Agak terkejut juga ketika tak menemukan secuil pun kisah misteri dan cerita horor tentang SMU unik yang terletak dekat Kompleks Pecinan ini tercantum di internet. Padahal, secara lokasi dan penampakan, sekolah ini tak kalah horor dibanding Toko Merah atau bahkan kisah fenomenal Keluarga Tak Kasat Mata. Apakah sengaja ditutup-tutupi?
Berdasarkan pengalaman saya saat masih menjadi salah satu pemangku kepentingan di kompleks pendidikan itu, setidaknya ada lima lokasi yang paling rawan tingkat penampakan gaibnya.
Yang pertama: Gedung TK.
Saya mengalami sendiri kejadian ganjil di TK itu saat masih berusia likuran. Beberapa mainan bergerak-gerak meski tak ada yang memainkannya. Pintu masuk berdaun kembar mendadak seperti ada yang menggedor gila-gilaan, lalu hening lagi dalam sekejap.
Darah muda saya yang waktu itu masih kelebihan stok gelegak langsung didih, siapa yang tak emosi diganggu seperti itu? Jika preman ingin minta rokok, apa tak bisa baik-baik tanpa menggedor sekurang ajar itu? Juga apa tak bisa mampir agak sorean, misalnya?
Saya kecele, sebab tak ada siapa-siapa dari lokasi sumber gangguan tersebut. Setelah menunggu sekian lama dan tetap hening, saya berbalik langkah. Tapi belum lama berjalan, dari arah belakang terdengar suara yang sama. Mainan kembali berbunyi. Bahkan kali ini ditambah samar suara riuh langkah kanak-kanak saling berlarian, seperti umumnya tengah bermain kejar-kejaran.
Namun, saya tak berbalik dan mengecek ulang. Saya tiba-tiba teringat: saat itu telah masuk the other side of midnight—jika meminjam idiom novel Sheldon.
Pada waktu-waktu seperti itu, kanak-kanak mana yang masih bebas berkeliaran di ruang bermain TK? Kegiatan Belajar-Mengajar saja maksimal hanya sampai Zuhur.
Saya pun langsung ngebut dari situ sambil hati tak henti berdoa.
Lokasi kedua, Tangga SMUN
Lokasi kedua adalah arah tangga pertama menuju lantai dua SMUN XIX, sebelah kiri jika menghadap gedung.
Penampakan kali ini lebih dramatis. Sosok pengganggu tersebut benar-benar muncul dan bergerak dengan cara melayang setinggi kira-kira satu setengah meter dari permukaan tanah. Agak-agak lupa baju yang dikenakan apakah putih polos atau ada badge di saku depan, tapi yang jelas, sosok itu lidahnya menjulur dengan mata melotot seperti hampir mencolot.
Menurut Pak Pur, penjaga kantin guru, memang pernah ada riwayat seorang siswi bunuh diri di lokasi tersebut. Barangkali, sosok serupa siswi itulah yang memperlihatkan diri waktu itu.
Lokasi ketiga, Lapangan Olahraga SMPN 63.
Seperti kebiasaan turun-temurun, setiap kegiatan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan OSIS) diselenggarakan di lokasi ini. Tujuannya: selain butuh tempat luas, juga sekaligus melatih mental karena memang lokasinya bikin merinding jika malam tiba.
Pos pembekalan sekaligus pengujian mental langsung dipecah. Meski dalam praktiknya, para senior yang kebetulan mendapat pos angker dekat WC sering melipir ke pos aman pura-pura ini dan itu, sambil berbisik bahwa tempat tugasnya seram banget. Ini justru membongkar kebusukan alasan Mental Pressure, karena output-nya tetap saja pengecut seperti itu. Cuma pengen balas dendam masa lalu aja kok pakai alasan yang terkesan sahih banget begitu.
Akhirnya, kejadian juga. Pada sebuah LDK, mendadak sebuah pos panik, disusul bubarnya seluruh acara. Semua peserta berduyun keluar dari lokasi, gegas dan panik.
