Home / Topik / Wisata / 1. Une Surprise de France

1. Une Surprise de France

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 2 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Matahari masih mengintip malu setelah semalam hujan mengguyur bumi sangat deras. Aku berniat merapikan lembaran kertas yang berserakan di meja, membaca ulang novel yang siap naik cetak. Ponselku tiba-tiba menjerit keras, aku melirik sekilas. Sebuah nomer dengan kode negara Menara Eiffel  muncul di layar. Aku mengernyit, sebuah nama melintas di otak, tapi kutepis cepat. Seseorang  yang bertahun meninggalkan Indonesia karena kesalahpahaman di masa lalu.

Kuhirup oksigen sebanyak mungkin menyiapkan hati untuk segala kemungkinan terburuk. Pelahan kugeser layar bergambar gagang telepon.

“Bonjour, c’est bien Tantri? Suara yang masih kukenal baik terdengar nyaring dari seberang

“Elaine…? C’est vraiment Elaine?” tanyaku memastikan, masih ada ragu mengusik.

“Alors tu te souviens de moi?” balas suara di seberang lagi. Aku memekik, pikiranku dipenuhi bermacam perasaan yang berkecamuk.

“Bien sûr, je n’oublierai jamais mon amie d’enfance.”Aku tersenyum tipis, Elaine–putri dari sahabat dari masa lalu, tapi persahabatan kami harus tercederai karena ada luka yang tidak diharapkan.

“Comment vas-tu ? Je suis en route pour ta ville,” seru Elaine girang, sepertinya dia sudah melupakan yang pernah terjadi.

“Quoi? Que s’est-il passé? Pourquoi si soudainement?” Aku bertanya kaget. Gadis yang suka memanggilku Mere–panggilan ibu dalam bahasa Perancis itu selalu penuh kejutan.

“C’est une longue histoire, mais peux-tu venir me chercher à l’aéroport de Yogyakarta ?

Aku menghembuskan napas sebelum akhirnya menyetujui untuk menjemputnya di Bandara udara Yogyakarta. Entah ada rencana apa kedatangannya kali ini, mungkin takdir sedang merencanakan skenario yang baru untuk kami.

*

Seorang perempuan berkulit putih susu dengan rambut ikal blonde  tampak sedang memainkan ponselnya di lobby penjemputan. Jantungku berdegup kencang, kuhirup napas panjang dan menghembuskannya berulang, berusaha menggusur  cerita masa lalu yang masih betah bertengger di otak.

Kuayunkan langkah mendekat, perempuan itu menoleh, senyum mengembang dari bibir merah mudanya, senyum yang masih sama seperti dulu.

“Mere!” pekiknya berlari menghampiri, tangannya memelukku erat seolah ingin melepas rindu yang menggunung. Aku balas memeluknya hingga kami tenggelam dalam buncah rindu yang ingin diluahkan. Rindu dalam arti berbeda bagi kami.

“Kamu membuatku susah bernapas.” Aku melepas pelukannya setelah beberapa saat.

“Maaf, Mere, aku sangat merindukanmu,” ujarnya tersipu. Kembali direngkuhnya tubuhnya, hingga aku kesusahan bergerak. Gadis bertubuh bongsor ini makin tampak dewasa, dan wajahnya … kembali mengingatkan pada seseorang di masa lalu yang hingga kini tak bisa kulupakan.

“Kenapa datang mendadak tanpa memberi kabar?” tanyaku setelah Elaine melepas pelukannya. Kami berjalan beriringan menuju tempat aku memarkirkan mobilku.

“Aku merindukanmu, aku merindukan bisa melakukan eksplorasi bersamamu lagi?” jawabnya antusias.

“Hmmm, benarkah?” pancingku menggoda.

“Tentu saja, tidak ada teman seperjalanan dalam eksplorasi yang lebih menyenangkan daripada Mereka,” ujarnya menegaskan. Aku tersenyum tipis. Gadis yang tidak memiliki ibu sejak kecil ini persis seperti ayahnya yang seorang jurnalis, memiliki ketertarikan pada objek wisata sejarah dan tempat-tempat yang jarang diketahui orang ramai.

Mobil mulai melaju meninggalkan area bandara membelah larik-larik jalan yang dikelilingi pepohonan dan hamparan persawahan. Deretan pegunungan berselimut kabut tipis seakan menjadi penyangga langit kebiruan dengan semburat warna keemasan.

“Aku harap Mere masih memiliki waktu untuk melakukan perjalanan bersamaku,” lanjutnya memecah keheningan dengan sorot penuh harap.

“Tentu saja, dengan senang hati, Mon Cherry,” balasku sambil menowel ujung hidung bangirnya.

“Benarkah?” tanyanya meyakinkan.

