Home / Topik / Wisata / 8. Jejak yang Tertinggal

8. Jejak yang Tertinggal

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 9 of 33 in the series Ananta Kama

Langit jingga mulai tergusur kelam.  Zack berdiri di depan pintu keluar kompleks Candi Borobudur.  Di tangannya, ia menggenggam daftar peserta wisata yang sudah kusut, sementara matanya sibuk mencari-cari wajah-wajah yang mungkin dikenalinya.

Namun, rombongan tur yang harusnya ia ikuti sudah tak terlihat. Bus biru yang pagi tadi mengantar wisatawan mengelilingi destinasi wisata Borobudur telah pergi, meninggalkan Zack yang terlalu asik merambah eksplorasi di luar tujuan wisata rombongan turnya.  

Zack mencoba  menelpon pemandu, tapi tak ada respons. Beberapa nama dalam daftar yang dikenalnya juga tak merespon panggilannya.  Dientaknya kaki dengan kesal, aku menebak mungkin ada sesal, seandainya tadi dia tidak pergi bersamaku.

Aku juga merasa bersalah, kenapa tadi tidak menanyakan nomer Puji, seharusnya aku mengantar Zack lebih awal. Sebenarnya bisa saja memesan penginapan di sekitar lokasi wisata, tapi itu pilihan terakhir jika memang tak bisa bertemu dengan rombongan.

Laki-laki bule ini terlihat berantakan, lelah, mungkin juga kesal. Aku mencoba mengalihkan dengan mengajaknya bicara sambil terus mencoba menghubungi Puji.

“Aku akan menemanimu mencari penginapan murah jika Kamu tidak menemukan rombonganmu,” ujarku menghibur. Zack hanya mengedikkan bahu. Meski lelah, tapi tidak menampakkannya.

“Sebenarnya apa pekerjaanmu? Kamu belum terlalu tua untuk disebut pensiunan.”

“Saya memang bukan pensiunan, hanya menggantikan ayah saya yang batal berangkat,” jawabnya. Aku ingin tertawa mendengar jawabannya, tapi takut membuatnya tersinggung.

“Ayah mendadak diajak anak perempuannya, dia lebih tertarik bermain golf dengan cucunya daripada mengikuti tur.”

“Lalu Kamu menggantikannya?”

“Hmmm, meski saya tidak suka bersama orang-orang tua. Mereka berisik, dan tidak asik.”

Jawaban polos Zack benar-benar membuatku ingin tertawa, untung saja aku masih bisa menahannya.

“Lalu pekerjaanmu?” tanyaku menyembunyikan geli.

“Saya bekerja di pariwisata, semacam agen yang mengelola tur. Itulah mengapa saya tertarik mengenal lebih dalam tentang tempat-tempat wisata di sini, terutama yang mengandung cerita sejarah,” paparnya. Aku mengangguk paham. Pantas saja dia begitu antusias melakukan eksplorasi.

“Kamu …? Apa pekerjaanmu?” tanya Zack. Dia masih berusaha menghubungi nama-nama yang dikenalnya sebagai teman-teman ayahnya.

“Aku penulis lepas. Aku menulis Fiksi Sejarah. Kalau butuh bantuan, aku bisa mengantarmu.”

Zack menatapku, mata birunya sedikit berbinar, “Terima kasih … saya menyukai perjalanan kita hari ini.”

Aku mengajak Zack berjalan keluar area wisata candi, menyusuri jalanan yang mulai lengang. Udara senja seakan ikut menyemarakkan suasana. Zack bercerita bahwa ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia, bagaimana ia menyukai arsitektur kuno dan kisah-kisah di baliknya. Aku menimpali dengan pengetahuan lokal yang aku kumpulkan selama bertahun-tahun menulis—tentang candi, tentang teknik batu sambung, hingga tentang restorasi beberapa candi yang masih berlangsung hingga saat ini.

“Sepertinya Kamu tahu banyak,” kata Zack sambil tersenyum kecil.

“Pekerjaanku menuntut begitu,” jawabku sambil tertawa. “Tapi aku juga benar-benar menyukainya. Tempat bersejarah selalu menyimpan ruang bagi imajinasi.”

Sambil mengobrol, Zack akhirnya bisa menghubungi pihak biro perjalanan, tapi sayangnya rombongan itu sudah menuju kota. Zack baru bisa bergabung kembali esok sore. Artinya, ia harus menemukan tempat menginap.

“Banyak Hotel dekat Borobudur, cari saja yang tidak terlalu mahal,” saranku. Zack mengangguk.

“Aku minta maaf karena terlambat mengantarmu pulang hingga tertinggal rombongan,” ujarku.

Zack menggeleng, “Bukankah saya yang meminta ikut denganmu? Ini sama sekali bukan salahmu.”

