Home / Fiksi / Cerpen / Apa Kabar Kopi Sanger?

Apa Kabar Kopi Sanger?

Kopi Sanger
1

Meski belum setahun aku berpisah denganmu, namun rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Mungkin karena rindu, hari-hari yang kujalani seperti ada yang kurang. Memang benar, untuk mencintai, tak butuh waktu lama. Sementara, untuk terbiasa tanpa yang dicintai, butuh waktu lama agar bisa melupakan. Bahkan, tak ada waktu untuk itu. Seperti aku yang tak pernah lupa, saat kita berjalan bersama di tengah peluh keringat. Tak peduli, teriknya matahari, dan hujan yang menderu.

Kau, dengan nama Kopi Sanger, tak pernah mengeluh, walau lelah seharian—menantikan para penikmatmu. Masih kuingat jelas, senyum orang-orang yang datang kepadamu, memesan kopi favorit, Kopi Susu Sanger khas Aceh—berdatangan memberi secercah harapan, bahwa hari ini akan habis terjual. Ada juga beberapa yang memesan Kopi Hitam Gayo. Meski tak banyak—karena pahit sedikit asam, tetap saja menjadi harapan kecil, melengkapi sajian kopi keliling terbaik.

Dari setiap yang datang, ada yang memesanmu dengan manja, ada yang datar, dan ada pula yang tegas, bahwa Kopi Sanger belum ada tandingannya. Pernah ada yang ingin menandingimu, menjiplak racikanmu, namun tumbang di tengah jalan, karena ciri khasmu memang sudah begitu kuat mengakar. Sementara sainganmu yang lain hanya sekadar tim hore saja.

Setiap malam, aku membawa kopi dari nama besarmu. Itu, seperti bergandengan tangan dengan kekasih, hanya berdua saja berbagi cerita. Suka, duka seharian kita saling tumpahkan, yang tertuang dari segelas kopi—kadang berbagi kisah dengan orang-orang terdekat. Kadang pula, seduhan kopi bersama ketukan musik blues menambah irama santai di setiap tegukannya. Karena, racikan Kopi Sanger memang sudah sekelas blues yang berkualitas.

“Sepantasnya, Kopi Sanger ini berada di kafe-kafe, bukan keliling di pinggir jalan, dengan harga yang sepadan.” Celoteh mereka yang paham kualitas kopi.

Namun, kau memutuskan dengan bijak. Tak semua mampu menikmati kopi original—bila berada di kafe, hanya orang-orang yang berkecukupan, bahkan orang-orang kelas atas saja. Orang berkata apa, tak kau dengarkan. Sebab, kau punya prinsip kuat kepada siapa Kopi Sanger dapat dinikmati. Dengan cepat, namamu menjadi besar.

Setelah beberapa bulan kita tak lagi bersama, bagaimana kabarmu sekarang? Aku berharap namamu semakin besar, dan penikmatmu semakin banyak. Disini, aku tak cukup waktu untuk mencarimu. Sebab, aku sudah terlalu sibuk, ditambah aku tak cukup mengenal daerah yang kutempati saat ini. Panjang umur Kopi Sanger.

Tangerang, 24 Juli 2025

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image