya menyaingi kota-kota di Eropa seperti Paris, London, dan Berlin. Semua ras dan agama hidup berdampingan, pendidikan berkualitas, dan bahkan sabun¹ modern pertama kali diproduksi—selain di Kufah, Basrah, adalah di Nablus, Palestina. Pada abad ke-13, selama masa Renaissance, teknologi pembuatan sabun di transfer ke Italia dan Perancis dari kedua kota tersebut. Gambar-gambar itu berdasarkan dari lensa Dr. Waleed Hakeem, the Travelling Imam—seorang muslim dari Kanada. Selain itu, kota-kota di Palestina sangat indah dan bersih, karena orang-orang Palestina begitu menjaga kebersihan.
Kami tertegun melihat tayangan yang berdurasi tidak lebih dari 3 menit itu. Palestina begitu terjaga, rapi, bersih dan maju. Hal yang paling mendasar negeri para nabi itu diperebutkan, karena terdapat tiga agama yang menjadi satu disana. Islam dengan Masjidnya, Kristen dengan Gerejanya, dan Yahudi dengan Sinagogenya.
Perjalanan Palestina dari dalam layar selesai sampai disini.
“Benang merah Palestina, ada di dalam buku itu, silakan dibaca dengan baik-baik.” Kata Ustaz Sam melanjutkan.
***
Di dalam kamar, aku mulai membaca buku karya Ustaz Sam, yang berjudul “Palestina Kehilangan Pembela.”
BAB I
Palestina menjadi saksi dimana Rasulullah melakukan Isra Mi’raj, tepatnya di Baitul Maqdis. Pada masa Umar bin Khattab, dikirimlah surat ajakan pada umat disana untuk memeluk Islam. Ajakan itu berbunyi “Aslim Taslam (Masuk Islamlah, maka engkau selamat)” Jika tidak, maka harus membayar jizyah. Akan tetapi, umat Nasrani yang berada di Baitul Maqdis enggak masuk Islam. Maka, umat Islam mengepung Baitul Maqdis selama beberapa bulan. Dalam kurun waktu tersebut—karena persediaan semakin menipis, akhirnya mereka menyerah, dan mereka pun menyetujui untuk berdamai dengan umat Islam. Namun, perdamaian itu adalah perdamaian bersyarat.
“Aku mengizinkan perdamaian ini, dan akan memberikan kunci Baitul Maqdis dengan syarat penerima kunci ini adalah pemimpin kalian. Jika ia tidak datang untuk mengambil kunci ini, maka aku tidak akan memberikannya.” Kata Patriarch Sophronius, pemimpin Yerusalem saat itu.
Maka, satu diantara pasukan yang dipimpin oleh Komandan Abu Ubaidah diperintahkan datang kepada Umar bin Khattab untuk memberitahu pesan tersebut.
Pesan yang dibawa oleh pasukan arahan Abu Ubaidah itu diketahui oleh Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Utsman bin Affan berpendapat bahwa untuk tindak pencegahan, Umar bin Khattab tidak disarankan untuk pergi kesana. Dengan alasan khawatir akan keselamatan sang Amirul Mukminin. Akan tetapi, Ali bin Abi Thalib tidak sependapat dengan Utsman bin Affan. Ali justru menyarankan Umar bin Khattab untuk pergi menemui Patriarch Sophronius. Dengan pertimbangan yang matang, maka Umar bin Khattab mengambil saran dari Ali bin Abi Thalib, yaitu berangkat ke Yerusalem.
Umar bin Khattab berangkat dengan menggunakan unta. Tanpa membawa tentara dan ajudan, Umar hanya berdua saja bersama pembantunya, Aslam. Ada yang menarik pada saat perjalanan menuju Yerusalem, yaitu Umar bin Khattab ingin berangkat dengan membawa unta secara bergantian. Mendengar hal itu, tentunya Aslam menolak.
“Tidak, wahai Amirul Mukminin. Bagaimana mungkin aku berada di atas unta, sementara engkau yang menuntun unta.” Jawab Aslam.
