Home / Genre / Chicklit / 28. Cinta Ini Bukan Milikku

28. Cinta Ini Bukan Milikku

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 29 of 32 in the series Sebiru Langit Casablanca

Berbalut hati yang kecewa, Yazid meninggalkan Casablanca, kembali ke Malaga. Dia menceritakan kepada ibunya bahwa ia telah gagal yang kedua kalinya untuk mendapatkan jawaban atas kata hatinya kepada Karima. Huwaida memahami hal itu. Dia membesarkan hati putranya agar tidak larut dalam kekecewaan.

“Masih banyak wanita diluar sana yang menantimu. Mengapa kau hanya memikirkan Karima saja?”

Yazid terdiam. Dari lantai kamarnya yang langsung menghadap ke pantai Malaga, dia menemukan banyak sekali rasa yang kini berkecamuk di sanubari. Karima lain daripada yang lain. Memang dia dekat dengan beberapa wanita di Malaga. Baik mereka yang keturunan Maroko ataupun asli Spanyol. Nama Karima tetap menduduki tahta tertinggi di singgasana hatinya.

“Aku tahu, Ibu. Tapi rasa cinta itu tidak bisa dipaksakan. Ia lahir dari ketulusan nurani terdalam,” jawab Yazid ringan. Tatapan matanya tidak lepas memandang debur-debur ombak kecil dari kejauhan yang berkejaran. Mungkin seperti itulah keinginan hatinya.

Huwaida mendekat. Dia berdiri di samping putranya. “Fokuslah pada hidupmu, Yazid. Tidak mudah memang melupakan rasa cinta kepada seseorang yang tidak memiliki rasa itu pada kita. Inilah warna kehidupan yang harus kita jalani.”

Yazid memandang ibunya. Ia tersenyum. “Iya, Ibu. Satu-satunya wanita yang sangat tulus mencintaiku adalah Ibu. Aku takkan membuat hati Ibu sedih.”

“Bangkitlah, Nak. Aku selalu bersamamu.”

Baru saja mereka selesai bicara, terdengar telepon genggam Yazid berdering. Dia melihat panggilan dari nomor asing masuk.

Diabaikannya.

Pantang baginya untuk mengangkat nomor asing yang tidak ia kenal.

***

Sementara itu, di lain tempat, Marco rupanya tengah merencanakan sesuatu. Ternyata kebaikannya selama ini di depan ayahnya hanyalah kedok agar dia terbebas dari penjara dan bisa menguasai perusahaannya kembali. Akan tetapi harapannya tak sesuai impian. Leon memberikan sekian persen perusahaannya kepada Youssef dan membuat Marco menjadi naik pitam.

“Ternyata ayah berkhianat! Dia justru lebih mempercayai Youssef daripada aku. Aku lah yang selama ini membersamai dia. Dia tidak ingat bagaimana aku jatuh bangun membuat perusahaannya agar tetap bisa bertahan bahkan hingga kini,” katanya kepada seseorang dengan nada tinggi.

“Aku takkan tinggal diam dengan semua ini. Akan aku ambil semua yang dimiliki Youssef.  Tak peduli dia saudaraku atau bukan.”

Orang itu hanya menatapnya saja dengan datar tanpa ekspresi.. Dibiarkannya Marco meluapkan semua emosinya yang tengah meledak-ledak. Beberapa dokumen yang semula tertata rapi di atas meja kini sudah berserakan.

“Kau yakin bisa, Marco?” Ada keraguan tergambar dari ucapannya baru saja.

Marco menatapnya dengan sorot mata penuh amarah.”Aku yakin bisa,” Marco menegaskan. Hanya saja, hati kecilnya berkata lain. Youssef memang tidak begitu familiar di perusahaan Leon meski telah diakui sebagai anak kandungnya sendiri olehnya. Hasil kerjanya pun belum terlihat maksimal, mengingat Youssef tidak memiliki latar belakang dan kemampuan bisnis yang bisa cukup untuk diandalkan.

Pria di depannya mengingatkan, “Jangan kau remehkan Youssef meski hasil kerjanya belum terlihat. Kau memang piawai menangani beberapa bisnis yang ada di Spanyol dan di seantero Eropa, tetapi ingat, jika kau menganggap Youssef adalah musuhmu kau bisa merugi, Marco. Ingat, dia juga saudaramu.”

Marco meradang. “Apa pedulimu? Kau pun bahkan tidak tahu siapa aku dan Youssef, bukan?”

“Youssef hanyalah anak yang minta pengakuan dari ayahku. Kau tahu selama ini aku adalah satu-satunya pewaris di perusahaan Leon d’Oro. Sudahlah, Rodrigo. Tak ada gunanya kau membela Youssef.  Jika memang kau tidak menyukai rencanaku, silakan saja tinggalkan aku. Usai sudah persahabatan kita selama ini,” ejek Marco kepada Rodrigo.

