Home / Genre / Komedi / Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 1)

Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 1)

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 13 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

kenistaan adalah kini
tatkala angan, yang hanya begitu saja
memaksaku untuk melacurkan semua
sementara moral
sudah jauh-jauh hari menguap
dalam retorika ketinggian manusia
yang kini, tak lagi punya harga

(‘Saat Kau Terlelap’ dalam ‘Di Bawah Kibaran Dosa’)

Gunung Sindur, Waktu Indonesia Bagian Pura-pura.

Gerus Timbunan tersenyum ewa. Hatinya puas tak terkira mendengar laporan berkala dari tokoh figuran berseragam khas hotel prodeo di hadapannya, tentang keriuhan yang terus melenting dengan amat panas dan bebasnya di blog keroyokan terbesar negeri yang serba samar ini.

“Ada kabar apa lagi?”

“Gerakan bawah tanah masih terus berjalan. Tapi Pak GT tenang saja, karena umumnya gerakan sejenis itu hanya akan bertahan paling lama tiga bulan kecuali memang ada yang sengaja menyundulnya secara berkala. Konsekuensinya beberapa akun satelit yang menginduk ke akun utama wajib hening sementara,” jawab tokoh figuran berseragam dengan hati-hati.

“Ya sudah, nanti bilang sama -Tuan Anonim- bahwa rencana yang digodok kemarin baru bisa dijalankan setelah media agak mereda… Si Koplo dilewatkan saja di lokasi anu agar lebih mudah diliput. Usahakan pesan yang sampai adalah saya melarikan diri dan terpaksa tembak mati ditempat, agar kasusnya bisa segera masuk kotak. Biar Si O’on yang menggantikan saya di sini, berjaga-jaga jika drama tersebut terendus maka akan lebih mudah untuk mengklarifikasinya sebagai kesalahan prosedur. Mengenai nafkah keluarga mereka akan diurus oleh team saya sesuai kesepakatan. Kalau perlu anak-anak mereka akan saya jamin kuliahnya hingga S3, agar setingkat lebih tinggi dari musisi yang bocah remajanya pernah heboh menjadi supir maut dan menjanjikan pendidikan anak-anak korban hingga S2 sebagai syarat penguat arbitrasi itu,” pesan Gerus Timbunan.

Tokoh figuran berseragam mengiyakan.

“Oh, iya, mengenai keberangkatan Pak GT ke Timbuktu mungkin baru bisa dilakukan tiga minggu lagi, karena kami khawatir transaksi pertukaran Bapak dengan Si O’on ada yang mencuri rekam. Menurut laporan garis depan, akhir-akhir ini banyak ditemukan wajah asing yang berkeliaran di sekitar Gunung Sindur. Biar nanti Pak Donald dan Pak Gober yang akan mengurusnya.”

Sepeninggal tokoh figuran berseragam tersebut, Gerus Timbunan menghela napas dengan amat panjang. Topeng senyumnya raib, berganti dengan raut wajah yang amat masygul. Bagaimana pun juga, nurani memang tak akan pernah bisa untuk terus dipaksa berbohong.

Dia memang koruptor, tapi dia bukanlah seorang pembunuh. Dan rencana Tuan Anonim untuk menumbalkan Si Koplo demi terhapusnya kasus yang melibatkan dirinya beserta segenap imperium bisnis Tuan Anonim yang menggurita, benar-benar sebuah pilihan yang paling dibencinya.

Sudah kadung, bisik Gerus Timbunan kepada dirinya sendiri. Dia merasa nasib menghasut waktu dan memerangkap dirinya dalam jebak begitu banyak jejak, yang sayangnya semua mengajaknya  bersimbah lumpur.

Seperti dulu ketika masih di Suka Kere, dirinya dijenguk oleh seorang tua berambut perak yang sama sekali tidak dikenalnya. Masih terngiang di telinganya suara Si Rambut Perak yang ngeri-ngeri serak itu, datang hanya untuk memberinya bingkisan kitab kuno serupa primbon, untuk kemudian berlalu dengan amat misterius, setelah sebelumnya berkata singkat, “Kelak kita akan kembali bertemu, jika tiba waktunya.”

