Home / Genre / Teenlit / 11. Tanpa Perlindungan

11. Tanpa Perlindungan

PERCAYALAH PADAKU CINTA 1600x900
This entry is part 12 of 28 in the series Percayalah Padaku Cinta

Adam turun dari bak pikap dan mengikuti Agnes ke bagian depan pikap yang ramai karena musik rap yang menghentak dari pengeras suara Andre, tetapi setidaknya tidak ada yang mengganggu.

“Ada apa?”

Agnes mengamatiku selama setengah detik dan kemudian menangis.

“Maafkan aku.”

“Wow,” Adam mengulurkan lengan ke bahunya. “Jangan minta maaf. Ada apa?”

Masih terisak, Agnes menyeka air mata. Adam tahu dia berusaha keras untuk tetap tenang. “Agnes.”

Adam mencoba lagi. “Ada apa?”

“Bisakah kamu mengantarku pulang?” bisiknya, logat keturunan yang kental karena dia menangis lagi. “Tolong? Aku minta maaf. Aku tidak tinggal jauh.”

“Tentu, tidak masalah,” kata Adam, menghitung dalam hati. Dia baru minum satu kaleng bir. Dia bisa menyetir.

“Ayo pergi.”

Adam melambaikan tangan pada Andre dan tidak repot-repot memberinya penjelasan.

Agnes naik ke pikap Adam, menoleh ke samping untuk menendang pasir dari kakinya yang telanjang sebelum menutup pintu mobil di belakangnya. Dia memegang handuk pantai erat-erat di dadanya.

“Apakah kamu—”

Adam terdiam, tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimatnya tanpa terdengar seperti orang tolol.

Agnes menggelengkan kepalanya.

“Aku pakai baju renang.”

Adam mengangguk. “Oke. Ke mana?”

“Jalan kabupaten,” katanya, menahan isak tangis lagi. “Terima kasih banyak. Maaf mengganggumu, aku hanya tidak tahu harus bertanya kepada siapa lagi dan kamu tampak seperti cowok yang baik jadi…”

“Hei, apa yang kubilang soal minta maaf?”

Adam menoleh padanya dan mencoba mencairkan suasana. “Pesta itu membosankan sekali. Aku tidak keberatan pergi.”

Mereka diam selama beberapa menit. Sebuah lagu pop konyol diputar di radio dan Adam ikut bernyanyi dengan suara fals dan sebagian besar liriknya ngawur, membuat Agnes tertawa, yang membuat Adam merasa seperti pahlawan.

Agnes menunjuk jalan masuk rumahnya dan Adam berbelok ke jalan kerikil panjang yang mengarah ke sebuah rumah kecil.

“Terima kasih sekali lagi,” kata Agnes.

“No problem. Selamat malam.”

Adam menunggu sampai Agnes aman di dalam rumah, dan meskipun Adam mungkin tidak akan pernah tahu mengapa Agnes meninggalkan pesta danau sambil menangis, dia harap itu bukan gara-gara cowok.

Adam berharap dia takkan pernah membuat seorang cewek menangis seperti itu. Tiba-tiba rasa bersalah menusuk kalbunya, mengingat masa-masa dia mabuk-mabukan bermesraan dengan sembarangan cewek di sekitar api unggun. Adam tidak pernah melihat cewek menangis di depannya. Jadi sebenarnya tidak ada masalah, kan?

Mungkin ada baiknya Cinta mengabaikan dia. Tuhan tahu Adam tidak punya niat baik untuk bergaul dengannya. Adam terus membayangkan bibir lembut itu, sering kali melengkung menjadi seringai, dan membayangkan bagaimana jadinya kalau dia mencium Cinta, menyisir rambut Cinta dengan jari-jarinya, merasakan tubuh Cinta merapat, menginginkan lebih.

Cewek-cewek selalu maunya lebih.

Adam sudah sering disebut sebagai pencium yang hebat. Dia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk membuat seorang gadis gemetar kaarena sentuhannya. Kini Adam berharap dia takkan pernah meninggalkan mereka seperti yang terjadi pada Agnes malam ini.

Sial.

Cinta membuat pilihan yang tepat dengan menolak tawarannya untuk jalan-jalan. Dia tidak tampak seperti tipe gadis yang bebas seperti Vindy Natasya. Dan hanya dengan cewek seperti dia bisa bebas bermain-main.

Adam berharap semuanya berbeda, tetapi dia sangat mengenal dirinya sendiri. Bahkan kalau Cinta tertarik untuk berkencan dengannya, dia akan berakhir membuat Cinta patah hati. Adam tidak ingin menjadi tipe cowok seperti itu.

***

Perjalanan menuju hotel terasa jauh lebih lama dari yang dia perkirakan ketika Cinta meninggalkan rumah keluarga Bakri satu jam yang lalu.

Dia ingat perjalanan ke sana hanya beberapa menit saja, dan dia berjalan sekitar lima atau enam kilometer. Dan mengingat apa yang dia ingat tentang pelajaran olahraga di SMP, Cinta biasanya berjalan sejauh satu kilometer sekitar lima belas menit. Jadi, bukankah seharusnya dia sudah berjalan lima kilometer sekarang?

Mungkin karena dia lebih banyak berjalan santai daripada berjalan sungguhan, bukan jalan cepat seperti yang dia lakukan di SMP. Setiap menit berlalu, dia berharap mamanya mendengarkan pesan suaranya dan datang menjemput. Dini pasti ingin menghentikan Cinta menghabiskan uang untuk hotel, terutama uang yang tidak mereka miliki kecuali dalam bentuk kartu kredit.

Sebuah mobil mendekat di depannya, melaju terlalu kencang untuk menjadi mamanya yang mencari-carinya. Tapi Cinta mendongak untuk berjaga-jaga. Mobil sport hitam itu tidak melambat sama sekali ketika melaju kencang di jalan aspal lama daerah itu.

Cinta mendesah dan menendang sebidang aspal rusak, melihatnya terpental beberapa kaki. Cinta mengejarnya, saya menendangnya lagi dan lagi hingga dia berhenti di lampu merah di tengah persimpangan.

Dia semakin dekat. Hotel itu ada di sebelah kiri di sebelah minimarket yang terang benderang. Jaraknya mungkin setengah kilometer lagi. Cinta mempercepat langkah, tidak lagi peduli dengan pemborosan uang. Dia perlu mandi dan tidur. Berjalan beberapa kilometer dengan sandal jepit sungguh tidak nyaman.

Resepsionis pria yang sama sedang merokok menyambutnya ketika dia masuk ke hotel itu. Yah, kalau gerutuan bosan sebagai ucapan salam.

“Kamu bayar?” tanyanya sambil membalik halaman majalah gosip selebriti di depannya.

Cinta mengeluarkan kartu kredit dari kantong belakang. Namanya tertera di sana karena dia pemakai resmi kartu tambahan mamanya, jadi tidak ada yang aneh di sini. Tidak seperti terakhir kali dia mencuri kartu debit mamanya dan mencoba membeli minuman dengan kartu itu.

“Saya mau satu malam lagi, tolong.”

“Tentu saja,” kata resepsionis sambil mengambil kartu itu.

Cinta melihat sekeliling lobi yang suram. Bau apek asap rokok tercium di udara. Sebuah mesin kecil berbunyi bip dan pria itu menggerutu dan menggesek kartu itu lagi.

Bunyi bip kedua membuat Cinta gugup.

“Kartu ditolak,” katanya sambil menjatuhkan kartu plastik di depan Cinta. “Ada yang lain?”

“Apa—”

Cinta tergagap dan mendesah. Limit kartu itu lima belas juta. Tidak mungkin mamanya menghabiskan semuanya di hari terakhir.

“Bisakah kamu mencobanya lagi? Mungkin mengetik angka-angkanya daripada menggeseknya?”

Resepsionis itu mengangkat sebelah alis dan Cinta ingin memberitahunya untuk berhenti menghakimi karena sejak dia menjalankan tempat yang sangat buruk, sebagian besar kliennya mungkin jauh lebih buruk keadaannya daripada dia. Secara finansial dan lainnya.

“Kenapa tidak,” kata resepsionis, menggesek kartu lagi. Kartu itu berbunyi bip.

“Aku bisa mencobanya sepanjang hari, Nak, tapi tidak akan berhasil.”

“Apa boleh aku bekerja si sini untuk membayar biaya menginap semalam?” tanya Cinta sambil membelalakkan mataku dengan harapan membuatku terlihat seperti anak kucing yang memelas.

Resepsionis mendengus. “Dan mengambil risiko tempat ini akan diacak-acak polisi? Maaf, Nak. Tidak ada yang bisa kulakukan.”

“Terima kasih,” kata Cinta.

Dia berbalik dan mendorong pintu sampai terbuka dan berusaha keras untuk tidak menangis.

Ada banyak kejadian dalam hidupnya ketika aku merasa tidak berdaya, tetapi dia selalu punya mamanya bersamanya. Dini mungkin tidak pernah memenangkan penghargaan Ibu Tahun Ini, tetapi dia selalu percaya padanya untuk menjaga atap di atas kepala mereka. Bahkan ketika mereka berkemah selama dua minggu di hutan pinggir kota, mereka masih punya atap tenda untuk tidur.

Percayalah Padaku Cinta

0. Danau Buatan 2. Lewat Tengah Malam

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image