Home / Genre / Chicklit / Epilog

Epilog

MERAJUT MASA SILAM
This entry is part 34 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Saat itu Ghea merasa seseorang sedang memperhatikan dirinya. Dia kemudian berbalik, dan jantungnya berhenti berdetak. mereka saling menatap selama beberapa saat sebelum wanita di depan pria itu melambaikan tangan pada untuk menarik kembali perhatiannya dan pria itu dengan cepat mengusap rambutnya yang hitam, seperti yang biasa dilakukan…

Ghea memejamkan mata dan ketika membukanya.

Tidak, tidak mungkin…

Berdiri beberapa langkah darinya, tampak gagah dalam tuksedo biru-hitam dan menandatangani beberapa dokumen adalah Arya Daringin.

Arya Daringin-nya.

Jantungnya berdegup kencang dan kemudian dengan cepat meneguk minuman lagi.

Tidak mungkin! Aku pasti berhalusinasiOrang yang berdiri beberapa langkah dariku tidak mungkin Arya Daringin!

Sekali lagi, Ghea melihat dan mereka kembali saling menatap. Kali ini pria yang mirip Arya Daringin itu tidak sembunyi-sembunyi menatap Ghea. Dia mengambil dua gelas minuman dari pelayan dan mulai mendekati Ghea.

Ghea yang panik segera berdiri. Pria itu harus menemukan jalan di antara sekelompok orang yaang menghalangi di depannya.

Ghea mengambil dompetnya dan kemudian aku berbalik untuk melihatnya. Pria itu dihentikan oleh seorang wanita cantik yang memeluknya, mengambil salah satu minuman darinya sementara dia menunggu untuk mengobrol dan ketika Ghea memberi isyarat untuk pergi, dia tidak dapat menemukannya dan pria yang diajak bicara wanita ituternyata sama sekali tidak mirip Arya Daringin.

“Ya Tuhan! Aku hampir gila!” kata Ghea pada dirinya sendiri ketika dia berjalan menuju lift.

Apa yang salah denganku? pikirnya.

Dia masuk ke dalam lift, merasakan sakit kepala yang luar biasa ketika lift bergerak di bawah kakinya. Detak jantungnya mulai kembali normal. Dia akan berjalan-jalan dan mengirim pesan kepada Shanti nanti.

Ghea melangkah keluar dari lift dan berhenti ketika melihat pria mirip Arya Daringin tersebut berada tepat di luar, di pintu masuk aula. Dia tampak sedang mencari seseorang dan ketika melihat Ghea, dia tersenyum.

“Kau benar-benar hebat. Aku harus bergegas menuruni tangga untuk bertemu denganmu. Mengapa kau tidak menunggu?”

Ghea terdiam tidak dapat berbicara, hanya terpaku menatapnya.

Dia tersenyum dan bergerak mendekati Ghea. Saat itulah Ghea menatap matanya.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Pria itu bertanya, menatap mata Ghea mencari petunjuk, tetapi Ghea terlalu bengong untuk menjawab.

Dia bahkan tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.

“Si-siapa kamu?” Akhirnya Ghea berhasil mn=engeluarkan pertanyaan.

“Prabu. Prabu Dorian,” jawab pria tersebut, mengulurkan tangannya. Dorian … Daringin … Dorian. Nama galeri itu.

“Kau pemilik galeri?” tanya Ghea.

Dorian mengangguk sambil tersenyum. “Ya. Aku seorang seniman.”

Ghea tidak tahu apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Dia merasa kepanasan dan sesak napas.

Ya Tuhan, kumohon, aku tidak boleh sampai kena serangan jantung, dia berdoa dalam hati.

“Aku tahu ini kedengarannya gila, tetapi aku harus menunjukkan sesuatu padamu.”

“Apa?” tanya Ghea tanpa mengalihkan tatapannya darinya Dorian.

“Ikutlah denganku,” katanya dan mengulurkan tanganyang diraih Ghea. Memori tentang tangan Arya Daringin yang menggenggam tangannya di tangga terlintas di benaknya. Struktur dan tekstur yang sama, kehangatan yang sama.

Ini adalah tangan yang sama! Apa yang terjadi?

Mereka turun ke ruang bawah tanah galeri. Ketika masuk, Dorian menekan sebuah tombol di dinding dan seluruh ruangan menjadi terang.

Ghea terkesiap ketika melihat beberapa lukisan di mana-mana. Ada yang tergantung di dinding sementara yang lain hanya tergeletak di lantai.

Beberapa ada di atas meja dan ada satu yang belum selesai. Semuanya berisi sketsa dirinya.

Ghea berjalan ke salah satunya. Lukisan itu hanya berupa rambutnya, separuh wajahnya. Yang lain lukisan tampak belakangnya, yang lainnya lagi tampak samping. Yang tergeletak di atas meja gambar wajahnya. Hanya wajah dan separuh lehernya.

“Aku tidak bisa menjelaskannya, percayalah. Aku sering bermimpi dan kau selalu ada di mimpiku. Entah bagaimana, aku merasa harus melukis sosok dalam mimpiku, padahal aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Percayalah padaku. Aku sudah lama menantikan hari ini.”

Ini bahkan lebih rumit dari yang dikira Ghea.

“Aku tidak tahu harus berkata apa,” akhirnya dia berkata.

“Apakah kamu pernah melihatku sebelumnya?” tanya Dorian.

Ghea tersenyum.

“Dalam mimpiku,” jawabnya, dan mereka berdua tertawa.

Ini terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Ghea merasakan air matanya mengalir.

“Kalau begitu kurasa kita punya banyak hal untuk dibicarakan. Siapa namamu?”

“Ghea,” jawabnya.

“Kalau begitu, Ghea, maukah kau berkencan denganku?”

