Home / Topik / Fungsi Paling Ajaib dari Teman, Benarkah Bisa Sedahsyat itu?

Fungsi Paling Ajaib dari Teman, Benarkah Bisa Sedahsyat itu?

Bay dkk (dok. pri)

Mengubah dunia? Hwaduhhh…. Mengubah diri sendiri aja saya masih kesulitan, bagaimana mungkin bisa mengubah dunia, dan menjadi lebih baik pula!

Pikiran tersebut yang pertama melintas saat membaca tema kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Plukme! Sebuah tema bagus yang sangat sederhana dengan opening nan ciamik pada dua paragraf pertamanya, bikin penasaran untuk menebak admin manakah kira-kira yang membuatnya.

Tapi, benarkah amat sederhana?

Langsung saya berkubang dalam posting rekan-rekan platform tersebut yang telah menggarapnya. Mmhhh…, tema beragam penuh warna dengan nama akun pembuat yang kadang bikin saya nyengir sendiri semisal “Cowok Sunyi” atau “Gadis Hujan”, ha….

Puas bersemedi di sana, saya langsung balik ke diri sendiri, mencolak-colek benak barangkali ada satu-dua ide yang bisa dieksekusi menjadi tulisan. Bukan karena hadiahnya yang segede gaban, melainkan lebih kepada perasaan ‘wajib ikut serta’ sebab walaupun masih baru hitungan hari, tetap saja saya sudah menjadi warga resmi di platform bersama tersebut. Dan sebagai warga yang baik saya tentu saja berusaha berkontribusi seaktif mungkin -bahkan jika memang memungkinkan- dalam setiap event yang diadakan di negeri P**kme. Perkara menang atau kalah itu mah nomor sekian.

Sayang pundi-pundi kenangan saya banyak yang buram, sangit, bahkan hilang. Padahal kabarnya, sumber ide terbesar bagi seorang pegiat kepenulisan yah di situ itu.

Sempat terlintas menggarapnya dalam kemasan cerpen, berseting latar Kroasia, misalnya, sebagai gift bagi Admin Chiara juga Karina yang kerap menyisipkan jempol di postingan sederhana saya. Tapi waktunya tak cukup untuk saya mempelajari segalanya tentang Kroasia sebagai riset data agar cerpen yang tercipta setidaknya dapat lebih ‘membumi’ dan bukannya sekedar asal tempel belaka. Yaudah enggak jadi, susah amat hidup.

Membuat artikel serius bersandar kaidah penulisan ilmiah pun mentok. Data kurang mendukung ditambah potensi kebosanan bagi pembacanya buah kemasan tulisan yang biasanya kaku bila memakai model yang seperti itu, jelas bukan pilihan yang paling tepat.

Kehabisan ide, akhirnya -ya sudahlah- saya pakai aja gaya penceritaan Si Plenyun. Setidaknya hasil tulisan ini kelak akan jauh lebih bebas, lepas, walau memang murni hanya menggelendot pada akar kenangan.

***

Jujur, saya tidak benar-benar memahami dunia yang lebih baik itu seperti apa ataukah harus bagaimana, karena kebetulan dunia yang saya jalani selama ini lebih banyak anehnya ketimbang normalnya.

Tapi setidaknya, saya ingin mengajukan gagasan, bahwa dunia yang lebih baik, bisa jadi pada akhirnya hanya mengerucut kepada satu hal yang amat sederhana saja. Dan, satu hal tersebut adalah:

Teman.

Yap.

Hanya teman.

Hanya teman yang sekadar teman, dan tanpa embel-embel apapun.

Saya teringat saat di Harian Nasional tertera nama saya karena diterima menjadi mahasiswa UI, nyokap di rumah langsung menangis.

Bukan karena bahagia seperti umumnya orang tua yang bangga, melainkan benar-benar menangis karena sedih.

Alasannya sederhana saja: Tidak ada cadangan uang untuk biaya pendidikan, tak peduli meski ngampusnya di universitas negeri, yang konon kabarnya berbiaya sudah amat-sangat murah tapi jauh dari kata meriah.

