Itu terjadi di malam kedua kedatangan kami. Pagi harinya Ibad, si ketua kelompok bercerita sembari sarapan.
“Ada orang ketuk pintu. Jelas banget suaranya, tiga kali, pas saya masih mindahin baju dari koper. Saya yakin enggak salah denger.”
“Lalu?”
“Enggak ada orang. Kosong.”
Pukul berapa itu Ibad tidak ingat. Yang jelas siang sebelumnya kami semua yang berjumlah dua puluh lima orang ini menghabiskan waktu untuk berkeliling kampung, memperkenalkan diri sebagai mahasiswa KKN yang akan empat puluh hari ke depan berbagi desa bersama warga lainnya.
Mungkin kelelahanlah yang menyebabkan kami semua terkapar bahkan sejak malam belum jauh meninggalkan isya. Maklum, dari satu rumah tokoh ke rumah tokoh masyarakat yang lain kami lakukan dengan berjalan kaki.
“Enggak apa-apa. Itu kenalan. Sudah biasa di sini.” jawab Pak Yatno, pemilik rumah yang kami jadikan posko ini dengan teramat santainya, hingga tidak sedikitpun ia menyadari kami mendengarnya sambil saling pandang satu sama lain dalam diam.
“Jangan-jangan, di desa ini ada apa-apanya.” bisik Dini di telingaku.
Aku tidak tahu, dan sesungguhnya tidak ingin tahu hal-hal semacam itu.
***
Dua hari lagi tepat tanggal 17, perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia. Kami, sudah seminggu ini kesibukan seperti tak ada habisnya.
Mempersiapkan rangkaian upacara, rapat bersama Kelurahan, hingga membahas remeh-temeh hadiah berbagai lomba yang akan digelar di Balai Desa, seberang jalan rumah kami ini.
“Besok tanggal 16 sore minta tolong agenda dikosongkan, ya. Kita ngarak liong-liong dulu keliling kampung.” kata Pak Yatno, menyela acara rapat di ruang tengah.
Menurutlah kami, merubah jadwal yang ada hingga besok sore dipastikan kosong.
“Liong-liong apa, sih?” tanyaku setelah Pak Yatno pergi. Tapi ternyata semua teman berada dalam tanya besar yang sama.
***
Setelah lepas Ashar barulah kami tahu, karena semua liong-liong dikumpulkan di halaman Balai Desa. Ada sekitar tujuh hingga sepuluh liong-liong totalnya.
Aku awalnya mengira liong-liong itu sejenis karnaval atau pawai. Tapi bukan.
Liong-liong adalah patung sapi. Dibuat dari kerangka bambu yang dibentuk menyerupai sapi, lalu dibalut dengan karung bekas berwarna putih. Patung sapi itu dipanggul oleh empat orang, dan diarak keliling kampung beriringan.
Yang membuat kami semua berdecak adalah, arak-arakan ini diiringi tetabuhan gamelan yang diusung dengan sebuah mobil colt bak terbuka lengkap dengan sound system-nya.
Arakan liong-liong ini berangkat dari Balai Desa sekitar pukul lima sore. Dan karena rutenya keliling kampung, maka hingga menjelang Maghrib liong-liong masih jauh dari selesai. Suara gamelannya menggema di seantero desa, seolah mengabarkan desa ini tengah berada dalam suatu hajat khusus.
Akhirnya beberapa dari kami-terutama yang perempuan-memutuskan untuk pulang lebih dahulu ke posko dengan tujuan shalat Maghrib, bebersih dan bersiap menyelesaikan pembungkusan hadiah yang masih lumayan banyak.
“Eh, itu apaan, sih? Kayak sesajen bukan?” kata Dessy menunjuk sesuatu yang telah berjajar tepat di bawah pohon beringin pada halaman Balai Desa.
Kami yang berjalan berlima ini spontan berhenti.
“Temen-temen, mendingan kita buruan masuk, deh. Azan udah mau selesai, buruan.” Dini tak ingin lebih jauh menanggapi, dan mengingatkan kami sambil mempercepat langkah.
Dalam hati aku hanya membatin, arak-arakan liong-liong ini punya maksud tertentu, sehingga harus disertai segala sesajen dan gamelan, digelar di waktu mendekati Maghrib pula.
Sampai di rumah, tak satupun dari kami berani menanyakan perihal sesajen di balai desa tadi kepada Ibu tuan rumah yang sekaligus merangkap sebagai ibu RT. Kami lebih memilih segera melaksanakan apa yang sejak mula menjadi tujuan.
***
Lepas Isya dan makan malam, kami mendengar lagi keramaian dari arah Balai Desa.
“Udah mau dimulai, Mas.” kata Nasrul kepada Mas Ryan. “ayo lihat!”
“Oh iya. Ayo, Cah!” Mas Ryan menyambut seruan Nasrul dengan amat segera, membuat kami yang tidak paham semakin ribut penasaran.
Kamipun berduyun mengekor mereka demi tahu apa yang sedang ramai di luar sana. Dan terutama kaum hawanya, kami sibuk saling berdengung melihat pemandangan yang telah bertambah.
