Home / Topik / Wisata / Tugu Pucang Bukan Sekadar Tugu Penunjuk Jalan

Tugu Pucang Bukan Sekadar Tugu Penunjuk Jalan

Tuin Van Java - Tugu Pucang Bukan Sekadar Tugu Penunjuk Jalan
1

Bagi warga Magelang yang hendak menuju ke Grabag, seringkali melewati Desa Pucang.  Secara administratif Desa Pucang termasuk dalam wilayah Kecamatan Secang, dengan ketinggian rata-rata 470 mdpl, terletak di sebelah utara Kabupaten Magelang, dengan jarak 4 km dari kantor kecamatan Secang, atau sekitar 30 km dari kantor Kabupaten Magelang.

Nama pucang di ambil dari nama sebuah pohon sejenis pohon jambe atau pinang yang menjulang tinggi dan konon ceritanya dahulu di daerah ini banyak di tumbuhi pohon pucang atau pinang

Harapannya dengan mengambil nama pohon ersebut “Pucang” di harapkan akan menjadi daerah atau kawasan yang terkenal dengan cita-cita yang tinggi. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa nama Desa Pucang di ambil dari istilah jawa “Pupune dicancang” atau pahanya diikat, yang berarti simbol dari kerja keras.

Selain itu Desa Pucang juga dikenal sebagai salah satu desa dengan mata pencaharian warga desanya sebagai penghasil kerajinan tanduk. Hingga saat ini sebagian besar warganya adalah pengrajin, bukan hanya tanduk, tapi juga merambah ke kerajinan kayu, bambu, dan tempurung kelapa, yang menghasilkan berbagai perlengkapan dapur.

Sebagai daerah yang menghubungkan batas Kecamatan Secang dan Kecamatan Grabag, daerah tersebut cukup ramai. Setiap hari banyak orang berlalu-lalang melintasi tugu yang terletak di perempatan Dusun Karang Wetan, Desa Pucang ini. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa tugu ini bukan sekadar penunjuk jalan, tapi sengaja dibuat untuk menandai lokasi pertempuran bersejarah antara pasukan rakyat Indonesia melawan Sekutu. 

Tugu ini adalah saksi bisu perjuangan melawan rakyat melawan tentara Sekutu yang terjadi di sekitar wilayah Pucang, Secang pada bulan Oktober 1945 dan merupakan bagian dari pertempuran Magelang yang lebih besar, sebagai bagian dari perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan, pada tanggal 20 Oktober 1945 pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal Bethel bergerak dari Semarang menuju Magelang membawa kurang lebih tujuh kendaraan yang di kawal kendaraan lapis baja. Tujuan utama kedatangan mereka adalah Magelang sebagaimana ditugaskan oleh Sekutu yaitu mengurus tawanan perang, melucuti senjata dan pembersihan tentara Jepang yang ada di Jawa Tengah.

Tentu saja kedatangan mereka memicu konflik dengan pemuda dan pejuang Indonesia yang telah mengambil alih pemerintahan lokal, mengakibatkan terjadinya pertempuran melawan tentara Sekutu dan Belanda di Magelang. Hingga terjadi beberapa insiden di Magelang, termasuk penangkapan Mayor Jenderal Nakamura Junji (pemimpin pasukan Jepang di Jawa Tengah) oleh pejuang Indonesia.

Pasukan sekutu akhinya menunjukan sisi aslinya dan pertempuran besar terjadi, pada 28 Oktober hingga 1 November 1945 setelah pasukan Belanda mengadakan gerakan licik dengan menculik dan menyiksa sekelompok pemuda Magelang. Perbuatan semena-mena tersebut mengakibatkan kemarahan masyarakat Magelang, sehingga rakyat di bawah komando BKR (Badan Keamanan Rakyat) terjun dalam medan pertempuran untuk menyerang markas batalyon di Tuguran, Susteran dan Hotel Montagne.

Pertempuran yang berlangsung beberapa hari ini dimulai dengan serangan mendadak pejuang Indonesia terhadap pasukan Sekutu di Magelang, termasuk di wilayah Pucang. Melibatkan perlawanan sengit dari pihak Indonesia di berbagai lokasi, sekitar alun-alun Magelang dan markas-markas Sekutu, penghadangan konvoi, atau pertempuran jarak dekat antara pejuang Indonesia dengan pasukan sekutu.

Setelah kedatangan Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell pada tanggal 2 November 1945, pertempuran akhirnya  terhenti dan diadakan perundingan untuk menyepakati gencatan senjata.

Namun, meski telah sepakat untuk gencatan senjata di Magelang, tapi pertempuran kembali berkobar di Ambarawa, wilayah yang berdekatan dengan Magelang, karena pasukan sekutu melanggar kesepakatan dengan membebaskan para tawanan perang yang kemudian bergabung dengan NICA. 

Pertempuran di Pucang dan Magelang secara keseluruhan menunjukkan semangat juang rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan hingga berdampak pada kebijakan Inggris di Jawa Tengah dan menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Diperkirakan ratusan korban jiwa dari pihak Indonesia dalam pertempuran ini gugur, baik dari kalangan pejuang maupun masyarakat umum secara keseluruhan menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga dalam bentuk perlawanan rakyat di berbagai wilayah.

Pertempuran ini juga menjadi bukti bahwa semangat persatuan dan nasionalisme rakyat Indonesia sangat kuat dalam menghadapi penjajahan. Peristiwa yang menjadi bagian penting dari sejarah Magelang dan perjuangan bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Dalam pertempuran yang memakan banyak korban ini, di desa Pucang didirikan Tugu  untuk memperingati dan mengenang peristiwa penting serta jasa para pahlawan, khususnya dalam konteks perlawanan terhadap penjajahan, terutama karena lokasi ini pernah menjadi saksi gugurnya pasukan rakyat Indonesia yang dipimpin oleh Mayjen Suryosumpena saat bergerak dari Grabag menuju Magelang.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image