Beranda / Topik / Wisata / 2. Ancol Bligo, Selokan Mataram dan Sejarahnya.

2. Ancol Bligo, Selokan Mataram dan Sejarahnya.

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 3 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Setelah berkendara hampir satu jam, aku melewati jalan alternatif Nanggulan-Borobudur, sekitar 11,6 km dari candi Budha terbesar di Indonesia, aku membelokkan mobil menuju wisata bendungan yang cukup populer. Dikenal dengan nama Bendungan Ancol Bligo karena sabagian kawasan tersebut berada di desa Bligo, Kecamantan Ngluwar, termasuk wilayah Kabupaten Magelang.

“Très belle ville,” puji Elaine.

“Magelang est entouré de nombreuses belles montagnes,” jawabku saat mobil memasuki area parkir. Aku mengedarkan pandangan mencari tempat kosong untuk memarkirkan mobil.

“J’adore les paysages naturels.” Elaine menatap takjub pada bendungan sungai yang di atasnya terdapat jembatan penghubung dua provinsi, yaitu Jawa Tengan dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kini semakin cantik dan menarik setelah dilakukan revitalisasi.

“Dikenal sebagai Kota Sejuta Bunga, Magelang memiliki berbagai daya tarik wisata yang meliputi alam, budaya, dan sejarah,” ujarku menjelaskan.

“Wah, aku tak sabar mengunjungi tempat-tempat yang Maman sebutkan.”

“Tentu saja, kita akan memulai perjalanan dari sini,” jawabku sambil menuju loket tiket masuk.

“Terdengar menarik.” Elaine bertepuk pelan, matanya berbinar tak sabar.

“Beberapa daya tarik utama di Magelang  adalah Candi Borobudur, Punthuk Setumbu, Gereja Ayam Bukit Rhema, Bukit Menoreh, dan Manohara Sunrise yang terkenal dengan pemandangan matahari terbitnya. Ada juga Nepal Van Java, dan Ketep Pass yang juara dalam spot pegunungan,” lanjutku menjelaskan. Elaine manggut-manggut sambil terus mengamati sekeliling.

“Selain itu, Magelang juga terkenal dengan kuliner khasnya seperti Mangut Beong, Sop Senerek, Kupat Tahu, dan berbagai makanan berbahan baku lokal lainnya.”

“Aku mendadak lapar.”

Aku menggandeng tangan Elaine menuju food court, memilih salah satu gerai yang tidak terlalu ramai. Namun, gadis itu terlihat bingung dengan menu yang kusodorkan.

“Aku mau ini,” ujarnya sambil menunjuk salah satu gambar. Aku mengangguk dan segera menuju gerai yang menyediakan makanan yang dipilih Elaine.

“Dulu tempat ini adalah bantaran sungai yang berada di wilayah Desa Bligo, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang, berbatasan dengan wilayah Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo.” Aku menjelaskan.

“Lalu disulap menjadi taman yang indah dan menarik,” sela Elaine menebak.

“Benar. Dengan tetap memberikan sentuhan tradisional melalui gapura yang berbentuk stupa Candi Borobudur sebagai identitas khas Magelang, Ancol Bligo akhirnya menjadi tempat wisata alam yang di dalamnya juga terdapat area taman bergaya modern, jogging track, gazebo, panggung pertunjukan, spot photo, mushola, spot duduk, juga kedai kuliner.” Aku mengarahkan pandangan pada sekelompok anak muda yang sibuk berphoto di dekat bangunan gapura pintu masuk yang identik seperti bangunan candi, memberikan kesan indah dan artistik.

“Cuaca sangat panas, tapi sejuk,” ujar Elaine lagi.

“Yup. Memasuki  kawasan Ancol Bligo terasa sejuk dan syahdu oleh suara gemuruh air sungai Progo yang mengalir deras,” jawabku sambil menunjuk pemandangan alam yang menarik dengan latar belakang perbukitan Menoreh yang hijau.

“Tempat ini memiliki potensi yang bagus.” Elaine berkomentar.

“Itulah mengapa dilakukan revitalisasi untuk mempercantik kawasan ini. Namun, meski wisata Bendungan Ancol Bligo saat ini sudah semakin ramai dikunjungi wisatawan dan masyarakat sekitar, tapi belum banyak yang mengetahui sejarah, bahwa bendungan bersejarah ini terkait dengan Selokan Mataram dan merupakan titik 0 yang menjadi saksi bisu perjalanan panjang dan jejak sejarah yang mengalir hingga kini,” paparku panjang lebar.

