Home / Topik / Wisata / Kampung Arab Magelang, Sebuah Sejarah Yang Terlupakan

Kampung Arab Magelang, Sebuah Sejarah Yang Terlupakan

Makam R. Ng. Danukromo I Bupati Pertama Magelang
1

Kampung Arab adalah pemukiman yang didominasi oleh komunitas Arab atau keturunan Arab, yang sering kali mencerminkan budaya, tradisi, dan kebiasaan orang Arab.

Kampung-kampung Arab ini bukan hanya merupakan tempat tinggal bagi komunitas Arab, tetapi juga menjadi pusat kegiatan ekonomi, sosial, dan keagamaan. Seperti halnya daerah lain, Magelang pun memiliki perkampungan yang ditinggali para etnis keturunan Arab.

Berawal pada abad ke-19, warga Arab mulai berdatangan di Magelang dan membentuk suatu komunitas. Mereka menetap di kampung-kampung dan beranak pinak melahirkan para pemimpin di wilayah itu.

Kampung Arab di Magelang, berada di wilayah Tuguran dan sekitarnya. Secara historis, merujuk pada pemukiman yang dihuni oleh komunitas Arab, khususnya keturunan Arab Alawiyyin dan Jawa Basyaiban yang dikenal sebagai pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan keagamaan bagi komunitas tersebut

Dari sanalah lahir Sayyid Alwi Bin Ahmad Basy Syaiban yang kemudian diberi nama gelar Raden Ngabei Danukromo I. Beliau merupakan Bupati Magelang pertama setelah kawasan Kedu dipisahkan dari Kesultanan Yogyakarta pada masa Hamengkubuwana III.

Bermula dari kegagalan Jan Willem Janssens dan pasukan gabungan Belanda-Perancis mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, pada tahun 1811 pulau Jawa jatuh ke dalam kekuasaan Inggris. Pembangunan Jalan Raya Pos dan pabrik-pabrik senjata di Jawa tidak mampu membendung ekspedisi laut terbesar sepanjang sejarah, hingga pecah perang dunia kedua.

Melalui penandatanganan Rekapitulasi Tuntang, maka berakhir sudah pemerintahan Belanda-Perancis di bawah pimpinan Raja Ludewijk Bonaparte yang merupakan adik Napoleon Bonaparte atas Jawa. Sejak saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles bertugas sebagai Gubernur Jendral atas tanah Hindia.

Setahun setelah Inggris berkuasa di tanah Jawa, Yogyakarta dibantu Surakarta melakukan pemberontakan kepada pemerintah Inggris. Pemberontakan ini dibalas Raffles dengan sebuah penyerbuan besar-besaran yang dikenal dengan Geger Sepoy. Yogyakarta mengalami kekalahan akibat harta benda keraton dijarah hingga luluh lantak.

Tidak hanya itu, kekalahan Yogyakarta juga mengakibatkan beberapa wilayahnya harus diserahkan ke tangan Inggris. Pada 1 Agusuts 1812, Dataran Kedu, termasuk Magelang berpindah tangan kepada pemerintahan Raffles.

Penyerahan ini menjadi awal mula perubahan pola struktur pemerintahan Tanah Jawa, khususnya Magelang yang dulunya bercorak feodalistik dengan pengabdian pada Mataram (dalam hal ini Yogyakarta), kini menjadi bagian dari wilayah bawahan kolonial secara langsung

Melihat posisi Magelang yang sangat strategis ditengah-tengah pulau Jawa, Raffles menjadikan Magelang sebagai pusat pemerintahan Karesidenan Kedu. Dia menunjuk seorang resident bernama John Crawfurd untuk membenahi administrasi pemerintahan lokal di karesidenan ini.

Dalam menjalankan tugasnya, Crawfurd mengambil asisten Patih Danurejo III dari Yogyakarta yang bernama Danukromo untuk membantu dalam berurusan dengan pemerintahan lokal dan rakyat setempat. Danukromo I akhirnya diangkat sebagai Bupati Pertama Magelang.

Pada tanggal 30 November 1813 resmi sudah Sayyid Alwi Bin Ahmad Basy Syaiban menjadi Bupati Magelang pertama. Beliau kemudian mendapatkan gelar Raden Ngabei Danukromo I atau Raden Adipati Arya Danuningrat I.

Sebagai Bupati, R. Ng. Danukromo sangat berjasa dalam pembangunan Magelang. Pada awal pemerintahannya, dia membangun infrastruktur utama dan mendirikan sebuah pusat pemerintahan baru. Layaknya kabupaten-kabupaten lain di Jawa, keberadaan Alun-alun, Masjid dan Rumah Bupati adalah komponen penting yang mutlak harus ada dalam sebuah pusat pemerintahan.

