Yazid mengutarakan maksudnya untuk melamar Karima pada sang ibu, Huwaida. Dia mendukung apa yang akan dilakukan putranya itu, seperti halnya dulu almarhum suaminya, Mehdi, yang langsung melamarnya pada kedua orang tuanya.
“Ibu setuju jika itu keinginanmu. Kau seperti ayahmu, tegas. Tidak banyak kata, tapi langsung pada inti. Jadi kapan rencana kita ke rumah Hicham.”
“Kemungkinan setelah kita dari rumah sakit, Bu. Ibu harus terapi dulu, agar ibu bisa secepatnya berjalan seperti semula. Aku ingin ibu sehat, sama seperti sebelumnya.”
Huwaida terharu, dia sangat bangga kepada putranya.
Di tengah-tengah kesibukannya, dia masih memperhatikannya dan juga mengantarkannya berobat. Ingatan Huwaida melayang kembali pada almarhum Mehdi, suaminya. Mehdi seorang pahlawan, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga untuk orang lain. Kematian Mehdi yang tragis masih menyisakan luka untuknya dan Yazid. Meski kini, Yazid mendapatkan ‘imbalan’ atas apa yang telah dilakukan ayahnya di masa lalu. Pemuda itu tidak mau. Dia ingin menjadi dirinya sendiri dan tidak memakai nama orang lain untuk mencari pengaruh.
“Baiklah, Nak. Semoga dia mau menerimamu. Seandainya tidak, kalian tetap bersahabat. Karena persahabatan itu lebih utama.”
Yazid mengangguk. Huwaida meminta putranya untuk membangun duduk di kursi roda. Dia ingin melihat suasana jalanan di sekitar Centre Rue.
“Bantu Ibu untuk duduk, Yazid.”
“Ya, Bu.”
Dia mendudukkan ibunya di kursi roda, lalu meminta putranya untuk menemaninya sejenak di dekat jendela kamarnya. Kesibukan lalu lintas yang alulalang di Centre Rue menjadikan hiburan baginya. Sudah lama dia tidak melihat bawah sana. Meski hanya sekadar berbelanja sebentar. Semenjak stroke yang dialaminya, Huwaida lebih banyak menyendiri. Pernah sekali waktu dia mencoba membuat syal rajut untuk putranya. Tetapi tidak berlangsung lama.
***
Hicham dan Karima menerima kedatangan Huwaida bersama Yazid di rumah mereka dengan gembira. Karima pun sudah menyiapkan masakan untuk menjamu mereka. Ada pula Lorraine dan dua putranya, Bixente dan Pierre, ikut serta di sana. Suasana kekeluargaan begitu terasa. Baru kali ini Huwaida merasakan kembali hidup yang selama ini seperti membuat hidupnya sepi, serta semangatnya yang kerdil.
“Karima, aku ingin bertanya sesuatu padamu,” Huwaida sengaja duduk di dekat gadis itu. Dia menggenggam tangan Karima. Gadis itu merasakan genggaman tangan Huwaida serasa ibunya, Yasmin, hidup kembali. Wakah teduh Huwaida menatap gadis cantik bermata bulat dan lebar itu.
“Iya, Bibi. Silakan.”
“Apa harta terbesar yang kau miliki, Karima?”
“Iman kepada Allah, Bibi.”
Huwaida terperangah mendengar jawaban gadis itu. Dia tidak hanya cantik di luar, dalam hatinya pun sudah dipastikan dia memiliki kecantikan tersembunyi.
“Kau sungguh luar biasa, Karima.” Huwaida meneteskan air mata, kemudian melanjutkan lagi pertanyaannya,”Apa yang kau inginkan dari seorang pria?”
Karima berdiam. Pada saat yang sama, kedua matanya beradu pandang dengan mata Yazid yang tajam. Dia buru-buru menunjukkan pandangannya. Hati Karima berdebar, tidak sanggup melawannya.
“Iman dan juga kesetiaannya, itu saja, Bibi. Mengapa? “
“Tidak apa-apa, Sayang.” Huwaida melirik ke arah Yazid yang duduk tak jauh darinya. Dia memberi isyarat dengan anggukan.
“Paman Hicham…”
” Iya, Yazid. Kau ingin mengatakan sesuatu?”
Beberapa saat terdiam, Yazid melanjutkan kata-katanya.
“Dengan saksi semua orang di sini, aku ingin meminta ijin kepada paman untuk melamar Karima.”
