Perjalanan selanjutnya, Nadia sengaja tidak membawa Leon ke tempat yang namanya sudah terlalu sering disebut brosur wisata. Mobil yang dikemudikan Nadia justru berbelok meninggalkan jalur utama menuju Candi Pawon, ikon yang hanya berjarak sepelemparan batu, lalu menyusup ke jalan sempit yang diapit pepohonan di antara perkampungan penduduk. Nadia menghentikan mobil di area yang hanya jengkal saja jaraknya dari Candi Pawon dan Sungai Progo di Borobudur, Kabupaten Magelang.
“Kalau Candi Pawon semua orang sudah tahu,” kata Nadia sambil tersenyum kecil. “Aku mau nenunjukkan yang jarang disentuh, yang ceritanya masih bersembunyi.”
Leon mengangguk, matanya berbinar. Kata ‘undercover history’ yang diucapkan Nadia sejak tadi seperti mantra. Ia sangat antusias untuk meninggalkan keramaian demi sebuah tempat yang bahkan tak muncul jelas di peta digital.
Sendang Lanang menyambut mereka dengan sunyi yang terasa tua. Gemericik air memancar dari mata air yang banyak didulang warga setempat. Airnya bening, memantulkan bayangan langit dan dedaunan, seolah menyimpan rahasia yang hanya mau dibuka pada mereka yang datang tanpa ribut. Batu-batu di bawah pohon beringin tua di sekitar sendang tampak biasa saja, perkasa dan sedikit angkuh, tapi teduh menaungi. Nadia tahu, Leon bisa merasakannya ada lapisan waktu yang menempel di sana.
“Tempat seperti ini selalu membuatku merasa tamu,” ujar Leon takjub. Matanya berbinar memindai setiap sudut purba.
“Dan tamu seharusnya belajar mendengar,” balas Nadia.
Di bawah rumpun bambu, seorang laki-laki sudah menunggu. Rambutnya diikat sederhana, ransel lusuh tersampir di bahu, dan buku sketsa tampak menonjol dari saku samping. Kyoto, laki-laki berdarah campuran Jawa dan Jepang yang mengenyam pendidikan di Fakultas Sejarah UGM. Sosok yang sejak pertemuan tanpa sengaja di bandara YIA bersama Komunitasnya Dewa Siwa beberapa hari lalu sering bertukar pesan dengan Nadia. Hari ini Kyoto memilih untuk ikut melanjutkan eksplorasi bersama Nadia, karena sebagian anggota komunitasnya memilih pulang ke Semarang, bukan sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan, tapi melukis jejak samar yang dilupakan banyak orang
“Kalian tepat waktu,” sapa Kyoto, suaranya tenang seperti air sendang di belakangnya.
“Bukankah tempat ini tak suka ditunggu terlalu lama?” ujar Nadia mantap.
Mereka bertiga saling bertukar senyum singkat. Tanpa seremoni, tanpa aba-aba besar. Hanya tiga orang, dengan niat yang sama: menyingkap sejarah yang memilih bersembunyi, lalu mencatatnya dengan cara paling manusiawi, melangkah, bertukar percakapan dan goresan tangan.
Mereka mengawali dari Sendang Lanang, sebuah mata air itu yang hingga kini airnya masih deras memancar itu. Sendang ini dipercaya sebagai petirtaan di zaman itu. Mata air satunya oleh masyarakat setempat diberi nama Sendang Wadhon.
Kedua mata air ini merupakan bagian dari bangunan pendamping candi, usianya diperkirakan sama dengan usia Candi Pawon yakni abad ke-8 Masehi. Keberadaan sendang tersebut terkait dengan kebutuhan bersuci dalam ritual peribadatan di Candi Pawon.
Sendang Lanang dan Sendang Wadhon adalah sumber mata air alami dan pemandian tradisional yang terletak di Wanurejo, dekat kawasan Borobudur, Magelang. Berbeda dengan Sendang Wadhon yang sudah direnovasi, Sendang Lanang mempertahankan suasana yang lebih alami dan tradisional, tempat ini sering digunakan untuk kebutuhan air warga setempat.
Situs Sendang Lanang biasanya merujuk pada situs petirtaan atau mata air kuno khusus laki-laki yang tersebar di beberapa wilayah Jawa Tengah, seringkali berpasangan dengan Sendang Wadon, sebutan perempuan dalam bahasa Jawa. Sendang ini sering dikaitkan dengan nilai sejarah Kerajaan Majapahit, legenda, tempat ritual atau tirakat untuk tujuan tertentu seperti kesembuhan.
