Home / Non Fiksi / Tutorial / 10 Tips Menulis Novel

10 Tips Menulis Novel

Mengapa Kita Membutuhkan Sastra Terjemahan?
2

Sebagai penulis purna waktu, saat ini aku sedang menantang diri sendiri dengan menulis beberapa novel secara simultan. Karena itu, aku ingin berbagi catatan pribadi.

Hal pertama yang perlu kamu ketahui tentang menulis novel adalah tidak ada yang namanya ‘menulis novel itu gampang’. Hal kedua yang perlu kamu ketahui adalah tidak ada rumus ajaib. Setiap novel menuntut strukturnya sendiri, kecepatannya sendiri, caranya sendiri dalam memandang dunia.

Masih mau lanjut? Baik.

Menulis novel bukan cuma mengantuk-antukkan kepala ke dinding karena frustrasi dan putus asa (meski, kadang-kadang itulah yang kulakukan), tapi menggali isi kepalamu dan juga petualangan yang menyenangkan. Ini duniamu. Kamu menciptakannya, mengisinya, mengolahnya, dan menyatukan semua bagian.

Jika kamu siap untuk menghadapi tantangan, berikut 10 langkah untuk memulai.

1. Lupakan Garis Besarnya

Awalnya, aku selalu membuat garis besar. Garis besar bagus, kecuali kalau malah membuat kamu gagal menyelesaikan novelmu. Aku sudah mengalaminya sendiri. Sebuah draf novelku yang ‘konon’ dinanti-nanti pembaca setia di sebuah platform literasi macet cet cet di bab tiga, karena garis besar yang kususun raib bersama laptopku.

Aku juga telah melihatnya berkalikali: pengarang yang berputar-putar selama bertahun-tahun, terikat pada garis besar yang gagal. Yang baik dengan garis besar adalah memberi kamu arahan. Hal buruk tentang garis besar adalah bahwa itu membatasi kemungkinan novelmu dan menyebabkan kamu terjebak dalam lingkaran tak berujung (eh, lingkaran memang tak berjung).

Setidaknya, lima puluh halaman pertama novelmu tulis tanpa garis besar. Sebaliknya, coba buat daftar adegan yang lebih mudah digunakan. Aku mulai menulis 6 (enam) novel pada awal Ramadan tahun. Sekarang rata-rata minimal mencapai 30 persen. Bahkan ada yang sudah 80 persen.

2. Tetapkan Setting

Setting atau latar tidak hanya mencakup tempat, tetapi juga waktu. Di mana novelmu terjadi dan kapan?

Cobalah baca novel-novel Jonas Jonasson. Novel pertamanya mencakup sejarah yang panjang dan wilayah seluas planet bumi. Tapi ada novelnya yang hanya mencakup Swedia dan Norwegia untuk periode singkat. Kecil itu! Tapi, buatku, semua novelnya menarik.

Ketika menulis KAMP 13, aku tahu harus terjadi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Tokohnya harus remaja yang belum terkontaminasi. Menulis Petualangan Malin, sepenuhnya fantasi steampunk. Namun aku membawa imajinasi pembaca bahwa settingnya di semesta sejajar wilayah Sumatera dan Jawa era pasca perang dunia yang lebih parah daripada di dimensi kita. Menulis Rusunawa, adalah seputaran Klender Jakarta Timur tahun 90-an yang masih ‘terbelakang’. Kidung Bocah Udik sebuah kampung di Aceh Utara, yang mengalami gegar budaya karena berdirinya PT Arun.

Di mana lokasi yang menjadi inspirasimu? Tempat apa yang sangat kamu kenal sehingga kamu tidak bisa mendeskripsikannya seperti orang lain?

Ketika mempertimbangkan latar novelmu, buatlah sespesifik mungkin. Jika dimulai di kota, bagian kota mana? Jalan apa? Gedung apa? Mengapa cerita itu terjadi di situ?

3. Menentukan Sudut Pandang

Siapa yang menceritakan, dan dari jarak berapa? Apakah kamu memilih perawi (narator) orang pertama yang terlibat sebagai pelaku, perawi mahatahu yang dapat mengakses pikiran karakter apa pun dan kapan pun, atau narasi orang ketiga terbatas yang melekat erat pada satu tokoh?

Atau menggunakan banyak narator yang memaparkan dari sudut yang berbeda?

Menggunakan perawi orang pertama melibatkan pembaca untuk berempati pada tokoh, memahami motivasinya dari sudut pandangnya sendiri, meski mungkin tindakannya tercela, tapi menjadi masuk akal.

Aku menggunakan narator orang pertama untuk novelet Kidung Bocah Udik karena memungkinkanku untuk menjadi suara tokoh yang berada di tengah gegar budaya perubahan masyarakat dengan kehadiran perusahaan multinasional.