Sesajen lengkap, barongan berbagai bentuk dijajar rapi, alat-alat gamelan, air kembang, dan para penari laki-laki sudah elok mengenakan kostum serta tata rias. Di tengah-tengah mereka, seseorang dengan pakaian hitam dan udeng di kepala sedang berbicara dengan penabuh kendang.
“Itu tukang gambuh-nya.” kata Mas Ryan menengok pada kami sekilas yang berdesakan di balik punggung tambunnya yang lebar.
“Tukang apa?” tanya Nuri. Gadis berdarah asli Lampung ini tentu belum familiar dengan pelafalan jawa khas Mas Ryan.
“Tukang gambuh, Nur. Jadi nanti kalau ada yang mabok (kesurupan), dia yang nyembuhin.” jawab Mas Ryan setengah berbisik.
“Mabok? Mas, ini beneran jaranan?” Tiba-tiba suara Nuri melengking, menyeret beberapa mata di sekitar tertuju padanya.
“Sssttt…! Jangan heboh!” tegur Mas Ryan berbisik. “iya, ini jaranan. Udah, jangan heboh. Khawatir ganggu yang lagi persiapan.”
Tapi tak elak, kami kaum ibu yang doyan bergosip ini segera saja mencetuskan asumsi dan ketakutan masing-masing, sebelum Ibu Posko memanggil kami untuk membantu beliau menata catering jamuan para tokoh masyarakat.
Pukul sepuluh malam seluruh anggota KKN telah pulang ke posko untuk beristirahat. Suara gamelan yang disertai langgam dari sinden masih melantun gagah, kadang keras menghentak, kadang lembut menyayat. Bapak Posko kami tampak berada di tengah-tengah mereka.
Baru beberapa saat menjelang Azan Subuh suara gamelan tak terdengar lagi, setelah tepat di tengah malam tadi jaranan berada di puncak pertunjukan. Suara sinden beradu jejeritan dari entah siapa, yang membuat kami bahkan tak berani sekadar saling bertanya satu sama lain.
***
“Liong-liong itu buat tanda kalau kita senang tinggal di desa ini,” Bapak memulai. “Sapi, binatang yang banyak manfaatnya, dibuatkan patung lalu diarak dan ditabuhi gamelan. Ini wujud syukur kita atas hidup selama ini. Senang, gembira, sekaligus menghargai bahwa hidup ini sakral.”
Bapak menghela napas, menatap halaman sejenak.
“Sementara Jaranan adalah bentuk hiburan yang melibatkan dua alam. Makanya, acara ini digelar tiap tahun.” Bapak menjelaskan pada kami sambil duduk istirahat sore di teras depan rumahnya beberapa hari kemudian.
“Apa itu maksud dari sesajen di depan Balai Desa kemarin, Pak?” tanya salah satu diantara kami.
“Iya. Itu buat pemberitahuan ke alam sana agar kita selalu bisa hidup berdampingan tanpa saling ganggu. Harapan Rejo Satu dan Harapan Rejo Dua harus tetap saling menghormati.” jawabnya.
“Maksudnya, Pak?” Nyaris serentak kami berucap begitu.
Bapak tampak diam sejenak, seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepalanya.
“Jadi Desa Harapan Rejo ini satu-satunya Desa di Kecamatan Seputih Agung yang punya dua penduduk. Harapan Rejo satu untuk manusia, dan Harapan Rejo dua untuk bangsa yang lain.” katanya membuka kisah.
“Maksudnya bangsa lelembut, Pak?” tanya Mas Ryan.
Bapak mengangguk.
“Bapak belum sempat cerita. Tapi yang jelas, kalian hati-hati kalau lewat kebun sawit sebelah wetan sana. Jangan sumbar, jangan bercanda sembarangan.” katanya.
“Di sana tempat mereka, Pak?” tanya Mas Ryan lagi. Sejak tadi hanya dialah yang berani menatap Bapak secara langsung.
Aku sendiri, setelah melihat raut wajah Bapak yang demikian seriusnya awal bercerita tadi, sudah gentar, tak ingin menatapnya lagi, daripada mentalku yang minim ini hancur tak bersisa.
“Iya. Yang penting kalian jangan macam-macam. Kalau bikin acara juga jangan yang aneh-aneh. Karena, kalau keharmonisan ini dicederai lagi, akan ada jatuh korban.”
Kami semua serentak menatap Bapak. Entah kenapa, ada yang terasa mencekam di sini.
“Dicederai lagi, Pak? Jatuh korban?” tanya Ibad pelan dengan wajah sulit diterjemahkan.
Bapak menatapnya sekilas, lalu mengisap kreteknya dalam-dalam.
***
Dua hari kemudian, Ibad tiba-tiba menghilang tanpa jejak dari posko. Kami hanya menemukan jejak kaki basah dan sebatang rokok yang masih menyala di teras depan.
Ich, Kdt’25.
Glossarium:
Barongan: semacam topeng dari kayu, biasanya merupakan wajah harimau, singa, atau binatang yang menyeramkan dan bergigi tajam. Dipakai oleh penari jaranan yang kesurupan.
Jaranan: kuda lumping. Mabok: kesurupan.