Gerus Timbunan tak pernah bisa melupakan suara orang tua berambut perak tersebut, yang walaupun sangat membuat gatal gendang telinganya namun entah mengapa dia merasa seperti ada kekuatan tak terlihat yang menyertainya. Amat bertenaga. Juga amat berkuasa, membuat semangatnya yang sempat luruh melonjak kembali ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Setelah yakin dirinya tak diawasi, Gerus Timbunan mengeluarkan kitab kuno tersebut dari balik baju tahanannya, untuk kemudian meraba gambar yang tercetak timbul di sampul depan. Gambar sosok bijak berwajah welas asih yang tengah tersenyum, dengan huruf campuran antara Kawi, Pallawa serta Pegon yang berbunyi “KITAB SAKTI ENAK ZAMANKU TOH: Seni dan Jurus Mengalahkan Lawan tanpa Perang Terbuka Versi Senyap”.

Dulu ketika awal mempelajarinya, dia menganggap bahwa ini pastilah sejenis kitab panduan wirausaha mengingat permulaan babnya selalu menggunakan judul yang mengarah kesana: Uang Datang Nurani Menghilang, Tanpa Uang Semua Kosong, Memandang Uang Tanpa Berkedip, Uang Panas Tetap Juga Uang serta masih banyak lagi judul senada di kitab tebal tersebut. Tapi setelah membaca penjelasan yang tertera dibagian bawahnya, anggapannya langsung berubah, karena di sana diterangkan pula tentang teknik, tips serta trik bagaimana menguasai suatu keadaan dan wilayah agar uang tak perlu diburu. Juga bagaimana cara menyelesaikan semua permasalahan… hanya dengan uang, tanpa perlu khawatir uang berkurang karena justru akan semakin gemilang.

Dengan bekal hasil belajar otodidak itu pulalah dia kemudian berkali-kali berhasil keluar dari hotel prodeo yang menjerujinya, hingga kejadian terakhir membuatnya sadar bahwa masih ada bagian penutup dari kitab tersebut yang malas dijalankannya karena terlalu berat juga kejam, yang membuatnya terpaksa mengeram di sarang baru: Gunung Sindur.

Dia berjanji, tiga minggu kemudian ketika dia keluar dari tempat ini, dia akan mempraktekkan semuanya dengan lebih matang.

Dia akan membeli sebuah desa secara terselubung untuk dijadikan basis pengontrol kegiatan ilegalnya yang menghilir di mana-mana, lalu membuat citra baru tentang dirinya yang serupa resi arif nan motivatif sebagai alibi. Baik di dunia nyata, terlebih lagi di dunia maya. Tentu saja setelah sebelumnya menyeting ulang lingkaran akun utama dengan mengganti kode laporan pendapatan bisnis pencucian uangnya dari masing-masing akun satelit pengelola. Tidak lagi menggunakan postingan dengan kode ‘lendir’, ‘tempe’ serta turunannya yang rentan mengundang penikmat di luar grup bisnis pencucian uangnya hingga berpotensi mengundang akun-akun detektif yang gemar sekaligus ahli mengendus kebusukan. Hingga tiba masanya dia akan menjadi sosok yang benar-benar ‘The untouchable’, dengan ranah kepemilikian aset serta bisnis paling monopolistik yang pernah ada: Dalam bentuk kartel yang terpisah dan terlihat saling bersaing sengit di antara sesamanya, tentu saja…!!!

***

Pena Berdarah Mencabik Korupsi: Munculnya ‘Dark Justice’

Sementara di tempat yang tak terpaut jauh dari Gunung Sindur, Rasva pulang ke rumah dengan wajah lesu. Tubuhnya letih. Begitu juga bathinnya, lelah luar biasa. Energinya terkuras habis menggarap naskah berita kriminal tentang peristiwa yang baru saja terjadi.

Sebagai awak media, sebenarnya dia sudah kebal dengan segala macam peristiwa yang berbau kriminal. Tapi entah mengapa ia merasa tugas kali ini begitu menohok perasaannya.

Betapa tidak? Bahkan nyawa manusia di negeri ini jauh lebih murah dari tambang liar, hingga konflik agraria cukup untuk menjadi alasan diseretnya seorang aktivis dari rumahnya sendiri saat tengah asyik menimang cucu, untuk kemudian dibantai tepat di depan hidung warga, tanpa seorangpun berani menolongnya!

Itu baru yang ter-blow up  media, entah bagaimana pula kejadian lain yang tak terendus ranah pemberitaan sama sekali. Itu baru yang terjadi di Lumajang, yang kembali tak akan bisa dibayangkan, sebrutal dan sebinatang apa kejadiannya pada lokasi yang lebih terisolir.

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Cinta Menari di Gerimis Pedang (Part 3) Pena Berdarah Mencabik Koruptor: Munculnya ‘Dark Justice’ (Part 2)

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image