Magelang terkenal keindahannya karena ada sedikitnya 6 gunung yang mengelilingi. Salah satu gunung yang menjadi favorit pendaki pemula adalah Gunung Andong karena jalur yang tidak terlalu terjal dan waktu tempuh yang relatif singkat hanya berkisar 2-3 jam.
Berada di ketinggian sekitar 1.726 meter di atas permukaan laut atau mdpl, Gunung Andong identik dengan pesona alamnya yang luar biasa. Dari puncak pendaki bisa memanjakan mata, menikmati pemandangan 360 derajat, gunung yang mengelilingi termasuk Gunung Merapi, Merbabu, Sindoro, Sumbing, Prau, Ungaran, dan Telomoyo. Bisa dibayangkan keindahannya.
Secara etimologi, Gunung Andong memiliki aktivitas magma vulkanik yang aktif. Namun, aman untuk dijadikan tempat pendakian. Dan hal yang paling penting tiket murah serta kepuasan mengagumi keindahan ciptaan-Nya. Cocok bagi pemburu pemandangan matahari terbit atau sunrise.
Gunung Andong adalah gunung bertipe perisai yang terletak di perbatasan Kecamatan Ngablak dan Kecamatan Grabag, tepatnya di sekitar Desa Girirejo, Desa Tlogorejo, dan Desa Ngablak dengan empat puncak yang membentang dari barat ke timur, yaitu Puncak Makam, Puncak Jiwa, Puncak Andong sebagai puncak tertinggi, dan Puncak Alap-alap.
Untuk melakukan pendakian, terdapat beberapa basecamp, antara lain di Dusun Sawit, Dusun Pendem, Dusun Gugik, Dusun Temu, Dusun Kudusan, dan Dusun Sekararum Kembangan. Sementara untuk mendapatkan pemandangan yang jelas, waktu terbaik yang disarankan untuk melakukan pendakian adalah pada musim kemarau seperti Juli hingga Agustus.
Banyak orang mengira asal-usul nama Gunung Andong berasal dari bentuk puncaknya yang mirip seperti punggung sapi. Dalam istilah setempat punggung sapi disebut Andong. Namun, dari versi mistisnya, Andong adalah nama daun yang sering dipakai oleh warga setempat dalam ritual tradisi Jawa yang dilakukan di puncak Andong. Karena kegiatan ritual inilah, penamaan Andong yang berarti tempat sesembahan dilakukan. Seiring waktu masih banyak warga yang melakukan semedi atau mencari wangsit di gunung ini sehingga membuat suasana mistis terasa sangat kuat.
Selain itu pada salah satu pos pendakian di Gunung Andong terdapat bentuk-bentuk batu yang memanjang mirip dengan pocong, jenazah atau mayat yang dibungkus kain kafan putih sehingga tempat tersebut dinamakan Pos Watu Pocong. Namun, ada juga versi lain, menurut cerita para pendaki sering mengalami hal mistis saat melewati pos pendakian tersebut dengan penampakan hantu pocong.
Ada juga cerita pendaki Gunung Andong yang diganggu oleh mahkluk gaib, dicubit tangan atau kakinya hingga mengalami sakit. Bahkan pernah salah satu pendaki mengatakan bahwa rekannya dicubit oleh mahkluk gaib saat mendaki Gunung Andong hingga sakit dan harus tertinggal dengan rombongan lainnya.
Di Gunung Andong juga terdapat jembatan selebar 50 cm membentang pada medan yang sangat terjal dan luas. Bagian kanan dan kiri adalah jurang, untuk menuju Puncak Alap-alap pendaki harus benar-benar menjaga keseimbangan dan staminanya agar tidak jatuh. Itu sebabnya jembatan tersebut dinamakan Jembatan Setan.
Selain itu, penamaan Jembatan Setan konon juga karena banyaknya roh halus yang siap menyerang siapapun yang berniat jahat, seperti merusak tanaman,membuang sampah hingga kencing dan BAB sembarangan.
Dalam perjalanan menuju puncak Gunung Andong, kita akan menemui sebuah batu yang disebut Batu Pertapan. Sesuai namanya, batu ini dulunya merupakan tempat untuk bertapa. Sesampainya di puncak gunung Andong kita akan menjumpai sebuah bangunan keci yang merupakan sebuah makam yang dikeramatkan oleh warga sekitar. Orang akan bertanya makam siapa yang terletak di puncak gunung?
Makam tersebut adalah makam seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakat sekitar yaitu Kyai Abdul Faqih atau sering disebut Ki Joko Pekik, seorang tokoh penyebar agama Islam. Ada yang berpendapat bahwa, Ki Joko Pekik adalah murid dari Sunan Geseng dan seorang pertapa sakti. Namun, ada juga informasi lain yang mengatakan bahwa, Ki Joko Pekik bukan penduduk asli Magelang, tapi beliau berasal dari keturunan kraton Yogyakarta. Siapapun, beliau merupakan tokoh yang sangat dihormati oleh masyarakat di sekitar Gunung Andong.
Menurut cerita, ketika Ki Joko Pekik sedang menjalankan tirakat atau bertapa selama 41 hari, beliau meninggal di puncak Gunung Andong sehingga oleh warga sekitar jenazahnya di makamkan di Gunung Andong. Manusia yang di makamkan di puncak Gunung Andong tentu bukan sembarang manusia, karena makam ini berada di ketinggian 1726 mdpl yang tentunya butuh perjuangan, pengorbanan, dan keikhlasan hati dalam memilih tempat pemakaman di puncak gunung dengan tujuan memuliakan hakikat wali tersebut.
Saat Gunung Andong belum seramai sekarang, kondisi makam Ki Joko Pekik tidak terawat, terkesan menyeramkan dan membuat bulu kuduk merinding setiap mendatangi makam. Bangunannya juga masih sangat sederhana, hanya berupa seng dengan ukuran ruangan 2 x 3 meter, bagian atas makamnya ditutup dengan kain berwarna putih. Namun, meski dikeramatkan, makam tersebut tidak terawat dengan baik. Mungkin warga sekitar jarang datang ke tempat ini, kesan gunung yang mistis dan angker hingga hanya orang dengan tujuan tertentu yang berani mencapai puncak Gunung Andong.
Saat ini Gunung Andong sudah ramai para pendaki, makam Ki Joko Pekik pun sudah dibangun, kondisinya lebih terawat, bersih, dan tidak lagi terkesan angker. Banyak para peziarah yang mendatangi makam, bahkan banyak juga yang datang dari luar daerah seperti Sugihwaras, Purwodadi, bahkan ada yang dari Jawa Timur. Masyarakat juga masih rutin menjalankan ritual seperti merti dusun atau bersih desa untuk menghargai leluhurnya terutama Ki Joko Pekik.












Satu Komentar
Wah, Jembatan Setan cocok buat uji nyali, hehehe.