“Kita ini sama-sama manusia. Aku punya lelah, engkau pun sama punya lelah. Dan aku tidak akan membiarkan engkau kelelahan sendiri. Saat kau lelah, duduklah di atas unta, dan beristirahatlah.” Kata Umar bin Khattab tegas.
Mendengar perintah tegas Umar bin Khattab tersebut, Aslam pun menurutinya, yaitu membawa unta secara bergantian.
Hingga pada akhirnya, sampailah di depan gerbang kota Yerusalem. Menariknya, ketika tepat giliran Umar bin Khattab yang menuntun unta tersebut, sementara Aslam berada di atas unta. Umar pun memerintahkan Aslam untuk naik ke atas unta. Aslam pun menolak lagi, dengan alasan gerbang Yerusalem sudah dekat. Akan tetapi, lagi-lagi Umar bin Khattab memerintahkan secara tegas bahwasanya Aslam harus berada di atas unta. Maka, Aslam pun tidak dapat menolak perintah Umar bin Khattab tersebut. Dengan terpaksa Aslam naik ke atas unta, sementara Umar bin Khattab menuntun unta.
Pada saat kedatangan Umar bin Khattab di Yerusalem, semua orang yang berada di sana begitu penasaran, sosok seperti apakah ia yang telah mampu membuat semua orang gentar dan segan.
“Apakah itu orangnya pemimpin kalian yang berada di atas unta?” Tanya Patriarch Sophronius.
Lalu, satu di antara pasukan menjawab.
“Bukan, pemimpin kami adalah yang sedang menuntun unta itu.”
“Lalu, siapakah yang berada di atas unta itu?” Tanya Patriarch Sophronius lagi.
“Ia adalah pembantu Umar bin Khattab.” Jawab pasukan tersebut.
Maka, melihat Umar bin Khattab berjalan menuntun unta, dengan pakaian yang sederhana, dan memuliakan pembantunya dengan membiarkannya duduk di atas unta, orang-orang yang berada di Yerusalem begitu takjub, tanpa terkecuali Patriarch Sophronius.
Dengan penuh keyakinan, Patriarch Sophronius mantap untuk memberikan kunci Yerusalem kepada Umar bin Khattab, dan berkata:
“Engkaulah orangnya sahabat Ahmad yang tertulis di dalam kitab kami, dan engkaulah orangnya yang sudah berlaku adil, dan pantas untuk menerima kunci ini. Maka, kunci ini aku serahkan kepadamu, dan menitipkan kota ini berada di bawah naunganmu.”
Mendengar perkataan dari Patriarch Sophronius, Umar bin Khattab pun berkata:
“Aku akan menjaga kota ini. Barangsiapa yang ingin tinggal di sini, tak ada seorang pun yang dapat mengganggunya. Aku akan menjaga kota ini agar tidak ada yang dapat merusaknya, dan aku akan menjamin kepada kalian, bahwasanya kalian bebas menjalankan agama kalian. Dengan demikian, Yerusalem dapat ditaklukan tanpa menumpahkan darah sekali pun, dan Palestina berada dibawah naungan Islam selama 451 tahun, yaitu dari tahun 638 M hingga 1099 M.
BAB II
Ketika zaman Abbasiyah—setelah 451 tahun lamanya berada dalam naungan Islam, Yerusalem berhasil direbut oleh Tentara Salib. Hal ini disebabkan karena kelalaian internal dari umat Islam itu sendiri. Pada masa itu, umat Islam merasa sudah paling maju dalam berbagai bidang, sehingga timbul rasa malas dalam kegigihan perjuangan sebagaimana para pendahulu mereka lakukan. Selain itu, banyak perselisihan di dalam tubuh umat Islam, dan banyak yang wafat dari ahli ilmu dan penguasa Muslim salih yang wafat juga. Untuk menjaga perbatasan pun mereka harus memerintahkan Tentara Turki untuk berada di garda terdepan. Maka, dengan rasa malas inilah, Yerusalem dapat dengan mudah diambil alih oleh Tentara Salib. Akan tetapi, selama kepemerintahan Tentara Salib, kondisi Yerusalem berbanding terbalik, yaitu hilangnya keadilan.
