Setelah menempuh perjalanan lebih dari 15 jam akhirnya pesawat Cathay Pasific yang menempuh jarak sekitar 7.889 mil dari Frankfurt ke Yogyakarta akhirnya mendarat dengan sempurna di Bandara Yogyakarta Internasional Airport.
Langit Yogya yang masih berwarna perak pucat, seakan menyambut kedatangannya. Leonhardt Keller turun dari pesawat dengan langkah tegap. Pikirannya hanya tertuju pada satu tujuan, bertemu Adelheid–kekasihnya yang saat ini sedang menjadi volunteer Pendidikan di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta. Udara lembap pagi itu menyentuh kulitnya seperti sapaan lembut dari dunia yang belum sepenuhnya terbangun.
Leon menenteng tas ranselnya keluar dari bandara. Sebelum berangkat dia sempat mengirim pesan pada Adel, agar menjemputnya di Bandara YIA, tak lupa schedule kedatangan ia sertakan bersama chat yang selalu diakhiri dengan emotikon cinta.
Matahari Yogya mulai meninggi, artinya ia sudah menunggu lebih dari satu jam. Tapi bayangan Adel belum muncul. Ponselnya juga tidak aktif. Leon mulai gelisah, ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di Indonesia, bahkan dia tidak mengenal siapapun di negara ini kecuali Adel.
Perutnya mulai melilit, badannya letih, pikirannya dipenuhi rasa gelisah, sebatang rokok putih entah sudah yang keberapa batang telah disesapnya hampir separuh. Leon berjalan keluar dari lobby bandara, mencoba mencari taksi atau apapun yang bisa membawanya keluar dari bandara.
Merasa putus asa, Leon memilih berjalan keluar area bandara. Perutnya yang melilit menuntut haknya untuk diisi, tapi Leon tidak suka suasana bandara yang bising, penuh manusia lalu lalang. Ia memutuskan menyusuri jalanan yang baru kali ini dilaluinya. Tanpa sadar ia sudah berjalan cukup jauh keluar bandara, memanggul ransel besar yang tingginya seukuran anak umur 10 tahun.
Sebuah tempat makan menarik perhatiannya. Joglo Saerah Resto. Leon tak paham artinya, tapi melihat plang nama besar dan mentereng ia yakin itu adalah tempat makan. Leon melangkah masuk, sedikit ragu, memindai seluruh ruangan yang dipenuhi ornamen khas Jawa.
“Ada yang bisa saya bantu?” Sseorang pengepuk bahunya saat Leon terlihat kebingungan.
“Ich möchte food order,” jawab Leon. Perempuan di hadapan Leon menautkan alis dengan tatapan serius. Jawaban yang dilontarkan dengan aksen campuran bahasa Inggris dan Jerman itu cukup membuatnya paham bahwa laki-laki di hadapannya ini tak bisa berbahasa Inggris.
“Möchten Sie Essen bestellen?” tanya perempuan dengan hoody biru laut itu.
“Ja, ich warte auf jemanden, kann ihn aber nicht treffen. Ich möchte zuerst essen,” jawab Leon lega, akhirnya ada seseorang yang bisa diajaknya bicara.
“Kekasih?” tanya perempuan itu.
“Yeah, bisa dibilang begitu,” jawab Leon, mengembalikan buku menu yang disodorkan perempuan di hadapannya.
“Aku sudah menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif,” keluh Leon.
“Nadia ….” Perempuan itu mengulurkan tangan memperkenalkan diri, “Kamu bilang tadi lapar, lebih baik makan dulu. Setelah itu aku akan membantumu mencari kekasihmu.”
“Terima kasih,” jawab Leon cepat, harapannya timbul kembali.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Nadia sambil menyodorkan buku menu lagi, tapi Leon menolah.
“Kamu saja yang pesan, aku tidak tahu makanan Indonesia. Pesankan saja apa yang menurutmu bisa dimakan pria asing sepertiku.”
Nadia tertawa, ternyata laki-laki bule ini asik juga, hanya saja dia kurang menguasai bahasa Inggris, lebih menguasai bahasa Jerman. Nadia pernah mengikuti program Ausbildung sehingga tidak kesulitan ngobrol dalam bahas dari negeri seribu kastil tersebut.
Makanan yang dipesan datang, Nadia memesan Sup iga dan ayam goreng untuk Leon, menu paling umum yang bisa diterima siapa saja. Untuk dirinya sendiri ia memesan brongkos daging sapi dan dua gelas wedang sereh.
“Apa pekerjaanmu …?” tanya Nadia disela mengunyah makanannya.
“Leon, ich bin Geschichtsschreiber,” jawab Leon cepat sambil mengulurkan tangan sekali lagi, ia baru ingat tadi belum menyebutkan namanya.
“Bist du wirklich ein Schriftsteller?” tanya Nadia dengan mata berbinar.
“Bisa dibilang seperti itu. Hanya penulis kecil yang menyukai sejarah, meneliti bangunan kuno dan urband legend.”