“Kadang cerita perjalanan terbaik justru dimulai dari kejadian yang tidak direncanakan,” ujarku sambil berdiri, menuju motor dan mengajak Zack mencari penginapan yang hanya berjarak kurang dari 2 km dari Borobudur.

***

Begitu tiba di penginapan dan mendapatkan kamar, Zack merasa lega. Aku segera pamit pulang, Zack ragu sejenak, lalu berbicara pelan.

“Jika .… kamu tidak sibuk, apakah kamu bisa menemani saya melihat tempat bersejarah lain? Saya ingin tahu lebih banyak. Dan … saya tidak punya teman di sini.”

Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Tentu. Ada beberapa tempat yang tidak terlalu jauh. Tapi aku tidak bisa malam ini.”

“Sayang sekali,” kata Zack kecewa.

“Aku sudah berjanji mengajakmu besok pagi. Lagipula malam begini semua tempat sudah tutup.”

“Kamu benar.”

“Bagaimana jika aku temani Kamu makan? Aku tahu tempat makan yang enak di sini. Kamu pasti lapar, kan?” Aku menawarkan.

“Boleh juga,” jawabnya cepat. Matanya berbinar.

***

Aku menuju Joglo Kitchen & Coffee, sebuah tempat kuliner dekat Borobudur, yang menawarkan berbagai hidangan dari masakan Asia, Eropa, Indonesia, hingga Amerika. Tempat ini populer karena memiliki suasana yang unik, dengan desain interior bernuansa budaya Jawa dan teras yang nyaman, memiliki konsep desain interior rumah Joglo yang otentik, dengan sentuhan lukisan klasik, wayang, dan ukiran kayu yang membuatnya unik dan cozy.

Resto ini menawarkan menu yang beragam, mulai dari masakan lokal seperti seblak dan nasi goreng hingga masakan internasional seperti tom yum dan aneka olahan Makanan laut.

Aku memilih nasi goreng Jawa yang memiliki rasa khas Magelang. Zack meminta menu yang sama karena lidahnya belum terbiasa dengan makanan Indonesia yang kebanyakan bercita rasa pedas.

“Kalau Kamu menulis tentang tempat-tempat wisata, Kamu pasti tidak pernah benar-benar sendiri,” ujar Zack di sela-sela mengunyah makanannya.

“Justru karena menulis, aku sering merasa sendiri,” jawabku.

“Mengapa?”

“Karena aku selalu sibuk mengamati, bukan ditemani,” jawabku

Zack mengerutkan alis, sejurus kemudian tersenyum, “Vanavond ben je niet alleen.”

“Het betekent?” Aku menatap tak mengerti.

“Karena saya akan menemani dari jauh.”

Ucapan Zack membuatku berhenti mengunyah. Apa maksudnya? Entahlah, mungkin dia hanya bercanda, sekadar mengusir canggung karena kehabisan bahan cerita.

Ketika kembali ke hotel, waktu hampir menunjukkan tengah malam. Di depan lobby, Zack berhenti, menatap bangunan yang kini terasa lebih bersahabat daripada sebelumnya.

“Terima kasih,” ucap Zack tulus, “Hari ini benar-benar luar biasa.”

“Sama-sama,” jawabku, “Senang bisa membantu.”

Zack menggigit bibir sejenak, “Besok kita akan bertemu lagi? Jika Kamu tidak punya waktu, saya harap Kamu bersedia datang untuk secangkir kopi pagi.”

Aku menatapnya lama dengan napas tertahan. Baru kusadari ada sesuatu yang hangat, tapi juga rapuh di balik mata Zack—sesuatu tentang perjumpaan singkat yang dia takutkan tak akan terulang.

“Ya. Kita bertemu lagi.”

Zack tersenyum, lalu masuk ke lobi hotel. Saat pintu menutup, aku masih berdiri memandangnya, merasa aneh bahwa pertemuan yang begitu singkat bisa meninggalkan ruang di dadanya.

Setiba di kamar, Zack membuka panggilan video, aku bisa melihat pantulan dirinya. Meski lelah, ia tersenyum kecil.

“Saya datang ke Indonesia untuk melihat sejarah, tetapi ternyata saya menemukan seseorang yang membuat perjalanan itu terasa lebih berarti—meski mungkin hanya sementara.”

Panggilan ditutup dengan lambaian tangan. malam itu, kami tahu satu hal. Perjalanan yang tak direncanakan kadang menjadi cerita yang paling membekas—bahkan ketika rombongan pergi meninggalkannya, ada kisah yang justru mengubah segalanya.

Ananta Kama

. Situs Brongsongan, Bukti Harmoni Antar Agama . Situs Bowongan, Kuil Peninggalan Singasari

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image