Dengan kondisi tersebut, muncul ‘lah sosok yang memiliki keresahan begitu kuat, dan bertekad untuk melakukan pembebasan untuk kedua kalinya, ia adalah Salahuddin Al-Ayyubi.
Tak cukup satu buku untuk membahas Salahuddin Al-Ayyubi, karena banyak peperangan yang ia lewati, dan banyak kisah-kisah heroik yang ia lakukan. Namun, dengan kerendahan hatinya, ia melakukan itu semua hanya untuk membebaskan Yerusalem. Dari sekian banyak perjalanan panjang perjuangan Salahuddin Al-Ayyubi, ada dua kisah yang sangat menarik, bahkan tidak masuk logika. Dua kisah tersebut adalah, Salahuddin Al-Ayyubi menghadapi Raja Baldwin IV, dan Salahuddin Al-Ayyubi menghadapi Raja Richard the Lionheart.
Pada tahun 1177 M, terjadi pertempuran Montgisard antara Salahuddin Al-Ayyubi dengan Raja Baldwin IV. Pada pertempuran itu, pasukan Baldwin IV kalah jumlah, namun dapat menghalau pasukan Salahuddin yang berjumlah jauh lebih besar. Yakni, dengan menggunakan taktik jebakan. Hal ini membuat Salahuddin Al-Ayyubi berpikir keras, bahwasanya Raja Baldwin IV tidak bisa diremehkan, meski tengah menghadapi penyakit Kusta. Raja Baldwin IV menaruh hormat pada Salahuddin karena mengakui kekalahannya, sementara Salahuddin Al-Ayyubi pun menaruh hormat kepada Raja Baldwin IV karena keahliannya dalam militer. Pertempuran ini menyebabkan kerugian besar dari pihak Salahuddin Al-Ayyubi.
Pada tahun 1179, kedua belah pihak terjadi pertempuran lagi yang disebut pertempuran Marj Ayyun, dan pada pada tahun 1182, Salahuddin melakukan pengepungan ke Kastil Belvoir. Kedua pertempuran itu dimenangkan oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Kekalahan satu kali dibalas dua kali oleh Salahuddin Al-Ayyubi. Pada saat itu, penyakit Raja Baldwin IV semakin parah. Salahuddin Al-Ayyubi mengirim seorang tabib kepada Raja Baldwin IV untuk menyembuhkan penyakitnya. Maka, Raja Baldwin IV bertanya dengan mengirim utusan kepada Salahuddin Al-Ayyubi.
“Mengapa engkau mengirim tabib untuk menyembuhkan penyakitku?”
Jawaban Salahuddin membuat Raja Baldwin IV kagum akan sikap sportifitasnya.
“Sebab aku tidak ingin bertempur melawan musuh yang tengah tak berdaya. Aku bertempur bukan menuruti hawa nafsuku, melainkan untuk mencapai kehormatan dengan melawan musuh yang seimbang.”
Dengan sikap hormat Salahuddin tersebut, maka Raja Baldwin IV pun menghormati Salahuddin. Sehingga pada masa Raja Baldwin IV inilah Yerusalem sedikit merasakan kedamaian setelah sebelumnya terjajah selama bertahun-tahun. Terakhir Yerusalem terjajah oleh Victoria putri Raja Yerusalem. Kemudian, Victoria dibunuh oleh Amalric saudaranya Victoria karena perebutan tahta. Setelah Victoria dibunuh, Amalric menjadi Raja Yerusalem. Raja Amalric masih lebih beradab dibanding Raja-raja sebelumnya, dan juga Putri Victoria. Adab inilah yang turun kepada anaknya, Raja Baldwin IV.
