“Kau ngomong apa, Jun?”
“Maksud gue, kita culik aja putri barang satu orang.”
Sam menatapnya seolah-olah dia gila.
“Maksud kau, kita culik salah satu putri?”
“Ya, gue kenalan dulu sama dia. Kalo gue demen, gue pilih dia daripada robot yang dijodoin enyak gue buat gue.”
Sam melompat berdiri, “Ini gila, lae!”
Mereka berada di kamar Jun.
“Dengar, gue udah planning semuanya, yang gue butuh tangan kanan, yaitu lu.”
“Aku tak sudi menculik seorang putri buat kau! Apa kau gila? Bapak kau pasti akan memenggal kepalaku. Dia sudah menganggap aku ngasih pengaruh buruk buat kau, padahal kaulah yang membawa pengaruh buruk buatku, pemuda baik-baik harapan nusa dan bangsa. Maksudku, pangeran macam apa yang suka menculik putri?”
Jun terkekeh.
“Dengar, bodat. Apa perlu gue ngemis-ngemis minta ke lu? Gue kagak mungkin ngelakuin sendiri, dan lu musti tulung gue. Kita cuma musti nunggu dan tangkap putri mana pun yang mungkin tersesat. Kebanyakan cewek-cewek robot pake GPS, tetapi beberapa mungkin ada yang korsleting dan gampang sesat. Kita culik satu dan kasih soal tanya jawab esai. Gue butuh ratu yang woles under pressure dan dalam situasi yang kagak nguntungin, bukan cuma yang taunya dangdan dan tampil menawan sepanjang jaman.”
Sam tersenyum. “Kan orang tua kau yang mengurus semuanya untuk kau. Nikmati sajalah.”
Jun menghela napas dan melihat jam di dinding kamarnya.
“Kenapa tengok jam? Apa kau ada urusan?”
“Gue makan malam sama babe gue bentar lagi. Obrolan babe dan anak.”
“Biasanya hasilnya tak pernah berakhir dengan baik,” Sam berkata dan berdiri. “Aku harus pergi sebelum bapak kau melibatkan aku. Dia selalu mengingatkan aku bahwa aku adalah putra orang yang bukan siapa-siapa dan aku harus mulai memikirkan hidupku setiap kali dia cakap macam itu.”
Jun tertawa.
“Lu cuma perlu ngomong ke babe gue kalo babe lu tukang mebel dan enyak lu koki. mereka bukan orang yang bukan siapa-siapa. Nggak ada orang-orang kek babe lu, tidak kaagak ada kursi atawa tempat tidur di istana, dan kalo kagak ada koki, gimana orang bisa makan?”
Sam tersenyum.
“Kau akan jadi sultan yang lebih baik daripada bapak kau, pengiranku.”
Jun tersenyum kecut, “Lu serius?”
“Serius. Aku harus pergi,” katanya Sam, berdiri dan membuka pintu hanya untuk bertemu ratu di pintu. Dia tampaknya telah menunggu mereka dan ketika pintu terbuka, dia menatap mereka berdua dengan tegas.
“Oh, sheez!” seru Jun dan Sam kompak.
***
Di suatu gang gelap di kota.
“Dengar, ini seharusnya gampang, tanpa membuang waktu,” kata pria pertama.
“Tapi bagaimana kita menculik seorang putri tanpa ketahuan?” tanya yang lain.
“Salah satu dari mereka pasti akan melakukan kesalahan.” Pria pertama menjawab dan melanjutkan, “Lihat, mereka semua kaya dan tidak punya otak, salah satu dari mereka pasti akan tersesat dan kita akan menunggu, teman-teman. Perjamuan ini adalah hal yang baik untuk kita, kita membutuhkannya. Setelah kita menculik seorang putri, kita tidak akan melepaskannya sampai kita dibayar.”
“Bagaimana kalau kita ketahuan?” tanya pria lain.
“Kita tidak akan ketahuan, ada apa dengan kalian? Apa kalian ingin mati dalam kemiskinan?” tanya pria pertama dengan frustrasi.
“Oke, oke. Kita akan melakukannya, tetapi kalian harus menyediakan barang-barang yang diperlukan,” kata salah satu dari mereka.
“Bagus, jadi kita mulai pada hari perjamuan, meskipun kita tidak bisa menculik dua atau tiga orang, satu orang pasti, kita akan mendapatkan uang kita dan kemudian kita meninggalkan kota ini.”
***
“Jadi, pakaianmu diukur untuk sesuatu yang takkan pernah jadi milikmu?”
“Sudahlah, Joy, bukan masalah gede,” kata Cinde sambil merapikan lemari pakaian Irina. “Lu pan tahu lu kagak boleh ada di kamar ini bareng gue. Kalo dia tahu kita sama ada dimari, dia bisa kejang-kejang.”
Mereka berdua tertawa.
“Aku benci anak itu,” kata Zhoya, berjalan ke meja rias di kamar dan melihat salah satu foto di atasnya. “Semuanya ditindik. Ada cincin di mana-mana. Pusar, lidah. Aku yakin dia juga menindik barang pribadinya.”
