Ben menggeleng kuat. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke mata Ki Plenyun. Ketegasan yang datang dari kelelahan tiga bulan melawan takdir.
“Tidak, Ki,” tolak Ben, suaranya lebih tegas dari yang ia kira. “Kita tidak butuh persembahan. Kita tidak butuh ramalan tandingan. Kita harus membunuh ceritanya, Ki.”
Plenyun berhenti mengukir. Tubuhnya menegang, uap klobotnya seperti membeku di udara. Ia menoleh perlahan, matanya yang tadi dingin kini dipenuhi kebingungan murni.
“Membunuh cerita? Bicara apa kau, bocah? Ini takdir, bukan novel busuk yang bisa kau robek halamannya.”
“Bukan, Ki! Ki Plenyun sendiri bilang, Jempol Setan itu virus, kiambang. Semua cerita punya awal, dan awal Jempol Setan adalah kisah duka pemuda yang kehilangan ibu jarinya,” ujar Ben bersemangat. Ia menceritakan ulang Hikayat Keluarga Jari versi hoax itu dengan gestur tangan yang dramatis, seolah semua jarinya memang benar-benar bergerak dan memiliki kehendak.
“Justru cerita hoax tadi adalah senjatanya, Ki!” Suara Ben ngotot. Sekilas, ia teringat semua hoax di kampung halamannya yang justru menjadi fondasi kenyataan—dari pemilihan Kepala Kampung hingga sejarah terbentuknya perkampungan itu.
Ben mendongak. “Lihat, Ki! Dalam kisah aslinya, jempol itu kembali sebagai monster yang menakutkan. Tapi bagaimana kalau semua jari itu sudah punya takdir baru? Takdir yang terlalu sibuk—berpolitik, berbisnis, scrolling TikTok—untuk peduli pada si jempol?”
Ben menahan napas. “Jempol Setan itu akan kehilangan kekuatannya! Dia hanya akan menjadi jempol yang ditinggalkan, bukan jempol yang dikutuk!”
Ki Plenyun terdiam. Tangan yang tadi mengukir kini terkulai. Ia menatap Ben, bukan lagi dengan rasa konyol, tapi dengan kekaguman yang melampaui waktu. Jari-jarinya gemetar, seolah otaknya tengah merangkai ulang miliaran garis waktu yang baru saja ditantang.
“Astaga. Aku sudah melihat waktu terlipat, dimensi pecah, dan masa depan terbalik. Tapi ini….” Plenyun menyeringai lebar, menunjukkan giginya yang tajam. Tawa yang keluar bukan lagi tawa pelawak, tapi tawa seorang dewa chaos yang baru saja menyaksikan bentuk kekacauan yang paling murni: kekacauan narasi.
“Kau benar, Ben. Aku datang ke jaman ini untuk mengajarkan cara mengecoh waktu, tapi rupanya kau adalah penulis yang lebih gila dariku. Kau tak hanya ingin menggagalkan ramalan, kau ingin mengganti fondasi Takdir dengan Fiksi. Kau ingin merobek naskah kosmik dan menempelkan cerita fan-fiction sendiri. Ide yang gila. Benar-benar gila. Tapi aku menyukai kekacauan ini!”
Ki Plenyun tiba-tiba tersentak, seperti baru saja terbangun dari trans eksistensial.
“Begitulah Hikayat Keluarga Jari yang pernah aku dengar dari cersil usil menyentil, murni dari tangan pertama pengarangnya, yang konon bernama Ahmad Maulana S,” ucap Ki Plenyun, mengklaim narasi Ben seolah itu pengetahuan lamanya. Ia kembali ke mode otoritasnya. Suaranya seakan mengandung gemuruh dari jaman yang tak terhitung.
Ben tercengang. Ia sempat melihat keraguan berkelebat cepat di mata Ki Plenyun saat menyebut nama pengarang itu—seolah ia benar-benar berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kisah tersebut memang sudah sejak lama diketahuinya. Ini adalah duel narasi pertama mereka, dan Ben menang—tetapi ia harus membiarkan gurunya mengambil kredit.
Ben yang akhirnya menyadari permainan itu, segera berpura-pura larut dalam “sejarah” yang baru saja ia ciptakan, dan bertindak seakan penuh ketertarikan.
“Bagaimana dengan kisah si ibu jari biang kerok tersebut, Ki?” tanya Ben pura-pura.
“Ibu jari? Ah, iya! Jempol itu,” kata Ki Plenyun, menggosok dagunya. Ia kini berbicara dengan otoritas seorang guru yang menceritakan kembali legenda kuno, meski legendanya baru saja diciptakan dua menit yang lalu oleh muridnya sendiri. “Jempol itu, Ben, tidak pernah kembali dengan tuah jahat. Karena semua saudaranya sibuk dengan takdir manusiawi mereka, si Jempol merasa dikhianati dan kesepian. Ia memilih untuk… menjadi cerita yang terlupakan.”
Ki Plenyun menyeringai, bangga akan revisi narasi yang baru ia “ingat”. Ia kemudian berbalik ke dinding yang baru diukirnya dan meludahkan cairan merah kental ke atas simbol yang sudah dibuat.