Biasanya, saat menulis draft awal, aku mencoba dari berbagai sudut pandang sebelum menetapkan sudut pandang mana yang kupilih.

Jika kamu baru memulai, cobalah menulis dengan sudut pandang yang paling alami buatmu. Memilih sudut pandang yang secara naluriah terasa benar akan membantumu membentuk suara yang nyata dan menarik. Saat kamu menjadi lebih terampil dan percaya diri dalam menulis, silakan mencoba sudut pandang yang berbeda untuk novel dan cerita yang berbeda.

4. Memilih Tokoh Utama

Kamu butuh tokoh di pusat cerita. Tokoh ini diperlukan untuk menjadi tempat pembaca ada ‘berakar’, tidak peduli seberapa cacatnya sang tokoh. Dan dia harus memiliki kekurangan agar realistis dan menarik.

Meskipun ‘Aku’ (Rafli) dalam ‘Kidung Bocah Udik’ tampaknya sebagai tokoh protagonis (dengan segala kekurangannya), sebenarnya tokoh utamanya adalah Ranto ‘Retak’, yang bahkan lebih cacat lagi dari Rafli. Sebagai remaja, keduanya bertindak seenaknya, bahkan nyaris menjadi kriminal.  Tetapi pada akhirnya, karena memahami sebab musababnya, pembaca menaruh simpati pada keduanya.

Malin dalam Petualangan Malin bukanlah tokoh ideal yang bisa menjadi teladan. Tapi sepanjang jalan cerita, aku membuat pembaca memahami ambisinya, hasratnya yang rakus akan status dan kekayaan. Novel hebat berkat karakter. Tokoh utama kamu haruslah tokoh yang patut diperhatikan.

Ingat, tokoh protagonismu BUKAN KAMU. Dia dapat (dan seharusnya) membuat keputusan buruk yang MUNGKIN tidak akan pernah kamu ambil dan mendapat masalah yang tidak akan pernah kamu alami selama hidupmu.

Jika kamu merasa kesulitan untuk memisahkan dirimu dari tokohmu, pertimbangkan untuk membuat protagonis berbeda dari dirimu dalam beberapa hal yang signifikan. Novel-novelku mempunyai tokoh protagonis anak-anak, orang dewasa, lelaki dan perempuan.

Menulis dari sudut pandang wanita merupakan tantangan yang menarik dan membawa inajinasiku ke tempat-tempat yang mungkin tidak akan kualami sebagai seorang lelaki.

Sekali lagi: Ingat, tokoh utamamu bukanlah kamu. Dia dapat (dan seharusnya) membuat keputusan buruk yang tidak akan pernah kamu buat, mendapat masalah yang tidak akan pernah kamu alami.

Masalah adalah bagian yang menyenangkan dari fiksi. Jadikanlah.

5. Menulis Berupa Fragmen

Jangan takut untuk menulis paragraf, atau hanya sehalaman. Tidak semuanya harus berupa adegan atau bab lengkap pada tahap awal penulisan novelmu. Jika kamu mendapatkan ide sebuah adegan di kepalamu yang ingin kamu tulis, lakukanlah. Tetapi jika kamu sudah duduk di depan komputer dan merasa bingung dan tidak yakin, berikan kebebasan untuk berpikir skala kecil.

Katakan pada dirimu, “Hari ini aku akan menulis 500 kata tentang di mana tokohku lahir,” atau “hari ini akan akan menulis 200 kata tentang apa masalah yang menimpa perawi,” atau “Hari ini aku akan menulis paragraf terakhir dari novelku.”

Yang terakhir kelihatan aneh buat kamu? Namun intinya adalah, kamu tidak harus menulis dengan gaya linier. Kamu bisa menyusun ulang belakangan.

Jika kamu berkata pada diri sendiri, “Aku menulis beberapa paragraf hari ini” daripada “Aku sedang menulis bab sekian”, prosesnya akan terasa lebih mudah.

Meksi kebanyakan aku menulis dengan gaya linier, tapi “Alergi Cinta” kutulis dengan dengan teknik ini. Menulis tokoh-tokoh sebagai flash fiction 100 kata, dan kemudian menyatukannya. Kelebihan dari cara non-linier adalah kamu tidak perlu berhenti jika terjebak pada suatu adegan atau titik plot. Kamu bisa menulis yang lain lagi. Tentu saja, sebuah adegan perlu disatukan dengan awal, tengah, dan akhir, tetapi bekerja dalam fragmen dapat membantumu mengatasi block’s writer.

6. Memilih Konflik

Apa pun novel yang kamu tulis, apa pun genre-nya, tidak ada novel yang tanpa masalah. Setiap cerita dimulai dengan konflik.

