Home / Non Fiksi / Opini / Kehidupan Introvert: ‘Self Analysis’ Introvert yang Sebenarnya Gak Perlu Ada, Apa Saja?

Kehidupan Introvert: ‘Self Analysis’ Introvert yang Sebenarnya Gak Perlu Ada, Apa Saja?

Kehidupan Introvert 20250722 (LinkedIn)
1

Sepertinya hampir semua orang pernah melakukan cek-ricek diri sendiri alias self diagnosis-analysis dari kuis-kuis di media sosial, misalnya kuis online tipe kepribadian MBTI, kuis-kuis berjudul ‘apakah saya ….’ dan lain sebagainya. Ikut kuis-kuis semacam itu bisa dalam rangka iseng-iseng belaka (sekadar pengisi waktu luang) atau memang mengharapkan ‘jawaban’ atas segala pertanyaan mengganjal dalam diri. Daripada ke psikolog yang tarifnya mahal, mungkin bagi sebagian orang lebih merasakan privasi ekstra atau bahkan irit biaya jika hanya menganalisis via gawai.

Akan tetapi, bukan hanya jawaban/hasilnya yang kerap kurang akurat atau bahkan berbeda jauh dengan analisis-diagnosis yang dilakukan secara profesional (baca: berbayar, dilakukan oleh ahlinya), ada juga beberapa bentuk analisis-diagnosis pribadi alias penarikan kesimpulan yang kerap dilakukan oleh para introvert, termasuk yang pernah penulis alami sendiri. Apa saja misalnya, dan mengapa sebenarnya tidak perlu ada?

  1. “Saya tidak istimewa.”
    Begitu berada dalam kumpulan orang banyak, pernahkah Anda merasa ciut, mengecil, ingin menghilang saja dari kerumunan? Biarpun mungkin kita mengenal hampir semua orang dalam kerumunan itu (misalnya pertemuan keluarga, rapat kantor, komunitas, dan lain sebagainya) seringkali kita merasa tidak dianggap. Ah, siapatah saya, hanya remahan rengginang dalam kaleng biskuit. Masih ada manajer, bos, Pak RT, ketua, kakek, komandan, bapak, dan lain sebagainya. Saya hanya member biasa, penggembira, pengisi kursi kosong, dan banyak lagi anggapan ‘biasa-biasa saja’ lainnya.

    Pendapat/cap untuk diri sendiri ‘saya tidak istimewa’ mungkin sekilas terdengar humble, mencerminkan sikap rendah hati. Yang lain aja, monggo, silakan. Namun ingat, rendah hati juga beda 11-12 dengan rendah diri. Merasa diri tidak istimewa menjadikan si introvert malah semakin terkucil dan kehilangan peluang mendedikasikan talentanya. Sebisa mungkin, kurangilah berpikir/berkata ‘saya tidak istimewa’. Sadarilah jika setiap orang termasuk introvert juga memiliki bakat, kemampuan, keistimewaan nan unik yang tidak ada dalam diri orang lain, bahkan para ekstrovert.
  2. “Saya lemah (tidak berdaya).”
    Saking lebih seringnya merunduk (padahal bukan merujuk ilmu padi), seorang introvert seakan-akan sering tampil powerless alias tidak berdaya. Apalagi jika sedang tidak dalam posisi seorang pengambil keputusan. Biasanya seorang ekstrovert lebih ‘cemerlang’ dalam hal ini. Daya si ekstrovert yang ‘menyala-nyala’ menjadikannya ibarat mercusuar dalam kegelapan. Keputusannya didengarkan dan kerap wajib dijalankan. Sedangkan si introvert hanya bisa nyempil di pojokan.

    Sadarilah jika kata ‘daya’ bukan hanya berarti kekuatan untuk bekerja, berbicara, mengambil keputusan atau mengatur apa yang dapat dilakukan seseorang atau sebuah tim. Daya berarti juga kemauan dari dalam untuk hidup, semangat bertahan, ingat akan tujuan yang masih jauh di depan. Jika terlalu sering mencap diri ‘tidak berdaya’ berarti Anda memadamkan api semangat itu.
  3. “Saya malu.”
    Banyak orang bahkan si introvert sendiri merasa bahwa pemalu adalah sifat seorang introvert. Padahal beda lho, sifat pemalu dengan pendiam/senang menyendiri. Malu bukan hanya sekadar segan atau sungkan. Rasa malu jika telah berbuat kesalahan itu sangat perlu, ‘obat penawar’-nya adalah permintaan maaf yang tulus. Akan tetapi jika rasa malu melulu, terus dipelihara-dipupuk atau dijadikan alasan untuk mager, jelas gak lucu. Banyak keinginan kita malah terpendam dan menghilang untuk selamanya.
  4. “Saya ‘sih ikut aja.”
    Sebenarnya ikut pendapat yang dirasa paling benar, pendapat kebanyakan orang, suara terbanyak dan sebagainya boleh-boleh saja. Akan tetapi jika selalu ikut saja hanya karena ‘angkat bahu’ alias ‘gak tahu kenapa’ lantas kita tidak akan memberi sumbangsih berarti. Perbedaan pendapat, walau dianggap out of the box, kritik saran yang berbeda dari apa yang mayoritas rekan-rekan dukung, masih diperlukan. Jika ada ganjalan, suarakan saja. Masalah didengarkan atau dilaksanakan, itu beda lagi.

Kesimpulan: Analisis-diagnosis diri sendiri hingga berpendapat/kesimpulan mengenai diri (alias ‘cap’ pribadi) sebenarnya bukan masalah besar, akan tetapi hendaknya tidak jadi alasan untuk terus ‘mengecilkan diri’ sehingga tenggelam atau selalu jadi yang terakhir. Berusahalah keluar dari stigma, hindarilah terus-menerus mengasihani diri, hingga kepribadian ‘lebih banyak berpikir daripada berbicara’ kita turut memberi sumbangsih positif bagi sesama.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 22 Juli 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image