Langit istana Edirne terlihat cerah. Sekelompok kawanan burung terbang ke arah barat, pertanda era baru Kesultanan Utsmani akan dimulai. Gerbang istana pun dibuka untuk menyambut upacara pelantikan Şehzade Mehmed.
Bersama Mara Hatun, Şehzade Mehmed berjalan dari kamarnya lengkap dengan menggunakan jubah dan kaftan. Şehzade Mehmed berjalan menuju halaman istana melalui koridor-koridor yang sudah ditunggu harim-harim, pelayan-pelayan dan pasha-pasha berdiri berbaris sebagai tanda penyambutan dan penghormatan.
Tepat di koridor menuju pintu keluar, Şehzade Mehmed sudah ditunggu oleh Syekh Aaq Samsedin untuk memberi dukungan moral dan ketenangan bagi Şehzade Mehmed.
“Perhatiaaan! Tibalah yang Mulia Şehzade Mehmed putra Sultan Murad Han!.” Ucap salah satu pengawal sultan dengan lantang.
Semua berdiri dengan khidmat, baik yang mendukung Şehzade Mehmed, maupun yang tidak. Mereka semua berdiri khidmat, sebagai bentuk patuh dalam menjalankan sebuah tradisi yang sudah berjalan bertahun-tahun lamanya.
Di halaman istana, sudah terpampang kursi tahta dengan megah, yang sudah dijaga oleh dua pengawal sultan. Şehzade Mehmed pun berjalan dengan perlahan menuju kursi itu.
Dalam perjalanan, saat melewati Syekh Aaq Samsedin di pintu istana, Mehmed melihat wajah syekh dengan wajah gelisah dan sedikit ragu.
Syekh Aaq Samsedin hanya memberikan senyuman tulus sambil mengangguk. Ekspresi wajah Syekh Aaq Samsedin itu, memberi isyarat bahwa “Berjalanlah nak dengan penuh keyakinan dan jangan ragu sedikit pun.”
Seketika, Şehzade Mehmed pun menghadapkan wajahnya ke kursi tahta dengan langkah pasti. Senyuman Syekh Aaq Samsedin membuat Mehmed menjadi lebih tenang.
Pada saat Mehmed melangkah, semua memberi hormat dari pasukan Janissary hingga para menteri, termasuk Çandarlı Halil Pasha.
Narasi Mehmed:
“Aku adalah Mehmed. Yang menjadi sultan di umur 11 tahun menggantikan ayahku Sultan Murad Han.
Aku adalah Mehmed. Yang harus memimpin pasukan besar warisan ayahku, untuk menjaga kehormatan negara dalam melawan tentara Eropa.
Aku adalah Mehmed. Yang harus menghadapkan tujuan kepada pembebasan Kota Konstantinopel.
Aku adalah Mehmed. Yang harus mewujudkan cita-citaku dalam meraih Kızılelma.
Aku adalah Mehmed. Yang kini semua beban berada di pundakku.”
Pengawal sultan berjalan membawa Al-Qur’an dan pedang sebagai simbol—bahwa ketika seseorang naik tahta akan diambil sumpahnya untuk berlaku adil dan bijaksana, serta akan selalu memperjuangkan kalimat Allah agar denyut nadi negara terus hidup di bawah naungan hukum-hukum Allah.
Kemudian, Mehmed pun mencium Al-Qur’an sebagai bukti kesanggupan memikul beban negara yang begitu berat, dan mengeluarkan pedang dari sarungnya sebagai tanda perjuangannya sebagai pemimpin dimulai. Akhirnya, Mehmed putra Murad Han resmi menjadi sultan. Yaitu, Sultan Mehmed yang kini duduk di singgasana negara Utsmani.
***
Kota Konstantinopel
Di istana kebesaran Kota Konstantinopel, duduklah di singgasana seorang kaisar yang bijaksana, yaitu Kaisar Imanuel Palaiologos. Ia ditemani penasihat kekaisaran yang tak kalah bijaksana pula, bernama Megaduke Loukas Notaras.
Di bawah kepemimpinan Imanuel Palaiologos dan Megaduke Loukas Notaras, konstantinopel sejatinya hidup aman dan damai. Namun, tetap saja konstantinopel kerap bergesekan dengan Kesultanan Utsmani, termasuk pada masa Imanuel Palaiologos.
Terhitung sejak masa Sultan Beyezid I, Kaisar Imanuel Palaiologos kerap berjibaku dengan Kesultanan Utsmani dalam mempertahankan benteng Konstantinopel.
Sultan Beyezid I pernah menyerang Konstantinopel, namun pertahanan bentengnya begitu kokoh, sehingga Utsmani pun gagal untuk menaklukan konstantinopel.
Sultan Mehmed I juga pernah mencoba untuk menaklukan konstantinopel, namun sama seperti ayahnya, Sultan Mehmed I pun mengalami kekalahan.
Sultan Murad II pun tak mau kalah. Ayah dari Mehmed II mengerahkan segala pasukan besarnya dan kekuatan strateginya, untuk menembus benteng Konstantinopel. Pasukan Janissary ditempatkan di depan benteng, sementara pasukan akinji diposisikan pada sayap kanan dan kiri. Pasukan Sipahi, yaitu pasukan berkuda cepat ditempatkan tepat di belakang pasukan Janissary.
Karena benteng Konstantinopel begitu kokoh, juga di bawah benteng tersebut, tepat di depan gerbang terdapat parit panjang yang dipasang kayu-kayu besar berbentuk runcing. Tatkala pasukan Utsmani maju, alih-alih dapat menembus pintu gerbang, pasukan Utsmani justru terjebak di parit dan tubuh pasukan Utsmani tertusuk kayu runcing yang ada di dalam parit tersebut. Hal itu, membuat banyak pasukan Sultan Murad II meninggal dunia dan akhirnya mengalami kekalahan juga.
Begitulah strategi pertahanan yang dibuat oleh Kaisar Imanuel Palaiologos, agar Kota Konstantinopel tidak jatuh ke tangan siapapun yang hendak merebutnya, termasuk oleh Kesultanan Utsmani.
Selain bijak bagi rakyatnya, Kaisar Imanuel Palaiologos pun terkenal cerdas dan cakap dalam berperang, apalagi ditambah dengan kehadiran Megaduke Loukas Notaras, membuat kolaborasi kepemerintahan konstantinopel nyaris sempurna. Sebab, Megaduke Loukas Notaras pun adalah seorang penasihat yang memiliki karakter kuat.
Lantas, bagaimana Sultan Mehmed II yang masih berusia 11 tahun membuat strategi untuk menembus benteng Konstantinopel?
Akankah kehadiran Syekh Aaq Samsedin dapat membantu Sultan Mehmed II dalam usaha penaklukan kota tersebut?
Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Çandarlı Halil Pasha di masa kepemerintahan Sultan Mehmed II?