Bagaimana dengan novelmu?

Dalam novelku Kamp 13, tokoh 3556P harus melarikan diri dari Barak G jika tidak ingin otaknya dicuci, dan neneknya seminggu yang lalu dibunuh karena mengajarnya ilmu pengetahuan yang dilarang.

Dalam Petualangan Malin, tokoh utamanya dikhianati bapak dan kekasihnya, diusir dari kaumnya dan diharuskan mendaptkan kekayaan jika ingin mendapatkan harga dirinya kembali.

Rusunawa dibuka dengan keluarga tokoh utama yang bangkrut dan harus pindah ke bagian kota yang kumuh, terasing, dan bermasalah dengan para tetangga baru.

Ketika kamu menempatkan tokoh protagonismu di tengah-tengah situasi buruk pada halaman satu, atau setidaknya bab satu, kamu telah membuat pembaca yang tidak sabaran untuk terus membaca. Latar belakang dapat dirangkai nanti, kisah bagaimana kita bisa sampai di mana kita berada, setelah kamu menarik perhatian pembaca dengan situasi yang mengerikan. Tidak peduli di mana kamu memulai, ingat: novel kamu harus dimulai dengan konflik.

Meskipun tidak ada aturan yang mengatakan untuk memasukkan konflik di halaman pertama novel, tapi juga tidak ada larangan untuk itu. Buat pembaca mengerti, di suatu tempat dalam 10 halaman pertama, mengapa novel ini harus diceritakan untuk dibaca oleh pembaca.

Konflik adalah bagian yang menyenangkan dari fiksi. Jadikanlah.

7. Naikkan Taruhannya

Apa risiko yang dihadapi tokoh utama dalam ceritamu? Apa untung rugi yang mungkin didapatnya? Apa yang dia inginkan, dan mengapa itu penting? Taruhannya harus jelas agar pembaca bisa peduli.

3556P alias Devi adalah remaja warga Barak F dalam Kamp 13 mempertaruhkan nyawanya demi kebebasan, berjuang menuju Kamp 13 untuk mematikan komputer dengan kecerdasan buatan yang mengatur dunia. Dia meninggalkan Barak F setelah memotong keping pelacak yang ditanam di lehernya. Lukanya infeksi karena ketiadaan obat-obatan.

Dalam Petualangan Malin, tokoh kita yang sebenarnya orang rumahan, nyaman di kampung halaman. Karena terusir, dia nekad terjun ke dunia perdagangan maritim yang sama sekali belum dikenalnya. Jika berhasil, kejayaan menantinya, karena balas dendam yang manis adalah dengan menjadi sukses. Kalau gagal, selamanya dia akan menjadi manusia buangan.

Untuk itu, dia bergaul dengan para penjahat dan bersaudara dengan orang-orang yang baru dikenalnya, lerlayar menuju wilayah tak bertuan yang liar dan ganas. Taruhannya?  Nyawa.

Taruhannya harus jelas agar pembaca bisa peduli.

Seringkali, akan ada lebih dari satu hal yang dipertaruhkan, lebih dari satu risiko besar.

Dalam Palasik Milenial, Mahia mempertaruhkan keabadian dan kekuatannya melawan musuh bebuyutannya sikirei sakti Gaek Pagai yang dibantu mantan teman-temannya demi ‘mati’ sebagai manusia. Dia juga harus berhadapan dengan berbagai musuh yang sangat kuat , termasuk mengorbankan miliknya yang paling berharga demi melakukan perjalanan waktu untuk memaksa Gaek Pagai menyetujui permintaannya.

8. Tulis Apa yang Tidak Kamu Ketahui

Aturan lama, “Tulis apa yang kamu ketahui.”

Tetapi kamu juga HARUS mau menulis apa yang TIDAK kamu tahu. Dengan semangat itu, buat satu tokoh bekerja di bidang yang hanya sedikit kamu ketahui, atau beberapa elemen plot, atau subplot, untuk menyelidiki sesuatu yang menurut kamu tidak biasa dan menarik. Kemudian telitilah.

Tentu, kamu bisa menjadikan karakter utamamu seorang penulis lulusan Teknik Nuklir yang sedang menulis sebuah novel. Atau sesuatu yang mungkin kamu ketahui satu atau dua hal, tapi itu agak membosankan, bukan? Mengapa tidak menjadikannya bajak laut saja? Buat garis besar dan lakukan penelitian tentang bajak laut. Bajak laut yang diusir dari kampung halaman. Tulis lima paragraf yang saling berkait di seluruh novel yang mencakup istilah maritim dan bajak laut. Dan … kamu telah menciptakan sesuatu yang ngeunah endol surendol, sesuatu yang mungkin membawa novelmu ke arah metafora yang tidak biasa, yang tidak akan pernah kamu bayangkan jika kamu berpegang teguh hanya pada apa yang kamu tahu.