Setelah Raja Baldwin IV diobati oleh Salahuddin Al-Ayyubi, ia menjamin umat Islam boleh berziarah ke Yerusalem, menjamin keamanan bagi umat non-Kristen, dan akan mengurangi tindak penindasan. Akan tetapi, Salahuddin Al-Ayyubi masih sanksi, sebab orang-orang disekeliling Raja Baldwin IV adalah orang-orang yang haus akan kekuasaan dan keserakahan, seperti Renault de Chatillon, Putri Maria Komnenos, dan Lord Guy of Lusignan. Meski Lord Guy of Lusignan masih sedikit bijak, tetap saja Salahuddin Al-Ayyubi tidak bisa mempercayai penuh jaminan Raja Baldwin IV. Sehingga, Salahuddin tetap ingin membebaskan Yerusalem dari tangan Pasukan Salib.
Pada tahun 1185, Raja Baldwin IV meninggal dunia. Sebelumnya, ketika penyakitnya semakin parah, ia menunjuk Lord Guy untuk menjadi Wali Tahta—yang mana jika dirinya meninggal, Kerajaan Yerusalem dilanjutkan oleh Lord Guy of Lusignan. Maka, pada tahun 1185—saat kematian Raja Baldwin IV, secara otomatis Kerajaan Yerusalem berpindah tangan kepada Lord Guy. Intensitas peperangan semakin memanas, dan pada akhirnya, tahun 1187 Yerusalem dapat direbut oleh Salahuddin Al-Ayyubi, pada perang Hattin saat menghadapi Pasukan Salib dibawah komando Lord Guy of Lusignan.
***
Pada tahun 1191, Yerusalem kedatangan Richard the Lionheart, bersama Raja Philip II, dan Frederick Barbarossa. Pertempuran pertama pada Perang Salib III terjadi antara tahun 1189-1191 pada Pertempuran Acre. Disini, Pasukan Crusader sudah mengepung dalam waktu yang lama. Pada pertempuran ini, Richard the Lionheart memainkan peranan penting dalam merebut pelabuhan dari Pasukan Salahuddin Al-Ayyubi. Ia tiba di Acre, langsung membuat strategi jitu, Pasukan Crusader mengambil alih Acre setelah pengepungan panjang sejak tahun 1189. Richard the Lionheart pun memanfaatkan kekuatan dari Raja Philip II, dan Frederick Barbarossa.
Pada tahun yang sama, yaitu 1191, pertempuran kedua pun kembali pecah. Ini adalah pertempuran terbuka pertama kali Richard the Lionheart menghadapi Salahuddin Al-Ayyubi. Pertempuran itu adalah pertempuran Arsuf. Disini, Richard the Lionheart langsung memimpin pasukan di garda terdepan melawan Pasukan Islam. Dengan strategi yang jitu, yaitu ketenangan dan kewibawaan Richard the Lionheart yang tidak terprovokasi oleh gangguan strategi Salahuddin Al-Ayyubi, lagi-lagi, Richard the Lionheart memenangkan pertempuran, dengan cara menerobos Pasukan Islam pada waktu yang tepat dan langkah yang jitu. Di pertempuran ini pun, Richard the Lionheart memaksimalkan kekuatan Lord Guy of Lusignan untuk membantu serangan. Alhasil, pertempuran dimenangkan oleh Richard dengan kemenangan telak. Atas kemenangan ini, Richard the Lionheart pun dapat mengambil alih Jaffa, kemudian Jaffa diduduki oleh Pasukan Crusader.
Di pertempuran ini, ada 2 peristiwa yang menarik, yaitu kuda Richard the Lionheart mati terbunuh, lalu Salahuddin Al-Ayyubi memberi kuda kepada Richard, dan sedikit gejolak di tubuh internal bangsa Eropa. Richard pun bersikap sportif, yaitu membayar kuda yang sudah diberikan oleh Salahuddin. Akan tetapi, Salahuddin menolak bayaran tersebut. Atas sikap Salahuddin Al-Ayyubi, Richard menaruh hormat kepada Salahuddin, karena baru kali ini musuh memiliki sikap yang terhormat meski dalam pertempuran kalah telak. Sementara, dengan gejolak internal bangsa Eropa sendiri, Richard mengirim Frederick Barbarossa ke Eropa.
Satu tahun berselang, yaitu pada tahun 1192 pertempuran ketiga kalinya pecah. Yaitu pada pertempuran Jaffa. Salahuddin melancarkan serangan terhadap Pasukan Crusader untuk merebut kembali Jaffa. Akan tetapi, lagi-lagi Salahuddin belum mampu mengalahkan Pasukan Crusader di bawah komando Richard the Lionheart.
Atas kekalahan tiga kali berturut-turut, maka Salahuddin Al-Ayyubi mengambil langkah lain selain peperangan, yaitu dengan cara negosiasi. Langkah ini pun disetujui oleh Richard the Lionheart, karena menaruh respect yang begitu tinggi kepada Salahuddin Al-Ayyubi. Perjanjian tersebut berisi, umat non-Islam diperbolehkan berziarah ke Yerusalem, dengan aman, dan tanpa ada gangguan sedikit pun. Akan tetapi—meski menyetujui perjanjian tersebut, Richard the Lionheart tak ingin Yerusalem berada di bawah bayang-bayang umat Islam. Richard pun pulang ke Eropa karena gejolak internal makin memanas. Ia berjanji akan kembali datang untuk merebut Yerusalem, karena meski memenangkan pertempuran, Richard begitu kecewa. Sebab, kemenangan itu tak berarti apa-apa, karena belum mampu merebut Yerusalem. Namun, apa yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak, perjanjian tersebut adalah perjanjian paling beradab di sepanjang sejarah.
Yerusalem kembali di tangan umat Islam dari Umat Kristen selama 88 tahun, dan masih di tangan umat Islam, sepeninggal Salahuddin Al-Ayyubi dengan berbagai dinamika yang dihadapinya.
BAB III
Palestina yang sudah berada di bawah naungan Islam hidup dengan damai, sejahtera, dan terjamin selama ratusan tahun. Di mulai dari tahun 1896, yaitu dimana Palestina tengah hidup damai selama 706 tahun, ada seorang jurnalis Yahudi ingin membentuk paham zionis, dan mengincar tanah Palestina. Ia adalah, Theodor Herzl. Pada tahun itu, Theodor Herzl menerbitkan pamflet yang berisi visi negara Yahudi.
Pada 29-31 Agustus 1897 Theodor Herzl memimpin Kongres Zionis Pertama. Langkah-langkah ini disetujui oleh mereka yang se-paham dengan Theodor Herzl untuk mendirikan negara Yahudi di Palestina yang saat itu di bawah naungan Turki Utsmani. Pendanaan yang kuat dari bankir-bankir Yahudi di Eropa ikut menyokong gerakan ini, salah satunya adalah Keluarga Rothschild. Maka, melalui dana tersebut, imigran Yahudi berdatangan ke Palestina dan membeli tanah-tanah warga Arab yang sudah berabad-abad tinggal lebih dulu di Palestina.
Di tahun yang sama, Theodor Herzl mendatangi Palestina, kemudian setelah itu menemui Sultan Turki Utsmani, yaitu Sultan Abdul Hamid II. Ia meminta sepetak tanah Palestina dengan wajah memelas, namun menyimpan maksud. Sultan Abdul Hamid II pun menjawab:
“Tanah Palestina adalah tanah umat Islam. Aku tidak akan memberikan tanah itu, dan selama aku masih hidup, aku akan melindungi tanah itu.”
“Sultan, jika engkau memberikan sepetak tanah di Palestina, aku tahu apa yang engkau inginkan. Maka, aku sudah mempersiapkan emas yang melimpah untukmu.”
Emas itu tak lain dan tak bukan dari bankir-bankir Yahudi di Eropa, yaitu dinasti Rothschild.
“Apakah aku tidak tahu maksudmu? Kau akan mendirikan negara Israel disana. Kau sudah membuat bendera yang di dalamnya berlambang bintang David. Lalu, maksud dari garis diantara itu apa?” Lanjut Sultan Abdul Hamid II.
