Penginapan di Desa Wanurejo Borobudur pagi ini terasa lebih sunyi dari biasanya. Ayesha tak menyadari kehadiranku, ia duduk di beranda, secangkir kopi di tangannya telah lama dingin, sementara pandangannya kosong menatap jalan yang masih basah oleh sisa hujan malam. Sepertinya kepergian Zack ke Belanda meninggalkan ruang hampa yang tak mudah diisi. Janji-janji tentang pertemuan berikutnya terasa jauh, seperti garis cakrawala yang hanya bisa dipandang tanpa bisa disentuh.
Aku datang tanpa banyak suara, duduk di sampingnya, membiarkan beberapa detik berlalu tanpa kata, seolah memahami bahwa duka tak selalu perlu segera ditanyai. Angin pagi menyelip di antara dedaunan, membawa bau tanah basah dan kenangan yang belum sempat dibereskan.
“Kamu tahu,” ujarku akhirnya, “Orang-orang Belanda dulu juga sering pergi dan datang. Mereka meninggalkan bangunan, jejak, dan cerita. Tidak semuanya indah, tapi semuanya pernah hidup.”
Ayesha menoleh, matanya sedikit berkaca. Aku tersenyum kecil, senyum yang tidak memaksa bahagia, hanya menawarkan kemungkinan bernapas sedikit lebih lega.
“Aku mau ngajak kamu ke Secang,” ujarku menawarkan. Ayesha menatap penuh tanya.
“Ada bangunan peninggalan Belanda di sana. Tua, sunyi, dan sering dilupakan. Tapi justru di tempat seperti itu, kita bisa belajar satu hal, bahwa yang pergi tidak selalu benar-benar hilang. Mereka hanya berubah menjadi ingatan.”
Ayesha menghela napas panjang. Seperti ada sesuatu yang membuat dadanya terasa lebih ringan, seolah kesedihannya diberi ruang, bukan diusir. Ia membayangkan dinding-dinding tua, jendela-jendela tinggi dengan cat terkelupas, dan lorong-lorong yang menyimpan gema langkah orang-orang dari masa lalu.
“Mungkin,” kata Ayesha pelan, “aku cuma perlu berjalan sebentar, melihat sesuatu yang diam, supaya hatiku berhenti berlari.”
Aku mengangguk. “Kita ke sana bukan untuk melupakan Zack, tapi untuk mengingat bahwa setiap perpisahan selalu meninggalkan jejak. Dan jejak itu, kalau kita mau melihatnya, bisa jadi penguat.” Aku berdiri, melangkah menuju mobil. Ayesha mengikuti dengan langkah sedikit tergesa.
Kami pun pergi, meninggalkan pagi yang muram, membawa kesedihan yang masih utuh, tapi kini tak lagi sendirian.
Aku menghentikan mobil di depan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun1880 berupa saluran air yang melintas di atas Kali Galeh di Dusun Galeh, Desa Kalijoso, Kecamatan Secang. Sebuah bangunan tua yang begitu menarik dan eksotis. Aku membayangkan jika senja datang, tenggelamnya sinar matahari akan digantikan lampu yang menempel di pilar bangunan khas Belanda, mungkin keindahannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
“Pilar penyangga saluran air yang dikenal dengan nama Talang Londo,” ujarku menjelaskan sambil menunjuk bangunan yang menjadi destinasi wisata menarik, karena membawa wisatawan ke suasana tempo dulu yang terasa seperti di Belanda. Bahkan sangat instagramable untuk berphoto, dan menarik juga untuk lokasi foto pre wedding.
Ayesha mengamati saksama enam pilar dengan tinggi sekitar 8 meter sebagai penyangga saluran air atau talang yang terbuat dari lempengan baja sepanjang 50 meter itu, terkesan gagah dan kokoh dengan kontruksi dan arsitektur khas negara kincir angin. Apalagi lengkungan atau plengkung atas dengan lebar sekitar 5 meter, menunjukkan identitasnya sebagai bangunan bersejarah beraroma Belanda.
Triyan, pengelola destinasi wisata Talang Londo, mengatakan, bahwa luas areal yang dikembangkan menjadi objek wisata ini merupakan tanah sepanjang sungai dengan luas sekitar 800 meter persegi. Di bawah talang londo, merupakan aliran air Kali Galeh dengan arus air yang sedang, sehingga cocok dikembangkan menjadi wisata tubing.
Masih menurut Triyan, tanah bantaran sungai sepenuhnya dikelola oleh PU Pengairan Jateng dan objek wisata Talang Londo ini dikelola dengan sistem sewa dengan PU Pengairan.
Ayesha terus berkeliling, menelisik setiap detail bangunan khas dengan arsitektur Belanda yang sudah berumur lebih dari satu abad. Hingga sekarang masih bangunan yang merupakan saluran irigasi yang terbuat dari lempengan baja ini masih berfungsi dengan baik. Saluran irigasi yang berasal dari wilayah Kabupaten Temanggung hingga Kabupaten Magelang ini melintasi Kota Magelang mengalir ke Kali Manggis, dibangun pertama oleh Belanda sekitar 1880 dan renovasi kembali sekitar 1901.
Puas menikmati keindahan bangunan peninggalan Belanda yang mulai sering diuanggah para konten kreator tersebut, wajah Ayesha mulai sedikit cerah. Kami pun melanjutkan perjalanan, aku memutuskan tak mengambil rute yang jauh, hanya seputar wilayah Secang, sebuah desa yang menyimpan kisah masa lampau yang terlupakan waktu.