Cinde mendengus dan menggelengkan kepalanya. “Gue kagak tau, tapi gue mintaa lu pegi ke kamar gue. Tunggu gue di sono. Lu kagak boleh dimari.”
“Dengar, aku di sini karena aku mimpi tentangmu. dan aku ingin menceritakannya. Lagipula, aku tengok yang ada cuma tukang kebun, penjaga kolam renang, dan beberapa pelayan lainnya. Di mana mereka semua?” Zhoya bertanya, sambil memeriksa perlengkapan rias Irina.
Cinde menyadari apa yang sedang dilakukan Zhoya dan berjalan ke arahnya, mengambil perlengkapan itu, lalu menariknya menjauh dari meja rias.
“Semua orang keluar karena Madame van Damme sedang mengajari Tatiana numpak kuda.”
Zhoya tertawa ngakak. “Madame van Damme, nama macam mana pulak itu? Kedengaran seperti mimpi buruk.”
“Dia blasteran Prancis – Belanda – Cimahi. Lu brenti nape, ngintipin barang-barang Irina? Lu akan mengusirku dari rumah ini!”
Zhoya menghela napas dan duduk di tempat tidur.
“Kau tak asyik. Apa kau tidak penasaran sedikit pun tentang mimpiku?”
“Gue tahu mimpi lu pasti tentang gue dan seorang pangeran tampan, dan itu kagak bakal kejadian!”
“Tapi ayolah, apa kau tidak percaya pada pangeran tampan yang akan membuatmu takjub dan mewujudkan semua mimpimu?”
“Kagak, gue kagak percaya. Lagian, yang gituan jatahnya Tatiana dan itulah alasannya dia belajar numpak kuda. Untuk sekarang, gue sama cowok ibarat besi rel kereta api. Kagak bakalan ketemu. Gue kagak tertarik. Kagak ada laki yang bisa mewujudkan mimpi gue kecuali gue nurutin apa pun yang diminta ibu tiri gue, mungkin suatu hari nanti dia akan ngasihin warisan gue.”
“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Zi, “Aku tahu kau pasti punya keinginan. Kau tidak bisa cuma jadi pembantu seumur hidupmu, kan?”
Cinde menghela napas paanjang dan duduk di tempat tidur, “Apa yang gue pengen?”
“Ya,” Zhoya mengangguk.
“Ikut gue,” tata Cinde. Lalu kedua gadis itu berlari keluar kamar menuju ujung lain kamar milik Tatiana.
Kamar itu luas dan berperabotan mahal, sama seperti kamar-kamar lain di rumah itu. Dindingnya dihiasi sulaman mahal, tempat tidurnya ditinggikan seperti di film-film, ada pintu terpisah yang mengarah ke balkon, dan kamar itu memiliki balkon sendiri yang memungkinkan mereka melihat dunia di bawahnya.
“Ish, cantik kali,” kata Zhoya. “Kenapa kamar Irina tak sebagus ini?”
Cinde mengangkat bahu,
“Varya berusaha mendidik Tatiana menjadi seorang putri. Irina bukan putri, bahkan karakternya pun kagak mirip putri,” sambil berbicara, ia berjalan menuju salah satu lemari dan membukanya. Lemari itu penuh dengan begitu banyak pakaian yang bahkan belum pernah dipakai.
“Apa menurutmu Tatiana bakalan tahu kalau aku mencuri salah satunya?” tanya Zhoya, tetapi Cinde mengabaikannya. Dia malah memasukkan tangannya ke dalam lemari dan mengeluarkan sebuah kotak besar yang dibawanya dengan hati-hati ke tempat tidur.
“Apa itu?” tanya Zhoya, mengikutinya ke tempat tidur tempat mereka berdua duduk dengan kotak di antara mereka.
“Ini…” Cinde membuka kotak itu, “… yang gue mau.”
Zhoya tersentak ketika melihat sepasang sepatu terindah yang pernah dilihatnya. Sepatu itu bertumit tinggi, terbuat dari kaca dan berkilauan saat terkena cahaya. Tepinya bertahtakan berlian yang berkilauan setiap saat.
“Apakah itu berlian asli?” tanya Zi, menelusurinya dengan jari-jarinya.
“Ya, benar, mama gue nggak pernah memenangkan berlian palsu.”
“Mamakmu?”
“Ya, sepatu itu punya mama gue.”
“Jadi, bagaimana mungkin sepatu itu ada di tangan Tatiana?” tanya Zhoya, menatapnya.
Cinde mendesah, “Varya pengen dia memakainya ke pesta.”
“Itu sangat tidak adil, seharusnya kau yang pergi ke acara ini. Seharusnya kau yang memakai sepatu itu. Kau adalah pemilik semua barang yang dinikmati ibu tirimu bersama anak-anaknya. Ini sangat tidak adil!”
Cinde tersenyum dan mengemasi kotak itu kembali ke dalam lemari.
“Yah, tapi emang udah takdir gue, dan gue kagak pengen diusir dari rumah babe gue. Jadi gue kagak punya pilihan selain nurutin apa pun yang mereka mauin.”
Sementara mereka mengobrol, mereka mendengar suara-suara di lantai bawah.
“Cepetan! Mereka udah balik!”