“Itu tidak bermaksud apa-apa, hanya simbol saja.” Jawab Theodor Herzl.
“Benar, itu simbol bahwa kalian sudah mengincar Sungai Tigris dan Sungai Tiberias. Apakah aku tidak mengetahui hal itu? Tahsin Pasha!”
Lalu, Tahsin Pasha yang menjabat sebagai menteri kepercayaan Sultan Abdul Hamid II menghampiri Theodor Herzl dengan memperlihatkan sebuah foto. Di dalam foto tersebut terdapat Theodor Herzl sedang menandatangani cikal bakal bendera Israel.
“Itu hanya tanda tangan biasa, Sultan.” Jawab Theodor Herzl sedikit gemetar.
“Kau orang yang tak tahu diri dan tak tahu malu, keluar dari ruanganku! Enyahlah!” Tegas Sultan Abdul Hamid II kepada Theodor Herzl.
Maka, Theodor Herzl pun keluar dengan perasaan dendam. Ia pun semakin bertekad untuk mendirikan negara Israel di tanah Palestina.
Satu tahun berselang, yaitu pada tahun 1898 para tuan tanah Yahudi mulai mengusir warga Arab, sehingga mereka mencurigai rencana Yahudi untuk mendirikan negara Israel yang berpaham zionis. Sementara, kaum Zionis yang lain sedang menggerogoti Kesultanan Utsmani. Satu per satu Para Pasha/Menteri terdekat Sultan Abdul Hamid II ditarik ke pihaknya untuk berbaiat menjadi orang-orang Freemasonry. Mereka membuat pertemuan rahasia untuk membuat konspirasi kepada Sultan, dan bersatu melawan Sultan bersama orang-orang Illuminati. Selain itu, ada juga kaum Zionis yang memprovokasi para Mahasiswa di Turki untuk mengkudeta Sultan Abdul Hamid II, dengan membuat gerakan yang disebut “Turki Muda”.
Pada 31 Maret 1909, terjadi pemberontakan konservatif oleh gerakan Turki Muda. Pemberontakan itu bertujuan untuk menurunkan Sultan Abdul Hamid II dari kursi kepemimpinan Turki Utsmani. Gerakan Turki Muda ini mayoritas dilakukan oleh mahasiswa yang sudah terprovokasi oleh konspirasi Zionis. Karena pemberontakan itu sudah sedemikian masif, maka Sultan Abdul Hamid II pun turun dari kursi kepemimpinannya. Pada saat itu, kaum Turki Muda bersorak, dan menganggap turunnya Sultan Abdul Hamid II menjadi titik awal kebebasan. Akan tetapi, mereka tidak tahu dampak dari turunnya Sultan Abdul Hamid II, salah satunya akan mengancam tanah Palestina yang dijaga oleh Sultan.
Tak lama, Mehmed V naik tahta. Ia adalah sultan boneka Inggris, dan pada tahun yang sama—setelah dikudeta, Sultan Abdul Hamid II diasingkan ke Thessaloniki untuk menjalani tahanan rumah. Pada tahun 1912, Thessaloniki jatuh ke tangan Pasukan Yunani, dan Sultan Abdul Hamid II pun kembali dipindahkan ke İstanbul di Istana Beylerbeyi, Bosporus. Sang singa terakhir pun menghabiskan sisa umurnya disana hingga tahun 1918.
Sultan Abdul Hamid II meninggal dunia. Umat Islam di seluruh dunia berduka, umat Islam pun menjadi yatim. Lalu, dimanakah Theodor Herzl? Dua tahun berselang setelah orang Yahudi yang berpaham Zionis mengusir warga Palestina, ia meninggal—yakni pada 3 Juli 1904. Sehingga, buah pemikirannya tak dapat ia rasakan. Cita-cita Theodor Herzl dilanjutkan oleh David Wolffsohn, dengan mengambil alih kepemimpinan pembentukan negara Israel, pada tahun 1911. Ia berperan besar dalam bidang pendanaan negara Israel, dan turut membantu dalam pembuatan bendera Israel pada masa Theodor Herzl masih hidup. Akan tetapi, kepemimpinannya pun tak berlangsung lama. Tiga tahun kemudian, yaitu pada 15 September 1914, David Wolffsohn meninggal.
Selepas David Wolffsohn, kepemimpinan dalam pembentukan negara Israel dilanjutkan oleh Chaim Weizmann. Ia menjadi salah satu tokoh kunci, karena berhasil melobi Arthur James Balfour, Perdana Menteri Britania Raya sehingga tercetuslah Deklarasi Balfour. Adapun isi dari Deklarasi adalah:
Lord Rothschild yang terhormat,
Saya sangat senang dalam menyampaikan kepada Anda, atas nama Pemerintah Yang Mulia, pernyataan simpati terhadap aspirasi Zionis Yahudi yang telah diajukan kepada dan disetujui oleh Kabinet.
“Pemerintah Yang Mulia memandang positif pendirian di Palestina tanah air untuk orang Yahudi, dan akan menggunakan usaha keras terbaik mereka untuk memudahkan tercapainya tujuan ini, karena jelas dipahami bahwa tidak ada suatupun yang boleh dilakukan yang dapat merugikan hak-hak penduduk dan keagamaan dari komunitas-komunitas non-Yahudi yang ada di Palestina, ataupun hak-hak dan status politis yang dimiliki orang Yahudi di negara-negara lainnya .”
Saya sangat berterima kasih jika Anda dapat menyampaikan deklarasi ini untuk diketahui oleh Federasi Zionis.
Salam,
Arthur James Balfour
Deklarasi Balfour inilah yang menjadi cikal bakal, dan akar permasalahan konflik yang tak berkesudahan di tanah Palestina. Tokoh yang paling bertanggungjawab atas terbentuknya Deklarasi Balfour, dan juga sebagai peletak batu pertama negara Israel di Palestina adalah, Lord Rothschild sebagai pihak pendanaan terbesar, Chaim Weizmann sebagai Presiden Sementara Israel, dan Arthur James Balfour sebagai Perdana Menteri Britania Raya kala itu. Bisa dikatakan Deklarasi Balfour inilah titik mula malapetaka bagi warga Palestina yang sudah berabad-abad tinggal disana.
Setelah Chaim Weizmann, pimpinan negara Israel dilanjutkan oleh David Ben-Gurion. Ia yang lahir di Polandia memiliki gairah yang sangat tinggi untuk Zionisme, sehingga dirinya menjadi seorang pemimpin Zionis besar, yaitu menjadi Presiden Pertama negara Israel secara resmi, pada tahun 1948. David Ben-Gurion pun telah mengumpulkan milisi Yahudi ke dalam Angkatan Pertahanan Israel, angkatan itulah yang kita kenal dengan sebutan IDF. Pada tahun itu, Kesultanan Utsmani sudah menjadi negara Sekuler pada 3 Mei 1924 yang dilakukan oleh Mustafa Kemal Atatürk.
Adapun Mustafa Kemal Atatürk—selain para menteri terdekat Sultan Abdul Hamid II, dan Gerakan Turki Muda, ia adalah satu diantara mereka yang paling bertanggungjawab atas pengkhianatannya terhadap negara Kesultanan Turki Utsmani yang sudah bertahan ±625 tahun dalam naungan Islam. Seandainya saja Kesultanan Utsmani tak banyak yang berkhianat kepada Sultan Abdul Hamid II, niscaya umat Islam akan lebih lama memiliki sosok ayah yang disebut negara, dan memiliki ibu yang disebut tanah air, begitu pun Palestina. Karena, antara Kesultanan Turki Utsmani dengan Palestina memiliki kaitan yang erat, yaitu Kesultanan Turki Utsmani telah menjaga dengan baik warisan dari Salahuddin Al-Ayyubi yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan dalam mengembalikan marwah Palestina.
