Home / Genre / Chicklit / Prolog

Prolog

MERAJUT MASA SILAM
2
This entry is part 2 of 34 in the series Merajut Masa Silam

“Jangan ngaca melulu kayak mamak tiri Putri Salju. Jelek, tau!” teriak Shanti sambil melempar plastik bungkus tisu yang gagal sampai ke tangan Ghea dan jatuh ke lantai.

“Kamu perlu sering-sering olahraga, Shan. Atau sekalian aja ganti tangan bionik,” goda Ghea, tanpa meninggalkan cermin seukuran badan di depannya.

Shanti meringis dan berjalan ke arah Ghea. Mereka berdua berdiri di depan cermin menatap pantulan bayangan tubuh. Shanti berdiri di sana sebentar tanpa mengatakan apa-apa, dan menyipitkan mata. “Ciyus, say…. Apa yang kamu lihat di kaca cermin ini? Aku enggak ngerti. Kamu kayak bukan melihat diri kamu sendiri, bukan juga untuk pakai make up. Bangun tidur langsung ngaca. Ada apa sih, Ghe?”

Ghea mengembuskan napas panjang, berbalik menatap Shanti. Dahi sahabatnya berlipat tiga belas.

Shanti tampak khawatir dan Ghea benci membuat Shanti khawatir. Shanti terlalu khawatir.

Bagaimana cara menjelaskan padanya? Apakah dia akan mengerti jika Ghea mengatakan bahwa setiap kali menatap cermin, yang dilihatnya sepasang mata orang asing menatap balik? Bukan ‘orang asing’ secara harfiah. Tapi seolah-olah yang berdiri di cermin yang balas menatapmu adalah bukan kamu.

Wajar Shanti khawatir. Dia tahu Ghea sering terbangun tengah malam akibat diganggu mimpi buruk. Kalau sekarang dia menyampaikan apa yang dilihatnya di cermin, mungkin Shanti akan pingsan. Atau mengira dirinya kurang waras. Tidak. Lebih baik dia menyimpannya untuk dirinya sendiri.

Ghea tersenyum dan mengacak-acak rambut hitam Shanti dengan tangannya, tak menghiraukan tambahan kerutan di dahi sahabatnya.

“Aku hanya ingin melihat seberapa cantiknya aku saat baru bangun sebelum umurku dua puluh satu,” Ghea berbohong.

Akhirnya Ghea meninggalkan cermin dan menuju tempat tidur. Shanti menghela napas lega dan mengikutinya duduk di ranjang.

“Kita akan mengadakan pesta yang hebat, Ghe. Kamu tau berapa banyak undangan yang balas RSVP?”

“Dan juga harus beres-beres setelah acara. Ngapain sih, kamu mengundang begitu banyak orang? Mana enggak ada yang aku kenal pulak.”

Shanti mengangkat bahu.”Yah, kamu ‘kan kenal Hendy …,” katanya membela diri.

Ghe cemberut. “Hendy, cowok yang kalau makan sambil ngetik di laptop?”

“Tuh … tau, kan? Dan aku kenal Mirra, dia ….”

“Cewek yang tidak pernah bicara dengan kamu biarpun tiap hari datang jam makan siang,” Ghea menyelesaikan kalimat menggantung Shanti. Besties-nya itu menghela napas jengkel dan tutup mulut. Diam.

Shanti mengundang begitu banyak orang yang nyaris tak mereka kenal atau pernah berkomunikasi ke pesta ulang tahun ke-21 Ghea beberapa hari lagi.

Sebenarnya, mereka berdua bukan makhluk sosial. Payah dalam berteman. Mungkin karena Ghea dan Shanti sudah menjadi sobat kental selama hampir lima tahun persahabatan sehingga tak terpikirkan untuk menambah lingkar pertemanan. Mereka berdua bekerja di restoran yang sama.

“Tapi yang penting Juno dan Leon datang, kamu tahu keduanya, kan?” Ghea menghela napas sambil dan menggelengkan kepala.

Leon adalah pacarnya. Juno pacar Shanti.

Shanti pasti lelah. Pesta ini proyek besar baginya dan dia telah bekerja sangat keras untuk membuatnya keren. Dia membuat perencanaan dan menyusun undangan sendirian. Ghea praktis tidak tertarik pada pesta. Apalagi dengan apa yang terjadi belakangan ini.

Bukan dengan mimpi buruk setiap malam dan sekarang wajah asing di cermin. Hal terbaik untuk dilakukan adalah menyimpannya sendiri.

Pesta ini sangat berarti bagi Shanti, dan Ghea tidak ingin merusaknya.

“Shan, kamu tuh bego banget, tau enggak?” goda Ghea.

Dengan mata membelalak Shanti menatap dan hendak membuka mulut memprotes ketika Ghea melanjutkan. “Kamu fokus banget sama pesta ini. Kamu bener-bener temanku satu-satunya dan aku mencintaimu.”

Shanti tersenyum. “Aku senang kamu sadar, say. Kalau kamu berani merusak pesta ulang tahunmu, maka aku akan membunuhmu.”

Ghea kaget karena Shanti kelihatan serius, lalu menjambak rambut temannya yang berteriak dan balas menggigit tangan Ghea. Kesakitan, dia melepaskan jambakannya. Shanti tertawa terbahak-bahak sambil berlari sementara Ghea mengejar dengan bantal guling di tangan.

Merajut Masa Silam

Merajut Masa Silam (Tamat) . 21 Tahun

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image