Home / Genre / Teenlit / 3. Trek Balap

3. Trek Balap

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
1
This entry is part 4 of 28 in the series Percayalah Padaku Cinta

Sinar matahari menyilaukan mata ketika Adam mengayunkan motor trail-nya lebar-lebar di sekitar tanggul tanah, berbelok ke barat. Turun ke gigi tiga, mesin menjerit protes karena kecepatan yang berkurang. Adam tahu itu akan terjadi pada akhirnya, tetapi sialnya dia berharap bisa membalap selama sepuluh menit lagi sebelum matahari terbenam.

Dia berdiri di pijakan dan turun ke gigi dua, meraayap perlahan melewati lompatan besar, menurunkan pelindung helm untuk menghalangi sinar matahari sebanyak mungkin. Kemudian dia keluar dari lintasan dan menuju ke garasi.

Yang disebut garasi adalah gudang besar dari seng yang digunakan untuk menyimpan motor trail. Sebagian besar milik pelanggan yang membayar, tetapi dia menyimpan sepeda motornya di sini, bukan di rumah yang berada di seberang jalan.

Orang tuanya pemilik Trek, tempat yang diberi nama tepat seperti fungsinya—lintasan motocross. Meskipun Jarang mengadakan balapan di sini karena sebagian besar merupakan fasilitas latihan. Papanya dan sahabatnya Indra adalah mantan pembalap di dunia motorcross profesional. Mereka mengubah pengalaman mereka menjadi kursus pelatihan dan biasanya hasilnya luar biasa.

Namun, liburan semester agak menyebalkan karena berarti dia harus bekerja.

Adam turun dari motornya dan menaruhnya di tempat penyimpanan. Kata-kata papanya terngiang di telinganya.

“Nak, kamu sudah berusia tujuh belas belas tahun. Gaya hidupmu tidak murah. Sudah saatnya kamu bekerja untuk mendapatkan uang dengan bekerja daripada selalu mengharapkan jatah dari Papa.”

Lalu, tentu saja, mamanya turun tangan begitu papanya mengangkat topik tentang dia yang bekerja untuk meneruskan bisnis keluarga.

“Sayang, dia masih anak-anak. Dia harus fokus dengan sekolahnya.”

“Tidak di liburan kenaikan kelas,” kata papanya.

Dan sekarang, minggu pertama liburan sebelum tahun pembelajaran dimulai, dia sudah bekerja.

Nggak keren puol.

Dia melepas helm dan menggeleng-gelengkan kepala, sehingga keringat berhamburan ke segala arah. Setelah seharian bekerja di lintasan, dia hanya mampu menunggang motornya selama lima belas menit saja.

Liburan semester lalu, dia menghabiskan seharian di sini, melatih teknik mengemudi, dan semakin cepat di setiap putaran. Sekarang, setelah dipaksa bekerja dengan upah seratus ribu per jam, dia mulai bertanya-tanya apakah papanya tidak ingin dia menjadi pembalap profesional begitu dia berumur delapan belas tahun.

Papanya selalu memberi tahu kliennya bahwa latihan adalah segalanya. Dan sekarang dia terjebak karena tidak bisa berlatih.

Adam menuju ke bangunan induk dan mendapati papanya di ruang kantor, menatap layar komputernya seolah-olah benda itu adalah musuh pribadinya.

“Ada apa, Pa?” dia bertanya.

Irfan Satria, papanya memijat keningnya dengan ibu jari dan jari telunjuknya, mengangkat bahu.

“Pajak benar-benar menyiksaku. Aku harus memanggil mamamu ke sini untuk memeriksa salahnya di mana.”

Adam mendengus. “Mama akan menyukainya.”

Papanya selalu mencoba mengerjakan laporan pajak sendiri, tetapi mamanya yang selalu harus memperbaikinya. Mamanya mempunyai gelar Magister Akuntansi.

“Ceritakan padaku,” kata papanya sambil bangkit dari kursinya. “Bagaimana hari keduamu bekerja?”

“Menyebalkan,” jawab Adam, mengambil sebotol air dari kulkas mini. “Aku hanya bisa latihan lima belas menit doang.”

“Latihan bukan bagian dari jobdesk-mu, Nak.”

Adam memutar bola matanya, membuat papanya tersenyum lebar.

“Kamu khawatir tidak cukup berlatih, ya?”

“Tentu saja. Papa sendiri yang selalu bilaang harus berlatih membalap sekuat tenaga untuk menjadi profesional.”

Adam menenggak habis sisa air mineral dan meremas botol plastik di tangannya.

Papanya menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana kalau begini. Kamu bekerja tiga hari seminggu, dan berlatih balap empat hari. Itu cukup latihan untuk menjadi hebat.”

“Terima kasih,” kata Adam, merasakan beban berat telah terangkat dari pundaknya. “Bisakah aku libur besok?”

Papanya tertawa. “Tidak. Ini malam peewee lock-in bocah dan aku butuh bantuanmu.”

Cuk.

Adam lupa tentang itu. Peewee adalah sebutan untuk anak-anak kecil empat sampai tujuh tahun yang mengendarai sepeda motor trail. Trek memiliki tempat-tempat terkunci selama musim liburan di mana anak-anak akan berlatih sepanjang hari, lalu berbaring di kantong tidur di ruang hiburan dan menonton TV serta makan pizza lalu tidur dan pagi berikutnya mereka akan berlatih di lintasan sepanjang hari lagi.