Situs mata air kuno bersejarah di Dusun Brojonalan, Wanurejo, Borobudur, Magelang, yang diyakini berasal dari abad ke-8 atau sejaman dengan Candi Pawon, lokasinya pun hanya berjarak sekitar 30m sebelah timur, dan berada di sebelah barat Sungai Progo, yang akan dibangun Jembatan Aksis Budaya, sehingga sendang juga direnovasi penampilannya agar dapat mendukung program itu dan menjadi tempat wisata baru ke depannya.
“Sendang Lanang difungsikan sebagai sendang kamulyan untuk meningkatkan derajat atau menyembuhkan penyakit, dan telah direnovasi menjadi fasilitas pemandian umum yang nyaman.
“Kamu mau mandi?” tanya Nadia saat melihat Leon mencuci muka di pancuran sendang.
“Boleh?” tanya Leon dengan alis terangkat.
“Boleh, sekarang sudah direnovasi melalui proyek Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Borobudur,” jawab Nadia sambil menunjuk bak penampungan, pancuran, dan tempat ganti yang rapi. Leon hanya meringis dengan mimik lucu.
“Ada dua Sendang terdiri dari dua mata air utama, yaitu Sendang Lanang khusus laki-laki dan Sendang Wadon khusus perempuan,” lanjut Nadia.
“Aku menyukai tempat ini, tenang dan menginspirasi,” sela Kyoto.
“Benar, lokasinya sering disebut sebagai sendang pemandian yang tenang,” jawab Nadia.
“Konon sendang ini juga dipercaya memiliki nilai spiritual, Sendang Lanang dikaitkan dengan peningkatan pangkat atau kamulyan, sedangkan Sendang Wadon dikaitkan dengan kesuksesan dan kekayaan,” imbuh Nadia.
“Itu beneran atau hanya mitos?” sanggah Kyoto.
“Tergantung bagaimana meyakininya. Semuanya memang dari Tuhan, sendang ini hanya sebagai perantara. Banyak warga datang dan melakukan ritual di sendang ini untuk memohon pekerjaan dan jabatan, dan banyak yang terkabul di Sendang Wadhon. Sedangkan sendang lanang atau dikenal sebagai sendang kamulyan, lebih pada permintaan kesehatan dan kemuliaan,” kata Nadia.
Leon menaiki tanah berundak, rasa ingin tahunya mencuat saat menemukan sebuah lubang empat persegi dengan tumpukan batu bata di dalamnya. Ia mengamati struktur kuno berupa batu bata yang sedang terkubur dan sedang dalam proses ekskavasi. Namun, struktur tersebut masih terlihat misterius, rapi membentuk sudut yang lurus.
Aku mengajak Kyoto ikut naik, beberapa orang pekerja yang ditemui di tempat tersebut mengatakan bahwa batu bata yang berukuran besar dan batuan andesit itu tersingkap di kedalaman hampir satu meter di dalam tanah di bawah rindang pepohonan bambu.
Beserta struktur batu bata dan batuan, sebuah stupika juga ditemukan di sana. Temuan fragmen stupika atau stupa kecil ini mencirikan situs Buddha. Kemungkinan besar bagian dari Pawon, karena Pawon adalah candi Buddha. Karena suatu candi tidak berdiri sendiri, ada bangunan atau pendamping lainnya, entah itu sebuah pondasi rumah permukiman kuno, petirtaan karena dekat dengan sumber mata air, tangga menuju candi setelah bersuci di mata air atau bangunan lain yang menyangga candi. Hingga saat ini belum ada penjelasan jejak sejarah yang mencatatnya.
Matahari mulai condong dan angin membawa pulang kisah-kisah yang baru saja mereka temukan. Nadia menatap permukaan air sendang untuk terakhir kalinya, seolah menyimpan jejak perjalanan kali ini di dalam ingatan. Tanpa banyak kata, ia dan Leon temannya saling bertukar senyum, cukup untuk menandai bahwa eksplorasi hari itu telah usai. Perut yang sejak tadi berkompromi akhirnya menang juga. Mereka beranjak, meninggalkan sunyi sendang, melaju menuju Borobudur, mengejar makan siang yang terlambat tapi terasa semakin layak dinantikan.










