Home / Fiksi / Cerbung / 5. Wanurejo, dari Wisata Andong ke Etalase UMKM

5. Wanurejo, dari Wisata Andong ke Etalase UMKM

MELUKIS JEJAK - TARI ABD
This entry is part 6 of 13 in the series Melukis Jejak

Saat di perjalanan, tiba-tiba ponsel Nadia berdering. Pelahan ia menepikan mobil untuk menerima panggilan. Nama Nanang terpampang di layar, Nadia menggeser tombol hijau dengan cepat.

Dari seberang, terdengar suara Nanang sedikit panik. Ia menyampaikan maaf karena tidak bisa melanjutkan perjalanan, ada keperluan keluarga yang mendadak. Nadia maklum, bagi mereka yang sudah berkeluarga seberapa besar keinginan untuk melakukan perjalanan eksplorasi, keluarga tetap tidak boleh diabaikan.

“Siapa?” tanya Leon.

“Nanang, dia dan rombongannya harus kembali karena sesuatu hal yang mendesak,” jawab Nadia

“Lalu kita?” Leon bertanya dengan alis terangkat.

“Lanjutkan sendiri,” jawab Nadia mantap.

 Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan, Nadia mengarahkan mobilnya menuju Magelang, sebuah tempat yang konon merupakan surganya candi karena di sana terdapat candi Borobudur, candi Budha terbesar di Indonesia dan juga merupakan salah satu monumen Buddha terbesar di dunia, yang dibangun pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra. Selain itu masih banyak lagi candi peninggalan Buddha dan Hindu tersebar di Kabupaten Magelang ini.

Namun, tujuan kali ini bukan ke candi Borobudur, atau candi-candi lainnya yang sudah sering diekspos wisatawan. Nadia mengarahkan mobilnya menuju Desa Wisata Wanurejo, yang kini telah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata yang semakin populer. Desa wisata ini memiliki keunikannya yang terletak pada perpaduan antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan keramahan masyarakatnya. Desa ini juga menawarkan pengalaman menginap yang unik di Balkondes atau Balai Desa Wisata dengan konsep yang menarik dan fasilitas yang lengkap.

“Tempat ini menarik,” ucap Leon saat memasuki kawasan yang terletak sekitar 2 kilometer di sebelah timur candi Borobudur. Lokasinya yang strategis dan mudah diakses. Leon menunjuk andong–yang banyak berseliweran di area desa wisata.

“Apakah kendaraan seperti itu boleh disewa?” tanyanya.

“Kamu mau naik?” tanyaku. Leon mengangguk antusias.

Selain Andong juga ada VW kuno yang disediakan lengkap dengan pengemudinya. Ada juga onthel atau sepeda yang bisa disewa untuk berkeliling desa. Namun, Leon tetap memilih andong, menurutnya kendaraan itu unik dan menarik.

Setelah menitipkan mobil, kami menyewa andong yang merupakan salah satu fasilitas desa wisata Wanurejo. Laki-laki bule dengan tinggi lebih dari 180 cm itu terlihat sangat menikmati perjalanan dengan latar belakang hamparan sawah dan pegunungan Manoreh yang membentang dengan gagah.

“Andong adalah alat transportasi tradisional beroda empat yang ditarik kuda yang berasal dari Jawa khususnya Yogyakarta dan sekitarnya. Andong merupakan warisan budaya. Awalnya merupakan kendaraan bangsawan Mataram abad ke-19, tapi kini andong berfungsi sebagai sarana wisata ikonik,” ulasku.

Perjalanan sangat menyenangkan karena wisatawan diajak berkunjung ke beberapa UMKM. Saat mengunjungi tempat kerajinan batik, Leon tidak terlalu tertarik. Ia mengatakan bahwa Adel pernah menghadiahkan sebuah kemeja batik, dan itu membuatnya sedih karena hingga saat ini ia belum bisa menghubungi kekasihnya tersebut.

Tujuan kedua adalah peternakan lebah madu. Kali ini Leon sangat antusias mencicipi setiap jenis madu yang disajikan sebagai bahan tes rasa. Bahkan laki-laki berdarah Jerman itu terheran-heran karena madu yang dihasilkan adalah madu lebah lokal murni yang dipanen langsung dan dikemas tanpa campuran, termasuk sarangnya yang juga bisa dinikmati sarangnya juga.  TIdak tanggung-tanggung Leon memborong 3 botol besar untuk dibawa pulang ke Jerman katanya.

