I. Barisan Kepala di Gelanggang Batu
Satu demi satu terkuak catatan hitam pemegang pasak kunci,
untuk sesaat seluruh kepala mendongak
memilah setiap celah dan cela sida-sida
selanjutnya semua tertunduk seraya merangkum bercak.
Luput menekur, sebaiknya melantas akal
tenggat pun tiada terkendali;
barisan kepala bergolak di gelanggang bebatuan
melengkingkan suara yang bersahut-sahutan
riuh rendah, ricuh, lantas rusuh.
Di tengah kemelut, satu tubuh tampak mencari tuannya
melongok ke kepala yang kehilangan rupa sembari bergelut dengan debu
adakalanya darah menetes dari sela kaki yang terinjak amarah.
“Ada yang teragung batu-batu! Ada yang terkulai di anggana!”
Suara sumbang keluar dari tenggorokannya nan gersang_
Malang, tiada pendengar satu pun yang mengindakannya
sebab setiap kepala sibuk menyeru pinta kepada bebatuan.
Embusan angin membawa api; panasnya mamantik serapah
kepala-kepala kian berjejal, berebut kesejukan di bawah ketiak kawan
sedangkan banjaran bebatuan justru menadbirkan keangkuhan
sengaja buta tuli terhadap serapah yang sudah berbaur dengan amukan.
II. Batu Bersarang di Lubuk Tuan
Tuan kepala belum kepayahan meskipun bak berumah di tepi tebing,
namun buru-buru menyelamatkan napas dari kutukan kepala jelata
lantas meringkuk di balik perisai nagari.
Di gelanggang bebatuan yang genting, barisan kepala bergolak
seraya melengkingkan suara yang bersahut-sahutan
riuh rendah, ricuh, lantas rusuh.
“Jika Tuan bukan batu, buka mulutmu untuk bersuara! ”
Sayangnya, penantian terhadap nyali tuan berujung bisu belaka
dan keluasan pikiran kepala-kepala pun tumbang hingga terjelma api.
“Apakah Tuan kami serupa reca hingga tiada mampu melisankan aksara?”
Hulu malang pangkal celaka
tuan kepala tetap bergeming
sembari sibuk memuja batu yang bersarang di lubuknya
sementara gejolak kian menggila,
melukai kepala-kepala tanpa dosa
bahkan beberapa harus bersimbah darah demi bakti kepada bumi.
III. Selepas yang Bernyawa Luruh di Bebatuan
Perihal petaka selepas yang bernyawa luruh di bebatuan;
gaduh tergarang di antara panggangan api.
“Gugur satu remukkan seribu! Utang nyawa dibayar nyawa!”
Oh, tentu bukan sekadar meludah belaka!
hampir semua kepala laungkan kemuakan terhadap terup batu yang kelu_
seraya menempur angkara di balik daulat yang semestinya beradab.
“Alang berjawab, tepuk berbalas!”
Oh, bukan sekadar meludah belaka
hampir semua kepala menggugat lir seruak badai
seraya memburu kepala tuan yang sungsang sumbal.
Kenyataannya, masih bercokol bebatuan di kepala tuan
hingga asas sumbang langkah
dalam kedukaan telah padam empati,
lesapkan seluruh surih pergulatan.
“Binasa jiwa adalah luka. Lalu kepada siapa kami menadah penghiburan? Tuan sibuk melawat, di sini kami diburu bak kawanan lalat.”
Tiada berkehendak pada ruba-ruba; kepala jelata bertarung tanpa pamrih
sebab inginkan keadilan tuk hayat yang telah hirap.
Selepas yang bernyawa luruh di bebatuan:
di manakah nurani tuan bersembunyi?
IV Daun Telinga di Kepala Batu
Melabu kepala tuan, berseringai_
mungkin pula tuan tengah tergelak seraya bersulang di atas kepala-kepala yang serupa debu
sementara bumi kian beringsang.
Kemalangan tertulang berjejal dengan darah dan air mata
kerja keras merugi lantaran tuan kepala tebal telinga
bahkan tiada sudi bersambang meskipun sejumlah kepala telah berkalang tanah.
“Haruskah suara kami bertukar anggai agar tersambut daun telinga Tuan?”
Tiada kemustahilan bila-bila titik dan garis menyatu hingga tergempur cadasnya kalbu
tundukkan keagungan yang bertengger di atas kepala tuan
lalu sama-sama berbenah untuk kembali pulih.
Kjoktan, 31 Agustus 2025
#puisipanjang












Satu Komentar
sangat inspiratif. tepat dengan yang terjadi akhir akhir ini