Home / Topik / Agama / Renungan Hidup: Doa, Sarana Komunikasi kepada Pencipta yang Sering Terlupakan

Renungan Hidup: Doa, Sarana Komunikasi kepada Pencipta yang Sering Terlupakan

Renungan Hidup 20250711 (vecteezy)
2

Jika kita sedang jatuh cinta, sepertinya ingin selalu berkomunikasi dengan gebetan. Lewat chat, video call, apalagi langsung ketemuan. Sepertinya gak mau udahan, bucin sepanjang hari. Apalagi setelah jadian, gak bicara satu jam aja sepertinya ada yang kurang afdol atau gimana gitu.

Juga seorang ibu terhadap anak-anaknya, meskipun sedang sibuk bekerja, pasti selalu memikirkan mereka. Mungkin gak selalu menelepon atau menanyakan kabar, namun dalam hati pasti penasaran dan ingin cepat pulang, bertemu kembali dengan keluarga.

Jika terhadap sesama manusia rasanya begitu mudah berkomunikasi, lantas bagaimana terhadap Sang Pencipta kita, Tuhan Yang Maha Esa? Sepertinya jika ditanya, apakah Anda rajin berdoa/sembahyang/salat dan sebagainya, belum tentu semua akan menjawab: oh, saya numero uno dalam urusan itu. Pasti akan ada yang mesem-mesem, malu-malu, ragu-ragu dan sebagainya. Mau bilang rajin, ya enggak juga. Mau bilang malas, kok malu.

Doa bukan hanya sebuah ritual keagamaan belaka yang jadi kewajiban ala ‘mesti tuh’ sehingga menjadi beban bagi kita. Rasanya gak cukup waktu melakukannya. Pagi-pagi enakan tidur. Malam udah capek, rasanya ingin cepat-cepat hit the bed aja. Jika melakukan di mana saja, khawatir dicap terlalu alim, sok rohani dan lain sebagainya.

  1. Doa adalah sarana komunikasi tercepat, termurah, terinstan dengan Tuhan YME. Kita tidak memerlukan komunikasi internet, gawai dan kuota. Bahkan kita tidak butuh perantara-perantara lainnya seperti kurir berkuda, petugas pos, kertas surat-pena, mesin tik, komputer, telepon dan sebagainya. Jika dengan manusia seringkali kita sulit menghubungi ‘karena dia bos’ dan sebagainya, perlu birokrasi dan syarat-syarat ribet, tidak demikian halnya dengan Tuhan. Cukup dalam hati saja, di mana saja berada, Tuhan selalu mendengarkan. Bukankah Dia Maha Besar akan tetapi juga begitu ‘kecil’ sehingga ada dalam lubuk hati kita yang paling dalam?
  2. Doa tidak memerlukan rangkaian kata-kata sempurna, indah dan ribet seperti halnya puisi yang kita berusaha susun dengan susah-payah demi memenangkan sebuah lomba atau dalam rangka memenangkan hati gebetan. Tuhan menyukai kejujuran kita dalam berdoa, bukan kalimat-kalimat indah-puitis yang melulu berisi rayuan dan janji-janji manis belaka. Pujilah Dia atas kebaikan-Nya. Curhatkan saja tanpa perlu ragu-ragu. Jika memulai hari ini terasa berat, berdoalah. Jika manusia di sekitar Anda mengecewakan, berdoalah. Bicara dengan suara lantang, berbisik atau dalam hati saja, apa saja metodenya, berdoalah!
  3. Doa paling singkat, Tuhan, tolong, sudah amat cukup. Bahkan dalam kepercayaan Kristiani, ada sabda/firman mengatakan bahwa Tuhan mengerti bahasa tetesan air mata (Mazmur 56:8). Jika di hadapan manusia, menangis seringkali dianggap cengeng, lemah, dan sebagainya, beda dengan menangis dan hancur hati di hadapan Tuhan. Jika kita mengadu semua masalah dan mengakui semua dosa-kesalahan kita, kita takkan dianggap cemen. Tuhan butuh kejujuran, kepasrahan, serta penyerahan diri kita.

Kesimpulan: masihkah kita sering skip, merasa segan-malu, malas atau lupa berdoa? Apapun kepercayaan Anda, bagaimanapun tata cara/ritualnya, kapanpun waktunya, berdoalah. Meskipun jawaban-Nya tidak (selalu) instan/sesuai harapan, apa yang Anda komunikasikan akan selalu sampai pada alamat yang tepat. Telinga-Nya tidak pernah pura-pura tuli, Dia tak pernah tertidur, Dia menunggu kita dengan setia. Sebagai Pencipta semua makhluk hidup, Dia peduli dan memelihara semuanya, apalagi manusia. Berbeda dengan sesama manusia yang seringkali mengecewakan, sering cuek, abai-lalai serta tak selalu ada bagi kita dengan berbagai macam alasan, Tuhan menyediakan waktu sepanjang kita hidup. Yuk, lebih banyak berdoa kepada-Nya mulai hari ini.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 10 Juli 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image