“Tentu saja, dengan senang hati aku akan menemani perjalananmu.”

“Wow, akhirnya aku merasa menang taruhan,” soraknya girang.

“Tunggu, apa maksudmu  memang taruhan?” protesku penasaran, mendadak perasaan tidak enak mengulik. Gadis bermata biru ini justru tergelak hingga bahunya terguncang. Aku menatapnya dengan alis mengernyit.

“Sebelum berangkat ke sini, aku bertaruh sama Pere.”

“Bertaruh …?” Aku makin tak mengerti.

“Yup, saat aku mengatakan ingin mengunjungimu, Pere mengatakan bahwa aku akan sia-sia. Mere tidak akan punya waktu untuk menemaniku melakukan perjalanan seperti yang sudah-sudah.  Tapi nyatanya…?” Gadis berpipi kemerahan ini mengedikkan bahu sambil terkekeh kecil. Aku menggelengkap kepala, ayah dan anak yang sama-sama konyol menurutku, tapi aku justru suka kekonyolan mereka. Bagiku seperti hiburan yang menyenangkan.

“Ok, katakan pada ayahmu kalau aku akan menemanimu kemana yang kamu inginkan,” ujarku menandaskan.

“Tentu saja, aku akan minta Pere datang untuk membuktikan bahwa perkataannya salah. Mere tidak berubah, selalu ada untukku.”

Apa yang dikatakan Elaine benar, dulu aku memang selalu ada untuknya, tapi sejak peristiwa itu … aku tidak tahu apakah aku masih akan sama seperti dulu. Semua tak lagi sama, mungkin sikap Pierre kepadaku juga telah berubah. Entahlah … aku tak berani berharap banyak. Tapi tunggu …! Elaine mengatakan akan meminta ayahnya datang. Oh tidak, jika untuk bertemu aku belum siap. Aku tidak ingin luka yang kupaksa mengering ini akan kembali menganga. Aku menghela napas berat.

“Apakah Mere tidak ingin bertemu Pere?” tanya Elaine tiba-tiba, seakan bisa membaca gundah pikiranku.

“Eh, tentu saja tidak. Aku senang bertemu ayahmu,” elakku menutupi dentuman jantung yang tak beraturan ritmenya.

Elaine meraih tanganku yang tidak sedang memegang kemudi, meremasnya lembut, lalu menariknya hingga ujung hidung bangirnya menyentuh jemariku. Aku menatapnya sesaat, mata teduh itu tidak berubah, mata bening yang merindukan kasih sayang seorang ibu yang mungkin seumur hidup belum pernah dirasakan. Tidak adil jika aku mengedepankan egoku. Elaine tidak bersalah, dia hanya gadis beranjak dewasa yang punya mimpi seperti gadis-gadis lain, tertawa dan bercerita bersama seorang ibu.

Mobil mulai meninggalkan perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta. Melintasi Sungai Progo yang konon dulu merupakan urat nadi perekonomian jaman kerajaan Mataram.  Udara segar pengunungan mulai menggelitik indra penciuman. 

“Lapar?” tanyaku.

“Sedikit,” jawabnya sambil memegangi perut, “Tapi aku tidak keberatan jika Mere mengajak makan. Aku selalu suka rasa baru masakan Indonesia.”

“Tidak takut gemuk?” godaku.

“Makanan yang Mere tawarkan lebih menggoda, mengalahkan komitmen dietku,” jawabnya tergelak. Aku menggelengkan kepala, tak bisa pungkiri jika gadis ini selalu memenangkan hatiku. Dan sepertinya aku harus menyiapkan hati karena akan ada banyak kejutan dari gadis Perancis ini.

.

Note :

  • Bonjour, c’est bien Tantri? = Halo, apakah ini Tantri?
  • C’est vraiment Elaine? = Benarkah ini Elaine
  • Alors tu te souviens de moi? = Kamu masih mengingatku
  • Bien sûr, je n’oublierai jamais mon amie d’enfance. = Tentu saja, aku nggak akan pernah lupa sama teman masa kecilku.
  • Comment vas-tu? = Apa kabar
  • Je suis en route pour ta ville.= Aku sedang menuju ke kotamu
  • Quoi? = Ada apa?
  • Que s’est-il passé? = Mengapa begitu mendadak
  • Pourquoi si soudainement? = Apa yang terjadi
  • C’est une longue histoire.= ceritanya panjang
  • Mais peux-tu venir me chercher à l’aéroport de Yogyakarta? = Tapi, bisa jemput aku di bandara Yogyakarta?

The Hidden Site of Tuin van Java

The Hidden Site of Tuin van Java . Ancol Bligo, Selokan Mataram dan Sejarahnya.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image