Rodrigo hanya tersenyum tipis. Ia bangkit dari duduknya, berdiri dan menatap mata Marco yang masih menyiratkan kebencian.

“Baiklah jika memang itu yang kau inginkan. Ingat sekali lagi, Marco, jangan kau remehkan Youssef.  Kau tidak tahu siapa dia sebenarnya,” Rodrigo berbicara tepat di depan wajah Marco yang sangat terkesan sombong.

“Aku tidak peduli, Rodrigo! Bagiku, apa yang selama ini aku tangani akan menjadi milikku. Enyah kau sekarang!” bentak Marco sambil mendorongnya hingga terhuyung.

Rodrigo merapikan bajunya dan pergi meninggalkannya. Sementara Marco masih berdiri menatap kepergiannya. Tangannya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih. Geram terasa di dada. Tidak ingin ada yang menguasai harta ayahnya yang selama ini telah ia perjuangkan.

Di panti, anak-anak masih bermain dengan riangnya. Ibrahim dan beberapa anak laki-laki tengah bermain sepakbola. Sementara Alana masih menorehkan beberapa warna di kanvasnya. Gadis remaja itu sesekali mendesah panjang, merasakan penat yang menggerogoti tubuhnya. Meski begitu semangatnya tidak pernah pudar. Alana justru mengubah kekurangan yang dimilikinya menjadi kekuatan.

Dia tersenyum.  Bersyukur. Setidaknya itulah pelajaran hidup yang selama ini diajarkan oleh Lamyya dan Youssef selama ini. Kehadiran Leon sebagai ayah bagi mereka menambah bahagia itu kian bermakna.

Youssef datang membawa senyum mengembang. Didekatinya Alana yang masih sibuk dengan lukisannya.

Le grand famille. Keluarga besar.

Ya. Panti asuhan itu memang sebuah keluarga besar yang diikat oleh hati dan kasih sayang sesama manusia, bukan oleh pertalian darah.

Alana menggambarkan panti asuhan tempatnya berada kini bersama Lamyya dan Youssef berada di tengah-tengah mereka. Remaja itu tidak menyadari jika sang kakak berdiri di belakangnya. Youssef tersenyum, dia terharu menatap lukisan Alana. Suatu kebersamaan bersama keluarga besar di sana.

Alana seperti menyadari sesuatu. Dia menoleh ke belakang.

“Kakak? Sejak kapan Kakak ada di sini?” sapanya pada Youssef.

Youssef berlutut di depan kursi roda yang selama ini setia membersamai Alana.

“Baru saja, adikku.” Diciumnya tangan Alana yang kotor terkena cat acrylik. Dia tidak merasa jijik. Justru bangga.

Alana menatap mata biru kelabu milik Youssef.  Dia melihat selaksa cinta yang diberikan pemuda itu kepadanya—dan anak-anak panti lainnya.

“Tanganku masih kotor.” 

Youssef tertawa. “Aku bangga padamu.”

“Aku melukis keluarga kita.”

“Aku paham, Alana. Apakah kau akan mengikuti lomba melukis?”

Alana mengangguk. “Iya, Kak. Aku ingin melukis supaya dapat juara dan dapat uang. Aku ingin bisa berjalan normal, Kak. Tidak ingin membebani Kakak dan Ibu di sini.”

Youssef terharu. Dipeluknya Alana erat. Air matanya merebak merasakan sesuatu yang mengganjal hatinya.

“Alana, tidak perlu begitu, adikku. Aku akan lakukan yang terbaik untukmu. Yakinlah, bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik.”

Gadis remaja itu ikut menangis.  Selama ini dia tidak hanya menganggap Youssef sebagai kakak tertuanya saja, tetapi juga sosok seorang ayah yang selama ini belum pernah dilihatnya sama sekali. Dia bangga dan bahagia memiliki keluarga seperti mereka. Mereka melepas pelukan.

“Aku selalu berdoa supaya Kakak dilindungi oleh Allah dari orang-orang jahat, dan segera bertemu gadis baik.”

Youssef tersenyum. “Aku sudah punya gadis baik. Adikku sendiri.  Alana.”

“Maksudku, aku ingin Kakak menikah dengan gadis yang Kakak dicintai.”

Youssef tersenyum.  Mengacak kepala Alana yang kini tertutup hijab. Semua berkat Lamyya yang mengajarkannya. Youssef meninggalkan Alana seorang diri.

Mungkin saja dia bukan milikku, meski ada cinta mendalam kurasakan.

Sebiru Langit Casablanca

7. Ada yang Lain 9. Y Tu Te Vas

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 58

Tegar

Tegar

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

Menjadi Penulis: Menghindari Membuang Waktu Percuma

31. Ancaman

31. Ancaman

Terbangun Tengah Malam

Terbangun Tengah Malam

Antologi KompaK’O

Random image