Tak lama berselang datang Mulan si kawan SMU, mengajak saya ke rumah kakak tertuanya yang telah mapan di Bank Anu. Tujuannya jelas serta tunggal: Untuk ngutang duit buat kuliah, tentu saja! Lalu tanpa butuh mengisi formulir personal loan serta rangkaian survey segala macam maka langsung cairlah dana kuliah saya saat itu juga.

Butuh eksekusi ide entah apa sementara lokasi agak jauh lintas kota? Si Timbil siap selarut apapun saya menghubunginya, lengkap dengan sederet anggota ‘geng motor SMU’ di belakangnya.

Si O-Enk jelas ATM berjalan saya, yang tak pernah sekalipun berhitung akan uang yang telah terpakai demi entah apa, berapapun yang saya minta selama itu bukan untuk urusan anu.

Beranjak kuliah, Dian langsung menjadi volunteer Lembaga Pendidikan yang baru saya rintis, dan bersama Dijey terekrut begitu banyak instruktur pendidikan lintas kampus memenuhi deretan staf pengajar, yang kesemuanya lebih ke ranah nirlaba sebab apalah Lembaga Pendidikan besutan mahasiswa semester awal, walau memang beberapa tahun kemudian perkembangannya cukup menggiurkan.

Koneksi antar pejabat? Firman tanpa banyak cincong langsung bergerak. Posisi ayahnya yang cukup strategis di kalangan pemerintahan tentu saja menjadi jaminan paling tokcer bagi setiap permasalahan.

Itu semua teman real yang saya kenal benar di alam nyata. Lantas, bagaimana dengan teman di dunia maya, yang tak pernah saya kenal di keadaan sebenarnya serta kabarnya penuh potensi keburukan ini dan itu serta anu?

Bagi saya pribadi, sama saja.

Saat saya butuh sudut pandang etika dan kepantasan dari latar Institusi Pendidikan Tinggi, tentang penerbitan buku seorang TKI di Taiwan sana sebab latar pendidikan yang dimiliki amat minim serta dirasa kurang strategis, alih-alih jual mahal dan sok belagu justru Pebrianov Si Prof langsung memberi segala pengarahan yang saya butuhkan, lengkap hingga detail terkecil yang berpotensi terjadi plus problem solving yang baiknya dilakukan bilamana di kemudian waktu timbul resiko-resiko.

Sementara Mbak Naft Sang Psikolog cantik Rumah Sakit Besar Anu di Surabaya yang wajahnya kerap tertelan kamera televisi, tak bosan-bosannya membagi konsultasi psikologi tentang fenomena terkini yang tengah marak terjadi mulai dari gavatar hingga persekusi, bully serta banyak lagi yang lainnya.

Juga Biken si wanita tangguh TKI Hongkong, yang tak sungkan membagi data kondisi di negara yang tengah dia koreh-koreh cuannya tersebut, saat saya butuh sebagai pembanding penulisan yang tengah saya garap.

S. Aji yang ingar dengan segala konsep sosial-antrop berlatar Papua dan Kalimantan berkali-kali lebih mengkilapkan bahan saya tentang dua daerah tersebut, hingga sempat membuat saya dihubungi Utusan Presiden Jokowi buah tulisan di media bersama yang lainnya.

Bahkan setelah lama hiatus dari keriuhan digital serta menarik diri pada alam nyata, tetap saja ada sosok-sosok absurd yang sebelumnya nyaris tak bisa dikategorikan sebagai teman saking benar-benar hanya pernah berinteraksi secara sangat selewatan di dunia maya, secara aneh justru menjadi teman bahkan partner dalam interaksi digital, yang itu pun sangat kebetulan sifatnya.

Salah satunya adalah Mahiwal, yang awal sua dahulu seciprat karyanya pernah saya mafhumi sebagai ‘khas buatan penulis pemula’ yang genyeh, lalu tahu-tahu bertemu kembali dalam sebuah kebersamaan di salah satu komunitas kepenulisan. Absurdnya, hanya butuh satu repelita ala Orba bagi si absurd ini untuk memetamorfosa diri menjadi seorang gila karya berkualitas bajingan saking raya varian serta mutunya, serta dalam banyak tahun menjadi sosok yang pertama kali saya hubungi setiap kali ada proyek penerbitan karya.