Ghea tertawa.

“Kamu tidak bilang please.”

Dorian tersenyum. “Please, Ghea-ku. Maukah kau berkencan denganku?”

Ghea tersenyum. “Itu jauh lebih baik dan ya, Kakang Arya Daringin, eh, maksudku Dorian. Aku akan senang sekali.”

“Arya Daringin? Apakah dia seseorang yang perlu aku khawatirkan?” tanya Dorian dan Ghea tertawa mendengar ironi itu.

“Yah, mungkin saja,” jawabnya ketika mereka berjalan keluar gedung menuju mobil BMW F33 convertible milikk Dorian. Dia mengenakan kacamata hitamnya sambil menyeringai pada Ghea.

“Aku suka tantangan, Ghea-ku,”sambil mengedipkan mata saat membukakan pintu untuk Ghea.

Ghea menoleh ke arahnya. “Ghe … Ghea-ku?”

Dorian mengangguk.

“Ya. Kau akan tetap menjadi milikku suatu saat nanti.”

Ghea tersenyum mendengarnya. Ada rasa bangga dalam pernyataan Dorian.

Kemudian dia menutup pintu dan memutari mobil lalu masuk ke dalam.

“Pernyataan itu…” Ghea bertanya.

“Kau tidak menyukainya?” tanya Dorian, kelihatan sangat tampan dengan kacamata hitamnya dan setengah tersenyum. “Aku serius.”

Dorian menyalakan mesin mobil.

“Yah, ini mengingatkanku pada seseorang.”

“Biar kutebak, Arya Daringin?”

Ghea tersenyum. Rasanya sangat konyol.

“Aku tidak akan memberitahumu,” jawab Ghea dan Dorian terkekeh ketika mereka melaju pergi. Entah bagaimana, pikiran Ghea menjadi tenang.

Dia benar-benar berdoa agar aapa yang sedang dia alami benar-benar terjadi. Kalau ini cuma mimpi, dia akan bunuh diri saja.

***

“Jadi kamu masih bersamanya. Bagaimana rasanya?”

Ghea berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Rasanya seperti aku bersama Arya Daringin. Rasanya seperti masih dalam mimpi. Mama Sitrun, aku tidak mengerti. Kok namanya Dorian?”

Mama Sitrun terkekeh.

Prabu Dorian membawa Ghea ke restoran mewah dan Ghea pergi ke kamar mandi wanita untuk menelepon Mama Sintrun untuk memastikan bahwa ini nyata.

“Baiklah, anggap saja, kalian ditakdirkan untuk bersama. Seperti kamu kembali ke masa lalu untuk bersamanya, dia berada di kehidupan lain untuk bersamamu.”

“Jadi, tidak apa-apa untuk menjalin hubungan dengannya?”

Mama Sitrun terkekeh.

 “Jika kamu tidak menginginkannya, aku yang akan mendapatkannya.”

Ghea dan Mama Sitrun tertawa.

Ini sesuatu yang sama sekali berbeda.

Ghea tidak percaya semua ini terjadi. Tidak ada yang menghalanginya untuk menjawab ‘ya’ kepada Dorian, Ghea lebih dari siap. Dia merasa seperti telah menunggu Dorian seumur hidupnya.

Dorian telah membawa Ghea ke rumahnya dan menunjukkan beberapa lukisan potret Ghea.

Sungguh ironis. Selama bertahun-tahun dia takut melihat bayangannya sendiri dan sekarang Dorian menunjukkan ribuan dirinya yang digambar dalam sebuah karya seni yang indah, dan Ghea sama sekali tidak takut.

Beberapa menit kemudian, dia minum lagi sementara Dorian menatapnya, memegang tangannya dengan cara yang sangat disukai Ghea.

“Aku punya firasat kau sedang membicarakanku dengan seseorang.”

Ghea tertawa.

“Kamu punya masalah perasaan insecure.”

Dorian tersenyum dan menyesap minumannya.

“Ini mungkin masih terdengar aneh, tetapi aku bersumpah, aku sudah mencintaimu sejak dulu. Aku tidak ingin menakut-nakutimu. Aku merasa sudah mengenalmu sejak dulu, dan aku ingin menceritakan semuanya kepadamuda, tetapi aku takut kau menganggapku gila.”

Ghea tertawa.

Waktu seakan terulang kembali. Ghea ingat ketika dialah yang harus menceritakan kisah gila pada Arya Daringin, tetapi pertama-tama, aku harus menanyakan pertanyaan yang sangat penting.

“Dorian, apakah kamu punya saudara laki-laki?”

Yang ditanya menatap Ghea heran.

“Mengapa kau bertanya itu?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin tahu.”

Dorian mengangkat bahu.

“Seingatku, tidak.”

Ghea menghela napas lega dan sebelum Dorian menyadarinya, dia menarik Dorian lebih dekat dan menciumnya. Persis seperti yang dia bayangkan. Sama seperti yang dia rasakan sebelumnya.

“Wow! Kau bahkan lebih cepat dari yang kukira. Apakah ciuman itu jaminan bahwa tidak peduli seberapa gilanya aku terdengar nanti, kau tidak akan lari dariku?”

Ghea tersenyum sambil menyeka lipstik yang belepotan dari bibirnya.

“Mungkin.”

Lalu dia bersandardengan lengan terentang dan menatap dalam-dalam ke mata Dorian, berbisik, “Sekarang ceritamu. Siapa tahu, aku juga punya cerita untuk diceritakan.”

“Baiklah.”

Dorian mulai bercerita.

“Ghea, aku sering bermimpi tentang kita menikah dan aku adalah seorang pangeran….”

TAMAT

Merajut Masa Silam

1. Kembali ke Masa Kini
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image