Home / Genre / Petualangan / Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 2)

Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 2)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 8 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Wuuzzz!

Mendadak pemandangan kaki gunung tempat Hanny bercengkerama bersama kakeknya hilang, berganti dengan suasana lengang jalan raya yang belum lagi tersaput aspal.

Sayup Hanny masih mendengar penuturan kakeknya, yang melantun perlahan dan penuh keharuan laksana tembang mocopat syafa’at, dengan warna nada yang melenting kian kemari bersama lirih gamelan yang ditabuh sebatas pendengaran yang paling minimal, yang entah sejak kapan ditabuh orang.

Dan diantara sayup yang magis itulah Hanny melihat dua sosok gagah berdiri tegak di tengah pergumulan maut.

Jubah salah satu dari mereka berkibar, dengan caping bambu bertengger angkuh di kepala. Sementara yang lainnya mengenakan jaket berbahan denim khas anak muda sembari menenteng sebilah pedang, hingga sekilas jika tidak jeli akan menganggapnya sebagai pemuda sok jago yang hendak tawuran antar kampung.

Percakapan mereka berdua terdengar jelas di telinga Hanny, membuatnya menggigil bercampur entah berapa banyak kengerian sekaligus keheranan akan topik yang dibicarakan.

“Jadi kau kembali hanya demi membayar hutang darah ini?” selidik Sam Trader Sang Cianbunjin Partai Pena Inspirasi.

“Tepat sekali!” tegas Zoel Z’anwar Si Pendekar Syair Berdarah-darah.

“Dengan cara apa kau ingin melunasi semuanya? Dan apakah itu dapat menghidupkan lagi semua sanak kandangku yang terlanjur hancur lebur ini?” seru Sam Trader penuh emosi seraya menunjuk mayat yang menggelimpang tumpang-tindih di sekitar mereka.

“Tak bisa dilunasi pun tetap harus kubayar. Dan bagaimana cara aku membeli nyawa, dengan cara itu pula kujual selembar raga ini. Kau pikir, buat apa aku kemari hari ini?” tandas Zoel Z’anwar.

Sam Trader menatap Zoel Z’anwar tepat di manik mata, yang dibalas oleh Zoel Z’anwar dengan tatap yang sama persis, walau anehnya sorot mata mereka berdua tak sedikitpun menyiratkan dendam dan sakit hati. Lebih tepatnya mungkin kekaguman dan perasaan hormat kepada masing-masing seterunya.

“Harusnya kau tak menyindir cerpen cinta hasil kolaborasiku yang waktu itu,” sesal Sam Trader seraya meraba gagang pedang pokiam di pinggangnya.

“Karena akhir cerita buatanmu begitu mengenaskan. Juga penamaan Tora dan Bika sebagai karakter utama tokoh fiksimu, begitu menyinggung rasa kekopian di hatiku,” bela Zoel Z’anwar.

“Tapi bukankah kisah cinta yang baik wajib berkonflik?” serang Sam Trader tak mau kalah.

“Maaf, Sam, aku cinta damai,” kelit Zoel Z’anwar.

“Damai seperti puisi kolaborasimu yang bersalin rupa dari hujan menjadi kecupan itu? Begitukah refleksi cinta damai yang kau maksud? Yang mati-matian mengingkari sendu buah hitam kenyataan lalu menggantinya dengan ribuan jargon tentang cinta yang indah dan melenakan? Begitukah cinta damai yang kau maksud itu? Dengan pura-pura lupa bahwa usia dan jam terbang yang kau punya tak lagi serupa pemuda romantik yang baru mengenal cinta? Begitu?” ejek Sam Trader dengan berapi-api. Tangannya menggenggam batang pokiamnya semakin erat. Untuk harga diri memang seringkali tak menyisakan pilihan apapun lagi selain mempertahankan yang telah terlanjur dikreasi, tak peduli bahkan jika kreasi itu kelak akan menjadi jauh lebih mengandung permenungan tingkat tinggi ketika digarap ulang dengan lebih menyayat.

“Setidaknya masih jauh lebih baik dari cerpen nyerimu itu, yang rela memberikan mata karunia Sang Maha Kuasa, hanya demi dianggap pecinta wanita terbaik abad ini,” cibir Zoel Z’anwar.

Blaaarrr!