“Maka, di Garis Waktu tempat Jempol Setan lahir, kita tidak perlu membunuh monster. Kita hanya perlu meyakinkan pemuda itu bahwa kisah yang benar adalah kisah yang barusan. Itu akan membuat Jempol Setan menghilang karena tak punya lagi alur untuk diikuti. Ayo, Ben. Waktu tidak menunggu bagi penulis yang malas!”
***
Ki Plenyun berbalik, berjalan menuju sudut ruangan yang gelap, tempat sebuah Jam Kayu Busuk setinggi manusia berdiri. Jam itu tidak memiliki jarum, hanya sebuah lubang melingkar yang gelap pekat di tengahnya, seperti mata yang buta terhadap waktu.
“Untuk perjalanan waktu naratif seperti ini, kita tidak butuh mantra, Ben. Kita butuh fokus cerita,” ucap Plenyun, suaranya kembali ke nada serius yang mematikan. “Aku harus memproyeksikan diriku ke momen di mana pemuda itu masih memiliki jempolnya—sebelum ia kehilangan, sebelum mimpi buruk itu terjadi.”
Plenyun menyentuh lubang di jam itu. Udara di sekitarnya mendesis dingin.
“Aku harus ingat cerita aslinya dengan jelas,” gumam Ki Plenyun, matanya terpejam. “Pemuda kehilangan jempol. Jempol kembali sebagai monster. Jari-jari lain ketakutan dan membantunya… Tunggu.”
Ia membuka matanya cepat-cepat, menoleh ke Ben. Wajahnya dipenuhi keraguan yang menusuk—seperti seorang aktor yang lupa naskah lamanya.
“Ben, kau yakin… kau yakin jari-jari lain tidak meninggalkan si pemuda karena takut pada jempolnya yang hilang?”
Ben, yang berdiri tak jauh, dengan santai memungut remahan tembakau klobot di lantai. Ia tahu ini adalah momen krusial untuk menanamkan fiksi barunya. Ia berakting sebagai murid yang tengah mencoba mengingat detail cerita lama.
“Ah, saya kurang ingat detailnya, Ki. Tapi, kalau saya tidak salah dengar dari cerita Ki Plenyun yang tadi, bukannya jari-jari itu sudah punya jalan sendiri-sendiri, ya? Masing-masing lari karena terkejut oleh teriakan ‘Dor!’ dari ibu jari yang hilang? Lalu Telunjuk jadi politikus, Tengah ke Amerika…”
Plenyun mengerutkan keningnya, matanya berkedip-kedip seolah otaknya tengah mengalami korsleting waktu—narasi Ben sedang memakan memorinya. Ia menyentuh kepalanya, jelas sekali narasi fan-fiction itu mulai menggerus memori aslinya.
“Tentu saja! Aku sendiri yang menceritakan itu! Jari-jari itu lari bukan karena takut, tapi karena cita-cita yang baru saja mereka sadari saat terkejut!” Ki Plenyun terkekeh keras, tawa yang kini terdengar sedikit panik. “Jari manis ingin kawin, kelingking ingin jadi yakuza, telunjuk ingin menyalahkan orang! Aneh… kenapa aku hampir lupa Hikayat Keluarga Jari yang legendaris itu…”
Ben mengangguk penuh hormat. “Mungkin karena Ki Plenyun terlalu sering melintasi waktu, jadi beberapa detail narasi suka tercampur. Ingatan Ki Plenyun adalah Lubang Hitam Ingatan itu sendiri.”
“Benar! Aku ini penjelajah waktu, bukan perpustakaan berjalan!” seru Plenyun, kembali mendapatkan kepercayaan dirinya yang gila. Ia menatap Ben dengan tatapan yang kembali tajam, namun kali ini ada pengakuan di dalamnya.
“Bagus, Ben. Kau mengingatkanku pada intinya. Kita tidak hanya melompat jaman, kita melompat ke babak awal kisah.”
Ki Plenyun kembali menyentuh lubang gelap di Jam Kayu Busuk itu.
“Kita akan ke tahun saat jempol pemuda itu hilang. Kita akan menemukan si pemuda—si ‘Tangan Pertama Pengarang’ dari Teror Jempol Setan—dan kita akan memaksanya memimpikan ulang kisah ‘Keluarga Jari’ versi yang lebih seru itu.”
Ki Plenyun menyeringai. Udara di lubang jam mulai bergetar, berubah menjadi pusaran asap ungu yang berbau seperti buku tua yang terbakar.
“Cepat, Ben. Masuk!”
Ben menelan ludah. Ini adalah lompatan waktu pertamanya, dan ia tahu ini akan menjadi neraka. Ia tidak lagi melarikan diri, ia justru berlari ke dalam kekacauan. Ia melangkah ragu ke lubang Jam Kayu Busuk itu.
Saat pusaran ungu menyedotnya, rasanya bukan seperti jatuh, melainkan seperti dihapus. Memorinya tentang Rumah Geribik, Ki Plenyun, dan motor usangnya berkelebat liar, berubah menjadi teks-teks tanpa makna. Ia bukan sekadar melewati ruang; ia sedang melewati naskah yang ditulis ulang.
“Kau harus percaya pada fiksi buatanmu sendiri, Ben!” Tawa Ki Plenyun yang gila dan menggema adalah hal terakhir yang didengar Ben sebelum kesadarannya ditarik masuk ke dalam Lubang Hitam Ingatan (Bersambung ….)
***