Aku menghentikan mobil di situs Candi Secang, yang berada di Dusun Candi, Desa Candisari, Kecamatan Secang. Situs ini dikenal pula dengan sebutan Candi Talun, Candisari, Canditalun, Gomblang, atau Gumbulan. Situs yang menjadi saksi bisu peradaban kuno yang pernah berjaya di tanah Jawa.
Situs ini menyimpan banyak teka-teki arkeologis era klasik yang belum terpecahkan. Tidak banyak yang tahu karena letaknya di atas gundukan tanah kecil di tengah pemukiman warga. Meski demikian situs ini menyuguhkan atmosfer mistis sekaligus eksotis. Jejak-jejak batu bata kuno berserakan di berbagai sudut dusun, seolah menjadi potongan puzzle yang menanti untuk dirangkai kembali.
Yang paling menarik perhatian adalah keberadaan sebuah struktur batu panjang berbentuk menyerupai yoni, tapi tanpa lubang lingga di bagian tengahnya. Batu ini memiliki ukuran cukup besar: panjang 177 cm, tinggi 68 cm, dan lingkar besar 7 cm. Warga sekitar menyebutnya dengan nama “Watu Meja”, atau meja batu kuno, yang kini menjadi salah satu ikon situs ini.
Tidak hanya itu, terdapat pula tiga buah yoni lainnya yang masih dalam kondisi cukup baik. Dua di antaranya kini berada di tengah kebun milik warga dan menjadi saksi sunyi dari ritual-ritual masa lampau.
Namun, sangat disayangkan keberadaan lingga sebagai pasangannya hingga kini masih misterius, belum ditemukan ataupun diketahui keberadaannya.
Ayesha mengamati beberapa bagian struktur candi yang mengalami kerusakan, tapi daya tarik situs ini tidak luntur. Menurut Ayesha justru kondisi tersebut menjadi panggilan bagi para arkeolog, pecinta sejarah, dan pelancong budaya seperti dirinya untuk datang, menyelami sisa-sisa kejayaan leluhur yang tertanam dalam diam.
Kami melanjutkan perjalanan setelah puas mencatat dan mengamati. Ayesha sibuk mencatat dalam bukunya bahwa Situs Candi Secang bukan hanya destinasi sejarah biasa. Ia adalah pintu gerbang menuju masa lalu, tempat di mana spiritualitas, simbolisme, dan budaya kuno berpadu dalam bentuk batu.
Tak jauh dari Dusun Candi terdapat Situs Pucanggunung, tepatnya berada di Dusun Pucanggunung, Desa Pucang, kecamatan Secang. Situs ini berada pada sebuah lahan yang dipenuhi pohon bambu, peninggalan yang masih tersisa di situs ini hanyalah sebuah yoni yang berukuran sekitar 2×1,5m dengan keadaan setengah bagian tubuhnya masih tertimbun tanah.
Aku Jongkok di samping Ayesha. Mengamati yoni yang bentuknya polos tanpa ukiran, untuk bagian cerat kurang bisa dipastikan kondisi dan bentuknya karena sebagian badan candi masih tertimbun, tapi untuk lubang lingga bisa masih terlihat.
Di sekitar yoni terdapat banyak lubang penggalian, aku menduga kemungkinan dahulu pihak BP3 atau pihak-pihak lain pernah mengadakan penelitian di situs candi ini. Di antara beberapa lubang penggalian, terdapat juga 3 buah batu candi berbahan dasar batu andesite yang masih bisa ditemui. Walaupun hanya ada sebuah batu yang terdapat ukiran ornamennya. Namun, keberadaannya merupakan bukti bahwa di situs ini pernah terbangun sebuah candi yang bentuknya sangat indah.
Selain batu andesite, terdapat sebuah makam yang hanya berjarak sekitar 70 meter. Juga beberapa batu candi yang terbuat dari batu bata kuno, dengan ukuran yang lebih besar dari batu bata standar yang ada di masa kini. Ukurannya sekitar 2 hingga 3 kali lebih besar dari batu bata normal pada jaman sekarang.
Batu bata kuno tersebut banyak yang dijadikan sebagai bahan baku pondasi makam, ada juga yang dijadikan pondasi pagar makam dan patok nisan. Dilihat dari keberadaan batu bata kuno dan batu andesite, kemungkinan candi Pucanggunung menggunakan 2 buah bahan baku yaitu batu andesit dan batu bata.
“Situs ini peninggalan Hindu Shiwa?” tanya Ayesha
“Darimana Kamu bisa menebak?” Aku memancing sebelum menjawab.
“Dilihat dari keberadaan yoni didalamnya, bisa dipastikan situs Pucanggunung ini merupakan peninggalan arkeologis dengan latar belakang agama Hindu shiwa,” jawabnya. Aku mengacungkan jempol sambil tersenyum.
“Kamu benar, meski lingga yang seharusnya berdampingan dengan yoni, kurang bisa dipastikan keberadaannya, kemungkinan masih tertimbun atau telah hilang,” pungkasku sambil berdiri, berjalan keluar area menuju mobil.
Ayesha tampak mulai terhibur, wajahnya sudah kembali cerah. Aku merasa lega, berujar lirih sebelum meninggalkan lokasi, “Dengan mengunjungi situs cagar budaya dan sejarah bangsa ini, secara tidak langsung telah melestarikan saksi sejarah bangsa yang masih tersisa, jangan biarkan batu-batu kuno tersebut hanya dijadikan sebagai dongeng masa kecil kita yang lambat laun bisa punah dikikis jaman.”