“Itu keren,” komen Nadia bersemangat, “Aku juga penulis, konten kreator, dan pemandu tidak resmi yang lebih mengandalkan intuisi ketimbang peta.”
“Benarkah? Itu menyenangkan.” Leon terlihat antusias.
“Suatu kebetulan yang luar biasa. Aku bahkan menyukai eksplorasi ke tempat yang bahkan Google pun malas membahasnya.”
Leon tertawa kecil, “Itu justru alasan saya datang ke Indonesia.”
Obrolan mereka terhenti saat sebuah rombongan memasuki rumah makan bergaya arsitektur joglo tersebut.
“Mbak Nadia …?” Seseorang menepuk bahu Nadia, menatapnya dengan tatapan menelisik.
“Wait … hmmm, Mas Nanang …?” pekik Nadia setelah berhasil mengenali laki-laki berkulit gelap di hadapannya.
“Apa kabar, Mbak Nadia?” tanya Nanang sambil menjabat tangannya.
“Alhamdulillah baik, wah … bawa rombongan, nih. Mau ke mana?” tanya Nadia sambil menyapa satu per satu anggota rombongan yang dibawa Nanang.
“Mencari jejak yang belum ditemukan,’ jawab NanaNg penuh arti.
“Oya, kenalkan ini Leon.” Nadia mengenalkan Leon. Laki-laki bule itu terlihat menikmati suasana hingga lupa tujuan utamanya menemui kekasihnya.
“Leon, kenalkan ini teman-temanku dari komunitas Dewa Siwa, komunitas pecinta situs dan batu candi. Mereka dari Semarang, jika Kamu tidak keberatan kita bisa ikut bersama mereka melakukan eksplorasi sejarah,” ujar Nadia.
“Wow, kedengarannya menyenangkan, tentu saja aku mau,” jawab Leon cepat. Ia tak menyangka akan bertemu dengan orang-orang yang satu tujuan dalam melakukan eksplorasi sebagai bahan tulisannya di hari pertamanya berada di Jawa Tengah, sebuah propinsi yang memiliki banyak jejak kisah masa lalu yang menarik untuk dikulik.
“Tapi menurutku, sebaiknya Kamu cari penginapan dulu, istirahatlah barang sebentar.” Nadia memberi saran.
“Ide bagus, tapi aku tidak akan ketinggalan, kan?”
“Tenang, kita bisa membuat janji temu di satu tempat,” tandas Nadia.
Leon mengangguk, setelah berpamitan ia mencari penginapan tak jauh dari bandara. Sejenak ia melupakan tujuan awalnya datang ke Jawa Tengah untuk menemui kekasih.
Pertemuannya dengan Nadia datang tanpa rencana, seperti hujan yang jatuh diam-diam tapi mengubah arah hari. Leon tidak pernah membayangkan saat ia nyaris kehabisan arah dan tenaga, justru tangan Nadia yang lebih dulu terulur. Bukan sebagai sosok yang ingin tahu terlalu banyak, bukan pula dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik, tapi dengan ketenangan seorang penolong yang hadir tepat saat dibutuhkan. Dalam waktu singkat, Leon merasakan sesuatu yang lama tak ia kenali, rasa aman di tanah asing.
Sejak awal kedatangannya ke Indonesia, tujuan Leon mencari jejak, menyusun data, dan menuntaskan rindu pada kekasihnya yang selama ini mengendap di kepalanya. Namun, percakapan-percakapan kecil dengan Nadia, tawa yang muncul tanpa dibuat-buat, dan cara Nadia memandang setiap tempat seolah menyimpan cerita tersembunyi, perlahan mengaburkan peta di benaknya. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya berhenti sejenak, menunda tujuan utama, dan mendengarkan denyut perjalanan yang tidak tercatat dalam rencana.
Sepanjang perjalanan Nadia bercerita tentang candi-candi kecil yang terlupakan, situs-situs sunyi yang hanya hidup dalam ingatan warga desa dan bisik para pejalan lama. Tempat-tempat yang tak pernah masuk peta digital, tak punya penanda, dan nyaris hilang ditelan waktu. Mata Leon berbinar oleh rasa ingin tahu yang murni, rasa yang dulu membawanya berkelana, sebelum segalanya berubah menjadi target dan tenggat.
Ia bersyukur bertemu Nadia, setidaknya rasa kecewa karena tidak menemukan Adel sedikit terobati. Nadia berjanji akan membantu Leon menemukan Adel satu saat nanti.
Note :
Möchten Sie Essen bestellen?: Apakah Kamu mau order makanan?
Ja, ich warte auf jemanden, kann ihn aber nicht treffen. Ich möchte zuerst essen.: ya, saya menunggu seseorang tapi tidak bisa bertemu. saya ingin makan dulu.
ich bin Geschichtsschreiber: saya seorang penulis sejarah.
Bist du wirklich ein Schriftsteller?: Benarkah kamu seorang penulis?