Usut punya usut, ternyata senior dan peserta melihat ada makhluk lain yang ikutan nimbrung di pos yang pertama bubar tersebut. Penampilannya amat tak manis, ditambah wangi khas kembang putih kecil penyampur daun teh yang amat menyengat, langsung sukses membuat yang di sana serentak kabur dengan amat kompak. Jadi paham, kan, apa sebenarnya yang paling jitu untuk melatih kekompakan?
Lokasi keempat, Jalan menuju WC SMPN.
Arah lurus agak ke kiri dari lapangan bola barusan adalah lorong sempit menuju WC. Lorong ini seakan hanya sisa ruang kosong antar bangunan—begitu kecil dibanding tata bangun komplek keseluruhan.
Ia menjelma lubang tembusan yang dalam dan memiliki beberapa tikungan. Mungkin mirip lorong WC di mall, namun dengan versi kediaman Mak Lampir.
Jangan tanya gelapnya lorong tembusan itu setelah lewat Maghrib. Tapi anehnya, tetap ada saja yang berani menghuni di sana, tinggal di ruangan yang bersebelahan dengan WC angker itu!
Saya pernah terpaksa mengalaminya saat berurusan dengan Pak Disman—yang kadang dipanggil Pak Walkman oleh siswa sebagai gurauan —yang saat itu masih Staf Umum. Sialnya, HP yang agak smart tertinggal, hingga penerangan hanya mengandalkan Nokia jadul berlayar seruas jari. Sorot cahayanya nyaris tak membantu di pekat lorong.
Dengan campur raba dan terka, akhirnya saya sampai-juga pulang-tanpa seremoni jemput dan antar, meski sepanjang perjalanan harus dibantu sambil meraba-raba tembok.
Di sepanjang lorong itulah bulu hidung saya njegrik saking tegangnya. Selain auranya yang memang angker, saya memang pernah mendengar gosip kantin yang mengabarkan mereka-mereka yang lintang-pukang dikejar pocong dan kuntil biang di lorong seram itu. Beberapa kabar menyebutkan malah si Uwo yang doyan nge-troll di sana.
Lokasi terakhir terletak di lantai empat yang berfungsi sebagai lapangan olahraga dan kegiatan climbing wall, dengan pembatas tengah berupa WC guru yang dibuat loteng untuk markas gerombolan OSIS.
Banyak siswa yang tengah mengikuti kegiatan ekstra kulikuler-yang biasanya berlangsung sejak sore hingga jam 21.00-serasa melihat siluet perempuan tengah mengintip dari balik jendela ruang OSIS tersebut. Ketika disamperi, tak ada siapapun di sana.
Namun, di balik semua kejadian yang menantang adrenalin tersebut, saya kangen. Kangen dengan keunikan SMU Negeri itu. Satu-satunya sekolah negeri yang memiliki sembilan puluh lima persen siswa berasal dari warga keturunan Tionghoa, dengan sisanya merupakan campuran keturunan Arab, India, Jepang, serta tentu saja yang lokal-lokal seperti saya.
Saya kangen dengan guru-guru senior kelas berat yang kabarnya hanya setingkat menteri saja yang mampu memecat mereka.
Kangen dengan bau apak khas kompleks gedung tua berusia 119 tahun yang menyimpan sedih tersebut. Gedung yang pernah menjadi saksi sejarah tak ternilai tentang berdirinya organisasi Tionghoa ‘modern’ petama di Kota Batavia—bahkan di Hindia Belanda. Gedung yang pernah menjadi naungan organisasi yang kelak ditengarai menjadi inspirasi pendirian Boedi Oetomo delapan tahun kemudian. Gedung yang pernah melahirkan sekolah peranakan Tionghoa pertama di Indonesia, yang diselenggarakan tanpa kasta sebagai prasyarat utama menempuh ilmu seakan melawan tabu penjajah jahanam waktu itu yang memang gemar memelihara kebodohan rakyat jajahan.
Saya sadar, kangen itu tak akan pernah berbalas. Gedung lama—meski telah dipertahankan Menteri Anies dan Gubernur Ahok—akhirnya diruntuhkan, buah dilematis antara konservasi sejarah dengan keamanan siswa.
Selamat tinggal gedung lama Chapkaw, selamat berpindah parade hantu penunggunya.