Tujuan selanjutnya adalah Budidaya Jamur, bagi Leon tidak terlalu menarik, ia hanya singgah sebentar. Berbeda ketika andong membawa ke lokasi Pengrajin Ukir Bambu, yang merupakan Sentra kerajinan ukir bambu di Wanurejo, sentra ini memang dikenal memproduksi karya unik yang dipadukan dengan teknik seni ukir, bahkan konon beberapa di antaranya sudah dipasarkan hingga ke mancanegara. Nadia menggelengkan kepala menyaksikan Leon yang kalap memborong berbagai hiasan dinding dan pajangan. Salah satunya adalah ukiran bambu Candi Borobudur,  hiasan dinding yang menampilkan ukiran detail relief atau siluet Candi Borobudur pada bilah bambu. Ada juga souvenir berupa pernak-pernik kecil dari bambu dan kerajinan bambu fungsional seperti kap lampu dari bambu dan berbagai peralatan rumah tangga. Katanya itu untuk oleh-oleh ibu dan kakak perempuannya.

Kusir andong tersenyum saat melihat bawaan Leon yang begitu banyak. Seandainya kuda bisa tersenyum maka hewan itu pasti akan tertawa melihat kehebohan Leon mengurus barang belanjaannya. Perjalanan berlanjut menuju Wisata Kopi Luwak. Di tempat ini pengunjung bisa melihat dari dekat para pekerja yang menjemur kopi Luwak di Pawon Luwak Coffee Desa Wanurejo. Lalu proses penggilingan kopi dan barista yang meraciknya. Aroma butiran kopi yang diseduh dengan air mendidih memberikan sensasi menenangkan. Nadia yang tidak bisa minum kopi karena memiliki riwayat asam lambung, hanya bisa menyaksikan Leon menyesap harum dan nikmat kopi Luwak asli tersebut dengan mata berbinar. Tak lupa ia juga membeli Kopi Robista dan Arabika sekaligus untuk dibawa pulang.

Tujuan terakhir adalah Sanggar Tari Kinnara Kinnari yang berlokasi di Dusun Tingal. Sanggar ini sering menjadi destinasi untuk menyaksikan atau belajar tarian tradisional bagi wisatawan.

Sanggar ini awalnya terinspirasi dari Tari Kinnara – Kinnari menceritakan tentang sepasang manusia setengah burung. Dalam cerita Kinnara-Kinnari adalah sepasang manusia setengah burung yang merupakan penjaga pohon kehidupan atau Kalpataru dan penjaga harta yang ada di kahyangan dan mereka ini berprofesi sebagai seniman yang berasal dari kahyangan.

Leon mengaku baru pertama kali mengenal tarian tradisional Jawa lengkap dengan irama gamelan yang rancak. Selain tarian dan musik gamelan, di sanggar ini juga bisa belajar menggunakan busana Jawa dengan berbagai filosofinya. Filosofi busana Jawa melambangkan harmoni antara manusia, alam dan Tuhan, yang menekankan pengendalian diri, kerendahan hati, serta keteraturan hidup. Setiap elemen, mulai dari surjan sebagai lambang cahaya/ketaatan, jarik sebagai lambang pengendalian diri, hingga batik sebagai lambang harapan/status, semua  dirancang dengan makna simbolis mendalam untuk membentuk karakter manusia yang bijaksana, waspada, dan berbudaya.

Puas berkeliling akhirnya andong kembali ke lokasi awal. Sebelumnya kusir atau pengemudi andong mengajak berselpi ria dengan pemandangan persawahan dan background Candi Borobudur.

Saat akan meninggalkan lokasi tiba-tiba ponsel Nadia bergetar, sebuah panggilan dari nomer tak dikenal. Ragu Nadia mengangkat, terdengar suara laki-laki di seberang.

“Nadia?”

“Siapa?” Nadia balik bertanya.

“Aku Kyoto, apa aku boleh gabung? Mbak Nadia masih melanjutkan perjalanan eksplorasi, kan?”

“Eh, iya. Boleh.” jawab Nadia.

“Di mana posisinya, Mbak?”

“Aku lagi di Magelang, kita ketemu di Sendang Lanang, nanti aku sharelok lokasinya.”

“Ok, terima kasih, Mbak. Aku meluncur ke sana.”

Nadia menutup telepon, sepertinya perjalanan bertiga akan lebih mengasyikkan daripada hanya berdua. Leon pasti tak keberatan jika Kyota ikut bergabung bersama. Apalagi Kyoto banyak mengenal tempat-tempat yang tidak ada di google, Nadia membayangkan melukis lebih banyak jejak perjalanan baru.

Melukis Jejak

. Candi Kedulan, Setiap Belokan Punya Alasan . Sendang Lanang, di Antara Sunyi yang Semakin Tua

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image