Misalnya kamu menulis kisah kriminal, coba hubungkan kejahatan tersebut dengan gangguan kejiwaan atau kelainan genetik. Jika menulis fiksi sejarah, pastikan kamu bukan penulis anakronis yang salah ruang waktu. Perang Bubat terjadi karena Gajah Mada sebagai mantan Diah Pitaloka yang sakit hati, misalnya.

Aku belum pernah tinggal di rusunawa, maka menjadi pilihan yang aneh ketika aku memutuskan untuk menulis kisah tentang kehidupan di lingkungan tersebut. Atau, (di balik nama samaran) menulis novel tentang wanita.

Menulis apa yang tidak kamu ketahui akan membawamu ke tempat yang baru yang tak terduga, dan bisa menyenangkan bagi pembacamu seperti juga bagimu sendiri.

9. Tetapkan DL yang Realistis

Menetapkan target tenggat waktu (deadline) untuk menyelesaikan novel harus. Tapi, alih-alih menetapkan kapan novel harus tamat, tetapkan tenggat waktu untuk penyelesaian 25 halaman pertama. Tetapkan tenggat waktu kedua jauh di masa depan, untuk penyelesaian 25 halaman kedua.

Senang rasanya mengatakan kepada diri sendiri bahwa kamu akan menulis novel dalam satu bulan, tetapi bisa membuat patah semangat begitu sampai di akhir bulan dan menyadari bahwa kamu hanya menghasilkan 25 halaman. 25 halaman itu BAGUS, kecuali kamu yakin dari awal bahwa kamu akan menghasilkan 300 halaman dalam waktu sebulan.

Apa pun kerangka waktu yang menjadi acuan, ingatlah bahwa kamu sedang menulis draf pertama. Bersikaplah baik kepada diri sendiri dan siapkan dirimu untuk sukses dengan menetapkan tenggat waktu yang realistis.

Jika kamu menulis 2.500 kata per minggu, draf novel 40.000 kata dalam empat bulan. Curahkan perhatianmu pada bulan kelima untuk revisi, dan bulan keenam novelmu sudah bisa dipasarkan.

10. Minta Pendapat Pembaca yang Kamu Percaya

Istilahnya first reader (tapi jangan tunjukkan pada semua orang yang kamu kenal!)

Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan penulis pemula adalah menunjukkan upaya awal mereka kepada siapa pun yang mau membaca. Benar-benar godaan yang terkutuk.

Kamu sedang menulis novel dan ingin mendapat umpan balik! Kamu ingin dukungan! Kamu mau kritik dan saran! Kamu ingin seseorang memberi tahumu bahwa kamu luar biasa!

Tahan egomu. Jika kamu membiarkan terlalu banyak orang melihat novelmu terlalu dini, mereka akan memberikan berbagai macam ide tentang ke mana harus berlanjut dan tentang apa yang harus kamu masukkan dan apa yang harus kamu buang.

Jika kamu menunjukkan novelmu kepada beberapa orang sebelum selesai, akan ada yang ingin kamu mengubah watak tokohmu, atau menulis dari sudut pandang yang berbeda, pada saudari itu. Orang lain akan mengatakan Anda harus menulisnya dari sudut pandang yang berbeda, atau bahkan settingnya harus di masa depan dan genrenya fiksi ilmiah, jangan romansa. Dan tidak bisakah kamu menjadikan si tukang tambal ban sebagai tokoh utama yang berhasil memenangkan pilpres?

Ingat, ini ceritamu. Habiskan waktu yang bermanfaat untuk membangunnya. Beri waktu untuk mendapatkan visimu sendiri ke dalam cerita sebelum visi orang lain mengganggu. Banyak novel yang ditulis dengan kerjasama, tetapi kebanyakan tidak ditulis oleh panitia ad hoc.

Ini ceritamu. Habiskan waktu yang bermanfaat untuk mengembangkannya.  Sebelum membiarkan orang lain membaca naskahmu, sunting kalimat-kalimat pasif, kata-kata yang terlalu sering digunakan, dialog yang canggung, dan pengaturan tempo.

Kamu hanya mendapatkan satu kesempatan untuk mendapatkan kesan pertama. Tentu kamu ingin pembaca awal fokus pada cerita tanpa terganggu oleh kesalahan minor dan tulisan yang ganjil.

Jika kamu sudah memahami apa yang kamu lakukan, saat kamu selesai menyunting dan merevisi setidaknya satu kali, temukan satu atau dua pembaca terpercaya, atau bayar penyunting profesional.

Sekarang … mulailah menulis novelmu sendiri!

Bandung, 1 Juni 2021

Penulis

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image