Home / Genre / Fiksi Sejarah / 3. Candi Mendut, Bangunan Suci di Hutan Bambu

3. Candi Mendut, Bangunan Suci di Hutan Bambu

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 4 of 33 in the series Ananta Kama

Tujuan setelah Candi Borobudur adalah Candi Mendut. Bagi wisatawan baik asing maupun domestik, berkunjung ke Borobudur tidak akan lengkap bila tidak berkunjung ke candi yang awalnya berfungsi sebagai tempat peribadatan umat Buddha ini. Candi ini kini telah berfungsi sebagai destinasi wisata bersejarah dengan harga tiket masuk yang sangat terjangkau. 

“Mbak Tantri ikut, yah,” pinta Puji. Aku mengedikkan bahu, berniat menolak. Tapi melihat Puji yang kerepotan mengawal rombongan dengan dua bus besar itu, aku jadi tak tega. Lumayanlah setidaknya bisa menambah ilmu dan wawasan.

Rombongan akhirnya tiba di desa Mendut yang berjarak sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Setelah membeli tiket masuk, Puji mengarahkan  rombongan mulai dari tingkatan paling bawah.

Puji menjelaskan bahwa seorang arkeologi Belanda, J.G. de Casparis, menghubungkan candi  Mendut dengan Raja Indra dari wangsa Syailendra. Hal tersebut berdasarkan isi Prasasti Tengah yang berangka 824M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga yang menyebutkan bahwa Raja Indra, telah mendirikan bangunan suci bernama çrimad venuvana yang berarti bangunan suci di hutan bambu.

Namun, sayangnya Candi ini terabaikan bersamaan dengan keruntuhan Kerajaaan Mataran Kuno, tertimbun tanah dan pasir akibat letusan Gunung Merapi.

Barulah pada tahun 1836 candi ini ditemukan kembali dalam keadaan runtuh tertimbun tanah dan ditumbuhi semak belukar. Setelah penemuan tersebut candi mulai dibersihkan dan akhirnya seluruh bangunan Candi Mendut diketemukan kecuali bagian atapnya. Kemudian pada tahun 1897-1904 oleh Belanda dilakukan usaha penggalian, pemugaran dan perbaikan untuk pertama kalinya hingga bangunan bagian kaki dan tubuh candi bisa berdiri kembali

Kemudian T.Van Erp melanjutkan perbaikan Candi Mendut bersamaan dengan perbaikan Borobudur pada tahun 1908, tapi perbaikan tersebut tidak dapat diselesaikan bagian atapnya. Perbaikan selanjutnya menghasilkan bbeerapa stupa kecil dapat dipasangkan kembali pada atap candi pada 1925.

Meskipun tidak ada pembatasan jumlah maksimal untuk naik ke atas seperti pada Candi Borobudur, tapi karena ukuran bangunan yang lebih kecil, maka Puji tetap membagi rombongan menjadi dua. Kali ini bergantian,  rombongan yang bersamaku naik lebih dulu. Sambil menunggu Puji membawa rombongannya berkeliling ke sekitar area candi yang menjual aneka batik dan souvernir hasil kerajinan tangan seperti tas, sepatu, juga alat-alat rumah tangga lainnya

Aku memulai dengan mengajak rombongan mengelilingi bagian kaki. Menjelaskan setiap detail candi yang terbuat dari batu andesit pada bagian luar dan bata pada bagian dalam bangunan ini menghadap ke barat laut, berlawanan dengan Candi Borobudur yang menghadap ke Timur. Secara arsitektural bangunan candi dibagi menjadi 3 bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap. Berbentuk persegi panjang, dengan tinggi batur atau bagian kaki candi setinggi 3,7 meter dan terdapat tangga masuk yang terdiri dari 14 anak tangga.

Pada pangkal pipi tangga dihiasi bentuk kepala naga berbelalai gajah yang mulutnya sedang terbuka lebar atau yang biasa disebut Makara. berjumlah 2 buah atau sepasang. Di dalam mulut naga terdapat seekor singa. Sedangkan di bawah kepala naga terdapat panil berbentuk makhluk kerdil yang disebut sebagai Gana.

Di sepanjang dinding luar langkan yang mengelilingi candi juga terdapat Jaladwara, yaitu pancuran air yang digunakan di bangunan candi dan petirtaan atau tempat pemandian suci pada masa lalu. Fungsinya untuk mengalirkan air hujan dari bangunan. Jaladwara di Candi Mendut ini bentuknya  lebih ramping dan lebih kecil dibandingkan dengan yang ditemukan di beberapa candi lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Dinding pipi tangga dihiasi dengan beberapa panil berpahat yang menggambarkan berbagai cerita yang mengandung ajaran Buddha berupa relief-relief cerita Pañcatantra dan Jataka.

Pañcatantra adalah sebuah karya sastra dunia yang berasal dari Kashmir, India, mengisahkan seorang brahmana bernama Wisnusarma, guru ketiga pangeran putra Prabu Amarasakti. Beliau mengajarkan  tentang kebijaksanaan dan kehidupan duniawi yang pada masa sekarang disebut ilmu politik atau ilmu ketatanegaraan, yang terdiri atas lima ajaran.

Sementara Jataka sendiri berisi cerita tentang hewan atau  fabel atau hewan yang sarat dengan pesan moral yang dapat dilihat secara pradksina atau searah jarum jam. Sebagai contohnya adalah kisah dua burung Betet yang menceritakan perbedaan perilaku dua ekor burung Betet bersaudara karena yang satu dididik oleh pendeta dan yang satu lagi oleh penyamun.