Dengan runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani, secara otomatis, kaum Zionis Yahudi dapat melenggang bebas untuk mendirikan negara Israel secara resmi. Tepat pada 14 Mei 1948, Israel meresmikan negaranya, dibawah kepemimpinan David Ben-Gurion. Sehari setelahnya, yaitu pada tanggal 15 Mei 1948, berakhirnya mandat Inggris di Palestina, dan bersamaan dengan itu, Zionis Israel mengusir ratusan ribu warga Palestina dari rumah dan tanah mereka secara paksa. Tak hanya itu, desa-desa pun dihancurkan, sehingga menyebabkan luka yang mendalam dan menjadi ingatan kolektif bagi warga Palestina.
Sejak saat itulah, kekacauan di tanah Palestina tak pernah berhenti hingga hari ini. Warga Palestina terpaksa harus mengungsi ke Yordania, Lebanon, Suriah, Gaza, dan Tepi Barat. Penjajahan para Zionis yang berlangsung selama bertahun-tahun ini membuktikan bahwa tanah Palestina telah kehilangan pembela. Bahkan, bisa jadi kekejaman yang dilakukan oleh Zionis, lebih kejam dibanding Tentara Salib pada masa Perang Salib.
Dari peristiwa Nakba, pada tanggal 15 Mei 1948 hingga saat ini, kaum usiran Yahudi yang berpaham zionis terus mencaplok tanah Palestina dari yang meminta tanah sepetak, hingga sepetak demi sepetak, membunuh orang-orang yang tidak berdosa, dan menghancurkan rumah-rumah mereka dengan rudal-rudal yang diarahkan ke pemukiman warga. Bukan hanya itu, kaum Zionis pun telah melakukan penghilangan negara Palestina secara perlahan-lahan.
PENUTUP
Pada saat hari kemerdekaan Indonesia, Palestina ‘lah yang pertama kali mengakui Kedaulatan negeri ini. Lantas apa yang kita berikan untuk membalas kemurahan hati mereka?
***
Setelah membaca buku karya Ustaz Sam ini, mataku terbuka. Hatiku bergetar, dan terguncang melihat sejarah panjang tanah Palestina melalui untaian kata lembar demi lembar.
Aku menutup buku ini dengan gejolak hati yang tak menentu. Diri ini hanya mampu berdoa untuk Palestina, membela dari dalam hati, dan menentukan posisi tekadku, bahwa aku bersama Palestina, meski hanya dari bait doa yang sederhana.
Keesokan harinya, aku memarkirkan motorku di sebuah halaman rumah, dan berjalan menuju perpustakaan yang berada di dalam gang sempit untuk menghisab diri dari pelajaran sejarah. Tidak kebetulan, jika di perpustakaan tersebut selalu diadakan kumpulan para pemuda hijrah, yang bertujuan men-charge diri agar dapat memahami makna “demi waktu”.
Pada hari itu, seperti biasa kita berkumpul dan duduk melingkar dengan menyelaraskan frekuensi pikiran pada satu topik. Bukan hanya Ustaz Sam saja yang berwajah melankolis dengan mata sayu karena menyimpan kesedihan yang mendalam. Melainkan kita semua. Buku karya Ustaz Sam itu sudah membuat diri kita bergejolak hebat, bahwa penderitaan kita selama ini belum ada apa-apa nya dibanding penderitaan saudara-saudara kita di Palestina.
77 tahun sudah, Palestina dijajah Zionis dengan begitu kejam. Semoga menjadi pemantik semangat juang kita di jalan ini.
Dalam hijrahku ini yang belum seberapa, aku hanya berharap dalam hati:
“Semoga akan ada sosok Umar bin Khattab, Salahuddin Al-Ayyubi, dan Sultan Abdul Hamid II lainnya yang dapat membela Palestina di garis terdepan. Bisa jadi sosok itu adalah aku, kamu, kita, atau generasi kita yang sudah Allah persiapkan, tak ada yang tahu.”