Salah duanya adalah sosok yang pernah terkenal sebagai Emak Sapi, sebuah paraban yang sepertinya sekaligus juga sebagai gelar kehormatan bagi diri dan keakuannya. Tak bermaksud menyederhanakan proses, si tukang pisuh karya ini pada masa tertentu siapa sangka pernah bergiat (atau bergulat?)  dalam karya-karya datar yang memang pernah menjadi tren pada masa itu, sebuah pilihan proses kreatif yang sangat berbanding terbalik dengan gaya kesehariannya yang sangat tidak bisa untuk dibilang datar.

Pasca hibernasi pribadi, saya kembali samprokan,  lalu dengan perasaan seperti tidak kenal namun harusnya kenal atau setidaknya pernah kenal di nun entah mana sebelumnya, kembali saya temui karya-karya besutan Pengampu Askara Aksara Publisher tersebut, dengan jejak literasi yang sama sekali tak serupa sebelumnya. Apakah karya-karyanya kemudian bermimikri hingga menjadi segahar pisuhannya, senakal kredo dirinya sebagai wanita yang mencintai lelakinya perempuan lain, masih belum diketahui dengan jelas. Namun yang pasti, teman yang satu ini kemudian menjadi salah satu yang paling prioritas ketika saya butuh update apapun terkait literasi, termasuk memintanya untuk membuat kata pengantar bagi naskah yang siap cetak dan diterbitkan.

Tak ketinggalan pula Mas’ud, tokoh muda lokal di wilayah pelosok yang saya singgahi, yang justru berdiri paling depan ketika sebuah insiden keruncingan hidup memaksa saya -yang hanya seorang penulis biasa ini- entah bagaimana tahu-tahu harus berhadapan dengan sepasukan aparat lengkap yang dikomandoi langsung oleh kanitreskimnya yang kental dengan hawa pembunuh, tak peduli bahkan walau belum lama saling mengenal.

Serta banyak lagi kisah epik yang terjadi, hanya karena satu kata itu: TEMAN.

Walau memang tak selamanya teman itu teman. Beberapa kali saya pun mengalami tikaman mereka, hingga benar-benar hancur lebur tanpa bentuk juga sukar menormal kembali. Tapi apalah arti segelintir, jika berbanding dengan yang banyak?

Dan semua kenyataan tersebut  langsung saja menghasut logika saya hingga akhirnya memberanikan diri menyatakan bahwa untuk menciptakan Dunia yang Lebih Baik, benar-benar amat sederhana prasyarat yang dibutuhkan. Salah satu yang terpenting, yaitu: Teman. Cuma teman. Hanya teman. Titik. Sebab kita semua bisa menjadi apapun atau siapapun, tetap saja tak pernah terlepas dari peran teman.

Sila bayangkan, jika setiap kita mengalami hal yang sama seperti di atas, dan setiap teman juga mengalami serupa dengan lingkaran mereka sendiri: Alangkah  akan langsung menjadi tempat yang jauh lebih baiknya dunia!

Semesta Litera, 30 Juni 2025 -Fragmen tersendiri dari draft naskah Dunia Aneh Si Ben.

Penulis

  • Ahmad Maulana S

    Ahmad Maulana S, lahir di Jakarta.

    Sejak kecil ia terbiasa bertualang. Lulus SMU langsung singgah di sebuah madrasah/sekolah sebagai guru, dilanjutkan dengan menjadi pekerja bengkel, pramuniaga, kuli bangunan, pedagang ayam setan, tukang pasang tenda, pengelola pabrik bulu mata palsu, pemilik lapak barang rongsok, penulis buku puisi dan buku serial pendidikan anak, ghost writer, publisher novel-novel motivasi serta pernah menyelenggarakan kelas fiksi berbayar berbasis online lintas negara.

Satu Komentar

  • Buahahaha… Aku tahu yang dibilang karya genyeh Mahiwal itu puisi dengan judul “Licentia Poetica”, yang justru menyindir kegenitan pemuisi (baik pemula dan bangkotan) menggunakan kata-kata arkais dengan gaya newbie banget.

    Mahiwal bilang thanks, maksudnya nyampe.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image