Karima terkejut luar biasa mendengar ucapan Yazid. Dia tidak menyangka jika pemuda itu akan mengambil keputusan secepat itu. Karima menatapnya, yang dibalas tatapan tajam pula oleh Yazid. Karima menunduk. Ada getar-getar halus yang dirasakannya, ada bimbang melanda. Mulutnya terkunci. Dia menoleh ke arah ayahnya, Hicham, yang justru melempar senyum padanya.
“Apakah paman akan menerimanya?”
“Biarlah putriku sendiri yang menjawabnya, Yazid.”
Sedangkan Karima masih tertunduk, tidak berani mengangkat wajahnya.
“Karima, kau dengar apa yang dikatakan ayahmu?” Kini ganti Huwaida bertanya. Senyumnya mengembang disertai harapan bahwa gadia itu bersedia menerima lamaran Yazid.
“Iya, Bibi. Aku mendengarnya.”
“Berikan jawabanmu, Sayang, ya atau tidak!”
Perlahan Karima mengangkat wajah. Ditatapnya bergantian semua orang yang ada di ruangan itu. Terakhir kali dia tidak berani menatap mata Yazid. Karima menundukkan pandangannya.
“Maafkan aku, aku belum bisa menjawab sekarang. Tolong beri aku waktu untuk berpikir. Ini bukan masalah mudah, karena juga menyangkut masa depan.”
“Putraku menyukaimu, lebih tepatnya, dia mencintaimu.”
Karima melepaskan genggaman tangan Huwaida. Dia tidak tahun harus menjawab.
“Ibuku benar, Karima. Aku menyukaimu sejak kecil dulu. Meski kita hanya bersama beberapa saat, bertukar sesuatu yang mungkin tidak berharga. Tapi justru itu mengingatkanku padamu.”
“Ini terlalu cepat, Yazid,” protesnya lunak.”Aku… aku tidak tahu harus bagaimana.”
“Hanya ada dua jawaban; ya atau tidak! Jika memang kau bersedia jawablah. Jika tidak pun, kau juga perlu menjawabnya.”
“Beri aku waktu, agar aku bisa memikirkannya.”
“Baiklah, aku takkan memaksamu. Kau pun berhak memilih.” Sorot mata Yazid menampakkan kekecewaan. Tapi ia sadar dan juga menyadari jika urusan hati tak dapat dipaksakan.
‘Biarlah waktu yang menjawab. Seandainya kau bukan jodohku, aku sudah siap.’Gumamnya dalam hati.
Sementara itu di seberang Centre Rue. Sepasang mata sedang mengawasi arah apartemen tempat tinggal Karima. Dia hapal betul letak tempat tinggal gadis itu dan keluarganya m
Perlahan, dia mencoba melangkah ke sana, ingin mengetahui sesuatu. Dia yakin gadis itu sedang berada di kediamannya.
Dia berpapasan dengan Bixente dan Pierre kebetulan sedang menuju bawah. Mereka tidak mengerti dan tidak mau tahu dengan urusan orang tua. Maklum, anak-anak usia remaja cenderung acuh tak acuh. Mereka berdua bercerita sambil berjalan. Dari mereka dia mendengarkan percakapan itu.
“Mengapa Karima menolak lamaran Yazid, Pierre?” Bixente yang serba penasaran ingin tahu jawaban dan alasan dari saudaranya itu.
‘Karima dilamar Yazid? Siapa dia?’ pikirnya dengan berjalan pelan sambil terus mendengarkan percakapan mereka. Tapi dia ingin tahu lebih lanjut.
“Mungkin Karima malu, atau mungkin saja dia sudah memiliki kekasih,” jawab Pierre.
“Ya, mungkin saja. Tetapi mereka orang baik dan sepertinya berjodoh,” timpal Bixente.
“Ah, kau ini. Tahu apa tentang jodoh. Kita tidak perlu ikut campur urusan mereka. Lebih baik kita bersenang-senang.” Pierre mengacak rambutnya sendiri.
“Lagi pula itu bukan urusan kita.”
Keduanya tertawa bersama. Tetapi orang yang berpapasan dengan mereka merasa penasaran. Dia menuju arah apartemen Karima untuk mengetahui sesuatu yang terjadi. Seseorang tampak keluar dari pintu, dan dia mengenalnya. Buru-buru dia bersembunyi.
‘Apakah Yazid adalah dia? Ataukah orang lain?’
Dia terus mengawasi dari tempat yang terlindung. Ternyata dugaannya benar. Dia adalah orang yang sangat dikenalnya.










