Ternyata dokter Dana sudah ada di sampingnya. Dia sungguh tidak menyangka akan bertemu dengan dokter Dana di ruang pendaftaran.
“Dokter? Dokter ada di sini?” tanya Silvia heran.
“Iya, ayo ikut ke ruangan saya,” ajak dokter Dana sambil berdiri bersiap untuk melangkah meninggalkan ruang tunggu rumah sakit itu.
Silvia merasa tidak enak hati untuk menolak, tapi dia sudah mengambil nomor antrean. Jadi dia menolak secara halus.
“Terima kasih, Dok. Saya sudah dapat nomor antrean. Sekarang tunggu dipanggil saja, kok.“
“Gak usah, ikut saya aja,” ajak dokter Dana agak memaksa. Sebetulnya dia sengaja datang ke rumah sakit hanya untuk menunggu Silvia. Dia sangat senang saat melihat kedatangan Silvia ke rumah sakit itu.
Tadinya dia sudah bersiap untuk pulang karena dia merasa Silvia tidak akan datang ke rumah sakit itu. Tapi begitu dia melihat wanita pujaannya turun dari angkutan umum, dia mengurungkan niatnya untuk pergi. Dia kembali ke dalam dengan hati yang berbunga-bunga.
Silvia yang merasa tidak enak hati untuk menolak, akhirnya mengikuti langkah dokter Dana. Dia berjalan di belakang sang dokter, meski sang dokter sudah memperlambat jalannya untuk mengimbangi jalan pujaannya.
Begitu sampai di depan ruangan dokter Dana, pandangan Silvia tertuju pada sebuah papan nama bertuliskan Ruangan Direktur Utama. Silvia tidak menyangka dia akan berada di ruangan Direktur Utama Rumah sakit semegah ini.
Jadi Dokter Dana adalah Direktur Rumah sakit ini? Ah gak mungkin. Bisa saja dia cuma asistennya. Kalau memang dia adalah seorang Direktur, mana mungkin dia masih mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh dokter umum, batin Silvia.
“Minumlah dulu,” ucap dokter Dana setelah Silvia duduk di sebuah sofa empuk yang belum pernah diduduki oleh orang lain selain dia dan papanya.
“Terima kasih, Dok. Kaila tidak ikut, Dok?” Silvia berbasa-basi menanyakan bocah perempuan yang lucu itu.
“Tidak. Dia juga menanyakan kamu. Katanya dia ingin bermain bersamamu.”
“Oh ya? Sampaikan padanya aku juga rindu dengan gadis imut itu, Dokter.”
Silvia terkejut. Ekspresinya sangat lucu di mata Dokter Dana. membuat Dokter Dana merasa gemas ingin mencubit pipi mulusnya. Tapi dia harus menjaga sikapnya sebagai seorang dokter. Apalagi Silvia bukan siapa-siapanya. Dia tidak mau Silvia menganggapnya sebagai dokter cabul.
“Iya, mainlah ke rumah kalau kamu ada waktu. Kamu tinggal telepon saya, saya akan menjemputmu.”
“Insyaallah, Dok.”
Pertama kali Silvia datang ke ruangan ini, dia tidak terlalu memperhatikan. Karena saat itu kepalanya dipenuhi oleh amarah yang terpendam. Tapi hari ini, dia benar-benar takjub dengan ruangan Dokter Dana.
Ini bahkan lebih pantas disebut hotel bintang lima, ucap Silvia dalam hati.
Dia tidak dapat menyembunyikan kekagumannya kepada Dokter muda itu dan juga selera dokter itu dalam menata ruangannya. Meski masih ada sedikit ragu kalau ruangan itu benar-benar ruangan sang dokter atau tidak.
“Hmm … jangan bengong. Nanti ke sambat setan. Coba saya lihat luka kakimu. Obat yang saya resepkan diminum habis kan?”
Wanita dengan senyum mematikan itu mengangkat kaki sebelah kirinya ke atas sofa di sebelah dia duduk. Sebenarnya dia merasa agak segan, karena menurutnya Dokter Dana sudah terlalu baik padanya.
“Aduh Dok, saya jadi tidak enak. Masa kaki saya diperiksa oleh Dokter sendiri?’”
“Tidak enak kenapa? Ini memang sudah pekerjaan saya.”