“Bisakah Mere ceritakan sejarahnya?” pinta Elaine.

“Bendungan Ancol Bligo merupakan salah satu bendung tertua di Indonesia, karena telah dibangun pada tahun 1909. Terletak tidak jauh dari makam Nyi Ageng Serang dan kebun buah naga milik warga. Konon dahulu tidak hanya memiliki fungsi penting sebagai tulang punggung sitem irigasi yang mengairi persawahan di Yogyakarta, tapi Ancol Bligo dan Selokan Mataram juga menyimpan sejarah yang mencatat bahwa, Bendungan Ancol dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk mengairi kebun-kebun tebu yang tersebar di Sleman dan Bantul melalui Selokan Van der Wijck. Kemudian pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, tepatnya pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, Jepang menggalakkan romusha di Indonesia untuk mengeksploitasi sumber daya alam maupun untuk membangun sarana dan prasarana guna mendukung upaya perang Jepang melawan Sekutu di Pasifik.”

“Aku tidak mengerti,” sela Elaine.

“Nanti aku akan menuliskannya menjadi sebuah buku tentang perjalanan eksplorasi di Magelang,” jawabku.

“Wah, pasti bagus. Aku mengagumi tulisan-tulisan Mere, bahkan Pere selalu memujinya.”

“Benarkah? Kita bahas nanti. Kita lanjutkan dulu cerita bendungan.”

“Menurut cerita Mere, Jepang menggalakkan romusha di Indonesia. Apakah itu terjadi saat Jepang menjajah Indonesia?”

“Tentu saja. Lalu Sri Sultan meminta agar penduduk Yogyakarta tidak dikerahkan dalam romusha, tetapi cukup dikerahkan untuk membangun sebuah kanal irigasi guna menghubungkan Sungai Progo dengan Sungai Opak yang kemudian dikenal dengan nama Kanal Yoshiro. Kanal tersebut kini dikenal dengan nama Selokan Mataram dan menjadi salah satu dari tiga saluran irigasi primer di daerah Irigasi Karangtalun hingga manfaatnya dapat dirasakan sampai sekarang.”

“Dan akhirnya bendungan ini menjadi tempat wisata?” Elaine menandaskan.

“Benar. Seiring berjalannya waktu sejumlah warga sering melepas waktu sore dengan memancing di atas Bendungan Ancol Bligo.  Kawasan ini akhirnya  tidak sekadar menjadi pusat pengairan untuk pertanian di sepanjang Sungai Progo, tetapi juga menjadi kawasan rekreasi bagi warga sekitar untuk menikmati keindahan alamnya, menjadikan kawasan ini sebagai salah satu objek photografi.”

“Lalu dilakukan revitalisasi?”

“Pada tahun 2024 kawasan Bendungan Ancol dilakukan revitalisasi oleh Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Serayu. Dan kini bendungan Ancol Bligo menjadi destinasi wisata gratis bagi masyarakat dan semakin ramai dikunjungi wisatawan baik domestik maupun internasional,  terutama anak-anak sekolah dan masyarakat.”

Makanan yang dipesan datang, Elaine menatap bingung pada hidangan yang tersaji.

“Itu namanya kupat tahu,” aku menjelaskan.

Elaine memasukkan potongan kupat ke dalam mulutnya, sejenak kemudian keningnya berkerut heran, “Rasanya seperti nasi, tapi padat?”

“Kupat tahu adalah makanan tradisional yang berbahan dasar ketupat, tahu, kol, dan tauge yang telah digoreng, dicampur dengan bumbu kacang dan kecap. Sedangkan kupat atau ketupat dibuat dari bahan dasar beras yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda, atau ada juga yang menggunakan daun palma. Ketupat merupakan makanan khas dari Pulau Jawa.” Aku menutup penjelasan dengan mata membelalak. Sepiring kupat tahu di hadapan Elaine telah tandas tak bersisa. Gadis itu hanya nyengir sambil mengacungkan ibu jari. 

Astaga ….

***

Note :

Très belle ville = Kota yang sangat indah

Magelang est entouré de nombreuses belles montagnes = Magelang dikelilingi banyak gunung yang indah

J’adore les paysages naturels = Aku menyukai pemandangan alamnya.

The Hidden Site of Tuin van Java

. Une Surprise de France . Permata di Lereng Merapi

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *