Setelah pertempuran Varna usai, istana Utsmani pun kembali sedikit memanas. Çandarlı Halil Pasha meminta Murad II untuk berbicara perihal masa depan Kesultanan Utsmani.
Di pertempuran Varna, yang beberapa waktu lalu telah usai, Sultan Mehmed tidak ikut berperang. Sebab, ia berada di istana bersama Syekh Aaq Samsedin untuk menjaga punggung ayahnya dan para pasha yang sedang berada di medan perang.
Çandarlı Halil Pasha, melihat Mehmed belum cukup untuk menjadi sultan. Sebab, dalam pandangannya, Mehmed belum memiliki kecakapan dalam memerintah negara Utsmani—negara adidaya pada masa itu.
Menurutnya, “Bagaimana nasib negara Utsmani yang agung ini, apabila dipimpin oleh seorang sultan yang belum bijak dalam mengatur negara?”
Memang, Sultan Mehmed II terlalu berambisi untuk menaklukan konstantinopel. Sementara, ilmu dan kecakapan dalam strategi perang belum ia kuasai dengan baik. Oleh sebab itu, Çandarlı Halil Pasha merasa sangat khawatir terhadap kondisi Kesultanan Utsmani. Apabila hal ini dipaksakan, justru akan menghancurkan Utsmani itu sendiri.
Apakah salah pemikiran Çandarlı Halil Pasha? Jawabannya adalah, tidak, Çandarlı Halil Pasha tidak salah. Karena, ia melihat—bahkan mengalaminya sendiri, bagaimana sulitnya menembus benteng Konstantinopel. Terlebih lagi, pada masa penaklukan ia bersama (Sultan) Murad II yang notabene sangat ahli dalam strategi perang. Artinya, Murad II memiliki strategi perang diatas rata-rata.
Para pasha diundang oleh Murad II untuk menghadiri dewan yang dilakukan secara mendadak. Bahkan, Syekh Aaq Samsedin pun diundang pada pertemuan dewan kali ini, termasuk Sultan Mehmed.
Meski penuh tanda tanya, para pasha tetap patuh untuk menghadiri undangan dewan. Semua bersiap dengan menggunakan pakaian terbaiknya, sebagai bentuk perayaan atas kemenangan dalam pertempuran Varna.
Para pasha dan Syekh Aaq Samsedin masuk ke dalam ruangan sultan, termasuk Mara Hatun, Halime Hatun, dan ibunda Sultan Mehmed, Hüma Hatun. Tak lama, di ruangan sultan pun semua sudah berkumpul, dan siap untuk pertemuan dewan.
“Destur! Murad Han Hazretleri¹.” Penjaga sultan memberi komando kepada anggota pertemuan dewan untuk siap siaga.
Murad II pun masuk ke ruangan, dan duduk di singgasana kesultanan yang selama ini ia tinggalkan. Suasana pun hening, disertai tanda tanya yang bertambah.
“Panggilkan Mehmed kemari.” Perintah Murad.
Sultan Mehmed pun dipanggil, untuk menghadap ayahnya.
“Mehmed. Aku mendengar terjadi kekacauan di istana, para pasha terpecah menjadi dua kubu, dan menurunnya semangat kenegaraan dari mereka.” Kata Murad II mengawali pertemuan dewan.
“Aku mendengar juga itu semua karena kebijakanmu yang tidak bijaksana untuk menaklukan konstantinopel. Engkau terlalu berambisi, Mehmed! Sementara, strategi yang kau pakai masih jauh dari yang aku pakai untuk dapat menaklukannya.” Sambung Murad II.
“Ayah. Aku sedang melakukan persiapan, dan apa yang ayah ketahui itu belum engkau ketahui sepenuhnya.” Jawab Mehmed.
“Tidak, Mehmed. Engkau belum cukup mampu untuk memikul beban negara, dan aku ambil alih kembali tahtaku yang aku tinggalkan ini.” Tegas Murad II.
Ternyata, setelah pertempuran Varna, Çandarlı Halil Pasha menuju tenda² Murad II—mengeluh terhadap kepemimpinan Mehmed II tentang pengepungan Konstantinopel. Çandarlı Halil Pasha mengungkapkan kekhawatiran masa depan negara Utsmani, karena melihat jam terbang Mehmed II belum cukup mumpuni untuk memimpin negara. Pertama karena umur, dan yang kedua karena belum matangnya kebijakan-kebijakan Sultan Mehmed dalam mengambil keputusan.
Dengan pandangan seperti itu, Çandarlı Halil Pasha, memaksa secara diplomasi kepada Murad II untuk kembali naik tahta. Ditambah, pada saat Murad II di Anatolia, sudah beberapa kali menerima surat keluhan dari para pasha yang tidak setuju terhadap kebijakan Sultan Mehmed II untuk mengepung Konstantinopel, karena strategi yang ia gunakan terlalu mentah.
Atas desakan Çandarlı Halil Pasha, dan beberapa surat keluhan dari para pasha, akhirnya Murad II memutuskan untuk mengambil alih tahta Kesultanan Utsmani—yang artinya Murad II naik tahta kembali, dan memimpin negara Utsmani untuk kedua kalinya.
Setelah mengambil alih tahta Kesultanan Utsmani, Murad II resmi menjadi sultan lagi, dan langsung memberi perintah kepada Syekh Aaq Samsedin—yang juga tengah berada di dewan, untuk membawa Mehmed ke Manisa. Sementara Mehmed, tahtanya diambil, ia merasa sedikit kesal dan kecewa, terlebih kepada Çandarlı Halil Pasha. Pasalnya, Mehmed II memiliki beberapa kartu truf Çandarlı Halil Pasha, yang sebagiannya memang masih dalam proses investigasi.
Akhirnya, Mehmed tak lagi menjadi sultan, dan ia pun pergi ke Manisa bersama Syekh Aaq Samsedin, untuk menjalani hukuman dari ayahnya, Sultan Murad Han. Disana ia akan digembleng kembali oleh syekh, sebagaimana permintaan Sultan Murad, sesaat setelah pertemuan dewan selesai.
¹Perhatian! Yang terhormat Murad Han.
²Tradisi jaman dulu, biasanya selalu membuat tenda ketika pertempuran fisik terjadi dalam jumlah besar. Tenda itu dapat digunakan sebagai persiapan perang, perencanaan taktik perang, dan juga sebagai markas pemimpin negara, komandan perang, dan pasukan perang.








