Home / Genre / Petualangan / Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa

Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 4 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Baru saja Dayat ingin menanggapi kisah Sunan Kalijaga yang baru didengarnya itu, ketika wajah Paman Bay mengeras tiba-tiba.

“Ada apa Paman?” bisik Dayat sambil bergegas mengkeret ke samping Paman Bay.

“Paman merasakan ada banyak hawa pembunuh yang mengarah ke tempat kita” sahut Pman Bay dengan berbisik pula.

Baru saja Paman Bay selesai menjawab, ketika 7-8 orang berpakaian buruh pelabuhan mengepung mereka. Salah satu dari mereka terlihat sibuk menelepon sambil sesekali memberi instruksi cara mengepung yang sesuai dengan selera murahan para punggawa Istana.

“Iya nih Pak Kaur Ekonomi, bilangin sama Kades, kalo meriksa kantor saya begitu caranya mending saya mundur saja dari Kantor Pel Desa!” geramnya sambil membanting hape dan berkoar-koar betapa Perusahaan Ngepel Indo untung besar di tangannya, walau entah benarkah di tangannya atau justru di selipan baju bawah tangannya.

“Kau yang bernama Bay Si Pemimpin Bayangan itu?” bentaknya tiba-tiba ke Paman Bay.

Paman Bay mengangguk tegas. Matanya tajam menyoroti satu-persatu pengepungnya. “Dan kau pasti Rhino Si Badak Pelabuhan yang kemarin kebakaran jenggot itu.” kecam Paman Bay tandas.

Wajah Rhino yang merah padam semakin murka mendengar sindiran pedas Paman Bay. Tangannya yang sejak mula mengepal berangsur menghitam, dengan buku-buku jari yang mengkilat seperti crane pelabuhan Tanjung Priuk yang sempat mencuri perhatian lalu tenggelam kembali di telan isu yang lain.

“Siapa yang kebakaran jenggot dan langsung mengadakan rapat, hah?” raung Rhino, langsung menghantam Paman Bay dengan rangkaian jurus Tak Jadi Masuk Hotel Prodeo Sambil Pura-Pura Marah, yang disusul dengan sapuan Beking Yang Kuat Amat Bermanfaat Pada Masa Darurat.

Wuuut!

Secepat kilat Paman Bay menghindar dengan gerakan Lenggang Jakarta Semakin Kedaluwarsa.

Tapi agaknya gerakan itu memang benar-benar sudah kedaluarsa sesuai dengan namanya. Kecepatannya kalah setindak dari tangan hitam yang datang menggempur.

Sret! Sret!

Paman Bay mengeluh tertahan. Punggung lengannya tercabik dan langsung hangus terserempet pukulan Rhino, membuatnya berpusing satu kali sebelum akhirnya terdagar-dagar ke belakang. Jubah hitamnya koyak dan tercerabut tak karuan, dengan luka pedih yang anehnya membawa serta sejenis perasaan malu yang menjalar dari mulut luka.

“Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa!” desis Paman Bay dengan penuh kaget.

Sejak kapan Si Rhino menguasai jurus-jurus keji Kitab Senayan Memalukan yang kabarnya warisan VOC itu? pikir Paman Bay.

Tapi Paman Bay tak sempat berpikir lama, karena kembali Rhino menghantam dengan jurus Iklan Besar-besaran Semua Pasti Beresyang tak kalah keji dari jurus sebelumnya.

Tak sempat mengelak, Paman Bay langsung menghirup napas dua kali dua sama dengan empat—kenapa jadi kayak anak SD yah?—dan menyongsong hantaman Rhino dengan gagah berani.

“Tapak Kerinduan Yang Muncrat. Hiyaaat!”

Dess…! Dess…!

Dua pukulan sakti bertemu di udara menimbulkan letup yang mendenging, membuat lapak pedagang kaki lima yang ada di Malioboro porak-poranda seperti habis diterjang putting beliung.

Paman Bay tergetar mundur. Sementara Rhino terpental hingga 5 tombak jauhnya dari tempat semula, untuk kemudian jatuh telungkup tak bergerak lagi.

Belum lagi tegak berdiri Paman Bay, ketika tujuh pasang pukulan menghantam susul-menyusul. Sekuat daya Paman Bay menghindar. Tapi apa daya, dua kepalan memang jauh dari cukup untuk menahan empat belas kepalan. Apalagi racun di luka lengannya mulai kaku dan ngilu hingga ke dada, membuat napasnya terasa agak sesak dan gerakan tubuhnya tak selentur semula..

Berkali-kali tubuh Paman Bay menjadi sansak pukulan yang datang menghujan, sebelum akhirnya sebuah tumbukan di belakang kepala menyeret kesadarannya hingga nyaris tak tersisa

“Pe-Pengecut…” erang Paman Bay, sesaat sebelum kesadarannya benar-benar musnah.

“Anda tidak apa-apa, Bos? Anda tidak apa-apa, Bos?” pertanyaan senada sahut-menyahut dari mulut anak buah Rhino yang merubung pimpinannya yang baru siuman itu.

“Aku tidak apa-apa. Hey, kembalikan dompetku, sialan!” tegurnya pada salah satu anak buah yang sepertinya mantan copet terminal.

“Ma-maaf, Bos, kebiasaan lama susah hilang,” ucap si mantan copet sambil tertunduk takut.

“Sudah! Sudah! Gotong aku kembali ke kantor,” perintah Rhino.

“Bagaimana dengan orang ini, Bos?” tanya salah seorang anak buah.

“Biarkan saja. Tak sampai 40 menit pukulan beracunku akan merenggut nyawanya. Yang penting bawa remaja yang tadi bersamanya ke kantor. Heh! Kemana bocah itu? Wah, cari cepat! Bisa berabe aku jika tidak menyetorkannya ke Bos Jekey. Cariii!”

Serentak anak buah Rhino lintang pukang mencari remaja bernama Dayat tersebut, yang kembali membuahkan caci-maki dari Rhino sebab tubuhnya terbanting keras ketika anak buah yang memapahnya ikut-ikutan mencari.

“Sebagian gotong aku ke kantor dulu, bodoh!”

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Nasionalisme Bakpia Rasa Orek Tempe Pemberontakan Aldi dan Kematian Desol
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image