Kemudian Brahmana dan Kepiting yang mengisahkan seorang brahmana yang diselamatkan oleh seekor kepiting yang kemudian membalas Budi. Lalu ada cerita angsa dan kura-kura yang menggambarkan kura-kura yang jatuh karena terkejut setelah melepaskan gigitannya saat diterbangkan angsa. Juga Dharmabuddhi dan Dustabuddhi: Bercerita tentang dua sahabat dengan sifat yang berbeda, di mana Dustabuddhi yang tercela akhirnya dihukum.

Selain itu ada juga Relief Dewa dan Dewi seperti Dewi Hariti dan Kuwera, pasangan raksasa yang bertobat dan kemudian menjadi pelindung anak-anak. Dewi Hariti digambarkan duduk dikelilingi anak-anak dan di bawahnya ada kendi-kendi berisi uang, menunjukkan perannya sebagai dewi pelindung anak.

Ada juga relief Dewi Tara, dengan delapan tangan, memegang berbagai benda seperti wajra, tasbih, tiram, tongkat, kapak, cakra, cawan, dan kitab.

Kemudian Bodhisattva Sarwaniwaranawiskhambi yaitu relief yang menggambarkan sosok Bodhisattva mengenakan pakaian kebesaran kerajaan.

Dari semua relief yang paling menarik adalah Relief Bodhisattva Avalokiteswara, yaitu penggambaran  Buddha duduk di atas padmasana atau singgasana bunga teratai. Di depannya terdapat kolam yang melambangkan air mata Buddha yang memikirkan penderitaan umatnya. Serta relief Bodhisattva yang merupakan  penggambaran Buddha dengan empat tangan, memancarkan cahaya dari kepala, dengan satu tangan memegang kitab dan satu lagi memegang tasbih, mengenakan pakaian kebesaran raja.

Di bagian atas Candi Mendut terdapat sebuah bilik. Ketika masuk ke dalam bilik candi, bisa ditemukan tiga arca Buddha yaitu Arca Cakyamuni yang paling tengah dengan posisi duduk bersila bersikap sedang melakukan khotbah, didampingi Arca Avalokitesvara sebagai bodhisattva penolong manusia, dan Arca Maitreya sebagai Bodhisatva pembebas manusia kelak di kemudian hari.

Pada bagian atap Candi Mendut terdapat 48  stupa-stupa yang terdiri dari 24 buah pada tingkat pertama, 16 buah pada tingkat kedua, dan 8 buah pada bagian paling atas.

 “Katamu Candi Mendut adalah candi Buddha. Apakah candi Mendut juga digunakan untuk peringatan Waisak?” Pertanyaan Zack sangat tepat mewakili rasa ingin tahu anggota rombongan yang lainnya.

“Tentu saja. Bahkan Candi Mendut menjadi titik awal kirab yang merupakan bagian dari perayaan Waisak yang sakral dan khidmat menuju Candi Borobudur,” jawabku. Zack terlihat masih menyimpan rasa ingin tahu.

“Sebelum kirab, para biksu melakukan tradisi Pindapata, ritual di mana umat memberikan sedekah kepada para biksu yang berjalan kaki  di sekitar Candi Mendut. Lalu para Biksu melakukan kirab dari Candi Mendut, menuju   Candi Pawon, dan berakhir di Candi Borobudur sebagai lambang perjalanan spiritual menuju pencerahan. Ketiga candi Buddha ini dipercaya memiliki keterkaitan satu sama lain, baik secara ritual maupun simbolis karena ada garis lurus imajiner yang menghubungkan ketiga candi ini membentang dari utara ke selatan sejauh 3 km,” lanjut penjelasanku.

“Dalam perjalanan menuju Magelang, basanya para Biksu akan mengambil air suci yang diambil dari Umbul Jumprit, Parakan, Temanggung. Setelah tiba di Candi Mendut air yang disimpan dalam 22 kendi tersebut akan diserahkan kepada biksu sangha dan diletakkan di altar utama. Setelah itu biksu sangha dari beberapa majelis mendoakan air berkah tersebut bersama ratusan umat Buddha di sekitar candi.”

“Lalu air itu untuk apa?” cecar Zack.

“Masih banyak urutan ritual,” jawabuku sedikit kesal karena laki-laki ini tak sabaran. Zack mengatupkan kedua tangan sebagai isyarat minta maaf, mungkin menyadari ketidaksabarannya.

“Selain air suci, ada juga api dharma yang diambil dari Mrapen, Grobogan yang juga disakralkan dan disemayamkan di altar candi sebagai lambang pencerahan.  Setelah berdoa, umat  melakukan pradaksina, ritual berjalan mengelilingi objek suci searah jarum jam sebanyak 3 kali.”

“Mengapa pengambilan air tidak dari mata air sekitar sini saja?” tanya Zack.

“Para Bhante atau guru menganggap air dari Umbul Jumprit sebagai air suci. Adapun makna dari dari pengambilan air Bhante Wongsin Labhiko Mahathera mengatakan bahwa, tanpa air manusia tidak bisa hidup di dunia ini. Demikian juga dengan api, keduanya adalah elemen yang sangat penting,” pungkasku sebelum mengajak rombongan kembali turun.

Dalam perjalanan turun, aku menambahkan penjelasan bahwa air yang didoakan menjadi air berkah yang dapat membersihkan batin. Karena air diibaratkan hal yang dingin, adem dan membersihkan badan masyarakat khususnya umat Buddha.

Ananta Kama

. Borobudur Representasi Perjalanan Hidup Manusia . Candi Pawon Tempat Pa-awu-an.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Cinde Lara: Bab 27

Cinde Lara: Bab 27

Antologi KompaK’O

Random image