Dokter Dana segera melakukan pekerjaannya dengan sangat terampil. Mulai dari membuka perban, sampai membersihkan lukanya dan mengoleskan obat ke lukanya lalu membalut kembali dengan perban yang baru.
“Apa Dokter selalu baik seperti ini dengan semua pasien dokter?”
Silvia kagum dengan kebaikan dokter Dana. Meski dia tahu itu sudah menjadi tugas seorang dokter, tapi dia yakin dokter itu melakukannya dengan sangat berbeda. Dia menangkap sebuah perhatian yang istimewa untuknya.
“Ya, tentu saja. Kenapa?”
Ternyata jawaban dari lelaki yang sudah melelehkan hatinya itu tidak seperti yang dia inginkan.
“Ah tidak, Dok. Cuma ingin tahu saja. Sebab Dokter sangat terampil dan sangat baik sama saya.”
Ada perasaan kecewa di hati Silvia mendengar jawaban Dokter Dana.
Dokter Dana tersenyum tipis melihat raut kekecewaan di wajah Silvia. Dia menurunkan kaki Silvia yang sudah selesai diberi obat dan diganti perban. Dia menatap Silvia dalam.
“Kamu tahu, Silvia? Selain kamu, belum pernah saya memegang kaki wanita lain. Kamu punya tempat yang istimewa di hati saya. Bukan cuma saya, tapi juga Kaila.”
Dokter Dana membayangkan jika saja Silvia menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Tapi untuk mengungkapkan perasaan itu, dia butuh waktu yang tepat. Apalagi sekarang Silvia masih menjadi istri orang lain.
Jika saja wanita imut itu sudah resmi bercerai dengan suaminya, dia akan segera mengutarakan perasaannya dan melamarnya.
“Bagaimana Dokter? Apa saya tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan untuk ketiga kalinya?”
Pertanyaan Silvia membuyarkan lamunannya.
“Eh, sebenarnya lukanya sudah mulai kering. Tapi dua hari lagi tetap harus diperiksa, untuk memastikan tidak ada infeksi atau kerusakan tulang.”
“Ha! Kerusakan tulang? Apa separah itu dokter?”
Mata Silvia membulat karena kaget dengan pernyataan dokter. Padahal sebenarnya tidak ada kemungkinan sama sekali ada kerusakan pada tulangnya. Dokter Dana hanya menakutinya saja supaya Silvia datang ke rumah sakit lagi. Jadi dia masih bisa bertemu dengan Silvia.
“Itu kan kemungkinan, makanya tiga hari lagi kamu datang kesini. Biar tahu perkembangannya. Saya benar-benar merasa harus bertanggung jawab atas apa yang menimpamu. Cuma satu kali pertemuan lagi. Ini obatmu jangan lupa dihabiskan ya?”
“Baik Dokter. Terima kasih ,Dokter. Apa sudah selesai, Dok?”
“Iya, kamu boleh pulang. Saya akan antar kamu pulang, karena saya juga ada keperluan di tempat lain.”
“Apa dokter tidak bertugas hari ini?”
“Saya hanya bertugas untuk kamu.”
“Apa, Dok?”
“Tidak apa-apa. Ayo, saya ada keperluan di luar, jadi bisa sekalian mengantarmu.”
Sepanjang perjalanan menuju tempat terparkirnya kendaraan roda empat milik sang dokter, semua pegawai rumah sakit menegur sang dokter dengan ramah.
Apa Dokter ini orang yang berpengaruh di Rumah sakit ini? Apa benar dia seorang Direktur Rumah Sakit ini? Kalau memang iya, tidak mungkin dia bisa berjalan beriringan denganku. Ah tidak mungkin. Tapi bagaimana dengan papan nama itu? Mungkin saja dia asistennya, gumam Silvia dalam hati.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Silvia melihat gerak gerik seseorang yang mengawasinya.
“Tapi siapa orang itu? Kenapa dia seperti mengawasiku? Ah, tidak mungkin aku yang diawasinya. Memangnya siapa aku? Sampai ada yang mengawasi? Apa mungkin yang diawasinya adalah sang dokter?” Orang tersebut yang sepertinya sudah menyadari kalau Silvia sedang mencurigainya, segera bersikap wajar seperti kebanyakan orang.