Dalam penentuan lokasi pusat pemerintahan barunya ini, Danuningrat I tentunya tidak main-main. Demi menentukan lokasi alun-alun, Danuningrat I berkonsultasi terlebih dahulu kepada gurunya. Menurut petunjuk sang guru, sebuah tanah lapang di antara Desa Gelangan dan Desa Meteseh adalah lokasi yang paling tepat sebagai pusat pemerintahan Bupati Magelang. Selain bertanah lapang, lokasi itu juga sudah ditumbuhi pohon beringin yang membuat tanah ini sangat representatif sebagai alun-alun Kabupaten. Setelah penentuan lokasi alun-alun, maka Danuningrat I mulai mendirikan rumah bupati (regentswoning) disebelah utara alun-alun dan sebuah Masjid Agung (Groote Moskee) di sebelah barat alun-alun.

Raffles yang mengagumi kebudayaan Jawa, mendukung langkah Danuningrat I dalam membuat alun-alun. Di samping sesuai dengan kultural Jawa, juga sejalan dengan pola pembangunan di Kerajaan Inggris pada masanya.

Dalam peradaban Jawa, rumah kediaman penguasa seperti Kraton atau Kadipaten selalu dilengkapi dengan alun-alun yang melambangkan konsep Ketuhanan, atau dalam ruang kosong ada kehidupan yang dilambangkan dengan pohon beringin.

Alun-alun secara kultural Jawa merupakan simbol keluasan titah manusia di dunia di mana unsur Makrokosmos dan mikrokosmos berpadu sebagai sebuah hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta, dan secara horisontal antara manusia dengan alam dan sesamanya.

Setelah Hindia kembali ke Belanda pada tahun 1813, Magelang secara otomatis juga menjadi daerah kolonial Belanda. Sejak itu, Belanda mulai mengembangkan Magelang menjadi kota yang maju dengan mendirikan sejumlah gedung di sekitar alun-alun tersebut, seperti GPIB (1817), Klenteng Liong Hok Bio (1864), Gereja Santo Ignatius (1865), Middelbare Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (1878), Kantor Pos (1845), Menara Air (1920), dan lain-lain. Dari sinilah pembangunan berbagai infrastruktur terus berkembang pesat pada masanya.

Saat terjadi Perang Diponegoro pada tahun 1825, Danukromo I terlibat perang besar melawan Pasukan Diponegoro. Dalam peristiwa itu, dia meninggal dunia pada 28 September 1825.

Untuk mengatasi kekosongan kekuasaan, pemerintah Belanda mengangkat putra Danuningrat I, yaitu Hamdani bin Alwi Basy Syaiban menjadi Bupati Magelang dengan gelar RAA Danuningrat II. Setelah 36 tahun memegang tahta, akhirnya Hamdani melepas jabatannya.

Kemudian, tahta dilanjutkan oleh Danuningrat III. Namun, dia pun melepas jabatannya pada tahun 1878. Lalu Belanda mengangkat putra Danuningrat III yaitu Sayid Achmad bin Said Basy Syaiban sebagai bupati dengan gelar Danukusumo.

Namun, pada tahun 1908, Danukusumo juga melepas jabatannya dan digantikan oleh saudaranya, yaitu Muhammad bin Said Basy Syaiban dengan gelar RAA Tumenggung Danusugondo yang memerintah hingga tahun 1939. Inilah keturunan terakhir dari trah Danuningrat yang menjadi Bupati Magelang.

Dengan menjaga identitas Arab-nya, trah ini membuat kampung di Samban. Hal tersebut diungkap pula oleh seorang warga Samban, konon nama tempat yang ditinggali dulu lebih dikenal dengan nama Kampung Sayid, bukan Kampung Arab.

Kini, bekas Kampung Arab itu hampir hilang tak bersisa. Hanya cerita-cerita masyarakat setempat bahwa dulu di daerahnya pernah bermukim orang-orang Arab..

Dari sebuah arsip di tahun 1935, di Kampung Samban dulu ada sebuah tempat bernama Danudirjan. Diduga nama itu ada hubungannya dengan sosok Danukromo atau trah Danuningrat. Namun, seiring waktu, orang-orang Arab ini akhirnya tinggal berpindah-pindah mulai dari Kampung Kauman, Kampung Poncol, Kampung Badaan, dan Tuguran.

Komunitas Arab juga memiliki pemakaman khusus di daerah Payaman, Magelang yang dulunya merupakan tanah pemberian Pemerintah Belanda terhadap Danuningrat I dan juga Danusugondo atas jasa-jasanya selama menjadi Bupati Magelang.

Menurut cacatan sejarah, di tanah tersebut di dirikan Masjid Agung Payaman oleh kiai kharismatik yang kesohor kewalianya, yaitu Mbah Kiai Siradj atau Romo Agung. Hingga saat ini banyak yang datang untuk ziarah di maKam yang berada di belakang masjid yang merupakan makam Danuningrat I, Bupati kadipaten Magelang pertama dan makam sang pendiri masjid, Mbah Siradj.


Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Bab 13. Serangan (Part 1)

Bab 13. Serangan (Part 1)

Pintu

Pintu

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Menjadi Penulis: 6 Aturan untuk Sukses dalam Menulis

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 45

Antologi KompaK’O

Random image