Dulu Adam suka tempat-tempat terkunci ketika dia masih kecil. Dari dulu dia sudah tinggal di sini, jadi tidur di Trek lebih baik. Sekarang dia punya banyak ‘urusan’ yang lebih baik untuk dilakukan daripada tidur di samping anak-anak kecil yang ngorok.

Adam mengucapkan selamat tinggal kepada papanya dan menuju ke kantor depan tempat dia menyimpan semua barangnya di salah satu loker karyawan yang kecil. Dia telah berjanji kepada Vindy Natasya untuk kencan setelah jam pulang kerja pukul enam dan sekarang sudah hampir pukul enam tiga puluh. Cewek itu paling benci disuruh menunggu, tetapi cuek kalau dia yang membuat Adam menunggu, yang selalu dilakukan Vindy.

Ada beberapa orang tua di kantor depan, mendaftarkan anak-anak mereka untuk lock-in. Untungnya, ada wanita yang bekerja di meja resepsionis, di sini jadi Adam tidak perlu melakukan apa pun. Adam masih tidak tahu siapa namanya, tapi dia lumayan cantik untuk usianya yang sepertinya sudah tiga puluhan.

Adam meraih ponselnya dan menemukan dua pesan tak terjawab dari Vindy. Satunya hanya mengatakan, Sekarang jam enam, brengsek.

Yang lainnya adalah emoji cium.

Adam benar-benar tidak mengerti cewek ini. Tapi dia bisa mencium bibir Vindy, makanya dia terus bertahan dengannya meski suasana hati Vindy selalu berubah-ubah mengikuti arah angin.

Aku membalas pesannya.

 Baru saja pulang kerja, mau aku jemput setelah aku mandi?

Dan telepon berdering dari seberang ruangan. Sial.

Aku mendongak dan mataku menemukan matanya. Mata biru cerah, rambut pirang sempurna, dan tatapan yang sangat jahat.

“Hei,” sapaku, tersenyum saat aku menyeberangi ruangan dan memeluknya. Dia tetap kaku dalam pelukanku, jadi aku mundur. “Apa yang ingin kau lakukan malam ini?”

Dia melipat tangannya di dada, kuku palsunya berkilauan seperti cincin di jarinya. “Maksudmu apa yang ingin kulakukan?”

“Aku tidak mengerti.”

Dia memutar matanya dan menarik napas dalam-dalam. “Sudah. ​​Maksudnya, masa lalu. Karena sekarang, aku muak dengan semua kebohonganmu, Adam Satria. Kamu benar-benar menyebalkan, kau tahu itu?”

Wanita di balik meja kasir menyebut nama Adam.

“Tolong bawa dramamu keluar.”

Dia mengusir mereka dengan gerakan tangannya. Adam meraih lengan Vindy, ​​menariknya keluar.

“Dengar, aku harus kerja sekarang. Aku tidak bisa lagi menuruti perintahmu. Aku masih ingin nongkrong, jadi beri tahu aku ke mana kamu mau pergi.”

Vindy menyibakkan rambutnya di bahunya penuh drama, membuat Adam bertanya-tanya apakah dia sudah berlatih gerakan itu di depan cermin.

“Aku tidak mau pergi ke mana pun bersamamu, Adam.”

Bibirnya membentuk garis tipis dan dia berbalik, menggali lubang di jalan setapak berkerikil. “Telepon aku kalau kamu memutuskan bahwa aku lebih penting daripada motor trail bodoh kamu itu.”

Adam mungkin bisa cuek, tetapi dia muak dengan kata-kata Vindy yang selalu menghina, padahal dia sudah menjelaskannya dengan sejelas-jelasnya.

“Dengar, Vindy,” kata Adam, bergeser di depannya sehingga cewek itu terpaksa berhenti. “Motor trail akan selalu menjadi yang utama dalam hidupku. Dan jangan menatapku seperti itu. Aku sudah mengatakannya padamu beberapa minggu yang lalu.”

Bola mata Vindy menatap ke langit seolah- olah dia menganggap Adam sangat bodoh, dan Adam merasa ingin putus sekarang juga. Cewek itu tidak sepadan dengan usaha yang dia laakukan. Vindy memang sangat seksi, tetapi tetap saja tidak sepadan dengan usaha yang harus dilakukan Adam.

“Sudah kubilang aku tidak akan menikah dan aku tidak menginginkan pacar,” kata Adam, karena jelas Vindy perlu diingatkan.

“Aku tidak pernah meminta untuk menjadi pacarmu, bukan?” kata Vindy sambil berkacak pinggang.

“Dengar, aku menyukaimu dan kita bersenang-senang, tapi kalau kamu terus-terusan ngomel seakan-akan aku cowok yang menyebalkan, aku harus membuat garis batas.”

Adam masih berkeringat karena bersepeda motor. Dia mengangkat bagian depan kausnya dan menyeka keringat di wajah. Mata Vindy melirik peru Adam yang six pack dan Adam merasa sangat bangga.

“Aku tidak menginginkan pacar dan sekarang kamu bertingkah seperti pacar. Jadi kenapa kamu nggak meneleponku waktu kamu bersenang-senang?”

Vindy mendengus. “Oke!”

Adam menatap tatapan dingin Vindy dengan ekspresi apatis.

“Oke.”

Percayalah Padaku Cinta

. Mengumpulkan Makanan yang Tersisa . Keluarga Bakri Bakri

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image