“Jadi, Lexi, apakah aku akhirnya bisa melihat benda-benda ajaib yang keren?” tanya Adam ketika kami melangkah ke kamar tidur masa kecilku, masing-masing membawa kotak kardus besar yang kosong.
“Kemungkinannya begitu,” aku meyakinkannya. “Kecuali Ibu sudah membawanya ke panti wredha, semuanya masih di sini.”
“Aku tidak mengerti kenapa kamu tidak membawanya ke kampus. Kalau aku pasti akan membawanya.”
“Bicaramu seperti orang yang keluarganya tidak punya pusaka ajaib. Apa pun yang kita temukan, tidak akan kubawa ke apartemen baru. Lebih baik aku buang saja.”
Kami melempar kotak-kotak itu ke tempat tidur lamaku, lalu menuju rak buku untuk mulai memilah. Buku pelajaran kuliah, biografi boy band Korea, dan buku seri remaja paperback masuk ke tumpukan barang buangan. Beberapa album foto dan kumpulan puisi masuk ke tumpukan untuk disimpan.
“Oh, ini dia,” kataku, sambil mengangkat tabung perak yang tadinya berfungsi sebagai penyangga buku.
“Contoh sempurna ide sihir yang buruk. Seperti kaleidoskop, tapi memutar ulang mimpi terakhirmu.”
Aku melemparkannya ke tempat tidur agar Adam mengambilnya.
“Bukan mimpi terakhir yang kamu ingat,” aku menekankan. “Tapi mimpi terakhirmu. Jadi, kalau kamu lupa mimpi buruk, kau bisa menghidupkannya kembali.”
“Wah, bahaya kalau begitu,” kata Adam sambil menjauhkan tabung dari tubuhnya. Tapi, setelah beberapa saat, dia menuruti rasa ingin tahunya dan mengintip ke dalamnya.
“Wah!” katanya. “Ini mimpi yang kuceritakan padamu, mimpi terbang!”
Ia menggeser tubuhnya ke kiri dan ke kanan dan aku tahu dia merasakan sensasi terangkat dari tanah, persis seperti yang dia rasakan saat tidur. Seandainya saja semua pertemuan dengan benda-benda sihir begitu menyenangkan.
Setelah selesai membereskan buku-buku, aku melangkah ke lemari dan mulai mengeluarkan barang-barang acak yang tersimpan di laci.
“Ini satu lagi untukmu,” kataku pada Adam, sambil menyerahkan sepasang kacamata hitam. “Aku akan membiarkanmu memakainya sebelum kuberitahu fungsinya.”
Adam dengan bersemangat menjepitkan kacamata itu ke hidungnya, lalu memekik kaget. “Rasanya seperti berjalan di langit-langit!”
“Barang yang sangat praktis lagi.” Aku mendesah. “Kita tidak pernah tahu kapan kita akan melihat dunia terbalik.”
Adam melepas kacamata itu dan, sambil mengitari sisi tempat tidur, mengembalikannya kepadaku. “Yah, menurutku kacamata itu keren.” Dia mendekat dan mulai mengobrak-abrik laci bersamaku.
“Apakah ini ikat rambut ajaib?” tanyanya, sambil mengangkat segenggam karet gelang warna-warni.
Aku menggelengkan kepala. “Tidak, begitu pula lip gloss yang setengah terpakai atau botol losion yang bocor.”
Aku berbalik mencari kantong sampah untuk itu, dan ketika aku menoleh ke Adam, ia sedang mengambil bedak kecil berwarna biru kehijauan dengan pinggiran merah muda. Ketika aku mengenali cermin itu, udara tercekat di paru-paruku.
“Jangan!”
Serangkaian momen berkelebat dalam ingatanku. Pertama, aku sedang berdansa di pesta prom dengan teman kencanku yang tampan bermata zamrud. Lalu aku berjalan melewati pintu depan pukul dua pagi, yakin telah menemukan belahan jiwaku. Lalu jari-jariku membuka cermin, ingin sekali memastikan perasaan terdalamku, tetapi yang kulihat justru mata cokelat orang asing, dan semuanya hancur.
Panik membuncah di dadaku dan aku melompat ke arah Adam, tetapi dia hanya tertawa seolah aku sedang bermain-main. Aku suka tawanya, tetapi aku tak bisa membiarkannya mengalihkan perhatianku. Apa pun yang terjadi, aku tak akan menggunakan bedak itu. Tak akan pernah lagi. Itulah sumpahku. Aku sama sekali tak ingin tahu seperti apa remaja bermata cokelat itu nanti.
Ya, Adam memang bermata cokelat, tetapi begitu pula jutaan orang lainnya.
“Santai saja,” katanya. “Aku yakin aku bisa menangani apa pun yang dilakukan cermin kecil ini. Apakah ini menunjukkan momen paling memalukanku atau semacamnya?”
“Lebih buruk lagi,” desahku, berkeringat sekarang, semakin khawatir setiap detiknya. Aku tak tahan Adam membuka kotak itu dan melihat wajah wanita lain. Aku tak mau mengalami ini lagi.
Waktu terasa melambat seperti merangkak. Adam, yang lebih beruntung karena badannya lebih berat beberapa kilogram dan beberapa sentimeter lebih tinggi, menjauhkan cermin itu dariku. Jari-jarinya yang besar dan kokoh membuka kotak plastik itu dan matanya tertuju pada kacanya. Air mataku mengancam pecah ketika Adam mengangkat pandangannya untuk bertemu denganku.
Dia terdiam sejenak, menatapku, lalu kembali ke cermin, lalu kembali menatapku.
“Aku tidak mengerti,” katanya akhirnya. “Cermin ini hanya menunjukkan wajahmu.”
Terharu, aku terisak, lalu menerjang Adam sekuat tenaga. Aku melingkarkan lenganku di lehernya, memeluknya seerat mungkin, dan menciumnya.
Saat kami menjauh sedikit untuk menghirup udara, dia berkata, “Wow. Itu sungguh ajaib.”
“Kamu tak tahu apa-apa,” kataku, lalu mencondongkan tubuh sekali lagi untuk mencium pria yang, bagaimanapun juga, memang ditakdirkan untukku.
Bekasi, 5 Agustus 2025