Pokiam meletik ke depan. Namun bilah pedang Zoel Z’anwar belum juga diloloskan dari sarungnya.

“Tahu apa kau tentang cinta sejati? Tahu apa kau tentang cinta yang rela mempersembahkan segala yang terbaik bagi yang dicinta?” erang Sam Trader dengan hati yang amat terluka.

Zoel Z’anwar tetap bergeming di tempat. Begitu juga tatapannya: Tetap tajam dan menyayat. Membuat Sam Trader sejenak terdampar rasa ragu dan sedikit mengerem laju pedang.

“Jika semua perwira berpikir sepertimu, tak perlu menunggu hitungan dasawarsa untuk negeri ini kembali dijajah negara lain dengan cara licik yang memang keahlian utama mereka!” Suara Zoel Z’anwar semakin tegas terdengar, membuat sam sedikit terhenyak.

“Mak-maksudmu?” tak tahan Sam Trader bertanya. Sekuat tenaga ditahannya laju pokiam yang terlanjur menusuk.

Tapi terlambat. Pedang pusaka meluncur deras, menghujam tepat di jantung Zoel Z’anwar hingga tembus dan menyisakan hanya gagang di bagian dada.

“Kau … kau … Kenapa kau tak menghindar?”

Secepat kilat Sam Trader merangkul Zoel Z’anwar, dan bertanya setengah histeris.

“Kenapa kau tak menghindar, Zoel? Kenapa?” Sam Trader mengguncang tubuh Zoel Z’anwar yang bersimbah darah.

“Aku hanya ingin … kit… kita semua meng … hasilkan karya yang tidak sekedar cinta. Aku hanya ingin kita … lebih fokus menggarap karya apapun … juga cin … cinta … dengan konflik kemanusiaan atau pembebasan belenggu kemiskinan … seb … sebag … gai bumbunya … Atau cinta gadis remaja yang rela … mendampingi buah hatinya meng … inovasi… negeri,” sendat suara Zoel Z’anwar.

“Tapi kenapa kau tak menghindar, Zoel? Kenapa kau tak membalas? Kenapa kau tak menangkis?” Sam Trader memeluk leher Zoel Z’anwar erat-erat.

“Maafkan aku yang gem … gemar membedah karya kalian … walau terkadang itu menyakitkan … tapi … itulah bukti cinta dan apresiasiku terhadap karya kita semua … karena tak ada yang lain yang melakukannya selain memberi jempol serta komen bertabur pujian … yang … memabukkan.”

“Tidak, Zoel … tidak,” ratap Sam Trader.

“Ti-titip inn … nniii … Lan … lanjutkan semuanya bersama seluruh kerabat yang ter … sisa … Dari lanjutan cersil ini … kelak kita semua akan paham … betapa amat berharganya nilai diri kita … dan … seluruh … anggota … Pe … na … hek…”

Zoel Z’anwar mati. Tapi wajahnya penuh senyum. Barangkali berwasiat kepada teman kepercayaan memang selalu menenangkan.

Masih dengan terguguk Sam Trader melihat benda yang dititipkan Zoel Z’anwar kepadanya. Sepertinya kitab pedang.

Tapi Sam Trader terlonjak ketika membaca tulisan yang tertera di sampul bagian depan.

“Hah? Kitab ini?”

Bergegas Sam Trader meraih pedang di pinggang Zoel Z’anwar dan ditariknya keluar dari sarungnya, dan kembali Sam Trader kaget, untuk kemudian semakin terbenam dalam sedu-sedan yang penuh sesal.

“Ternyata kau adalah penerus orang itu, Zoel, hu  hu  hu. Maafkan aku, Zoel. Huuu … Kenapa … hu … kau tak melawan … huhuuu…”

Setelah menangis agak lama, Sam Trader bangkit lalu bertabik tiga kali kepada jasad Zoel Z’anwar dengan penuh penghormatan, lalu menunjuk layar hape dan monitor dengan ujung telunjuk yang tepat mengarah ke hidung pembaca sambil memohon, “Tolong lanjutkan perjuangan kami di dunia reka kata…” yang lalu dengan gerakan amat sebat dia menggorok leher sendiri dengan pedang milik Zoel Z’anwar.

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 1) Legenda Pedang Tetesan Air Mata (Part 3)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image